Ternak

Selasa, 10 November 2015

3 Domba Perah Paling Populer di Dunia

Di dunia ini terdapat sekitar 320 bangsa ternak domba, dengan 116 dianta-ranya merupakan domba yang dapat diperah. Ternak domba dapat dibedakan berdasarkan kegunaannya meliputi : tipe dual purpose, domba triple purpose dan bangsa domba perah (dairy sheep). 3 domba perah paling populer diantaranya adalah

DOMBA AWASSI

Domba Awassi berasal dari Israel, penyebaran ternak ini selain di Israel sampai ke Libanon dan Yordania ( Asia Barat Daya). Sebenarnya domba ini termasuk domba ekor gemuk, namun setelah mengalami persilangan terus menerus dan terjadi evolusi, terjadi pengurangan ekor gemuknya dan meningkatkan produksi susu. Bangsa domba Israel Improved Awassi dapat memproduksi susu sampai 1.000 – 2.000 kg per tahun.


Tanda-tanda domba Awassi ; mempunyai kepala panjang, sempit dengan profil muka cembung, telinga lebar, panjang dan menggantung. Berat badan pejantannya mencapai 60 – 90 kg, sedang induk / betina dewasa antara 30 – 50 kg. Badan tampak tinggi, tegap, dan kuat. Kaki panjang, tidak gemuk, ekornya gemuk dan lebar, berat ekor pada kambing jantan mencapai 12 kg, sedangkan ekor pada kambing betina sampai 6 kg. Setelah mengalami perkembangan badannya menjadi lebih tinggi dan tegap. Ambing tidak menggantung, pertautannya kuat, bentuk putingnya panjang kebawah dan tidak berlemak.

Baca juga :

DOMBA  EAST FRIESIAN

Bangsa domba East Friesian berasal dari Jerman. Domba ini telah digunakan untuk persilangan dengan domba Awassi dengan tujuan untuk mengurangi lemak ekor domba Awassi serta meningkatkan produksi susu dan wool.


DOMBA  LOHI

Domba Lohi berasal dari Pakistan dan telah tersebar sampai di India dan Pakistan. Ciri-ciri domba Lohi berwarna putih, coklat, dan hitam. Telinga panjang dan menggantung sedangkan ekornya tipis. Domba ini termasuk domba yang subur.


Mengenal Kambing Perah Damaskus, Beetal dan Barbari si Penghasil Susu

Mengenal Kambing Perah Damaskus, Beetal dan Barbari si Penghasil Susu.

Kambing Damaskus

Diantara beberapa bangsa kambing perah di Timur Tengah yang paling penting adalah kambing Damaskus dan sudah merupakan kambing yang banyak dipelihara di Libanon, Syria, dan Cyprus. Kambing tersebut baik yang jantan maupun yang betina tidak bertanduk, warna pada umumnya merah atau merah dan putih, profil mukanya konveks, daun telinga panjang dan menggantung.


Tinggi gumba 70 – 75 cm dan berat badan antara 40 – 60 kg. Produksi susu antara 3-4 liter per hari dan dapat mencapai 6 liter, dengan jumlah produksi 300 – 600 liter dalam 8 bulan. Kambing Damaskus lebih subur dibandingkan dengan Saanen, dimana tiap kelahiran dapat menghasilkan rata-rata 1,76 cempe.

Kambing Beetal

Beetal adalah kambing yang juga penting di India dan Pakistan. Kambing ini ditemui di beberapa district di Punyab India, Rawalpindi, dan Lahore di Pakistan Barat. Sepintas kambing ini seperti Jamnapari, antara lain profil mukanya "Roman nose", telinga panjang tetapi jauh lebih kecil dibandingkan dengan telinga kambing Ettawa. Tampaknya memang seperti ada darah Ettawanya.


Kambing ini biasanya berwarna merah coklat dengan bercak / belang-belang putih. Tinggi gumba kambing jantan dan betina adalah 89 dan 84 cm. Kambing betina dewasa dapat mencapai berat hidup 45 kg. Rata-rata selama laktasi kambing ini dapat menghasilkan susu sebanyak 195 kg dalam waktu 224 hari, beranak rata-rata setahun sekali dan pada umumnya anaknya tunggal atau twin (kembar dua).

Kambing Barbari

Kambing Barbari fisiknya lebih kecil dibandingkan dengan Ettawa dan Beetal. Diketemukan di India bagian Utara dan Pakistan Barat. Kambing ini mempunyai bulu-bulu yang pendek, umumnya berwarna putih dengan bercak-bercak coklat. Tinggi gumba kambing jantan antara 66 – 76 cm, dan yang betina 60 – 71 cm. Kambing betina dewasa berat hidupnya antara 27 – 36 kg. Kambing ini biasanya digunakan untuk produksi susu dan pada umumnya ambingnya berkembang dengan baik. Pernah tercatat produksi susunya selama dalam periode laktasi 235 hari dapat mencapai 144 kg.


Di India bangsa kambing Barbari telah dikembangkan karena produksi susunya, dan karena tubuhnya relatif kecil, sedangkan produk-sinya cukup banyak menyebabkan ternak ini dipandang sebagai produsen susu yang ekonomis.

TERNAK KALKUN

Kalkun adalah unggas yang bentuknya mirip ayam sehingga disebut Ayam kalkun. Perbedaan kalkun dan ayam adalah bentuk ekor kalkun yang khas dan pialnya yang menggantung. Oleh pemerintah, kalkun digolongkan ke dalam aneka unggas, yaiyu unggas yang nilai manfaatnya sama dengan merpati, puyuh dan angsa (Santa. 2013). Kalkun mempunyai bulu cantik dan ukuran yang cukup besar dibanding ayam kampung sehingga masyarakat biasanya memelihara kalkun sebagai ternak hias, tetapi kalkun juga dapat dikembangkan sebagai unggas potong dan penghasil telur.  Menurut Prayitno dan Murad (2009) Klasifikasinya kalkun termasuk dalam Filum Chordata, SubFilum Vertebrata, kelas Aves, Ordo Galliformes, FamilyPhasianidae, Sub Family Miliagris, Genus Meleagris, SpesiesMeleagris Gallopavo, Meleagris Silvestri, dan Meleagris Ocellata.

Kalkun yang berkembang di Indonesia yaitu memiliki tubuh yang relatif jauh lebih kecil dibandingkan dengan varietas kalkun yang dipelihara di negara maju. Bobot kalkun betina dewasa sekitar 3,0-3,5 kg sedangkan jantannya sekitar 6-8 kg. Warna bulunya beragam, ada yang gelap, putih, gelap/hitam bercampur putih, cokelat, dan abu-abu. Diduga kalkun ini adalah keturunan dari berbagai spesies dan varietas kalkun yang ada pada waktu itu dibawa masuk oleh orang-orang Belanda ke Indonesia (Prayitno dan Murad, 2009).
Ciri ciri kalkun jantan dan betina
Cara membedakan kalkun jantan dan betina dapat dilihat dari ukuran tubuhnya. Kalkun jantan memiliki tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan kalkun betina. kalkun jantan juga memiliki bulu yang lebih indah dan memiliki snoodyang lebih panjang di atas kepalanya, sedangkan betina memiliki snoodtetapi kurang muncul dan warna bulu kurang berwarna-warni. Suara kalkun jantan juga lebih keras dibandingkan dengan kalkun betina. Kalkun betina tipe ringan dapat dikawinkan pada umur 30 minggu dan  pejantannya dapat mulai dikawinkan pada umur 34 minggu, sedangkan kalkun tipe berat baru dapat dikawinkan pada umur 36 minggu dan pejantannya pada umur 40 minggu. Seekor pejantan kalkun dapat mengawini 10-15 betina. Perkawinan secara alami dilakukan 3 minggu sebelum pemungutan telur untuk ditetaskan.

Menurut Rasyaf dan Amrullah (1983), sebagai unggas potong, daging kalkun memiliki keunggulan yaitu memiliki kandungan protein yang tinggi (30,5-34,2%). Selain itu, mengandung lemak dan energi yang rendah, asam amino yang terkandung dalam proteinnya sangat lengkap dan sempurna seperti telur. Pemeliharaan kalkun dapat dilakukan secara alami atau organik (tidak menggunakan bahan vitamin dan obat-obatan kimia), sehingga dagingnya relatif aman dikonsumsi oleh manusia. Daging kalkun memiliki rasa, aroma, dan tekstur yang tidak bermasalah dan bisa diterima oleh semua golongan.

Sumber :
Prayitno, D.S., dan B.C. Murad. 2009. Manajemen Kalkun Berwawasan Animal Welfare. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.
Rasyaf, M. Dan I.K. Amrullah. 1983. Beternak Kalkun. Cetakan Pertama. Penebar Swadaya. Jakarta
Santa. 2013. Seri Life Skill Beternak Kalkun. PT Musi Perkasa Utama. Jakarta.

Senin, 09 November 2015

Tentang Kambing Ettawa / etawa / Jamnapari, Kambing Perah Paling Populer

Jamnapari atau sering disebut kambing Ettawa / etawa mungkin merupakan kambing yang paling populer dan tersebar luas sebagai kambing perah (susu) di India, Asia Tenggara, dan di daerah-daerah lain. Kambing ini mempunyai telinga yang lebar dan panjang serta menggantung. Aslinya berasal dari lembah sungai Chanbal, Gangga dan Jumna. Juga diketemukan di district Ettawa di Ultra Pradesh, sehingga disebut juga kambing Ettawa.

Jamnapari merupakan kambing perah yang baik (excellent) dan juga sering digunakan sebagai produsen daging. Warna bulunya bervariasi dengan warna dasar putih, coklat, dan hitam. Telinga menggantung dan panjangnya sekitar 30 cm. Ambing berkembang dengan baik. Berat badan kambing jantan dewasa dapat menca-pai 68 – 91 kg, sedangkan yang betina sekitar 36 – 63 kg. Tinggi gumba kambing jantan 91 – 127 cm dan yang betina 76 – 92 cm. 



Produksi susu dapat mencapai 235 kg dalam periode laktasi 261 hari. Di India produksi susu dapat mencapai 3,8 kg per hari, dan produksi susu tertingi tercatat 562 kg. Kadar lemaknya agak tinggi dengan rata-rata 5,2 %. Karkas kambing Ettawa jantan dewasa dan betina umur sekitar 12 bulan dapat mencapai 44 – 45 % berat hidup.

Kambing Ettawa (di India) biasanya setahun beranak sekali dan rata-rata jumlah anak dalam sekali kelahiran hanya satu. Berdasarkan pandangan pada kemampuan produksi susunya yang baik dan pertumbuhannya, bangsa kambing ini digunakan secara menyebar untuk grading-up kambing-kambing lokal yang lebih kecil seperti di India bagian Barat, Malaysia, dan Indonesia.


Di Malaysia kambing ini sudah digunakan ternak secara ekstensif (meluas) untuk produksi susu dan daging. Kambing peranakan Jamnapari (crossed breed) mempunyai berat hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan peranakan Anglo Nubian, lebih-lebih dibandingkan dengan kambing lokal.

Minggu, 08 November 2015

AMPAS TAHU UNTUK PAKAN TERNAK

Ampas tahu merupakan limbah padat yang diperoleh dari proses pembuatan tahu dari kedelai. Sedangkan yang dibuat tahu  adalah cairan atau susu kedelai yang lolos dari kain saring. Ampas Tahu dapat disebut juga sisa barang yang telah diambil sarinya atau patinya atau limbah industri pangan yang telah diambil sarinya melalui proses pengolahan. Masyarakat umumnya memanfaatkan ampas tahu untuk pakan ternak dan sebagian dipakai sebagai bahan dasar pembuataan tempe gembus. Ampas tahu mempunyai kadar protein yang baik dari segi kualitasnya untuk campuran dalam konsentrat yang diberikan kepada ternak. Kandungan nutrisi yang terdapat dalam ampas tahu bervariasi, hal ini antara lain disebabkan oleh perbedaan varietas dari kedelai yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan tahu, peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan tahu maupun proses pengolahan. Ampas tahu dapat dijadikan sebagai bahan pakan sumber protein karena mengandung protein kasar cukup tinggi berkisar antara 18-25%, lemak 4,5%, serat kasar 18,21% .

Penyimpanan Ampas Tahu
Ampas tahu yang diperoleh biasanya dalam bentuk basah/ memiliki kandungan air yang tinggi, terlebih lagi kandungan protein pada ampas tahu sehingga bila disimpan akan menyebabkan mudah membusuk dan berjamur. Ampas tahu akan menjadi busuk dan tidak disukai ternak dalam waktu 2-3 hari. Hal ini akan menyebabkan peternak hanya dapat menyimpan ampas tahu sebagai pakan ternak untuk keperluan dua hari saja. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan dilihat dari segi tenaga kerja dan biaya pengangkutan. oleh karena itu dapat dilakukan pengeringan atau pembuatan silase agar ampas tahu dapat disimpan dalam waktu lama.
Untuk memperoleh ampas tahu kering, dilakukan dengan menjemur atau memasukkannya ke dalam oven sampai kering, kemudian digiling sampai menjadi tepung. Tepung ampas tahu sendiri adalah tepung yang diperoleh dari hasil pengeringan dari ampas tahu yang masih basah, dengan alat pengeringan atau sinar matahari, selanjutnya digiling dan diayak hingga menjadi halus. Proses pembuatan tepung ampas tahu terdiri dari tiga tahap yaitu pencucian, pengeringan dan pengecilan ukuran (Rusdi et al., 2011).
Bila mengawetkan ampas tahu secara basah dapat dilakukan dengan pembuatan silase tanpa menggunakan stater. Terlebih dahulu ampas tahu dikurangi kadar airnya dengan cara dipres sampai kadar air mencapai kira-kira 75%. Lalu disimpan dalam ruang kedap udara atau plastik tertutup rapat supaya udara tidak dapat masuk. Setelah tertutup disimpan minimal 21 hari dan digunakan sesuai dengan kebutuhan. Penyimpanan dengan cara pembuatan silase dapat mengawetkan ampas tahu sampai 5-6 bulan (Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat, 1999).
AMPAS TAHU UNTUK PAKAN TERNAK

Penggunaan Ampas Tahu Untuk Pakan Ternak
Surtleff dan Aoyagi (1979) melaporkan bahwa penggunaan ampas tahu sangat baik digunakan sebagai ransum ternak sapi perah. Di Jawa Barat ampas tahu telah banyak dan sudah biasa digunakan oleh peternak sebagai makanan ternak sapi potong untuk proses penggemukan. Di Taiwan ampas tahu digunakan sebagai pakan sapi perah mencapai 2-5 kg per ekor per hari (Heng-Chu, 2004), sedangkan di Jepang penggunaan ampas tahu untuk pakan ternak terutama sapi dan babi dapat mencapai 70% (Amaha, et al., 1996)
Menurut Yusrizal (2002), pemberian ampas tahu dalam ransum yang digunakan sebagai pakan itik mojosari fase stater tidak menimbulkan dampak negatif terhadap performansnya. Ampas tahu yang digunakan dalam ransum itik Mojosari sampai level 15 %. Hal ini berarti ampas tahu bisa diberikan sebagai bahan pakan untuk itik Mojosari dalam fase stater dan finisher karena ampas tahu tidak mempengaruhi performans dari itik Mojosari itu sendiri. Pemberian ampas tahu untuk mengetahui kualitas karkas broiler dilakukan oleh Yuni Sofrianti (2001) diperoleh hasil bahwa pemberian ampas tahu kedalam ransum broiler sampai level 36 % tidak menurunkan kualitas karkas broiler. Menurut Dessita (2003) pemberian ampas tahu sampai level 20% yang diberikan pada puyuh (Cortunix-cortunix japonica) umur 1-6 minggu tidak memberikan efek negatif terhadap performans puyuh umur 1-6 minggu dibandingkan ransum normal. Sedangkan pemberian ampas tahu sampai level 10% yang diberikan pada puyuh (Cortunix-cortunix japonica) setelah 6 bulan produksi secara kumulatif tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap konsumsi ransum, produksi telur, berat telur dan konversi ransum (Ferdinan sembiring, 2002).

*Sumber utama didapat dari
http://disnak.jatimprov.go.id/web/layananpublik/readteknologi/811/pemanfaatan--as-tahu-sebagai-pakan-unggas#.VkAQ8JgY4sI dan
Tarmidi, A. R., 2002. Penggunaan Ampas Tahu Dan Pengaruhnya Pada Pakan Ruminansia. Unpad.ac.id
*Serta ditambah dari :
Amaha, K., Y. Sasahi, and T. Segawa. 1996. Utilization of Tofu (Soybean Curd) By-Product as Feed for Cattle. http// www.agnet.org
Dessita. 2003. Pengaruh Pemberian Tepung Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Performans Puyuh (Coturnix-cortunix japonica) umur 1-6 minggu. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu.
Ferdinan sembiring. 2002. Pengaruh Pemberian Tepung Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Performans Puyuh (Coturnix-cortunix japonica) setelah 6 bulan produksi. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu.
Heng-Chu, A. 2004. Utilization of Agricultural By-Products in Taiwan. http//www.agnet.org.
Shurtleff, W. and A. Aoyagi. 1975. The Book of Tofu, Food for Mankind. Ten Speed Press, California, USA.
Yusrizal. 2002. Pengaruh Pemberian Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Performans itik Mojosari fase stater. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu
Yuni sofrianti. 2001. Pengaruh Pemberian Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Kualitas Karkas Broiler. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu.

BUNGKIL KEDELAI UNTUK PAKAN TERNAK


Bungkil kedelai merupakan hasil ikutan atau bahan yang tersisa setelah kedelai diolah dan diambil minyaknya. Bungkil kedelai merupakan surnber protein yang baik bagi ternak. Kandungan protein bungkil kedelai sekitar 44-51% dan merupakan sumber protein yang amat bagus sebab keseimbangan asam amino yang terkandung didalamnya cukup lengkap dan tinggi. Asam amino yang tidak terkandung dalam protein bungki kedelai adalah metionin dan sistein, yaitu asam amino yang biasanya ditambahkan pada pakan campuran jagung-kedelai. Tetapi bungkil kedelai memiliki kandungan lisin dan triptofan yang tinggi sehingga dapat melengkapi defisiensi pada protein jagung dan memberikan kebutuhan asam amino esensial bagi temak.
BUNGKIL KEDELAI UNTUK PAKAN TERNAK
Gambar Bungkil Kedelai
1.   Bungkil Kedelai Untuk Pakan Ternak Non Ruminansia.
Bungkil kedelai merupakan limbah dari produksi minyak kedelai. Sebagai bahan makanan sumber protein asal tumbuhan, bungkil ini mempunyai kandungan protein yang berbeda sesuai kualitas kacang kedelai. Kisaran kandungan protein bungkil kedelai mencapai 44-51%. Hal ini selain oleh kualitas kacang kedelai juga macam proses pengambilan minyaknya. Pada dasarnya bungkil kedelai dikenal sebagai sumber protein dan energi (Rasyaf, 1994).
Sekitar 50% protein untuk pakan unggas berasal dari bungkil kedelai dan pemakaiannya untuk pakan ayam pedaging berkisar antara 15-30%, sedangkan untuk pakan ayam petelur 10-25% (Wina, 1999). Kandungan protein bungkil kedelai mencapai 43-48%. Bungkil kedelai juga mengandung zat antinutrisi seperti tripsin inhibitor yang dapat mengganggu pertumbuhan unggas, namun zat antinutrisi tersebut akan rusak oleh pemanasan sehingga aman untuk digunakan sebagai pakan unggas. Bungkil kedelai dibuat melalui beberapa tahapan seperti pengambilan lemak, pemanasan, dan penggilingan (Boniran, 1999). Bungkil kedelai yang baik mengandung air tidak lebih dari 12% (Hutagalung, 1999).
Kandungan Nutrisi Bungkil Kedelai
Kandungan Nutrisi Bungkil Kedelai
2.   Bungkil Kedelai Untuk Pakan Ternak Ruminansia.
Bahan pakan sumber protein memiliki tingkat kelarutan yang berbeda-beda. Semakin tinggi kelarutan protein dari suatu bahan, maka protein tersebut semakin tidak tahan terhadap degradasi di dalam rumen. Berdasarkan tingkat ketahanan protein di dalam rumen, bungkil kedelai termasuk kelompok sumber protein dengan tingkat ketahanan rendah (<40%), bersama-sama dengan kasein, bungkil kacang dan biji matahari (Chalupa, 1975). Oleh sebab itu bungkil kedelai memiliki nilai biologis yang kurang memberikan arti bagi ternak ruminansia, disebabkan sebagian besar protein kasar bungkil kedelai terfermentasi dalam rumen dan kurang dapat dimanfaatkan oleh ternak. Untuk memperkecil degradasi protein bungkil kedelai dari perombakan mikroba di dalam rumen, maka bungkil kedelai sebelum diberikan pada ternak perlu mendapat perlindungan.
Perlindungan dimaksudkan untuk mengurangi perombakan protein oleh degradasi mikroba rumen tanpa mengurangi ketersediaan amonia untuk sintesis protein mikroba dan tanpa mengurangi kemampuan hidrolisis oleh enzim-enzim di dalam abomasum dan usus. Perlindungan protein dari degradasi rumen dapat dilakukan dengan cara pemanasan, pemberian formalin, tanin dan kapsulasi.

Sumber:
Boniran, S. 1999. Quality control untuk bahan baku dan produk akhir pakan ternak. Kumpulan Makalah Feed Quality Management Workshop. American Soybean Association dan Balai Penelitian Ternak. hlm. 2-7.
Hutagalung, R.I. 1999. Definisi dan Standar Bahan Baku Pakan. Kumpulan Makalah Feed Qualiy Management Workshop. American Soybean Association dan Balai Penelitian Ternak. hlm. 2-13.
Rasyaf, M. 1994. Makanan Ayam Broiler. Kanisius. Yogyakarta.
Wina, E. 1999. Kualitas protein bungkil kedelai: Metode analisis dan hubungannya dengan penampilan ayam. Kumpulan Makalah Feed Quality Management Workshop. American Soybean Association dan Balai Penelitian Ternak. hlm. 1-3

Mengenal Kambing British Alpine

British Alpine merupakan kambing yang di-developed menjadi produsen susu yang baik. Aslinya berasal dari Swiss - Austria. Sebagian besar kambing asli Eropa adalah group bangsa Alpine dan penyebarannya luas ke seluruh Eropa. Kambing-kambing Swiss, French, dan Italian Alpine 

merupakan tipe-tipe kambing Alpine dan banyak dijumpai di Eropa Tengah dan Utara. Mereka biasa dipelihara dalam jumlah yang kecil dan ditambatkan dengan sistem feeding-stall. British Alpine telah dimasukkan (di-introduced) di India Barat, Guyana, Madagaskar, Mauritius, dan Malaysia. Kambing ini mempunyai daya aklimatisasi lebih baik daripada kambing Saanen.


Di India barat tercatat produksi susu lebih dari 4,5 kg per hari pada laktasi kedua dan ketiga, tetapi di Malaysia dan Mauritius pengembangan kambing ini gagal, antara lain karena kelembaban yang tinggi.