Ternak

Tampilkan postingan dengan label susu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label susu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Desember 2015

Sintesis Protein, Laktosa dan Lemak Susu

Sintesis Protein Susu

Endoplasmic reticulum dan apparatus Golgi berhubungan langsung dengan membran sel dan lumen alveoli. Sebagian dari endoplasmic reticulum ditempeli dengen partikel-partikel yang padat dikenal sebagai ribosome yang melekat di permukaan luar membrannya dan berfungsi utama dalam sintesis protein sel. Bebrapa ribosome tidak menempel pada endoplasmic reticulum tetapi melayang-layang dalam cytoplasma. Bagian endoplasmic reticulum yang tidak tertutup oleh ribosome berfungsi untuk mentransfer material kedalam cytoplasma.


Tiga tipe ribonucleic acid (RNA) yang terlibat dalam sintesis protein susu semuanya terbentuk dalam nucleus dan diangkut ke cytoplasma ke bagian dimana dilakukan sintesis protein. Messenger RNA (mRNA) dari nucleus diangkut ke ribosome, yang mana mengandung RNA tipe kedua yaitu ribosomal RNA (rRNA). mRNA mengandung code untuk asam amino tertentu yang akan membentuk molekul protein tertentu. Code dalam mRNA diperoleh dari code yang terdapat dalam molekul deoxyribonucleic acid (DNA) dalam nucleus. Asam amino dalam cytoplasma diaktifkan dan diambil oleh molekul transfer RNA (tRNA) dan diangkut menuju ribosome dimana mRNA telah dilekatkan. tRNA mengenali code mRNA dan meletakkan asam-asam amino tersebut pada tempat yang tepat. tRNA yang kedua menempatkan asam amino yang lain pada posisi yang sesuai dengan code dalam mRNA, dan dibentuk ikatan peptida antara dua asam amino. Proses tersebut diulangi sampai terbentuk molekul protein. Molekul protein kemudian bergerak menuju ke lumen endoplasmic reticulum ke bagian yang halus dan kemudian ke apparatus Golgi dimana protein susu dimampatkan dalam vacuola dan dikeluarkan ke lumen alveolus. Sebuah vacuola adalah rongga dari suatu membran tipis yang berisi tetesan protein dan laktosa yang kemudian bergerak menuju ke bagian puncak dari sel, dan dari situ dikumpulkan material susu ke dalam lumen alveolus.

Sekresi Lemak Susu

Sekresi lemak susu digambarkan pada sel epithel nomor 2 sampai 8. Pada penampang melintang kelenjar susu yang diwarnai dengan zat warna yang  terserap lemak terlihat tetes-tetes lemak (droplet), lemak yang kecil pada bagian basal seperti pada sel no. 2, selama tetes lemak tersebut menuju ke puncak sel mereka dengan cepat menjadi besar ( sel 3 – 6 ). Pada waktu tetes lemak tersebut menekan membran sel, membran sel ikut membesar dan terus membungkus lemak tersebut. Sekresi tetes lemak terlihat pada sel 7 – 8. Saat tetes lemak / (globula) lemak dilepaskan membran sel menyatu kembali dibagian dibawah globuli  lemak, ini dapat mencegah cytoplasma mengalir ke dalam lumen alveolus. Lemak masuk ke dalam lumen alveolus telah terbungkus lengkap dengan membran yang berasal dari sel yang mensekresikan. Pada analisis lemak susu diketemukan sejumlah kecil protein, diduga merupakan tetesan protein yang terperangkap dalam membran yang membungkus lemak pada saat lemak akan disekresikan.
Hampir semua lemak susu terdiri dari triglycerida. Triglycerida tersusun dari tiga asam lemak yang terikat dengan satu molekul glycerol. Asam-asam lemak tersebut mempunyai rantai carbon lemak susu yang panjangnya berbeda-beda. Panjang rantai carbon lemak susu dari empat spesies ditunjukkan dalam Tabel 10 .

Asam-asam lemak yang mengalami esterifikasi dengan glycerol berasal dari dua sumber pokok. Hampir semua asam lemak rantai pendek sampai asam lemak yang mempunyai atom C-14 dan beberapa  C-16 disintesis dalam kelenjar susu. Mereka disusun dari unit asam acetat yang mengandung dua atom C dan asam β-hydroxybutirat (molekul asam butirat) yang mengandung empat atom C. Unit rantai carbon pendek ini berasal dari proses fermentasi dalam rumen, sebagai penyusun lemak susu lauh lebih banyak digunakan asam acetat daripada asam butirat.

Hampir semua asam lemak  C-18 dan beberapa asam lemak C- 16  berasal dari asam lemak yang diabsorbsi langsung seperti apa adanya dari darah.  Beberapa asam lemak C-14 dan C-16 juga berasal dari asam lemak C-16 dan C-18  melalui pemotongan 2 atau 4 unit carbon. Kelenjar susu dapat menghilangkan ion-ion hydrogen dari asam-asam lemak C-18 untuk mengubahnya menjadi asam lemak tidak jenuh. Kelenjar susu mengabsorbsi lebih sedikit asam oleat dan linoleat dari saluran darah dibandingkan dengan yang diketemukan dalam susu. Karena itu beberapa lemak dalam kelenjar susu adalah lemak tidak jenuh. Molekul glycerol disintesis dari glukosa, tetapi sebagian berasal dari bagian glycerol dari triglycerida yang diabsorbsi darah.

Sekresi Laktosa

Laktosa tersusun dari dua monosacharida, glukosa dan galaktosa. Dalam proses pembentukan lactosa sebuah molekul glukosa diubah menjadi galaktosa. Molekul galaktosa ini kemudian dihubungkan dengan sebuah molekul glokosa kedua untuk membentuk laktosa. Kira-kira sebanyak 50 % glukosa yang masuk ke dalam ambing digunakan sebagai energi. Pada tahap akhir dalam formasi laktosa digunakan enzim lactose-synthetase yang terdiri dari dua unit. Salah satu sub unit adala α-laktalbumin, yang juga merupakan salah satu protein susu. Formasi laktosa terjadi dalam apparatus Golgi. α-laktalbumin disintesis pada ribosome dan bergerak menuju ke lumen endoplasmic reticulum ke apparatus Golgi, dimana ketemu sub unit kedua yaitu galactocyl-transferase dari lactos synthetase. Karena lactose synthetase terbentuk dalam apparatus Golgi, maka dianggap pembentukan laktosa juga terjadi disitu, dan laktosa tersebut dengan partikel protein diangkut keluar menuju vacuola.

Kandungan laktosa susu relatif konstan. Laktosa merupakan komponen pokok yang mengatur tekanan osmose susu, tetapi ion-ion CL, K (Potasium), Na (Sodium) juga mempunyai peranan dalam pengaturan tekanan osmose susu. Air ditransfer kedalam lumen alveolus sampai tekanan osmose susu sama dengan tekanan osmose darah. Sebagian besar air menembus sel-sel epithel dan masuk ke dalam susu dengan cara filtrasi (perembesan).

Proses Sekresi Komponen Susu Lain

Kandungan mineral dan vitamin dalam susu diatur dengan proses filtrasi. Sel-sel epithel berfungsi sebagai membran barier atau carrier partikel-partikel tersebut dari darah ke lumen alveolus. Sel-sel epithel mengkombinasikan beberapa mineral dengan komponen ogranik, sebagi contoh 75 % Ca dalam susu secara kimiawi  atau fisis terkombinasi dalam casein, phosphat dan citrat. Lebih dari separo phosphor dalam susu terikat dalam casein. Molekul-molekul vitamin dalam darah ditransfer ke dalam susu tanpa melalui perubahan. Konsentrasi beberapa vitamin terutama vitamin yang larut dalam air, dapat ditingkatkan dengan peningkatan jumlah vitamin tersebut dalam plasma darah.

Jadi ada dua tipe proses sekresi dalam kelenjar susu. Proses filtrasi yang meliputi sekresi air, vitamin, dan mineral dan proses metabolisme yang sesungguhnya pada sekresi lemak, laktosa, dan protein. Komponen sel juga diketemukan dalam susu, ini diperkirakan merupakan hasil pemecahan dan degradasi sel-sel epithel yang terbawa ke dalam susu. Beberapa sel tersebut diganti selama periode laktasi, dan penurunan produksi terjadi setelah puncak produksi sebagian besar disebabkan karena berkurangnya jumlah sel-sel epithel tersebut.

Minggu, 01 November 2015

7 Metode dan Uji Kualitas susu fermentasi

Parameter pengamatan uji kualitas susu fermentasi meliputi kadar air, uji kadar lemak, uji kadar protein, uji laktosa, uji kadar  keasaman, uji pH, dan total bakteri asam laktat.
a. Uji kadar air (Sudarmadji et al., 1997) pengukuran kadar air pada sampel dilakukan dengan proses pengeringan.
b. Uji kadar lemak (Sudarmadji et al., 1997) pengukuran kadar lemak pada sampel dilakukan dengan menggunakan metode Soxhlet.
c. Uji kadar protein (Sudarmadji et al., 1997) pengukuran kadar protein pada sampel dilakukan dengan menggunakan metode Kjeldahl.
d. Uji laktosa (Nurgayanti, 2012) uji laktosa dilakukan dengan metode Somogyi-Nelson dan Follin Wu.
e. Uji  kadar keasaman (Hadiwiyoto, 1994) Uji keasaman dilakukan dengan menggunakan metode Mann’s acid test.
f. Uji pH (Hadiwiyoto, 1994) Uji pH dilakukan dengan metode potensiometer menggunakan pH meter.
g. Total bakteri asam laktat (Hadiwiyoto, 1994) Perhitungan total bakteriasam laktat menggunakan Total Plate Count (TPC) dengan media MRS.

pengumpulan susu dari peternak yang akan didistribusikan

uji kualistas susu

Jumat, 18 September 2015

Mengenal Dadih - Susu fermentasi alami asal Sumatera barat

Dadih adalah produk olahan dari susu kerbau yang dibuat dengan cara fermentasi alami pada suhu kamar selama 2 hari. Saat ini dadih dikonsumsi sebagai makanan adat, disuguhkan pada acara pernikahan dan pemberian gelar datuk di daerah Sumatra Barat, selain di daerah Sumatra Barat dadih juga terdapat di daerah Riau. Umumnya dadih dikonsumsi langsung bersama nasi setelah diberi irisan bawang merah dan cabe merah, atau dadih dicampurkan ke dalam minuman es bersama emping ketan, santan dan gula merah. Dadih yang disenangi oleh konsumen adalah yang berwarna putih, bertekstur lembut dengan aroma spesifik. Dewasa ini yang menjadi masalah besar adalah konsumsi dadih yang terus menurun, sehingga menyebabkan masa depan dari produksi susu kerbau dan dadih menjadi suram (Ibrahim, 2010)

dadih susu kerbau

Pembuatan dadih sampai saat ini masih dilakukan secara tradisional, sehingga kualitas dadih yang diperoleh berbeda-beda. Belum adanya standar pembuatan dadih menyebabkan kualitas dadih yang diperoleh bervariasi pada masing-masing pengolah. Upaya-upaya peningkatan kualitas dadih baik secara fisik, kimia, maupun mikrobiologis sangat diperlukan.Upaya pengembangan dadih dari makanan tradisional menjadi salah satu produk bahan pangan olahan susu yang mempunyai peluang besar menjadi produk komersial telah banyak dilakukan. Upaya-upaya tersebut antara lain melalui  penggantian susu kerbau dengan susu sapi. Pada umumnya, peminat susu kerbau relatifsedikit, mungkin hal ini akibat persediaan yangterbatas, tidak ada pemasaran atau tidakdisukai karena kandungan lemak yang dapatmenyebabkan rasa mual atau bahkan sampaimembuat diare apabila susu kerbau di minumdalam jumlah yang cukup banyak.

Dadih diolah secara tradisional oleh masyarakat di Minangkabau atau dengan kata lain dadih di fermentasi secara alami yang berbahan baku susu kerbau dalam wadah bambu. Pembuatan dadih sangat sederhana setelah susu kerbau di perah disaring dan di tuang kedalam tabung bambu, kemudian di tutup dengan daun pisang. Dadih yang sudah di tutup dengan daun pisang selanjutnya di diamkan selama dua hari pada suhu ruangan. Penggunaan bambu sebagai wadah tempat penyimpanan susu ini sangat berpengaruh terhadap mutu dadih, hal ini juga pernah dinyatakan Sayuti (1993) dadih yang dibuat dari bambu betung akan bewarna putih seperti susu dengan tekstur yang licin. Pembuatan dadih di Sumatera Barat biasanya dilakukan dari 3 macam bambu yaitu bambu betung, bambu talang dan bambu gombong.