Ternak

Tampilkan postingan dengan label Penyakit Ternak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit Ternak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2015

3 Penyakit pada Pedet yang Perlu Diwaspadai

Kejadian kematian pedet pada umur 2 – 3 minggu dapat sangat tinggi. Kematian ini pada peternakan dapat serendah 1 %, tetapi juga dapat meningkat sampai mencapai 20 – 25 %. Beberapa penyakit tidak langsung menyebabkan kematian, tetapi menyebabkan pedet menjadi lemah kondisinya, membuat pedet tersebut rentan terhadap penyakit lain. Sebagai contoh gangguan digesti biasanya menurunkan ketahanan tubuh pedet terhadap penyakit infeksi. Secara umum penyakit pedet disebabkan karena baik oleh infeksi bakteri maupun virus, atau kekurangan pakan dan manajemen yang jelek.


Sejumlah metode / cara sangat penting untuk mengurangi kejadian penyakit pedet. Misalnya merupakan hal yang sangat penting untuk memberi pakan yang cukup pada induk agar menghasilkan pedet yang sehat waktu dilahirkan. Garam yodium (iodine) perlu diberikan pada induk untuk mencegah kejadian gondok (goiter) pada pedet. Pedet harus segera mengkonsumsi kolostrum sebagai sumber vitamin A, antibody dan kaya akan energi, segera setelah lahir. Lingkungan pedet harus bersih, bebas debu kotoran, dan harus kering. Luka pada tali pusar harus didesinfektan segera setelah lahir. Susu harus diberikan dalam waktu tertentu dan jumlah pemberian sehari tidak lebih dari 10 % berat badan pedet. Temperatur susu dan pemberiannya harus teratur / rutin dari hari ke hari. Penambahan antibiotik dalam susu atau milk replacer dapat menangkal penyakit. Sanitasi alat-alat persusuan sangat penting artinya. Apabila ternak sakit harus dipisahkan dari pedet lainnya untuk mencegah penyebaran / penularan. Tiga penyakit yang biasa menyerang pedet adalah calf septicemia acute, diarrhea, dan pneumonia.

Calf septicemia acute.

Ini merupakan penyakit yang ganas yang biasanya menyerang pedet pada umur 3 – 5 hari. Salah satu tanda penyakit ini adalah diarrhea, dimana faecesnya cair, baunya sangat spesifik dan berwarna putih keabu-abuan. Warna faeces merupakan alasan mengapa penyakit ini juga disebut “white scours”. Diarrhea ini menyebabkan kondisi menjadi lemah dan dehidrasi, dengan indikasi mata menjadi sayu. Penyakit ini merupakan penyakit infeksi dan pada umumnya menyebabkan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh virus dan diikuti oleh infeksi Escherichia coli di intestinum.

Untuk mencegah calf septichemia acut sapi harus beranak di kandang yang bersih, kering dan bebas debu kotoran. Pedet harus mengkonsumsi kolostrum segera setelah lahir, dan pusar harus didesinfektan untuk mencegah jangan sampai berfungsi sebagai jalan masuknya virus dan bakteri ke dalam tubuh pedet. Pemberian pakan dengan antibiotik, vaksinasi induk menjelang beranak, dan vaksinasi pedet yang baru lahir dengan bakterin, serum, atau antitoksin dapat mengurangi kejadian penyakit tersebut. Pedet yang telah terinfeksi harus ditangani dokter hewan. Karena dehidrasi, imbangan cairan tubuh pedet harus dikembalikan normal dengan jalan diinfus larutan elektrolit balans yang mengan-dung Na. Kombinasi antibiotik dengan obat-obat sulfa diberikan pada pedet. Pemberian serum anti bakterial bersama-sama dengan vitamin A dan transfusi darah dari induknya juga dapat membantu. Pedet harus dipisahkan segera untuk mencegah penularan. Sapi yang lain tidak dibenarkan melahirkan di kandang yang telah tercemar, sebelum kandang tersebut dibersihkan dan didesinfektan.

Diarrhea biasa (Common Scours)

Diarrhea atau berak cair biasa pada pedet, biasanya tidak menyebabkan kematian tetapi menurunkan vitalitas dan kecepatan pertumbuhan, dan menyebabkan pedet tersebut lebih peka terhadap penyakit infeksi. Penyakit diarrhea ini dapat terjadi pada berbagai umur, tetapi lebih sering terjadi pada periode susu. Faecesnya berwarna normal tetapi konsistensinya cair / agak cair. Pedet yang demikian tampak lemah, matanya tidak bercahaya dan daun telinganya lemah menggantung. Temperatur tubuh dan frekuensi respirasinya meningkat.

Kejadian ini sering disebabkan karena kelebihan pemberian pakan (over-feeding), tetapi juga dapat disebabkan karena ketidak teraturan pemberian susu (ada perubahan dalam komposisi, temperatur susu, dan jumlah yang diberikan). Alat-alat yang kotor, ambing yang kotor atau mengkonsumsi bahan kasar dari beddingnya juga dapat menyebabkan diarrhea. Apabila pedet menampakkan tanda-tanda diarrhea biasa, jumlah pakan (tapi bukan yang cair) sebaiknya dikurangi menjadi setengahnya pada pemberian pakan berikutnya dan pemberian pakan susu secara bertahap ditingkatkan. Antibiotikaa dan obatpobat sulfa dapat menurunkan kejadian diarrhea.

Radang Paru-paru (Pneumonia)

Pneumonia paling banyak menyebabkan kematian pedet, biasanya terjadi pada umur 3 -8 minggu dan disertai dengan diarrhea atau penyakit lain yang menyebabkan pedet menjadi lemah. Pedet yang terserang pneumonia menunjukkan tanda-tanda sering batuk-batuk, frekuensi respirasi meningkat, temperatur tubuh meningkat, bulu tampak kusam, kehilangan nafsu makan, kondisi tubuh melemah dan dari hidung keluar cairan yang cukup banyak dan agak berbahu.

Pneumonia disebabkan oleh virus. Pneumonia juga dapat disebabkan karena cuaca yang dingin, becek, kandang yang kurang ventilasi. Perubahan temperatur yang mendadak yang menyebabkan pedet kedinginan atau transportasi pedet dari farm satu ke farm lainnya dapat menimbulkan penyakit tersebut.

Pencegahan pneumonia dapat dikerjakan dengan cara menyediakan lingkungan (kandang) yang kering dan hangat, mengusahakan pemberian pakan yang rutin, dan pemberian antibiotik dalam pakan selama periode susu. Penanganan terhadap kejadian pneumonia terdiri dari menghilangkan penyebabnya dan memindahkan pedet yang sakit ke kandang yang kering dan hangat. Obat-obat sulfa dan antibiotik dapat membantu penyembuhan. Pedet yang sakit harus segera diisolasi, untuk mencegah atau memperkecil penularan pada pedet yang lain.

Minggu, 11 Oktober 2015

Penyakit Kembung Pada Ternak

Ternak yang mengalami penyakit kembung biasanya adalah ternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan kerbau. Kondisi cuaca yang bergantian, musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya, sering mengakibatkan munculnya Penyakit kembung pada ternak. Penyakit ini dikarenakan dalam perut ternak banyak terdapat angin. Biasanya pada ternak terjadi disebabkan karena pencernaan yang terganggu oleh pakan di lambung (rumen) ternak yang mengalami proses fermentasi yang berlangsung cepat dari biasanya.

Penyakit kembung pada ternak awalnya muncul akibat dari pakan yang memiliki gas, jika makan pada saat kondisi tertentu. Contohnya:
  • ternak makan sumber pakan yang masih banyak memiliki banyak kandungan air.
  • ternak makan pakan hijauan yang berasal dari kacang-kacangan, bijian-bijian yang digiling halus dalam bentuk tepung.
  • ternak makan rumput, tanaman, pohon yan masih muda.
  • Tanaman, atau tumbuhan yang ditaman kemudian diberi pupuk urea. 

penyakit kembung pada ternak

Jika ternak yang mengalami kembung, serta mengeluarkan buih, biasanya pakan yang dimakan ialah banyak memiliki kandungan saponin yaitu semacam zat yang berbuih seperti yang terdapat pada sabun. Bisa juga disebabkan karena ternak dalam keadaan bunting, kekurangan darah, sakit, badan lemas, ataupun ternak sedang proses penyembuhan dari sakit tertentu. Gas dari pakan yang menyebabkan ternak kembung berasal dari aktivitas fermentasi yang terjadi pada perut besar (rumen) yang terlalu cepat. Aktivitas fermentasi yang menyebabkan penyakit ini tidak seperti biasanya, sehingga gas dalam rumen tidak dapat keluar dengan cepat sehingga banyak gas yang terperangkat dalam rumen. Gas yang muncul ini antara lain: gas methana, Karbon Dioksida(CO2), dan lain-lain. Gas tersebut yang mengakibatkan ternak mengalami penyakit kembung.

Gejala Penyakit Kembung Pada ternak:
  • ternak sakit, akan merasa sulit untuk bernapas, gelisah, dan ternak banyak diam.
  • Biasanya akan keluar cairan bewarna bening pada hidung ternak.
  • Bagian yang mengalami kembung, bagian kiri, bila diketuk-ketuk dengan jari tangan, seperti bunyi bedug, bola kosong
  • ternak akan bernapas dengan mulutnya.
  • Punggung ternak dalam keadaan memungkuk, nada denyut jantungnya akan semakin lemas.
  • ternak mengerang dengan suara keras.
  • Pada tahap kritis, ternak akan terjatuh, dan akan susah untuk kembali bangun, jika hal ini dibiarkan, dan tidak segera diambil tindakan, ternak akan mati.
  • Pada saat terlentang, ternak akan menjulurkan lehernya, untuk mengeluarkan angin.
Pengendalian ternak yang terkena penyakit kembung:
Kembung yang tidak berat, biasanya akan sembuh tanpa diobati, khususnya ternak yang beraktivitas. Penyakit kembung yang parah pada ternak, biasanya karena ternak kurang bergerak.
Untuk menghindari penyakit ini, alangkah baiknya jangan membiarkan ternak terlalu lapar, dan jangan memberikan pakan ternak yang dapat mengakibakan kembung. Seperti pakan hijauan jenis kacang-kacangan agar diberikan sekitar 50% dari jumlah pakan. ternak sebelum diberi pakan hijauan sebaiknya diberikan dulu hay (jerami kering atau rumput kering). Sumber pakan tersebut dapat mempertahankan gerak penyusutan rumen dengan normal. Kita sebagai peternak, jangan memberikan pakan hijauan yang muda, banyak memiliki kandungan air karena hujan atau embun pagi. Jadi berikanlah pakan hijauan yang sudah agak kering. Hindari pemberian pakan yang mengakibatkan proses fermentasi berlangsung cepat Seperti kol, lobak, dan wortel. Namun jika situasi memaksa, pakan hijauan alangkah baiknya diberi percikan minyak kelapa.

Pengobatan Penyakit Kembung Pada ternak:
  • Sediakan minyak nabati seperti, minyak kelapa, minyak kedali, atau minyak sawit. Takaran 100-200 ml atau sekitar ½ gelas sampai 1 gelas, carannya dengan mencokoki minyak tersebut kedalam mulut melalui mulut samping.
  • Dengan mencokoki minuman 1 sachet/kemasan jamu anti masuk angin untuk manusia, diberikan minuman bersoda, kemudian mengoleskan minyak kayu putih.
  • ternak dicekok 1 gelas minuman bersoda seperti coca-cola atau sprite. Balur perut ternak dengan bawah merah yang telah dihaluskan, selanjutnya dicampur dengan minyak angin. Jika angin telah keluar melalui anus, kedua kaki ternak depan diangkat keatas, sambil sisi perut dijepit dengan kaki kita. Kita usahakan ternak selalu dalam keadaan berdiri dan mulutnya dalam keadaan terbuka, bisa ditaruh kayu dengan melintang.
  • Memberikan obat, semacam antibiotic seperti panicilin yang kegunaannya untuk mengurangi jumlah bakteri penghasil gas dalam rumen sapi. Seekor ternak bisa diberi 50ml Tymposol yang telah dicampur dan dilarutkan ke dalam setengah liter air.
  • Ini ialah bagian agak ekstrem, yaitu dengan menusukan sesuatu ke anus ternak, dengan tangkai daun papaya yang sudah dioleskan dengan minyak seprti minyak goreng, sehingga ternak tidak akan terluka. Selanjutnya, kedua sisi perut ternak dijepit, jadi gas nya akan keluar melalui tangkai daun papaya.

Selasa, 23 Juni 2015

PENYAKIT FOOT ROT PADA TERNAK

Penyakit foot rot atau kaki membusuk atau borok ceracak tergolong penyakit bakterial dan disebabkan oleh Bacteroides (Fusobacterium) nodosus. Kondisi kandang yang basah dan kotor juga sering dikaitkan dengan kejadian penyakit ini. Kaki ternak yang luka karena jatuh pada lantai kandang yang licin dan basah menjadi pintu masuk bakteri tersebut. Kaki akan mengalami peradangan dan akhirnya membusuk (Tomaszewska et al., 1993).
Gejala Klinis atau tanda-tanda dari penyakit foot rot ini antaralain Kaki pincang, bagian atas kuku meradang, ternak lebih banyak diam, berwarna merah, abses disekitar kuku, diantara kuku pecah dan meradang, bau busuk, adanya nanah pada kuku yang terluka, Nafsu makan turun, kondisi badan menurun.
PENYAKIT FOOT ROT PADA TERNAK

Penanganan penyakit ini harus dilakukan dengan teliti, yaitu kaki yang terinfekasi dibersihkan dengan air. Kulit yang telah mati dikelupas dan dibersihkan. Secara tradisional dapat dilakukan dengan cara menggunakan kapur barus dan minyak tanah atau air tembakau. Untuk menghindari lalat, dapat dispray menggunakan obat anti lalat. Pemberian suntikan antibiotika dapat dilakukan selama 3-5 hari. Ternak penderita sebaiknya dipindahkan ke tempat yang kering.
Penyakit foot rot dapat dicegah dengan selalu memperhatikan kondisi kandang. Ternak diusahakan selalu berada di lantai yang kering dan dilakukan pemotongan kuku. Lumpur dan kotoran sebagai pemicu penyakit ini, selalu dibersihkan agar tidak terselip diantara kuku.

Sumber :
Tomaszewska, M. W., I. M. Mastika., A. Djajanegara., S.Gardiner Dan T. R.Wiradarya. 1993. Produksi Kambing Dan Domba Di Indonesia. Sebelas Maret University Press. Surakarta.
Sjamsul Bahri, R. M. A. Adjid, Beriajaya, Dan  April H Wardhana. Manajemen Kesehatan Dalam Usaha Ternak Kambing. Balai Penelitian Veteriner, Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan; Po Box 151 Bogor 16114. Lokakarya Nasional Kambing Potong.

Kamis, 28 Mei 2015

PENYAKIT DIARE NEONATAL PADA TERNAK RUMINANSIA

Diare neonatal adalah suatu penyakit yang akut atau subakut pada pedet yang baru lahir. Tanda-tandanya adalah diare hebat, dehidrasi yang disebabkan oleh satu atau beberapa jenis jasad renik. Dilaporkan bahwa penyakit diare neonatal yang disebabkan oleh infeksi enterotoksigenik Escherichia coli (ETEC) yang dapat terjadi beberapa saat setelah anak sapi dilahirkan hingga umur 1-2 minggu, dengan masa inkubasi penyakit hanya 6-18 jam. ETEC sering diisolasi sebagai penyebab tunggal pada anak sapi penderita diare umur 3 hari, Sedangkan patogen lain rotavirus, corona virus, bovine virus diare menyerang sapi pada umur 10-15 hari. Sedangkan Salmonella spp, Cryptosporidium dan coccidia menyerang anak sapi pada usia yang lebih tua yaitu setelah umur 20 hari. Oleh karena itu pada kejadian infeksi campuran ETEC dan patogen lain dapat memperpanjang waktu terjadinya diare (Radstids, 1985).

Penularan penyakit ini bermula dari kebersihan lingkungan pemeliharaan dan pengelolaan yang kurang baik. faktor lain sebagai predisposisi adalah tidak cukupnya antibody yang diperoleh dari kolostrum anak sapi yang belum terdedah oleh pathogen, cekaman cuaca dan pemberian susu yang basi. Gejala klinis yang menonjol adalah diare, dehidrasi, kelemahan dan kematian dalam waktu satu atau beberapa hari. Serangan penyakit terjadi sangat mendadak, feses banyak dan encer. Pedet yang terserang ambruk dalam waktu 12-24 jam.
PENYAKIT DIARE NEONATAL PADA TERNAK RUMINANSIA
Kemungkinan terjadinya infeksi dapat dikurangi dengan cara mengurangi kemungkinan infeksi pada pedet yang baru lahir, memberikan kolostrum secara cukup, menaikan ketahanan pedet dengan melakukan vaksinansi induk atau pada pedet yang baru lahir. Pengobatan sangat tergantung pada jasad penyebab dan kondisi hewan. Injeksi larutan garam dapat menolong untuk mengatasi dehidrasi. Obat yang dapat digunakan yaitu collibac bollusdengan cara dihancurkan lalu diminumkan, antihistamin dan dibantu dengan pemberian susu.

Anak sapi perah yang terinfeksi ETEC menderita diare terus menerus (profus), tinja encer seperti air berwarna putih kekuning-kuningan. Anak sapi penderita diare akan mengalami kekurangan cairan yang mengandung garam mineral atau elektrolit sehingga terjadi dehidrasi dan asidosis yang dapat menyebabkan kematian. Kerugian ekonomi yang dirasakan oleh peternak akibat biaya obat dan tenaga pengobatan, kematian dan gangguan pertumbuhan pada anak sapi yang masih bertahan hidup. Diare neonatal pada anak babi akibat infeksi ETEC merupakan penyakit yang banyak menimbulkan kematian dan sulit dikendalikan dengan menggunakan antibiotika walaupun obat-obatan banyak dipakai.

Jumat, 01 Mei 2015

Penyebab, Pencegahan dan Pengobatan Diare pada Ternak

Diare pada ternak (sapi, kerbau, kuda, kambing, kelinci, unggas, ayam, itik, bebek, angsa, kelinci, kucing, anjing, dll) bukan merupakan sebuah penyakit, tapi lebih merupakan tanda atau gejala klinis dari sebuah penyakit yang lebih komplek yang bisa disebabkan oleh berbagai hal.Diare pada ternak, seperti pada manusia, dapat terjadi ketika pergerakan cairan tubuh dalam sistem pencernaan mengalami gangguan. Biasanya selalu berakibat kehilangan cairan atau dehidrasi. Cairan tubuh yang keluar ini juga membawa serta garam garam mineral atau elektrolit. Sayangnya, kehilangan ini akan merubah keseimbangan kimiawi tubuh yang pada akhirnya akan menimbulkan stress dan depresi, yang dapat berujung pada kematian. Rehidrasi, sebuah terapi pada ternak dengan memberikan air dan suplemen elektrolit dapat membantu meredakan efek diare dan memulihkan keseimbangan tersebut.

Secara umum, diare dibagi dua kategori, diare yang dibebabkan oleh ketidakseimbangan nutrisi (non-infeksius) dan diare yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme.
E Coli

Diare Non-Infeksi
Biasanya disebabkan oleh perubahan (yang mendadak) dari program pemberian pakan.
Bisa terjadi ketika pedet yang asalnya mengkonsumsi susu sebagai satu satunya sumber nutrisi, tumbuh dewasa dan mulai makan serat kasar atau hijauan sebagai suplemen. Atau bisa juga terjadi ketika pemberian susu buatan (CMR - Calf Milk Replacement) tidak sesuai takaran, terlalu dingin atau bahkan basi.

Meskipun seringkali tidak sangat berbahaya dan tidak sampai menyebabkan kematian, diare non-infeksi ini (terutama pada sapi muda/pedet) dapat dengan cepat melemahkan tubuh yang pada gilirannya dapat menyebabkan ternak rentan terkena diare infeksi atau penyakit lain yang lebih parah.
Diare Infeksi
Diare jenis ini merupakan masalah terbesar terutama pada sapi pedet. Bisa disebabkan oleh infeksi virus, bakteri atau protozoa. Oleh sebab itu, identifikasi terhadap sumber penyebab diare merupakan sebuah langkah penting dalam membuat program pencegahan diare.

Infeksi Bakteri
Bakteri ini menghasilkan semacam protein yang bersifat racun yang dapat menganggu dinding usus. Ternak memberi reaksi terhadap racun ini dengan memompa air dalam jumlah banyak ke sistem usus dengan tujuan untuk membilas atau menyiram racun ini. Beberapa bakteri yang bertanggung jawab terhadap infeksi ini adalah berasal dari jenis E. coli, Salmonella, dan Clostridium.
Escherichia coli
E. coli sebetulnya merupakan jenis mikroorganisma yang biasa dari terdapat dalam sistem pencernaan ternak. Banyak dari strain E. coli sama sekali tidak berbahaya, tapi beberapa jenis dapat menyebabkan diare parah dan bahkan kematian. Biasanya E. coli akan menyebabkan jaringan epitel dalam usus berubah fungsi, dari mode penyerapan (nutrisi) menjadi mode pengeluaran. E. coli juga seringkali dituduh menjadi penyebab utama diare pada sapi.

Sekurangnya ada 3 jenis E. coli yang dapat dikemukakan.

  1. Enteric - Ini jenis yang paling umum. Tanda klinis utama adalah diare hebat. Pedet dengan cepat menjadi lemas dan mengalami dehidrasi. Biasanya diawali dulu dengan demam yang kemudian dengan cepat kembali normal, atau mendekati normal. Dapat menyebabkan kematian.
  2. Enterotoxigenic - Disebabkan oleh bakteri E. coli dari jenis K-99. Infeksi dari strain ini berakibat fatal. Racun menyebabkan cairan yang dipompa ke dalam usus sedemikian banyak sehingga pedet biasanya mati bahkan sebelum gejala diare (mencret) muncul. Diare seperti ini adalah salah satu yang diare yang dapat muncul pada umur pedet dibawah 3 hari.
  3. Septicemic - Jenis ini bekerja mirip bakteri Salmonella. Metodanya adalah dengan menginfeksi aliran darah dan masuk kedalam jaringan tubuh sehingga menyebabkan infeksi global. Luka dan jejak dari infeksi bakteri jenis ini biasanya tidak tampak secara jelas. Ini merupakan jenis E. coli yang ganas, seringkali menyebabkan kematian tanpa gejala klinis diare terlebih dahulu. Pedet yang tidak mendapat atau dihentikan pemberian kolostrum, biasanya mati karena jenis septisemik ini.

E. coli biasanya menjangkiti pedet yang baru berusia dibawah 14 hari, banyak kasus terjadi pada usia kurang dari 1 minggu. E. coli sering ditemukan sebagai infeksi lanjutan dari infeksi rotavirus dan coronavirus.

Perlu diingat bahwa kurang lebih hanya 60% cairan elektrolit yang dapat diserap oleh pasien, pengobatan yang efektif memerlukan peningkatan frekuensi pemberian untuk menggantikan cairan dan elektrolit yang hilang karena diare. Ketika 40% dari cairan tersebut hanya ‘numpang lewat’ di tubuh ternak, diare bisa tampak lebih parah walaupun sebenarnya pengobatan yang efektif sedang berjalan.

Di pasaran sudah tersedia vaksin baru untuk E. coli. Vaksin ini mengandung antigen K99 yang dapat memberikan kekebalan terhadap berbagai jenis E. coli. Vaksin diberikan pada induk pada 6 minggu dan 3 minggu sebelum melahirkan. Tersedia juga vaksin yang merupakan kombinasi vaksin E. coli, rota dan coronavirus. Vaksin ini membantu pembentukan tingkat antibodi yang tinggi di kolostrum, tapi pedet harus mendapat kolostrum sesegera mungkin setelah dilahirkan agar vaksin dapat bekerja efektif.
Salmonella
Menyerang lapisan lendir dalam usus kecil, menyebabkan peradangan dan pengikisan pada lapisan usus. Bakteri ini dapat menyerang aliran darah, persendian, otak, paru paru dan hati. Lebih jauh, ternak yang terinfeksi dapat menyebarkan bakteri ini dalam kotoran/faeces, urine, saliva dan cairan hidung. Bakteri yang tinggal dalam media media tersebut dapat hidup sampai bilangan bulan.

Sumber infeksi Salmonella pada pedet dapat berasal dari sesama ternak sapi, burung, binatang pengerat, air, manusia dan air susu yang berasal dari sapi terinfeksi. Infeksi yang paling umum adalah berasal dari bakteri Salmonella typhimurium.
Diare yang timbul biasanya cukup parah, ternak tidak mau minum susu atau CMR, dehidrasi berat dan demam tinggi. Kotoran berair dan seringkali terdapat bercak darah. Tingkat kematian pada pedet yang terinfeksi salmonella sangat tinggi, biasanya terjadi pada 12 - 48 jam setelah tanda tanda pertama muncul.

Infeksi salmonella pada pedet dapat terjadi pada semua tingkat usia, tapi biasanya terjadi pada usia diatas 6 hari. Mengingat ada lebih dari 1000 jenis bakter Salmonella, selain itu banyak isolat yang ditemukan merupakan jenis yang sangat tahan terhadap pola pola antimikroba. Oleh sebab itu tes khusus (bacteriologic sensitivity test) sangat kritis untuk menentukan jenis antibiotik yang diberikan.
Clostridium perfringens
Bakteri Clostridium dari tipe B, C dan D ini dapat menyebabkan enterotoxemia, sebuah infeksi usus yang akut. Clostridium perfringens secara normal ditemukan pada usus sapi dewasa dan dapat bertahan hidup cukup lama di tanah. Kondisi perubahan program pakan yang secara mendadak yang dimakan berlebih dapat mengakibatkan proses pencernaan makanan yang kurang sempurna, memperlambat pergerakan usus, menproduksi gula, protein dan konsentrasi oksigen yang rendah yang berujung pada lingkungan yang cocok untuk mempercepat pertumbuhan bakteri Clostridium. Kondisi basah dan lembab juga terlihat diinginkan oleh bakteri ini.

Pedet yang terinfeksi menunjukkan gejala gelisah. Seringkali disertai ketegangan dan tendangan pada bagian perut. Pedet seringkali ditemukan telah mati tanpa gejala apa apa. Biasanya terjadi pada usia kurang dari 10 - 14 hari. Infeksi Clostridial ini tidak terlalu umum dijumpai pada pedet. Pun demikian, penyakit ini dapat dikendalikan dengan memvaksinasi induk sapi dengan Clostridium perfringens toxoid pada 60 sampai 30 hari sebelum melahirkan. Selanjutnya satu dosis booster harus diberikan setiap tahun sebelum melahirkan. Apabila masalah ini di diagnosa pada pedet yang dilahirkan dari induk yang belum di imunisasi, antitoxin dapat langsung diberikan pada pedet. pemberian antitoxin dan antibiotik secara oral dipandang sebagai satu satunya pengobatan yang efektif.
Infeksi Virus
Virus menyerang lapisan sel usus kecil yang mengganggu proses penyerapan. Virus masuk kedalam sel dan menggunakan bahan bahan sel tersebut untuk reproduksinya. Ketika sel yang menjadi tempat berkembang biak penuh oleh virus, sel tersebut pecah dan mengeluarkan virus virus baru untuk menyerang sel lain lebih banyak.

Infeksi yang disebabkan virus menyebabkan pedet menjadi lebih rentan terhadap serangan infeksi bakteri lain. Rotavirus dan Coronavirus memiliki cara kerja yang sama dan merupakan “tertuduh” utama pada kasus diare pada pedet. Kedua organisme tersebut banyak terdapat pada sapi dewasa dan paparan pada sapi sapi muda menjadi sangat umum.

Gejala yang ditimbulkan adalah mencret parah, hampir tidak ada demam, depresi dan dehidrasi hebat. Seringkali terjadi pengeluaran saliva (air liur) dan sering mengejan.
Biasanya terjadi sampai pada 10 - 14 hari sejak kelahiran, khususnya 10 hari pertama. Seringkali terdapat kompilikasi serangan lain dari bakteri seperti E. coli. Pada kasus ini antibiotik tidak efektif terhadap virus, tapi dapat membantu melawan infeksi bakterinya.

  1. Rotavirus - Dapat mengakibatkan diare pada pedet dalam 24 jam setelah dilahirkan. Dapat menulari ternak berusia 30 hari atau lebih. Pengeluaran saliva, dan diare hebat. Kotoran dapat berwarna kuning sampai hijau. Kehilangan nafsu makan dan tingkat kematian dapat mencapai 50 persen, tergantung pada kehadiran infeksi lanjutan dari jenis bakteri lain.
  2. Coronavirus - Terjadi pada pedet usia 5 hari atau lebih. Dapat menulari pedet yang berusia 6 minggu atau lebih.

Tingkat depresi tidak setinggi infeksi oleh rotavirus. Pada awalnya, feces ternak akan menunjukkan bentuk dan warna yang sama dengan infeksi rotavirus. Setelah beberapa jam, feces dapat mengandung lendir bening yang menyerupai putih telur. Diare dapat terus berlangsung selama beberapa hari. Tingkat kematian akibat coronavirus berkisar antara 1 sampai 25 persen.

Tanda luka seringkali tidak jelas. Biasanya usus penuh oleh feces cair. Apabila tanda luka terlihat di dalam usus, itu biasanya diakibatkan oleh infeksi bakteri lanjutan.
Diagnosis yang akurat hanya dapat ditentukan melalui pemeriksaan laboratorium.

Vaksinasi yang spesifik untuk rota dan coronavirus sudah tersedia. Dapat diberikan dengan dua cara, oral segera setelah pedet dilahirkan, atau vaksinasi terhadap induk sapi hamil.
Program vaksinasi pada induk sapi ini biasanya dilakukan beberapa kali. Pada tahun pertama program, vaksin pertama diberikan pada 6 - 12 minggu sebelum kelahiran, dan yang kedua sedekat mungkin dengan waktu kelahiran. Kemudian pada tahun selanjutnya, si induk diberikan booster vaksin sebelum melahirkan. Apabila periode melahirkan terlambat lebih dari 6 - 8 minggu, induk yang belum melahirkan di akhir minggu ke-enam diberikan booster vaksin kedua.

Dengan mengikuti prosedur ini, dapat dipastikan bahwa pedet yang dilahirkan mendapat antibodi rota dan coronavirus yang tinggi dalam kolostrum.
Bovine Virus Diarrhea (BVD) juga merupakan agen virus yang dapat menyebabkan diare.
Meskipun secara umum jarang dijumpai pada pedet muda atau baru lahir. Antibodi yang berasal dari kolostrum induk yang divaksin BVF sangat membantu melindungi pedet. Pedet yang baru dilahirkan dan terkena infeksi BVD ini dapat mengalami demam tinggi, nafas yang tersengal sengal dan diare parah. BVD seringkali ditemukan bersama agen infeksius yang lain.

BVD dapat dikendalikan dengan melakukan vaksinasi terhadap sapi sapi dara (heifer) 1 atau 2 bulan sebelum di kawinkan.

Infeksi Protozoa
Di Amerika Serikat, Coccidia & Cryptosporidia banyak ditemukan di hampir semua kumpulan populasi sapi. Organisme ini masuk kedalam tubuh melalui makanan dan air yang terkontaminasi dan dapat hidup dalam kondisi dormant (suri) di tanah dan kotoran ternak selama 1 tahun.

Ketika sampai di dalam usus, telur (oocyst) dari protozoa ini menetas dan berkembang biak. Menempel dan masuk ke dalam jaringan sel pada lapisan usus, menghambat pencernaan dan penyerapan makanan.

Gejala infeksi subklinis kronis tidak begitu jelas, biasanya ternak menderita dan mengurangi konsumsi pakan sehingga pertumbuhan terhambat. Infeksi akut menyebabkan diare (terkadang disertai darah), depresi, kehilangan berat badan dan dehidrasi. Tapi biasanya pedet tetap makan.

Coccidia memiliki siklus hidup 21 hari. Sehingga pada pedet usia dibawah itu (18 - 19 hari) jarang yang terinfeksi. Cryptosporidia biasanya ditemukan pada pedet usia 7 - 21 hari. Secara umum menginfeksi bersama rotavirus, coronavirus dan E. coli.

Ada jenis protozoa lain yaitu Giardia yang baru sejak beberapa tahun lalu cukup banyak ditemukan infeksinya. Infeksi banyak ditemukan terutama pada pedet usia 3 sampai 5 minggu.
Bagaimana Mencegah diare pada ternak ?
Seperti telah dikemukakan diatas, diare (sapi, kerbau, kuda, kambing, kelinci, unggas, ayam, itik, bebek, angsa, kelinci, kucing, anjing, dll) bukan penyakit sebenarnya, tapi lebih merupakan tanda tanda klinis dari penyakit yang lebih kompleks. Setelah kita mengetahui apa penyebab diare tersebut, harapannya usaha pencegahan akan lebih mudah dilakukan.
Untuk diare yang disebabkan oleh non-infeksi, yang harus dilakukan kiranya adalah melakukan manajemen pemberian pakan yang baik, sangat tidak dianjurkan untuk merubah menu pakan secara mendadak dan drastis. Baik jenis maupun volumenya. Lakukan perubahan menu secara gradual dan perlahan lahan.

Penelitian moderen menunjukkan bahwa diare pada pedet berhubungan erat dengan asupan kolostrum pada pedet yang baru lahir. Pedet yang diasuh dengan baik dan mengkonsumsi 1 - 2 liter kolostrum maksimal 30 menit setelah dilahirkan menyerap tingkat antibodi yang lebih tinggi. Pedet seperti ini lebih tidak rentan terhadap diare atau penyakit yang biasa menyerang anak sapi.

Selanjutnya terapkan juga manajemen kandang dan perawatan yang baik, misalnya:

  • Pisahkan sapi dara dan sapi yang lebih dewasa, tingkat imunitas dari pedet yang dilahirkan sapi dara secara umum lebih rendah daripada pedet yang dilahirkan sapi dewasa.
  • Hindari tempat melahirkan yang basah dan lembab, proses kelahiran dapat dilakukan di padang penggembalaan apabila cuaca dan tempat memungkinkan. Lingkungan ideal untuk melahirkan adalah padang/lapangan rumput yang tidak terlalu curam, tersedia penahan angin (windbreak), cuaca hangat dan kering. Ingatlah bahwa penyebab diare adalah udara lembab, dingin, basah dan lingkungan yang kotor.
  • Apabila melahirkan di tempat yang sempit, apabila kondisi memungkinkan, pindahkan induk dan anak ke lapangan rumput yang bersih segera setelah melahirkan. Lindungi pedet (dengan kandang portable) dari udara dingin, hujan atau serangan binatang buas
  • Isolasi pedet yang diare secepat mungkin. Bersihkan dan desinfeksi lingkungan kandang. Isolasi sedini mungkin sangat kritis untuk menghindari penyebaran diare pada pedet lain.
  • Pastikan induk dan anak dalam kondisi yang baik, terapkan program pakan dan nutrisi untuk memastikan ternak tumbuh sehat dan kuat.
  • Berikan larutan iodine (betadine, atau minimal obat merah) pada ari ari pedet, sedini mungkin setelah dilahirkan.
  • Minta saran dokter atau mantri hewan mengenai vaksinasi atau perawatan kesehatan yang dapat diberikan
  • Karena masalah utama dari pedet yang diare adalah kehilangan cairan, maka tindakan terhadap pasien yang pertama harus ditujukan untuk memperbaiki kembali keseimbangan cairan tubuh. Selanjutnya adalah tindakan pemberian antibiotik dan perawatan yang baik.
  • Cairan (dalam hal ini air) sangat penting, tapi harap di ingat, selain cairan, diare juga menghilangkan garam garam elektrolit. Dan tanpa elektrolit dalam proporsi yang seimbang, cairan saja tidak dapat diserap tubuh.
  • Sekira 70% dari bagian tubuh pedet terdiri dari air. Tanda tanda klinis dehidrasi biasanya mulai terjadi saat 5 - 6 persen cairan tubuh hilang. 10 persen kehilangan cairan berakibat depresi, mata sayu, kulit kering dan sangat mungkin pedet tidak bisa berdiri. Pada 15 persen, biasanya berakibat kematian.
  • Konsultasikan dengan dokter atau mantri hewan anda mengenai elektrolit yang dapat diberikan secara oral.

Apabila cairan elektrolit tidak tersedia, anda dapat membuat sendiri. Formula yang penulis pernah coba dan cukup mudah membuatnya adalah:

Resep Cairan Elektrolit untuk Diare

  • 3 kotak kecil kaldu sapi instan. Atau bisa juga menggunakan 1 sachet kaldu sapi
  • 1 sachet agar agar bubuk, merek burung camar
  • 2 sendok garam
  • 2 sendok soda kue/baking soda/sodium bicarbonate/NaHCO3

Campurkan bahan diatas dengan air hangat hingga mencapai 2 liter. Berikan perlahan lahan, 1 liter larutan elektrolit ini setiap 3 - 4 jam. Jangan dulu berikan susu, minimal 24 jam setelah pemberian elektrolit, karena susu merupakan medium yang baik bagi pertumbuhan bakteri E. coli. Apabila pedet sudah bisa minum dari dalam ember (sebaiknya diajarkan sedini mungkin), biarkan pedet meminumnya, tapi awasi jangan sampai terlalu cepat. Bila tidak, buatlah botol dot dengan cara membuat dari botol air mineral kemasan 1 liter. Beri selang yang dimampatkan di ujungnya. Beri lubang sedikit agar cairan dapat keluar perlahan lahan.

Secara umum, selain kehilangan cairan, kondisi diare menyebabkan sistem pencernaan menjadi asam. Oleh karenanya selain terapi cairan dan elektrolit, perlu juga diberikan larutan suspense alkali. Yang dalam resep diatas berupa soda kue. Bila tidak tersedia, kiranya 2 liter air hangat ditambah 2 sendok makan garam pun dapat membantu.
Selain resep diatas, ada beberapa resep lain yang dipercaya masyarakat dapat digunakan untuk menangkal diare pada sapi, baik sapi pedet maupun sapi dewasa.

Pasien diberi daun pangi, daun sirsak, daun pisang atau campuran 10 cc getah pepaya dengan 100 cc air. Ada juga yang mempercayai bahwa daun nangka bisa berkhasiat menghentikan diare.

Perlu di ingat bahwa tindakan tindakan ini hanya untuk membantu meredakan diare, bukan untuk mengobati infeksi (bila ada) yang terjadi. Konsultasikan selalu dengan dokter atau mantri hewan anda untuk tindakan selanjutnya atau perawatan antibiotik.

Catatan Akhir
Masalah diare merupakan masalah yang akan terus terjadi pada ternak sapi perah, terutama pada sapi muda dan pedet. Program pemberian nutrisi yang cukup, sanitasi kandang dan manajemen serta perawatan kesehatan yang baik dibutuhkan untuk meminimalisasi impak dan kerugian. Diagnosis dini dan tindakan yang cepat akan sangat membantu.

Selain itu recording dan pencatatan merupakan hal yang mutlak diperlukan. Sebisa mungkin catatlah kejadian dan tindakan yang telah diberikan pada ternak, untuk memudahkan diagnosa dan tindakan di kemudian hari.

Diare non infeksi biasanya disebabkan oleh perubahan (yang mendadak) dari pemberian pakan. Umumnya terjadi ketika pedet yang umumnya minum susu dari induk diganti dengan susu buatan tidak sesuai takaran, terlalu dingin, atau sudah basi. Sedangkan diare infeksi oleh bakteri umumnya adalah E. Coli, Salmonella, dan Clostridium perfringens. Diare karena E coli dapat terjadi secara parah bahkan menyebabkan kematian. Tanda-tanda yang terjadi yaitu pedet lemas karena dehidrasi, demam, kotoran encer tentunya. Ecoli biasanya menyerang pedet yang baru berumur di bawah 14 hari.

Penyebab selanjutnya samonella yang menyerang lapisan lendur dalam usus kecil, menyebabkan peradangan dan pengikisan pada lapisan usus. Bakteri yang ada dalam feses pedet dapat hidup sampai beberapa bulan. Diare yang timbul cukup parah, ternak tidak mau minum, dehidrasi berat dan demam tinggi. Kotoran tentunya berair dan dapat disertai bercak darah. Pedet dapat matidalam waktu 12 – 48 jam setelah tanda-tanda pertama muncul. Infeksi ini umumnya terjadi pada pedet umur di atas 6 hari.

Bakteri clostridium menyebabkan enterotoxemia sebuah infeksi usus akut. Clostridium dapat hidup bertahan cukup lama di tanah. Kondisi basah dan lembab sangat disukai oleh bakteri ini. Tanda-tanda pada pedet antara lain gelisah, ketegangan dan menendang-nendang bagian perut. Pedet dapat terjadi mati tanpa gejala apapun yang terjadi pada umur kurang dari 10 – 14 hari.

Infeksi virus yang umumnya menyebabkan diare adalah Rotavirus, Coronavirus dan Bovine Virus Diarrhea (BVD). Virus menyerang lapisan sel usus kecil sehingga mengganggu proses penyerapan. Infeksi virus ini menyebabkan pedet rentan oleh serangan infeksi bakteri seperti E. Coli. Tanda-tanda penyakit yang timbul mencret parah, depresi dan diare hebat. Seringkali terjadi pengeluaran air liur dan sering mengejan . Rotavirus dapat megakibatkan diare pedet dalam waktu 24 jam setelah di lahirkan. Tanda yang khas feses berwarna kuning sampai hijau. Pada infeksi Coronavirus tingkat depresi tidak setinggi Rotavirus. Pad awalnya feses seperti Rotavirus setelah beberapa jam feses dapat mengandung lendir bening yang menyerupai putih telur. Pedet baru lahir yang terkena BVD dapat mengalami demam tinggi, nafas tersengal-sengal dan diare parah. Infeksi sering kali ditemukan bersama agen infeksius lain.

Infeksi Protozoa dapat terjadimelalui makanan dan iar yang terkontaminasi dan dapat hidup dorman di tanah dan kotoran ternak selama 1 tahun. Gejala infeksi yaitu diare (terkadang disertai darah), depresi, dehidrasi dan turunnya berat badan.
Selanjutnya bagaimana pencegahan diare?. Melihat dari uraian diatas untuk diare non infeksi tentunya perlu dilakukan menejemen pemberian pakan yang baik, hindari perubahan pakan secara mendadak dan drastis. Baik jenis maupun volumenya. Lakukan perubahan secara bertahap dan perlahan. Usahakan kandang bersih dan kering, berikan larutan iodin pada ari-ari pedet sedini mungkin setelah melahirkan. Bila perlu mintalah saran pada dokter hewan tentang program perawatan kesehatan hewan yang diberikan.

Selasa, 07 April 2015

PENYAKIT GONDOK PADA TERNAK

Gondok terjadi kerena kurangnya iodium, hingga untuk menghasilkan tirtoksin yang cukup, kelenjar gondok mendapatkan pacuan terus menerus dengan hormone thyroxin-stimulating hormone (TSH), hingga terjadi pembesaran dari kelenjar gondok. Suplementasi iodium sebanyak 0,00076% biasanya cukup untuk mencegah gondok. Sebagai akibat kurangnya tiroksin hewan tersebut bertumbuh lambat. Gondok pada anak sapi atau pedet yang baru lahir dapat dicegah dengan jalan memberikan iodium cukup pada induk yang sedang bunting. iodium sendiri adalah sejenis mineral yang terdapat di alam, baik di tanah maupun di air, merupakan zat gizi mikro yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Tidak semua negara mempunyai sumber mineral iodium Indonesia merupakan salah satu dari sedikit wilayah yang beruntung mempunyai sumber iodium tersebut. Sebagian besar iodium di alam terdapat di laut di sampingterdapat lapisan dalam tanah (sumur minyak dan gas alam). iodium bersifat menguap dan peka terhadap cahaya sehingga meskipun garam berasal dari laut secara alamiah tidak lagi mengandung iodium.
A.  Iodium
Iodium merupakan mineral esensial penyusun hormon tiroksin oleh kelenjar tiroid, hormon ini mempunyai peranan mengatur pertumbuhan dengan merangsang metabolisme di dalam jaringan, meningkatkan konsumsi dan produksi panas (Davies, 1982; Tillman dkk., 1999; Anggrodi, 1985). Defisiensi iodium menyebabkan rendahnya produksi tiroksin dan akan merangsang pembesaran atau perbanyakan sel-sel kelenjar tiroid yang sering disebut penyakit gondok. Gejala kekurangan iodium pada ternak betina adalah gangguan reproduksi, dalam keadaan defisiensi induk akan melahirkan anak tanpa bulu, lemah atau mati. Sumber iodium yang terbaik adalah bahan makanan yang berasal dari laut misalnya tepung ikan dan rumput laut. Kebutuhan iodium pada ternak besar 0,1 (mg/kg pakan) pada ayam 0,35 (mg/kg pakan) serta pada babi 0,2 (mg/kg pakan) (Tillman, dkk., 1999).
Fungsi Iodium
Salah satu fungsi Iodium adalah sebagai komponen hormon tiroksin yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Sebelum terbentuk tiroksin, terbentuk haasil perantar terleebih dahulu yaitu di-yodotirosin. Sebelumnya asam amino tirosin mengikat satu iodium membentuk mono-yodo-tirosin yang selanjutnya terjadi di-yodotirosin dan akhirnya dari dua di-yodotirosin membentuk tetra-yodotirosin atau yang disebut tiroksin.
Fungsi tiroksin:
1.  Mengatur jalannya metabolisme energi atau tingkat oksidasi dari semua sel.
2.  Mempengaruhi pertumbuhan fisik dan mental serta pemasakan jaringan.
3.  Mempengaruhi kelenjar endokrin yang lain terutama kelenjar hipofisis dan gonade.
4.  Mempengaruhi berfungsinya neuromuskuler.
5.  Mempengaruhi gerak peredaran di dalam tubuh.
6.  Mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan rambut dan bulu.
7.  Mempengaruhi metabolism berbagai macam nutrient termasuk berbagai macam mineral dan air.
B.  Sumber iodium
Sumber iodium yang baik adalah bahan pakan yang berasal dari lautan. Diantaranya adalah akan, krang, dan rumput laut. Tepung daging dan tulang juga dapat digunakan sebagai sumber bahan pakan yang mengandung iodium. Sebagai suplemen iodium adalah garam yodida yaitu Na yodida, K yodida, Na yodat dan K yodat.
C.  Gondok (Goiter)
Goiter atau gondok adalah kelainan pada ternak pada kelenjar tiroidnya akibat kekurangan iodium. Ternak dewasa sangat jarang mengalami kelainan ini tetapi fetus dan ternak yang masih muda mudah sekali terkena. Kasus goiter yang menyebabkan kematian pada anak kambing dan domba di daerah Bogor, Ciawi dan Cilebut. Kasus menjadi tinggi pada daerah-daerah yang kekurangan iodium.iodium (I) dibutuhkan untuk sintesa hormone tiroid (Triidothyronine/T3) dan tiroksin (T4) yang berperan dalam mengatur metabolisme tubuh dan sangat penting bagi hewan yang bunting, hewan muda dan yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Tiroid merupakan kelenjar yang berbentuk cuping kembar dan di antara keduanya dapat daerah yang menggenting. Kelenjar ini terdapat di depan trakea. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin yang mempengaruhi metabolisme sel tubuh dan pengaturan suhu tubuh. Tiroksin mengandung banyak iodium. Kekurangan iodium dalam makanan dalam waktu panjang mengakibatkan pembesaran kelenjar gondok karena kelenjar ini harus bekerja keras untuk membentuk tiroksin. Kekurangan tiroksin menurunkan kecepatan metabolisme sehingga pertumbuhan lambat dan kecerdasan menurun. Bila ini terjadi pada anak-anak mengakibatkan kretinisme, yaitu kelainan fisik dan mental yang menyebabkan anak tumbuh kerdil dan idiot. Kekurangan iodium yang masih ringan dapat diperbaiki dengan menambahkan garam iodium di dalam makanan. Produksi tiroksin yang berlebihan menyebabkan penyakit eksoftalmik tiroid (Morbus Basedowi) dengan gejala sebagai berikut; kecepatan metabolisme meningkat, denyut nadi bertambah, gelisah, gugup, dan merasa demam. Gejala lain yang nampak adalah bola mata menonjol keluar (eksoftalmus) dan kelenjar tiroid membesar.
D.  Penyebab
Penyebab terjadinya gondok pada sapi diantaranya adalah:
1.  Adanya zat goitrogen dan obat-obatan misalnya tirosinal ataupun perkhloralyang mengakibatkan kelenjar tiroid tidak mampu menangkap iodium sehingga tidak terbentuk tiroksin.
2.     Adanya zat goitrogen dan tanaman misalnya tirourasi pada kacang tanah, kedelai, dank obis sehingga menghambat sintesis tiroksin atau yodinasi tiroksin.
3.   Adanya sifat yang diturunkan yaitu kurangnya enzim yang spesifik untuk mensitesis tiroksin.
E.  Gejala
Gejala yang dapat terlihat pada sapi yang menderita penyakit gondok adalah sebagai berikut:
1.   Terjadi pembengkakan pada kelenjar ludah.
2.   Mulut terlihat tegang, terutama saat mengunyah dan menelan.
3.   Nafsu makan menurun.
4.   Suhu tubuh naik.
F.   Cara Pencegahan
Pemberian pakan yang mengandung mineral yang cukup terutama iodium. Mineral ini biasa terkandung dalam garam. Pemberian garam yang cukup, selain dapat meningkatkan palatabilitas juga dapat mencegah terjadinya gondok pada ternak.
Secara normal hormon tiroksin diproduksi oleh kelenjar tiroid dalam jumlah yang cukup sehingga dapat mempertahankan produktivitas dan reproduktivitas ternak. Produksinya akan menurun jika proses biosintesanya terhambat karena kekurangan/ defisiensi iodium. Faktor lain penyebab kondisi ini adalah adanya zat gastrogenik (tiosianat) pada pakan yang dikonsumsinya. Kombinasi keduanya akan memicu terjadinya goiter pada ternak. mendeteksi kadar tiosianat yang tinggi di dalam tubuh kambing yang sering mengonsumsi daun ubi kayu. Zat ini mampu menghambat up take iodium oleh kelenjar tiroid. Beberapa tanaman yang mengandung zat anti tiroid yaitu kubis, sudan grass dan white clover.
Sumber: Dirangkum dari berbagai sumber.

Selasa, 31 Maret 2015

PENYAKIT MILK FEVER PADA SAPI PERAH

Milk fever dapat disebut juga paresis puerpuralis, hypocalcaemia, calving paralysis, parturient paralysis, dan parturient apoplexy. Milk fever adalah penyakit metabolisme pada hewan yang terjadi pada waktu atau segera setelah melahirkan yang manifestasinya ditandai dengan penderita mengalami depresi umum, tak dapat berdiri karena kelemahan bagian tubuh sebelah belakang dan tidak sadarkan diri (Hardjopranjoto 1995). Hypocalcaemia yaitu suatu kejadian kelumpuhan yang terjadi sebelum, sewaktu atau beberapa jam sampai 72 jam setelah partus.Milk  Fever adalah penyakit   gangguan metabolisme  yang menimpa sapi-sapi betina yang akan atau sedang melahirkan ataupun dekat sesudah melahirkan. Sebagian besar  penyakit   ini  menimpa sapi-sapi  yang sedang berproduksi. Milk Fever merupakan penyakit metabolisme yang paling banyak ditemukan pada sapi perah yang baru saja melahirkan dan terutama yang berproduksi tinggi.
1.   HEWAN YANG DISERANG
Biasanya kejadian ini menyerang sapi pada masa akhir kebuntingan atau pada masa laktasi.  Kasus ini sering dialami sapi yang sudah melahirkan yang ketiga kalinya sampai yang ketujuh (Girindra 1988). Tetapi di beberapa daerah ternyata penyakit ini ditemui juga pada sapi-sapi dara yang produksi tinggi dan terjadi ditengah-tengah masa laktasi.  Hardjopranjoto (1995) mengatakan bahwa biasanya kasus ini terjadi pada sapi perah setelah beranak empat kali atau lebih tua, jarang terjadi pada induk yang lebih muda atau sebelum beranak yang ketiga. Subronto (2001) mengatakan bahwa beberapa kejadian disertai syndrom paresis yang terjadi dalam beberapa minggu atau beberapa bulan sesudah melahirkan.  Pada kasus yang ditemukan dilapangan terjadi pada sapi perah yang melahirkan ketiga, tetapi berdasarkan anamnese (cerita) dari pemiliknya pada partus yang kedua juga pernah mengalami kasus ini.
Ditinjau dari bangsa sapi, bangsa Jersey paling sering menderita penyakit ini disusul kemudian sapi Holstain Frisian dan bangsa sapi yang lain.  Di negara yang maju peternakan sapi perahnya kejadian penyakit mencapai 3-10% dan kadang-kadang di dalam satu peternakan dapat berupa sebagai suatu wabah   dengan angka kejadian mencapai 90% dari populasi sapi perah dikelompoknya.  Kasus ini dapat bersifat habitualis artinya penyakit paresis puerpuralis ini pada induk sapi dapat terulang pada partus berikutnya.
2.    PENYEBAB MILK FEVER
Penyebab milk fever adalah kekurangan Cayang akut. Hal ini akan  menimbulkan  gangguan metabolismemineral, yakni metabolisme Ca yangbisa berakibat kepada seluruh tubuh. Penyebab terjadinya milk fever antara lain :
a.  Adanya gangguan produksi vitamin D. Pengambilan pakan yang berlebihan dalam mineral, kalsium dan fosfor akan mampu menurunkan produksi vitamin D.
b.  Hormon estrogen dan steroid kelenjar adrenal dapat menurunkan absorpsi kalsium dari usus dan mobilisasi mineral tersebut dari tulang.
c.  Mobilisasi mineral Ca dan P ke dalam colostrum secara tiba-tiba pada saat sapi menjelang melahirkan. Kadar kalsium turun dari normalnya 9-12 mg menjadi 3-7 mg dan kadar fosfor turun dari normalnya 5-6 mg/dl menjadi 1 mg/dl.
d. Teori defisiensi hormon paratiroid merupakan efek dari hormon tirokalsitonin. Hormon tirokalsitonin mampu mengatur mukosa sel-sel usus dalam menyerap dan mengatur kadar Ca dalam darah. Hormon ini terbiasa mengatur penyerapan kalsium dalam jumlah kecil saja.
e.  Adanya gangguan absorbsi Ca dan ketersediaan mineral tersebut dalam darah.
f.  Pada sapi yang mengalami penurunan nafsu makan maka jumlah kalsium yang diserap juga berkurang.
g.  Absorbsi kalsium yang rendah mungkin disebabkan oleh PH yang tinggi, kadar lemak pakan yang tinggi dan kemampuan yang rendah dalam menyerap Ca pada usus sapi tua.
h.  Rendahnya kemampuan sapi tua untuk memobilisasi Ca dari tulang.           
Penyebab yang jelas belum ditemukan, tetapi biasanya ada hubungannya dengan produksi yang tinggi secara tiba-tiba pada sapi yang baru melahirkan. Sapi yang menderita penyakit ini di dalam darahnya dijumpai adanya hipocalcaemia yaitu penurunan kadar kalsium yang cepat di dalam serum darah penderita (Hardjopranjoto 1995). Subronto (2001) mengatakan bahwa dahulu gangguan ini diduga disebabkan oleh adanya bendungan pada sistem syaraf, alergi, penyakit neuro muskuler, penyakit keturunan, penyakit ketuaan, penyakit infeksidan penyakit defisiensi makanan yang menyangkut kalsium, fosfor, vitamin A, vitamin D dan protein.
Pada keadaan normal kadar Ca dalam darah adalah 9-12 mgram persen.  Pada keadaan subklinis kadar Ca dalam darah 5-7 mgram persen dan pada kejadian hypocacaemia kadar ion Ca dalam darah 3-5 mgram persen. Girindra (1988) mengatakan bahwa jumlah kalsium yang terdapat dalam darah dan cairan ekstra sel hanya kira-kira 8 gram, sedangkan untuk keperluan laktasi dalam satu hari dibutuhkan 3 x jumlah itu.  Jadi kekurangan kalsium jelas merupakan predisposisi kejadian hypocalcaemia.
Kenyataannya hypocalcaemia sering diikuti dengan hipofosfatemia, hipermagnesemia atau hipomagnesemia dan hiperglicemia. Penurunan kadar kalsium dan posfor ini adalah sebagai akibat dari pemakaian mineral terutama kalsium dan posfor secara besar-besaran untuk sintesa air susu dalam ambing dalam bentuk kolostrum secara tiba-tiba menjelang kelahiran. Subronto (2001) mengatakan bahwa adanya hypocalcaemia akan diikuti oleh perubahan kadar fosfor dan gula dalam darah.  Kadar fosfor plasma yang rendah diakibatkan oleh penurunan penyerapan fosfor anorganik dari usus.  Mungkin pula disebabkan oleh meningkatnya sekresi parathormon, hingga ekskresi fosfor meningkat.
Pada sapi yang baru melahirkan terbukti kadar hormon tersebut meningkat, sebanding dengan penurunan kadar fosfat di dalam darahnya. Kenaikan parathormon akan diikuti oleh kenaikan pembongkaran kalsium dalam tulang, yang dalam hal ini dapat dilihat dari ada tidaknya kenaikan hidroksi prolin di dalam kemih. Hidroksi prolin merupakan hasil pemecahan kalogen.  Dalam hal ini kadar magnesium dalam serum darah mempengaruhi  gejala yang timbul pada sapi perah.  Jika kadar magnesium dalam serum normal atau lebih tinggi maka gejala tetani dan eksitasi akibat hipocalcaemia akan diikuti oleh relaksasi, otot lemah, depresi dan koma.
Jika kadar magnesium rendah dalam serum maka akan terlihat kekejangan selama beberapa waktu. Berkurangnya kadar magnesium dalam plasma darah disebabkan oleh beberapa faktor antara lain karena:
a.  pembebasan magnesium bersama air susu yang besarnya 0.1 g dan berkurangnya penyerapan magnesium lewat dinding usus. 
b.  Gangguan terhadap metabolisme karbohidrat juga dapat menyebabkan berkurangnya kadar magnesium dalam plasma darah.
Bila kadar magnesium dalam serum hewan yang menderita hypocacaemia tidak menurun atau lebih tinggi maka gejala eksitasi dan tetani akan segera diikuti oleh relaksasi.  Otot-otot kelihatan melemah, depresi dan pada akhirnya koma.  Perbandingan Ca:Mg bisa berubah dari 6:1 menjadi 2:1 dan dalam perbandingan ini efek narkase magnesium nyata dapat dilihat. Hypocalcaemia dapat menghambat ekskresi insulin sehingga pada kasus ini biasanya selalu diikuti kenaikan kadar glukosa darah (Girindra 1988). 
Subronto (2001) mengatakan bahwa kenaikan moderat kadar glukosa dalam darah (hiperglisemia) dijumpai pada sapi yang baru melahirkan dan hewan tidak memperlihatkan gejala klinis.  Pada sapi yang menderita paresis berat kadar glukosanya dapat mencapai 160 mg/dl. Hal ini disebabkan oleh terhambatnya sekresi insulin oleh karena turunnnya kadar kalsium darah.  Selain itu hyperglisemia juga dapat disebabkan oleh meningkatnya produksi hormon glukagon yang dihasilkan oleh sel A dari pankreas dan berfungsi untuk menaikkan kadar glukosa darah serta meningkatkan pembongkaran glikogen hati.
Glukagon juga mampu merangsang  enzim adenil siklase di dalam hati, hingga proses glikogenolisis ditingkatkan dan menghambat sintesa glikogen dari UDP-glukosa (UDP, uridin difosfat).  Kadang-kadang dalm milk fever juga terjadi penurunan kadar potassium.  Penurunan kadar ion K tersebut sebanding dengan lamanya sapi tidak dapat berdiri.  Makin lama berbaring makin besar penurunan ion K. Sapi yang terlalu lama berbaring oleh rusaknya sel-sel otot akan diikuti kenaikan kadar SGOT.
Pada kasus milk fever kadang-kadang kenaikan enzima tersebut mencapai 10%. Kemungkinan faktor genetis yang berhubungan dengan produksi susu yang tinggi merupakan penyebab lain dari penyakit paresis puerpuralis. Pada sapi perah yang pernah menderita penyakit ini dapat menurunkan anak yang juga mempunyai bakat menderita paresis puerpuralis. Paresis puerpuralis biasanya terjadi 18-24 jam post partus. Akan tetapi dari laporan bahwa penyakit ini dapt juga terjadi beberapa jam sebelum partus atau beberapa hari setelah partus.  Penyakit ini juga dapat terjadi pada induk sapi yang mengalami kelahiran yang sukar (dystokia) karena kurangnya kekuatan untuk mengeluarkan fetus.  Kasus yang terjadi di lapangan mulai terjadi sejak dua minggu post partus dan sapi benar-benar ambruk baru lima hari.
Hardjopranjoto (1995) mengatakan bahwa ada beberapa teori, mengapa sapi perah yang baru melahirkan dan produksi susu tinggi sering terjadi hipocalcaemia sehingga mendorong terjadinya kasus paresis puerpuralis.
a.  Hormon parathyroid yang kadarnya mengalami penurunan dalam darah (defisiensi), karena stres kelahiran dapat mengganggu keseimbangan mineral dalam darah khususnya kalsium disusul adanya hipokalcaemia dan selanjutnya timbul kasus paresis puerpuralis. Berkurangnya aktivitas parathormon pada saat kelahiran disebabkan oleh defisiensi vitamin D.
b.  Stres melahirkan menyebabkan hormon tirokalsitonin yang mengatur glukosa usus dalam menyerap mineral kalsium dari pakan menurun dan mempengaruhi kadar kalsium dalam darah.  Bila hormon tirokalsitonin menurun dapat diikuti menurunnya kadar kalsium dalam darah.  Hormon tirokalsitonin atau kalsitonin dihasilkan oleh sel ultimobranchial C dari kelenjar tiroid.
c. Waktu proses kelahiran, kalsium dibutuhkan terlalu banyak oleh air susu, khususnya dalam kolostrum.  Kebutuhan ini dapat dicukupi dari ransum pakan ternak, dari tulang dalam tubuh induk atau dari darah.  Rendahnya penyerapan kalsium dalam ransum pakan atau absorbsi kalsium dalam saluran pencernaan, dapat disebabkan adanya gangguan pada dinding usus.  Penurunan nafsu makan pada induk yang sedang bunting mengakibatkan masuknya bahan pakan menurun, menyebabkan penyediaan kalsium dalam alat pencernaan yang rendah diikuti oleh penyerapan kalsium juga rendah.  Daya menyerap dinding usus terhadap kalsium dapat menurun pada induk sapi yang sudah tua.  Pada sapi yang masih muda 80% kalsium dalam usus dapat diserap, makin tua umurnya makin menurun daya serap usus terhadap kalsium, karena pH usus yang tinggi dan kadar lemak yang tinggi dalam makanan dapat menghambat penyerapan kalsium. Pada sapi yang sudah tua, penyerapan kalsium hanya mencapai 15% dari kalsium yang ada dalam pakan.
d.  Persediaan kalsium dalam tulang yang dapat dimobilisasi, bervariasi menurut umur sapi.  Pada anak sapi, 6-20% kebutuhan normal akan kalsium dapat disediakan oleh tulang, sedang pada sapi yang telah tua kemampuan tulang dalam menyediakan kalsium hanya 2-5%.
e.  Vitamin D berperan dalam menimbulkan kasus paresis puerpuralis. Gangguan terhadap produksi pro vitamin D dalam tubuh dapat mengurangi tersedianya vitamin D dan dapat mendorong terjadinya penyakit ini, karena vitamin D mengatur keseimbangan kalsium dan posfor dalam tubuh dan proses deposisi atau mobilisasi kalsium dari tulang yang masih muda. Vitamin D yang aktif di dalam metabolisme kalsium dan fosfor adalah vitamin D3(25-Hydroxycholecalciferol).
f.   Hormon estrogen dan steroid yang lain baik yang dihasilkan oleh plasenta maupun kelenjar adrenal bagian korteks dapat menurunkan penyerapan kalsium dari usus atau mobilisasi kalsium dari tulang muda.  Pada sapi bunting aktifitas estrogen plasma meningkat sampai satu bulan sebelum melahirkan.  Peningkatan berlangsung dengan cepat satu minggu sebelum melahirkan untuk kemudian menurun tajam 24 jam sebelum melahirkan.
Hardjopranjoto (1995) mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya paresis puerpuralis yaitu :
a.  Produksi susu tinggi. Sapi perah yang mempunyai produksi susu yang tinggi membutuhkan kalsium dari darah untuk produksi susu yang tinggi.  Akibatnya kadar kalsium dalam darah dalam waktu singkat menjadi rendah (hypocalcaemia), diikuti gejala paresis puerpuralis.
b.  Umur.  Produksi susu secara normal, grafiknya akan meningkat mulai laktasi keempat sampai umur-umur berikutnya dan diikuti dengan kebutuhan kalsium yang meningkat pula. Sedangkan kemampuan  mukosa usus untuk menyerap kalsium makin tua umurnya makin menurun.
c.  Nafsu makan.  Pada kira-kira 8-16 jam sebelum partus induk sapi akan menurun nafsu makannya swampai pada tidak mau makan sama sekali. Hal ini mengakibatkan persediaan kalsium dalam pakan yang siap dicerna menjadi menurun, akibatnya kekurangan kalsium diambil dari darah sehingga kalsium dalam darah menjadi turun dan diikuti oleh hypocalcaemia.  Penurunan nafsu makan mungkin juga disebabkan meningkatnya kadar estrogen dalam darah pada fase terakhir dari kebuntingan menjelang terjadinya kelahiran.  Keadaan ini dapat mengganggu keseimbangan kalsium dalam tubuh sehingga kadar kalsium dalam darah merosot dari keadaan normal yaitu 9-12 mgram persen menjadi 4-5 mgram persen.
d. Ransum makanan. Ransum yang baik adalah bila imbangan antara Ca dan P mempunyai perbandingan 2 dan 1. Ransum pakan semacam ini adalah ransum yang dianjurkan sapi untuk sapi perah menjelang partus. Sapi bunting tua yang diberi ransum kaya akan Ca dan rendah P cenderung mengalami paresis puerpuralis sesudah melahirkan.
Pada awal penyakit hewan mula-mula terlihat gelisah, ketakutan dan nafsu makan menghilang.  Kemudian terlihat gangguan pengeluaran air kemih dan tinja. Kadang-kadang terlihat tremor dan hipersensitivitas urat daging di kaki belakang dan kepala (Girindra 1988).
3.   GEJALA MILK FEVER
PENYAKIT MILK FEVER PADA SAPI PERAH
Penyakit ini ditandai dengan adanya penurunan kadar kalsium di dalam darah, yang normalnya 9-12 mg/dl menjadi kurang dari 5 mg/dl. Sebanyak 90% kejadian ditemukan dalam 48 jam setelah proses kelahiran. Jumlah kejadian penyakit akan meningkat sejalan dengan bertambahnya umur sapi perah. Milk Fever biasanya ditemukan pada sapi perah yang telah beranak lebih dari 3 kali. Kejadian penyakit 3-4 kali lebih tinggi pada sapi yang dilahirkan dari induk yang pernah mengalami Milk Fever. Gejala-gejala yang ditimbulkan penyakit milk fever antara lain :
a.  Sapi nampak gusar dalam waktu yang singkat, kemudian kaki belakang nampak lemah,   sulit digerakkan, gerakkan rumen terhenti dan nafsu makan hilang.
b.   Akhirnya sapi menjadi lumpuh. Kelumpuhan ini bisa terjadi beberapa hari sebelum ataupun sesudah melahirkan.
c.  Berbaring  terus menerus dengan posisi  seperti  sapi  yang sehat,  tetapi lehernya dilipat dan kepalanya diletakkan disisi tubuhnya.
d.   Reaksi terhadap lingkungan tak sempurna.
e.   Tak bisa menelan dan ludah keluar dari mulut.
f.    Bola mata setengah tertutup.
g.   Temperatur tubuh menurun sampai 35 ºc.
h.   Sapi nampak seperti tidur nyenyak.
i.    Dan konstipasi. 
Hardjopranjoto (1995) mengatakan gejala pertama yang terlihat pada penderita adalah induk sapi mengalami sempoyongan waktu berjalan atau berdiri dan tidak adanya koordinasi gerakan dan jatuh.  Biasanya hewan itu selalu berusaha untuk berdiri.  Bila pada stadium ini induk sapi dapat diadakan pengobatan gejala paresis tidak akan muncul.
Bila pengobatan belum dilakukan gejala berikutnya adalah induk sapi penderita berbaring dengan pada sebelah sisinya atau pada tulang dada (sternal recumbency) dan diikuti dengan mengistirahatkan kepalanya dijulurkan ke arah atas kedua kaki depan atau kepala diletakkan disebelah sisi dari tubuh  diatas bahu/scapula (kurva S) namun ada juga yang tidak disertai kurva S. Matanya mejadi membelalak dan pupilnya berdilatasi, kelihatan anoreksi, moncongnya kering dan suram, hewan tidak peka terhadap sakit dan suara, suhu rektal umumnya sub normal walaupun terkadang masih dalam batas normal, rumen dan usus mengalami atoni, anggota badan dingin, denyut jantung meningkat, defekasi terhambat dan anus relaksasi.
Bila pengobatan ditunda beberapa jam kemudian induk berubah menjadi tidak sadarkan diri dan kalau tidak ada pertolongan hewan bertambah depresi urat daging melemah dan berbaring dengan posisi lateral (tahap komstose).  Hewan tidak dapat bangun lagi dan akibat gangguan berbaring terus terjadi timpani.  Pulsa meningkat  (sampai lebih dari 120 x), pupil mata berdilatasi, kepekaan terhadap  cahaya menghilang dan akhirnya beberapa jam terjadi kematian.
Subronto (2001) mengatakan bahwa gambaran klinis milk fever yang dapat diamati tergantung pada tingkat dan kecepatan penurunan kadar kalsium di dalam darah.  Dikenal 3 stadia gambaran klinis yaitu stadium prodromal, berbaring (rekumbent) dan stadium koma.
a.  Stadium 1 (stadium prodromal).  Penderita jadi gelisah dengan ekspresi muka yang tampak beringas. Nafsu makan dan pengeluaran kemih serta tinta terhenti. Meskipun ada usaha untuk berak akan tetapi usaha tersebut tidak berhasil.  Sapi mudah mengalami rangsangan dari luar dan bersifat hipersensitif.  Otot kepala maupun kaki tampak gemetar.  Waktu berdiri penderita tampak kaku, tonus otot alat-alat gerak meningkat dan bila bergerak terlihat inkoordinasi.  Penderita melangkah dengan berat, hingga terlihat hati-hati dan bila dipaksa akan jatuh, bila jatuh usaha bangun dilakukan dengan susah payah dan mungkin tidak akan berhasil.
b.  Stadium 2 (stadium berbaring/recumbent). Sapi sudah tidak mampu berdiri, berbaring pada sternum dengan kepala mengarah ke belakang hingga dari belakang seperti huruf S. Karena dehidrasi kulit tampak kering, nampak lesu, pupil mata normal atau membesar dan tanggapan terhadap rangsangan sinar jadi lambat atau hilang sama sekali.  Tanggapan terhadap rangsangan rasa sakit juga berkurang, otot jadi kendor, spincter ani mengalami relaksasi, sedang reflek anal jadi hilang dengan rektum yang berisi tinja kering atau setengah kering. Pada stadium ini penderita masih mau makan dan proses ruminasi meskipun berkurang intensitasnya masih dapat terlihat. Pada tingkat selanjutnya proses ruminasi hilang dan nafsu makan pun hilang dan penderita makin bertambah lesu.  Gangguan sirkulasi yang mengikuti akan terlihat sebagai pulsus yang frekuen dan lemah, rabaan pada alat gerak terasa dingin dan suhu rektal yang bersifat subnormal.
c.  Stadium 3 (stadium koma). Penderita tampak sangat lemah, tidak mampu bangun dan berbaring pada salah satu sisinya (lateral recumbency). Kelemahan otot-otot rumen akan segera diikuti dengan kembung rumen.  Gangguan sirkulasi sangat mencolok, pulsus jadi lemah (120 x/menit), dan suhu tubuh turun di bawah normal.  Pupil melebar dan refleks terhadap sinar telah hilang.  Stadium koma kebanyakan diakhiri dengan kematian, meskipun pengobatan konvensional telah dilakukan.
Gejala klinis yang ditemukan dilapangan yaitu sapi mulai ambruk kemarin tapi masih dapat berdiri kembali dan pada hari berikutnya  tidak dapat berdiri walaupun sudah diinduksi dengan menggunakan elektrocoxer.  Temperatur tubuh 39.60C.  Temperatur tubuh ini sedikit naik, dimana suhu tubuh untuk sapi dewasa 38.5-39.20 C. Ekspresi  wajah sapi lesu dengan kepala terkulai di tanah  dijulurkan ke arah atas kedua kaki depan, mata terbuka lebar, pupil berdilatasi dan vasa injeksio yang kelihatan jelas pada sklera mata.
Cuping hidung kering dan kusam, pada gusi atas dan bawah serta lidah terdapat lepuh/ulkus seperti kejadian sariawan dengan mukosa mulut rose. Auskultasi terhadap terhadap paru-paru didapatkan hasil bahwa suara vesikuler pada inspirasi lebih dominan, keadaan ini berhubungan dengan kondisi sapi yang berbaring. Frekuensi pernafasan juga naik drastis 3 kali lipat yaitu sebanyak 106 x/menit dimana pada keadaan yang normal hanya 10-30 x/menit.
Beberapa penyakit komplikasi dapat timbul mengikuti kejadian hypocalcaemia, karena kondisi penderita yang terus berbaring diantaranya  :
1. Dekubites, kulit lecet-lecet.  Luka ini disebabkan karena infeksi yang berasal dari lantai, dapat menyebabkan dekubites.
2. Perut menjadi gembung atau timpani, karena lantai yang selalu dingin mendorong terjadinya penimbunan gas dalam perut pada penderita yang selalu berbaring.
3. Pneumonia.  Kerena terjadi regurgitasi pada waktu memamah biak disertai adanya paralisa dari laring dan faring.  Sewaktu menelan makanan, sebagian makanan masuk ke dalam paru-paru dan dpat diikuti oleh pneumonia pada penderita.
Jika kejadian kelumpuhan terjadi sebelum partus kemungkinan penyakit pembandingnya diantaranya metritis septika, akut mastitis, milk fever dan hidrops, sedangkan jika kelumpuhan setelah melahirkan kemungkinan penyakit pembandingnya yaitu calving paralysis, calving injuri, ruptura ligamen sendi belakang, septic metritis & vaginitis, ruptura uteri, paralysis obturatorius, ruptura tendon dan otot, kekejangan otot, toxemia, arthritis akut, dan fraktura pelvis.
Prognosa terhadap kasus hypocalcaemia yaitu fausta-infausta. Fausta jika kejadian hypocalcaemia cepat ditangani (95% sembuh) dan infausta jika penanganan yang lambat dan pengobatan pertama yang tidak menunjukkan perubahan ke arah kondisi yang membaik.  Kecepatan dan ketepatan diagnosis serta pengobatan sangat membantu kesembuhan .  kesembuhan spontan hampit tidak dimungkinkan.
Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan terhadap sapi ini adalah melakukan pemeriksaan darah.  Darah dapat diambil lewat vena jugularis.  Darah yang diambil diperiksa terhadap kadar kalsium darah. Kalsium dalam serum dapat diukur dengan metoda sangat sederhana sampai metoda yang mutakhir.  Yang termasuk sederhana ialah dengan metoda Clark & Collib yang menggunakan KmnO4 untuk titrasi.  Lainnya ialah dengan metoda “kolorimetri sederhana”, berdasarkan intensitas warna yang kemudian dibandingkan dengan warna standar.
4.    PENGOBATAN
Pengobatan dengan injeksi preparat-preparat Ca secara intravenous 500 cc, dengan larutan calsium gluconate 20 %. Pengobatan dilakukan dengan cara menyuntikkan garan kalsium. Sediaan kalsium yang dipakai antara lain:· Larutan kalsium khlorida 10% disuntikkan secara intra vena, pemberian yang terlalu banyak atau terlalu cepat dapat mengakibatkan heart block. Larutan kalsium boroglukonat 20-30% sebanyak 1:1 terhadap berat badan disuntikkan secara intra vena jugularis atau vena mammaria selama 10-15 menit. Campuran berbagai sediaan kalsium seperti Calphon Forte, Calfosal atau Calcitad-50
Bila kasus ini disertai hipomagnesemia sebaiknya disuntik dengan kombinasi kalsium boroglukonat dan magnesium boroglukonat yang terdiri dari kalsium boroglukonat 200 gram, magnesium boroglukonat 50 gram dan aquades sampai 1000 ml selanjutnya dibuat larutan steril.  Dosis pemberian yaitu 200-500 ml secara intravena. Pada kasus paresis puerpuralis yang disertai ketosis maka pengobatan dilakukan dengan pemberian kalsium boroglukonat ditambah dekstrose 5% sebanyak 250-500 ml secara intravena.
Bila pengobatan ini tidak berhasil dapat dicoba pengobatan dengan menggunakan pemompaan (insufflasi) udar ke dalam keempat kwartir ambing hingga tekanan intra-mamer meningkat dan menghentikan pengeluaran air susu berikutnya yang berarti menghentikan penghentian pengurasan unsur kalsium ke dalam ambing.
Pengobatan cara ini dapat diulangi setiap 6-8 jam.  Pengobatan dengan cara ini terbukti telah mengurangi kematian sebesar 15%. Untuk mencegah terjadinya komplikasi seperti dekubites, gembung perut atau pneumonia maka induk penderita sebaiknya selalu dibolak-balik dan diberikan jerami yang cukup tebal sebagai alas berbaring.
Evaluasi pengobatan dengan penyuntikan kalsium ini diajurkan mendengarkan denyut jantung dengan stetoskop.  Kalau tidak digunakan stetoskop, secara visual dapat diikuti dengan melihat reaksi penderita, kecepatan pulsus venosus, gerak bola mata, dan tidaknya eksitasi.
Jika terjadi keracunan sediaan kalsium yang harus segera dilakukan adalah menghentikan penyuntikan, memberikan masase jantung, memberikan sediaan yang berefek pada jantung (MgSO4, atropin), dan sediaan yang dapat mengikat (chelating agent) kalsium misalnya Na-EDTA.
5.    PENCEGAHAN
Pencegahan terhadap kejadian milk fever sangat dipengaruhi oleh jumlah kalsium yang dapat diserap dan bukan pada unsur fosfor atau imbangan Ca:P.  Pemberian kalsium hendaknya sekedar untuk memelihara fungsi faali (2.5 g/100 lb).  Yang ideal jumlah Ca dalam pakan sehari adalah 20 gram saja.
Banyak sapi yang mengalami milk fever oleh pemberian kalsium yang tinggi, tidak terganggu oleh pembatasan pemberian unsur tersebut.  Di daerah yang cukup kandungan kalsiumnya dalam pakan sehari-hari pemberian mineral blok yang mengandung kalsium-fosfat tidak dianjurkan untuk sapi yang bunting sarat. Setelah melahirkan pemberian garam kalsium harus ditingkatkan.  Pemberian vitamin D2 20-30 juta IU/hari 3-8 hari pre partus mampu menurunkan kejadian milk fever.  Vitamin D3 sebanyak 10 juta IU yang disuntikkan intravena sekali saja 28 hari sebelum malahirkan dapt pula menurunkan kejadian milk fever tanpa diikuti deposisi kalsium dialat-alat tubuh.
Sumber:
Girindra, A. 1988. Biokimia Patologi Hewan. PAU-IPB. Bogor.
Harjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran Pada Ternak. Airlangga University Press. Surabaya.
Subronto. 2001. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.