Ternak

Tampilkan postingan dengan label Pakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pakan. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Desember 2015

KANDUNGAN NUTRISI JERAMI PADI

Jerami padi merupakan produk samping tanaman padi yang tersedia dalam jumlah relatif banyak. Ketersediaan jerami padi yang cukup melimpah merupakan peluang untuk dimanfaatkan sebagai pakan sumber energi bagi ternak ruminansia (Antonius, 2009). Jerami padi adalah bagian batang tumbuh yang setelah dipanen bulir-bulir buah bersama atau tidak dengan tangkainya dikurangi dengan akar dan bagian batang yang tertinggal setelah disabit. Jerami padi memiliki beberapa kelemahan antara lain: kandungan serat kasar yang tinggi, kurang palatabel, dan sifat amba yang tinggi(Widodo et al., 2012). Lebih lanjut dijelaskan  Koddang  (2008) jerami padimengandung 84,22% bahan kering (BK), 4,60% protein kasar (PK) , 28,86% serat kasar (SK), 1,52% lemak kasar (LK), 50,80% bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN). Menurut Yunilas (2009) bahwa tingginya kandungan lignin dan silika pada jerami padi menyebabkan daya cernanya menjadi rendah. Ditambahkan oleh Zulkarnaini (2009) bahwa kandungan lignin dan silika pada jerami padi cukup tinggi yakni mencapai 7,46% dan 11,45%.Kandungan nutrisi jerami padi berbeda-beda, hal ini disebabkan oleh umur panen, jenis padi serta lokasi. Sarwono dan Arianto (2003) juga menambahkan bahwa kandungan nutrisi jerami padi dapat dilihat pada tabel 1.
KANDUNGAN NUTRISI JERAMI PADI

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa kandungan nutrisi jerami padi sangat rendah. Maka dari itu sebelum jerami padi diberikan kepada ternak sebaiknya dilakukan proses fermentasi terlebih dahulu. Proses fermentasi jerami padi yang dikembangkan oleh Haryanto (2003) yaitu dengan menggunakan 2,5 kg probion dan 2,5 kg urea dengan 1000 kg dan diperam selama 21 hari mampu meningkatkan kandungan protein kasar dari 3% menjadi 7% dan meningkatkan daya cerna dari 28-30% menjadi 50-55%. Ditambahkan oleh Utomo (2004) jerami padi hasil fermentasi mengandung PK sebesar 7,16% lebih tinggi dari pada PK jerami padi yang tidak terfermentasi yakni 5,72%. Selama proses fermentasi telah terjadi perombakan karbohidrat terstruktur dan karbohidrat non struktur terbukti oleh turunnya kandungan SK pada jerami padi fermentasi sebesar 30,90% dari kandungan SK jerami padi tidak terfermentasi sebesar 32,56% (Utomo, 2004). Jerami padi fermentasi mengandung 79,1% BK, 7,7% PK, 32,2% SK, 2,4% LK, dan 54,6% TDN (Agus et al., 2005).  Ditambahkan oleh Mahendri et al. (2006) bahwa pemberian jerami padi fermentasi yang ditambah dengan konsentrat pada sapi PO mampu meningkatkan bobot badan harian 1,02 kg/ekor/hari.

Sumber:
Antonius. 2009. Potensi Jerami Padi Hasil Fermentasi Probion Sebagai Bahan Pakan Dalam Ransum Sapi Simmental. Seminar Nasional Teknologi Peternakan Dan Veteriner. Loka Penelitian Kambing Potong, Po Box 1 Sei Putih, Galang 20585, Sumatera Utara.
Sarwono, B Dan H.B. Arianto.2003. Penggemukan Sapi Potong Secara Cepat. Penebar Swadaya, Jakarta.
Widodo, F. Wahyono, Dan Sutrisno. 2012. Kecernaan Bahan Kering, Kecernaan Bahan Organik, Produksi Vfa Dan Nh3 Pakan Komplit Dengan Level Jerami Padi Berbeda Secara In Vitro. Indonesian Jurnal Of Food Technology Vol. 1 No.1. Fakultas Peternakan Dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang.
Yunilas. 2009. Bioteknologi Jerami Padi Melalui Fermentasi Sebagai Bahan Pakan Ternak Ruminansia. Karya Ilmiah. Fakultas Pertaian. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Selasa, 10 November 2015

KARAKTERISTIK RUMPUT KOLONJONO

Rumput kolonjono memiliki nama lain Brachiaria mutica, Panicum muticum, Para grass, dan Buffalo grass. Rumput kolonjono berasal dari Afrika dan Amerika Selatan tropik, sekarang rumput ini tersebar sebagai makanan ternak didaerah tropik basah dan sub tropik. Rumput tumbuh paling baik pada tanah yang basah dan tahan terhadap genangan air, tetapi tumbuhnya terhambat pada musim kemarau. Rumput kolonjono dipergunakan sebagai rumput potongan untuk makanan ternak, hay atau disenggut ternak dan penggembalaan harus dilakukan secara rotasi, karena tidak taham penggembalaan berat. Rumput dapat dipotong tiap 6-8 minggu (Reksohadiprojo, 1985).

Rumput kolonjono tumbuh baik di daerah yang mempunyai ketinggian tidak  lebih dari 1200 m dpl. dengan curah hujan tahunan 1000 mm. Rumput kolonjono sering tumbuh di sepanjang aliran sungai. Peternak biasanya menanam rumput kolonjono ditanam dipinggiran ladang atau sawah. Untuk peternakan dengan skala besar, rumpu ini ditanam pada lahan penanaman yang luas dan dibuat rotasi. Maksudnya berotasi adalah Penanaman dan pemotongan di setiap petak lahan dilakukan bergantian agar ketersedian rumput dapat secara terus menerus. Penanamannya bisa dengan stek kemudian ditanam dalam lokasi yang sudah digemburkan dengan pacul. Setelah ditanam bila kebetulan musim penghujan maka tinggal memupuk dengan pupuk kandang atau pupuk urea dan menyiangi dari gulma. Untuk saat musim kemarau tanaman ini harus disiram. Setelah berumur sekitar 2 bulan rumput siap dipotong. Pemotongan dilakukan sekitar 5cm dari tanah apabila terlalu panjang maka pertumbuhan rumput ini jelek dan akan menyusahkan pemotongan berikutnya.
Nilai gizi rumput ini cukup tinggi dan diakui para peternak sebagai makanan ternak yang baik, bila rumput masih muda dan remah batangnya yang masih muda dapat dijadikan rumput kering atau silase (Rismunandar, 1986). Kandungan nutrisi rumput kolonjono yaitu BK 8,59%, PK 1,31%, LK 43,41%, SK 12,80%, BETN 33,89% (Lubis, 1992).

Sumber:
Lubis, D.A.. 1992. Ilmu Makanan Ternak. Penerbit. PT. Pengembangan Jakarta.
Reksohadiprojo, S. 1985. Produksi Tanaman Hijauan Makana Ternak Tropik. BPFE, Yogyakarta.
Rismunandar. 1986. Mendayagunakan Tanaman Rumput. Penerbit Sinar Baru, Bandung.

Minggu, 08 November 2015

AMPAS TAHU UNTUK PAKAN TERNAK

Ampas tahu merupakan limbah padat yang diperoleh dari proses pembuatan tahu dari kedelai. Sedangkan yang dibuat tahu  adalah cairan atau susu kedelai yang lolos dari kain saring. Ampas Tahu dapat disebut juga sisa barang yang telah diambil sarinya atau patinya atau limbah industri pangan yang telah diambil sarinya melalui proses pengolahan. Masyarakat umumnya memanfaatkan ampas tahu untuk pakan ternak dan sebagian dipakai sebagai bahan dasar pembuataan tempe gembus. Ampas tahu mempunyai kadar protein yang baik dari segi kualitasnya untuk campuran dalam konsentrat yang diberikan kepada ternak. Kandungan nutrisi yang terdapat dalam ampas tahu bervariasi, hal ini antara lain disebabkan oleh perbedaan varietas dari kedelai yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan tahu, peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan tahu maupun proses pengolahan. Ampas tahu dapat dijadikan sebagai bahan pakan sumber protein karena mengandung protein kasar cukup tinggi berkisar antara 18-25%, lemak 4,5%, serat kasar 18,21% .

Penyimpanan Ampas Tahu
Ampas tahu yang diperoleh biasanya dalam bentuk basah/ memiliki kandungan air yang tinggi, terlebih lagi kandungan protein pada ampas tahu sehingga bila disimpan akan menyebabkan mudah membusuk dan berjamur. Ampas tahu akan menjadi busuk dan tidak disukai ternak dalam waktu 2-3 hari. Hal ini akan menyebabkan peternak hanya dapat menyimpan ampas tahu sebagai pakan ternak untuk keperluan dua hari saja. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan dilihat dari segi tenaga kerja dan biaya pengangkutan. oleh karena itu dapat dilakukan pengeringan atau pembuatan silase agar ampas tahu dapat disimpan dalam waktu lama.
Untuk memperoleh ampas tahu kering, dilakukan dengan menjemur atau memasukkannya ke dalam oven sampai kering, kemudian digiling sampai menjadi tepung. Tepung ampas tahu sendiri adalah tepung yang diperoleh dari hasil pengeringan dari ampas tahu yang masih basah, dengan alat pengeringan atau sinar matahari, selanjutnya digiling dan diayak hingga menjadi halus. Proses pembuatan tepung ampas tahu terdiri dari tiga tahap yaitu pencucian, pengeringan dan pengecilan ukuran (Rusdi et al., 2011).
Bila mengawetkan ampas tahu secara basah dapat dilakukan dengan pembuatan silase tanpa menggunakan stater. Terlebih dahulu ampas tahu dikurangi kadar airnya dengan cara dipres sampai kadar air mencapai kira-kira 75%. Lalu disimpan dalam ruang kedap udara atau plastik tertutup rapat supaya udara tidak dapat masuk. Setelah tertutup disimpan minimal 21 hari dan digunakan sesuai dengan kebutuhan. Penyimpanan dengan cara pembuatan silase dapat mengawetkan ampas tahu sampai 5-6 bulan (Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat, 1999).
AMPAS TAHU UNTUK PAKAN TERNAK

Penggunaan Ampas Tahu Untuk Pakan Ternak
Surtleff dan Aoyagi (1979) melaporkan bahwa penggunaan ampas tahu sangat baik digunakan sebagai ransum ternak sapi perah. Di Jawa Barat ampas tahu telah banyak dan sudah biasa digunakan oleh peternak sebagai makanan ternak sapi potong untuk proses penggemukan. Di Taiwan ampas tahu digunakan sebagai pakan sapi perah mencapai 2-5 kg per ekor per hari (Heng-Chu, 2004), sedangkan di Jepang penggunaan ampas tahu untuk pakan ternak terutama sapi dan babi dapat mencapai 70% (Amaha, et al., 1996)
Menurut Yusrizal (2002), pemberian ampas tahu dalam ransum yang digunakan sebagai pakan itik mojosari fase stater tidak menimbulkan dampak negatif terhadap performansnya. Ampas tahu yang digunakan dalam ransum itik Mojosari sampai level 15 %. Hal ini berarti ampas tahu bisa diberikan sebagai bahan pakan untuk itik Mojosari dalam fase stater dan finisher karena ampas tahu tidak mempengaruhi performans dari itik Mojosari itu sendiri. Pemberian ampas tahu untuk mengetahui kualitas karkas broiler dilakukan oleh Yuni Sofrianti (2001) diperoleh hasil bahwa pemberian ampas tahu kedalam ransum broiler sampai level 36 % tidak menurunkan kualitas karkas broiler. Menurut Dessita (2003) pemberian ampas tahu sampai level 20% yang diberikan pada puyuh (Cortunix-cortunix japonica) umur 1-6 minggu tidak memberikan efek negatif terhadap performans puyuh umur 1-6 minggu dibandingkan ransum normal. Sedangkan pemberian ampas tahu sampai level 10% yang diberikan pada puyuh (Cortunix-cortunix japonica) setelah 6 bulan produksi secara kumulatif tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap konsumsi ransum, produksi telur, berat telur dan konversi ransum (Ferdinan sembiring, 2002).

*Sumber utama didapat dari
http://disnak.jatimprov.go.id/web/layananpublik/readteknologi/811/pemanfaatan--as-tahu-sebagai-pakan-unggas#.VkAQ8JgY4sI dan
Tarmidi, A. R., 2002. Penggunaan Ampas Tahu Dan Pengaruhnya Pada Pakan Ruminansia. Unpad.ac.id
*Serta ditambah dari :
Amaha, K., Y. Sasahi, and T. Segawa. 1996. Utilization of Tofu (Soybean Curd) By-Product as Feed for Cattle. http// www.agnet.org
Dessita. 2003. Pengaruh Pemberian Tepung Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Performans Puyuh (Coturnix-cortunix japonica) umur 1-6 minggu. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu.
Ferdinan sembiring. 2002. Pengaruh Pemberian Tepung Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Performans Puyuh (Coturnix-cortunix japonica) setelah 6 bulan produksi. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu.
Heng-Chu, A. 2004. Utilization of Agricultural By-Products in Taiwan. http//www.agnet.org.
Shurtleff, W. and A. Aoyagi. 1975. The Book of Tofu, Food for Mankind. Ten Speed Press, California, USA.
Yusrizal. 2002. Pengaruh Pemberian Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Performans itik Mojosari fase stater. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu
Yuni sofrianti. 2001. Pengaruh Pemberian Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Kualitas Karkas Broiler. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu.

BUNGKIL KEDELAI UNTUK PAKAN TERNAK


Bungkil kedelai merupakan hasil ikutan atau bahan yang tersisa setelah kedelai diolah dan diambil minyaknya. Bungkil kedelai merupakan surnber protein yang baik bagi ternak. Kandungan protein bungkil kedelai sekitar 44-51% dan merupakan sumber protein yang amat bagus sebab keseimbangan asam amino yang terkandung didalamnya cukup lengkap dan tinggi. Asam amino yang tidak terkandung dalam protein bungki kedelai adalah metionin dan sistein, yaitu asam amino yang biasanya ditambahkan pada pakan campuran jagung-kedelai. Tetapi bungkil kedelai memiliki kandungan lisin dan triptofan yang tinggi sehingga dapat melengkapi defisiensi pada protein jagung dan memberikan kebutuhan asam amino esensial bagi temak.
BUNGKIL KEDELAI UNTUK PAKAN TERNAK
Gambar Bungkil Kedelai
1.   Bungkil Kedelai Untuk Pakan Ternak Non Ruminansia.
Bungkil kedelai merupakan limbah dari produksi minyak kedelai. Sebagai bahan makanan sumber protein asal tumbuhan, bungkil ini mempunyai kandungan protein yang berbeda sesuai kualitas kacang kedelai. Kisaran kandungan protein bungkil kedelai mencapai 44-51%. Hal ini selain oleh kualitas kacang kedelai juga macam proses pengambilan minyaknya. Pada dasarnya bungkil kedelai dikenal sebagai sumber protein dan energi (Rasyaf, 1994).
Sekitar 50% protein untuk pakan unggas berasal dari bungkil kedelai dan pemakaiannya untuk pakan ayam pedaging berkisar antara 15-30%, sedangkan untuk pakan ayam petelur 10-25% (Wina, 1999). Kandungan protein bungkil kedelai mencapai 43-48%. Bungkil kedelai juga mengandung zat antinutrisi seperti tripsin inhibitor yang dapat mengganggu pertumbuhan unggas, namun zat antinutrisi tersebut akan rusak oleh pemanasan sehingga aman untuk digunakan sebagai pakan unggas. Bungkil kedelai dibuat melalui beberapa tahapan seperti pengambilan lemak, pemanasan, dan penggilingan (Boniran, 1999). Bungkil kedelai yang baik mengandung air tidak lebih dari 12% (Hutagalung, 1999).
Kandungan Nutrisi Bungkil Kedelai
Kandungan Nutrisi Bungkil Kedelai
2.   Bungkil Kedelai Untuk Pakan Ternak Ruminansia.
Bahan pakan sumber protein memiliki tingkat kelarutan yang berbeda-beda. Semakin tinggi kelarutan protein dari suatu bahan, maka protein tersebut semakin tidak tahan terhadap degradasi di dalam rumen. Berdasarkan tingkat ketahanan protein di dalam rumen, bungkil kedelai termasuk kelompok sumber protein dengan tingkat ketahanan rendah (<40%), bersama-sama dengan kasein, bungkil kacang dan biji matahari (Chalupa, 1975). Oleh sebab itu bungkil kedelai memiliki nilai biologis yang kurang memberikan arti bagi ternak ruminansia, disebabkan sebagian besar protein kasar bungkil kedelai terfermentasi dalam rumen dan kurang dapat dimanfaatkan oleh ternak. Untuk memperkecil degradasi protein bungkil kedelai dari perombakan mikroba di dalam rumen, maka bungkil kedelai sebelum diberikan pada ternak perlu mendapat perlindungan.
Perlindungan dimaksudkan untuk mengurangi perombakan protein oleh degradasi mikroba rumen tanpa mengurangi ketersediaan amonia untuk sintesis protein mikroba dan tanpa mengurangi kemampuan hidrolisis oleh enzim-enzim di dalam abomasum dan usus. Perlindungan protein dari degradasi rumen dapat dilakukan dengan cara pemanasan, pemberian formalin, tanin dan kapsulasi.

Sumber:
Boniran, S. 1999. Quality control untuk bahan baku dan produk akhir pakan ternak. Kumpulan Makalah Feed Quality Management Workshop. American Soybean Association dan Balai Penelitian Ternak. hlm. 2-7.
Hutagalung, R.I. 1999. Definisi dan Standar Bahan Baku Pakan. Kumpulan Makalah Feed Qualiy Management Workshop. American Soybean Association dan Balai Penelitian Ternak. hlm. 2-13.
Rasyaf, M. 1994. Makanan Ayam Broiler. Kanisius. Yogyakarta.
Wina, E. 1999. Kualitas protein bungkil kedelai: Metode analisis dan hubungannya dengan penampilan ayam. Kumpulan Makalah Feed Quality Management Workshop. American Soybean Association dan Balai Penelitian Ternak. hlm. 1-3

Minggu, 17 Mei 2015

BUNGKIL KACANG TANAH (PEANUT MEAL)

Bungkil kacang tanah adalah merupakan limbah dari pengolahan minyak kacang tanah. Bungkil kacang tanah disukai ternak dan merupakan supplemen protein tumbuhan yang berkualitas baik. Tapi bungkil ini mempunyai anti nutrisi yang dapat mengakibatkan kelenjar thyroid membesar dan juga mempunyai sifat pencahar, tapi pengaruhnya lebih rendah dibandingkan dengan kacang tanah. Secara kualitatif kualitas kacang tanah dapat diuji dengan menggunakan bulk density ataupun uji apung. Bulk density bungkil kacang tanah adalah 465,6 gram selain itu uji organoleptik sepertui tekstur, rasa, warna dan bau dapat dipakai untuk mengetahui kualitas bungkil kacang tanah yang baik. Uji sekam dengan fluroglucinol dapat juga dilakukan. Kualitas bungkil kacang tanah secara kuantitatif dapat dilakukan di laboratorium dengan menggunakan menggunakan metode proksimat. Bungkil kacang tanah mengandung protein kasar 46,62% dan serat kasar 5,5%. Bila serat serat kasar lebih tinggi maka telah terjadi pemalsuan sekam dan arena itu produk tersebut tidak disebut bungkil kacang tanah tetapi bungkil kacang tanah dan sekam. Bungkil kacang tanah mempunyai protein tercerna (DP) 42,4% dan TDN 84,5%. Nilai ini lebih tinggi dari bungkil kedelai. Bungkil kacang tanah dan sekam mengandung protein kasar (PK) 41%. Protein tercerna 36,6% dan total nutrient tercerna (TDN) 73,3% lebih tinggi dari PK, DP, dan TDN. Salah satu pembatas pemanfaatan bungkil kacang tanah pada ternak adalah adanya kontaminasi aflatoksin (Orskov, 1988).

Bungkil merupakan bahan pakan sumber protein. Oleh karena itu, penggunaan bungkil sebagai bahan pakan dilakukan dalam jumlah besar. Misalnya saja daging buah kelapa, kacang tanah, kedelai, biji bunga matahari, biji kapas, biji kapuk, lembaga biji jagung, dedak dan masih banyak lagi. Selama ini komoditas yang paling banyak dijadikan bungkil adalah kedelai, kacang tanah, kelapa, biji bunga matahari dan biji kapas. Proses pembuatan bungkil sangat sederhana. Kacang tanah dipres (dikempa) hingga minyaknya keluar. Hasil kempaan dari produk biji-bijian itu berupa minyak nabati dan ampasnya yang disebut sebagai bungkil. 
BUNGKIL KACANG TANAH (PEANUT MEAL)
Oil meal merupakan bungkil protein yang dihasilkan dari biji-bijian yang mengandung minyak. McDonald dkk. (2001) menyatakan bahwa Oil meal adalah limbah yang sangat berguna dan merupakan residu dari ekstraksi minyak. Lebih lanjut Orskov (1988) menyatakan bahwa oil meal mengandung protein (200 – 500 g/ kg) dan ME tinggi. Bungkil atau oil meal diperoleh dari expeller process pada ekstraksi minyak. Proses pembuatan oil meal ini pada prinsipnya adalah dilakukan penyaringan minyak terlebih dahulu, kemudian akan tersisa bungkilnya. Proses pembuatan bungkil yaitu bahan yang akan disaring minyaknya dikeringkan terlebih dahulu kemudian dilakukan pemanasan. Setelah bahannya masak kering, kemudian bahan tersebut digiling dan dilakukan pengepresan atau penyaringan.

Bungkil ini sekarang mudah didapat karena sudah banyak pabrik-pabrik minyak kacang, baik pabrik modern maupun yang masih sederhana. Kadar proteinnya paling tinggi diantara bungkil bungkil yang lain yang umum digunakan. Baik untuk digunakan sebagai komposisi dalam ransum konsentrat untuk sapi, babi dan ayam. Hanya perlu dibatasi jumlah pemberiannya karena kadar lemaknya yang cukup tinggi dan harganya relatif mahal. Analisa nutrisi: 6.6% air, 27% bahan ekstrak tanpa N, 8.5% lemak dan 6.3% abu serta nilai MP adalah 80.

Di Indonesia peranan bungkil kacang tanah ini untuk makanan unggas dan ternak umumnya tidak terlalu besar. Di samping produksinya memang tidak banyak, bungkil kacang tanah terbatas kualitasnya. Walaupun demikian, di beberapa daerah yang memang potensial sebagai penghasil minyak kacang atau olahan lainnya, bungkil kacang tanah ini banyak tersedia dan memang harus dimanfaatkan untuk ternak.

Bungkil kacang tanah merupakan limbah pengolahan kacang tanah menjadi minyak, sehingga kualitas bungkil kacang tanah ini tergantung pada hasil proses pengolahan kacang tanah menjadi minyak tersebut. Di samping itu, proses pemanasan selama pengolahan berlangsung, juga menentukan kualitas bungkil ini. Bungkil kacang tanah ini mengandung methionin dan lysine tetapi dalam jumlah yang rendah. Dalam berbagai penelitian untuk monogastrik seperti unggas, dan babi telah terbukti bahwa penggunaan bungkil kacang tanah yang berlebih tanpa tambahan atau kombinasi yang tepat akan menyebabkan konversi ransum yang buruk.

Pemanfaatan Bungkil Kacang Tanah untuk Unggas
Secara praktis, kekurangan asam amino dalam bungkil kacang tanah dapat ditutupi dengan kombinasi dari bahan-bahan makanan lain. Bila di suatu daerah bungkil kacang tanah ini ada dan harganya layak, pemanfaatan bungkil kacang tanah untuk unggas harus dikombinasikan dengan tepung ikan dan bungkil kacang kedelai. Kombinasi semacam ini selain untuk menutupi kekurangan satu dengan kelebihan lain, juga untuk membuat ransom lebih murah dan tidak tergantung pada satu bahan saja. Semakin beragam bahan-bahan yang digunakan akan semakin besar kemungkinan kebutuhan nutrisi unggas terpenuhi. Pemanfaatan kacang tanah untuk unggas mulai dari 0 atau boleh tidak digunakan hingga 25%. Penggunaan untuk unggas pedaging, selama harga absolutnya memungkinkan, dapat digunakan untuk membantu jagung kuning dan minyak nabati untuk memenuhi kebutuhan energi yang tinggi itu. Selain itu, beberapa jenis burung hias gemar makan bungkil kacang tanah ini.
Faktor penyimpanan sangat penting karena bungkil kacang tanah kerap tercemar oleh Aspergillus flavus, jamur yang menghasilkan racun berbahaya  bagi ayam. Bla racun in bekrja, proses pencernaan ayam tidak akan sempurna lagi dan berdampak negative terhadap daya serap unsur nutrisi ke dalam tubuh ayam. Penyimpanan yang dilakukan dalam wadah yang rapat, tidak lembab, ventilasi gudang cukup dan kadar air yang terjamin akan membantu mencegah kontaminasi bungkil kacang tanah ini.
Sumber: Dirangkum dari berbagai sumber dan https://forsum.wordpress.com/dasar-forsum/bahan-pakan/contoh/sumber-protein/bungkil-kacang-tanah/

Rabu, 06 Mei 2015

TEPUNG BULU AYAM UNTUK PAKAN TERNAK

Bulu ayam merupakan limbah dari rumah pemotongan ayam (RPA) dengan jumlah berlimpah dan terus bertambah seiring meningkatnya populasi ayam dan tingkat pemotongan sebagai akibat meningkatnya permintaan daging ayam di pasar. Bulu ayam sampai saat ini belum banyak dimanfaatkan dan hanya sebagian kecil saja yang dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat kemoceng, pengisi jok, pupuk tanaman, kerajinan tangan/hiasan dan shuttle cock (Adiati et al., 2004). Menurut Packham (1982) bahwa dari hasil pemotongan setiap ekor ternak unggas akan diperoleh bulu sebanyak ± 6% dani bobot hidup (bobot potong ± 1,5 kg). Sebelum bulu ayam diberikan ke Ternak, bulu ayam diolah terlebih dahulu menjadi tepung. Pemrosesan bulu ayam pada prinsipnya untuk melemahkan atau memutuskan ikatan dalam keratin melalui proses hidrolisis. Berbagai metode pemrosesan telah diteliti untuk meningkatkan kecernaan dari bulu
ayam. Pengolahan bulu ayam menjadi tepung dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
1.   Pengolahan secara fisik
Limbah bulu ayam yang diproses mengunakan teknik fisik dapat dilakukan dengan tekanan dan suhu tinggi, yaitu pada suhu 105°C dengan tekanan 3atm dan kadar air 40% selama 8 jam. Sampel yang sudah bersih akan di autoklaf, kemudian dikeringkan dan siap untuk digiling (Adiati et.al., 2004).
2.   Pengolahan secara kimiawi
Proses kimiawi dilakukan dengan penambahan HCl 12%, dengan ratio 2:1 pada bulu ayam yang sudah bersih, lalu disimpan dalam wadah tertutup selama empat hari. Sampel yang telah direndam oleh HCl 12% kemudian dikeringkan dan siap untuk digiling menjadi tepung.
3.   Pengolahan secara enzimatis
Bulu ayam yang diproses dengan teknik enzimatis dilakukan dengan menambahkan enzim proteolitik 0,4% dan disimpan selama dua jam pada suhu 52oC. Bulu ayam kemudian dipanaskan pada suhu 87oC hingga kering dan digiling hingga menjadi tepung.
4.   Pengolahan secara kimia dengan basa
Pengolahan secara kimia menggunakan basa, dapat dilakukan dengan menambahkan NaOH 6%, disertai pemanasan dan tekanan menggunakan autoklaf. Bulu ayam yang sudah siap kemudian dikeringkan dan digiling (Puastuti 2007).
TEPUNG BULU AYAM UNTUK PAKAN TERNAK
Bulu ayam sangat potensial dijadikan sebagai sumber protein pakan ternak, karena kandungan protein kasarnya tinggi yaitu 85-95%. Bulu ayam dapat dimanfaatkan untuk campuran pakan ternak unggas maupun ternak ruminansia bahkan dijadikan pelet untuk pakan ikan.
1.   TEPUNG BULU UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA
Pemanfaatan bulu ayam sebagai sumber protein pada ransum ternak ruminansia belum banyak dilakukan. Hal ini disebabkan karena protein yang terkandung didalamnya sulit dicerna. Protein kasar bulu ayam termasuk dalam jenis protein serat, yaitu keratin yang sulit dicerna baik oleh mikroorganisme rumen maupun oleh enzim-enzim pencernaan pascarumen (Tillman et.al., 1982). Keunggulan penggunaan tepung bulu ayam untuk ternak ruminansia adalah adanya sejumlah protein yang tahan terhadap perombakan oleh mikroorganisme rumen (rumen undegradable protein/RUP), namun mampu diurai secara enzimatis pada saluran pencernaan pascarumen. Nilai RUP tersebut berkisar antara 53-88%, sementara nilai kecernaan dalam rumen berkisar 12-46%.
2.   TEPUNG BULU UNTUK PAKAN TERNAK UNGGAS
Penggunaan tepung bulu ayam untuk ransum unggas sebagai pengganti sumber protein pakan konvensional (bungkil kedelai) sampai dengan taraf 40 % dari total protein ransum memberikan respons sebaik ransum kontrol. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung bulu dapat digunakan pada level tidak lebih dari 4 % dari total formula ransum tanpa membuat produktivitas unggas merosot. Semakin baik pengolahannya, semakin baik pula hasilnya. Semakin banyak digunakan tepung ini justru akan menekan prestasi unggas, produksi telur berkurang dan pertambahan berat badan juga merosot (Rasyaf, 1992). Tepung bulu tidak disukai (kurang palatable) oleh ternak, sehingga penggunaannya dalam ransum harus dibatasi. Pemakaian yang berlebihan akan mengurangi konsumsi ransum, mengkibatkan kandungan asam amino yang tidak berubah Pemakaian dalam ransum unggas dan babi disarankan maksimum 5-7 %. Untuk broiler (ayam potong ) disarankan < 5%, untuk ayam petelur 7%. Di lapangan, pabrik pakan hanya menggunakan tepung bulu sekitar 1- 2 % saja dalam ransum pakan komplit.
3.   PELET BULU AYAM
Pelet bulu ayam merupakan salah satu inovasi makanan ikan yang bahan dasarnya terbuat dari bulu ayam. Bulu ayam yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan pelet adalah bulu ayam kering yang telah digiling sehingga serat bulu ayamnya jauh lebih lembut. Hasil uji laboratorium yang telah dilakukan terhadap sampel pelet bulu ayam yang diujikan di LPPT Universitas Gadjah Mada, pelet bulu ayam memiliki kandungan air sebesar 9,16 % , abu sebesar 3,47 %, serat kasar sebesar 6,65 %, protein sebesar 20,22 %, karbohidrat sebesar 65,29% dan lemak sebesar 1,86 %. Dari pengujian tersebut dapat kita ketahui bahwasanya pelet bulu ayam memiliki kandungan protein, karbohidrat, dan lemak yang dapat menambah berat badan ikan.
Keunggulan produk pelet bulu ayam ialah ramah lingkungan, disebut ramah lingkungan karena produk pelet ini sama sekali tidak menggunakan campuran bahan kimia. Bahan dasar yang digunakan yakni limbah bulu ayam. Selain untuk mengurangi pencemaran lingkungan, pengolahan limbah bulu ayam dapat dioptimalkan tidak hanya sebagai bahan dasar kemoceng, isian bantal dan boneka. Disamping itu pelet bulu ayam mudah dalam proses produksi, karena dengan menggunakan mesin-mesin yang mudah ditemukan seperti mesin penggiling bulu ayam, mesin pencetak pelet, dan mesin oven. Selain itu bahan-bahan campuran lain untuk membuat pelet bulu ayam cukup mudah ditemukan di pasaran. Pelet bulu ayam dijual dengan harga yang murah, dengan harga Rp 7.000,00 sudah mendapatkan satu kemasan pelet bulu ayam. Selain dengan harga yang cukup murah isi pelet bulu ayam ini jauh lebih banyak daripada pelet biasanya. (kompasiana.com).
Kandungan Nutrient Bulu Ayam
Kendala utama penggunaan tepung bulu ayam dalam ransum untuk ternak adalah rendahnya daya cerna protein bulu. Hal tersebut disebabkan sebagian besar kandungan protein kasar berbentuk keratin (SRI INDAH, 1993). Dalam saluran pencernaan, keratin tidak dapat dirombak menjadi protein tercerna sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh ternak. Agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan, bulu ayam harus beri perlakuan, dengan memecah ikatan sulfur dari sistin dalam bulu ayam tersebut.

Sumber:
Adiati, U., W. Puastuti dan I-W. Mathius. 2004. Peluang pemanfaatan tepung bulu ayam sebagai bahan pakan ternak ruminansia. Wartazoa. 14(1): 39 – 44.
http://edukasi.kompasiana.com/2014/07/22/mahasiswa-universitas-sanata-dharma-berhasil-mengembangkan-pelet-ikan-organik-berbahan-dasar-limbah-bulu-ayam-669700.html
Packham, R.G. 1982. Feed Composition, Formulation and Poultry Nutrition. Nutrition and Growth Manual. Australian Universities International Development Program (AUIDP), Melbourne.
Puastuti W. 2007. Teknologi pemrosesan bulu ayam dan pemanfaatannya sebagai sumber protein pakan ruminansia. Wartazoa 17 (2): 53-60
Rasyaf, M. 1992. Pengelolaan Peternakan Unggas Pedaging. Penebar Swadaya, Jakarta.
Sri Indah Z. 1993. Pengaruh lama pengolahan dan tingkat pemberian tepung bulu terhadap performans ayam jantan broiler. Skripsi. Fakultas Peternakan IPB. Bogor.
Tillman, A.D., S. Reksohadiprojo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo. 1982. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Fakultas Petemakan UGM. Yogyakarta.

Selasa, 14 April 2015

TANAMAN KALIANDRA UNTUK PAKAN TERNAK

Kaliandra merupakan salah satu leuguminosa pohon atau semak yang memiliki beberapa spesies, satu diantaranya yang paling banyak dikenal adalah jenis kaliandra bunga merah (Calliandra calothyrsus). Kaliandra termasuk dalam familia Leguminoseae dan sub familia Mimosaceae (Palmer dan Ibrahim, 1996). (Hidayat et. al., 2006) menyatakan bahwa kaliandra adalah pohon kecil bercabang, tinggi maksimum 12 meter, diameter batang maksimum 20 cm, kulit batang berwarna merah atau abu-abu, ke arah pucuk batang cenderung bergerigi. Perakaran terdiri atas beberapa akar tunggang, akar lebih halus dan jumlahnya sangat banyak, memanjang sampai kepermukaan tahun. Kaliandra mempunyai daun yang lunak terbagi menjadi daun-daun yang keeil. Panjang daun utama mencapai 20 cm, lebarnya mencapai 15 cm.

Banyak spesies Kaliandra yang terdapat di Indonesia antara lain adalah C. calothyrsusdan C. surinamensis. Jenis C. surinamensis banyak ditanam di samping rumah sebagai tanaman hias. C. calothyrsus yang berbunga merah merupakan jenis dengan sebaran alami dari Mexico sampai Panama ini menunjukkan penampilan yang sangat bagus di Indonesia sebagai jenis multi guna. C. calothyrsus memiliki banyak kegunaan yaitu untuk kayu energi, pakan ternak, pengontrol erosi, perbaikan tanah karena kemampuannya mengikat nitrogen dan memproduksi seresah, penahan api, serta bunganya yang bagus juga menyebabkan jenis ini ditanam sebagai penghias jalan dan sumber nektar bagi lebah (Rina dan Nur, 2014).

Seperti kebanyakan hijauan ternak jenis lain, ternak membutuhkan waktu penyesuaian sehingga terbiasa memakan kaliandra, sebelum digunakan sebagai bagian dari pakan sehari-hari. Pemberiannya secara bertahap jangan langsung di berikan terlalu banyak, karena akan menyababkan gangguan pencernaan seperti diare.
TANAMAN KALIANDRA UNTUK PAKAN TERNAK

 Penggunaan Kaliandra dalam ransum sapi perah berdampak meningkatkan produksi susu dan keuntungan peternak. Wina dan Tangendjaja, (2000) melaporkan bahwa pemberian 10 kg daun Kaliandra kepada sapi perah perhari menghasilkan susu sebanyak 15,34 liter/hari/ekor dan keuntungan terbesar bagi peternak sapi perah. Sedangkan di Kenya, pemberian Kaliandra segar kepada sapi perah sebanyak 3 kg dapat menggantikan 1 kg konsentrat yang mengandung protein 16%. Pemberian Kaliandra sebagai pengganti konsentrat bervariasi bergantung pada tempat atau lingkungan (Paterson et. al., 1999). Prawiradiputra et. al., (2000) melaporkan tentang penelitiannya dengan lima macam ransum yang mengandung tingkat Kaliandra 0, 5, 10, 15, 20 kg, hasilnya menunjukkan bahwa produksi susu pada masing-masing perlakuan adalah 12,87; 14,51; 15,84; 15,32 dan 14,48 liter/ekor/hari. Data tersebut memberikan gambaran bahwa penggunaan Kaliandra sampai 20% sebagai komponen ransum memberikan respons meningkatkan produksi susu.

Menurut beberapa sumber yang saya baca bahwa pemberian kaliandra perlu di batasi, ada yang mengatakan bahwa pemberian maksimalnya sebanyak 20%dan 30%. (Rina dan Nur, 2014) menyatakan bahwa salah satu faktor yang memengaruhi nilai gizi adalah kecernaanya, dan sejauh mana hijauan ternak dapat dicerna dan diserap oleh ternak. Kecernaan Kaliandra sangat bervariasi sekitar 30% sampai 60% .

Calliandra calothyrsus juga bermanfaat untuk produksi ternak non ruminansia. Meskipun hanya  sedikit informasi tentang tingkat produktivitasnya, namun ada laporan dari Vietnam yang menyatakan bahwa C. calothyrsus digunakan sebagai pakan ikan di kolam kecil. Daunnya juga dapat digunakan sebagai pakan kelinci dalam jumlah yang terbatas sebagai campuran pakan lain. Hasil yang baik telah diperoleh dari kelinci yang diberi makanan pelet yang mengandung 30% daun C. calothyrsus kering (Wina dan Tangendjaja, komunikasi pribadi.) Penambahan sedikit daun kaliandra untuk pakan ayam petelur (0,6-2,5% dari makanan pokok) akan menghasilkan warna yang lebih kuning pada kuning telur tanpa pengaruh negatif pada jumlah terlur yang dihasilkan atau pada perbandingan konversi nutrisi (Paterson et. al.,. 2000; Wina dan Tangendjaja, komunikasi pribadi)

Sumber :
Hidayat U. T., S. Kuswaryan, W. Djaja Dan L. Khaerani. 2006. Manfaat Kaliandra Pada Usahaternak Sapi Perah Dalam Meningkatkan Produksi Susu. Fakultas Peternakan. Universitas Padiadjaran. Lokakarya Nasional Pengembangan Jejaring Litkaji Sistem Integrasi Tanaman-Ternak.
Janet S, Mulawarman, J. M. Roshetko, dan M. H. Powell. 2001. Produksi dan Pemanfaatan Kaliandra (Calliandra calothyrsus). Di terjemahlan oleh SN Kartikasari. Winrock International dan the Taiwan Forestry Research Institute. Berkolaborasi dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Department Kehutanan, Indonesia, the Overseas Development.
Palmer, B., And T.M. Ibrahim. 1996. Calliandra calothyrsus forage for the tropics- a current assessment. In : D.O. Evans (ed). Proceedings of International Workshop in the Genus Calliandra. Forest, Farm and Community Tree Research Reports (Special Issue). Winrock International, Morrilton Arkansas USA. P 183-194.
Paterson, R., B. Palmer, M. Shelton, R. Merkel, T.M. Ibrahim, R. Arias, K. Berhe And A.N.F. Perera. 1999. Fodder Production. In: Mh. Powell., Ed. Calliandra Calothyrsus Production And Use: A field Manual. Forest, Farm, And Community Tree Network. Morrilton, Arkansas, Usa: Winrock International And Taiwan Forestry Research Institute. P 29 – 34.
Paterson, R.T., R. L. Roothaer, and E. Kiruiro. 2000. The Feeding of leaf meal of Calliandra Calothyrsus to laying hens, Tropical Animal Healt and Production. 32 (1) ; 51 – 61.
Prawiradiputra, B. R., T. Sugiarti, E. Masbulan, D. Purwantari, E. Sutedi, D. Rosadi dan Nugraha. 200. Sistem Produksi Silvopastura untuk meningkatkan produksi ternak di hutan tanamn industri. Laporan ARMP II. Balitnak Ciawi, Bogor, Indonesia.
Rina L. H., Dan Nur H. 2014.  Budidaya Kaliandra (Calliandra Calothyrsus) Untuk Bahan Baku Sumber Energi. IPB Press.
Wina, E. dan B. Tangendjaja. 2000. Pemanfaatan Kaliandra (Calliandra Calothyrsus) sebagai hijauan pakan ruminansia di lndonesia. Lokakarya Produksi Benih dan Pemanfaatan Kaliandra. International for Cente of Research for Agroforestry dan Winrock International. Bogor. 49 hlm.