Ternak

Tampilkan postingan dengan label kambing dan domba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kambing dan domba. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 September 2015

KARAKTERISTIK KAMBING BENGGALA

Kambing Benggala di duga merupakan hasil persilangan kambing Black Benggal dengan kambing Kacang yang diduga dibawa pedagang bangsa Arab yang datang ke daerah sekitar Pulau Timor dan Pulau Flores di Propinsi Nusa Tenggara Timur  sebelum Jaman Penjajahan Hindia Belanda. Black bengal sendiri merupakan kambing benggala hitam yang tergolong kecil dan tersebar luas di Assam dan Bangladesh bagian utara. Dengan selang waktu yang sudah ratusan tahun melalui persilangan kambing tersebut mengalami  penghanyutan genetik dan beradaptasi dengan lingkungan setempat. Kambing Benggala secara umum lebih besar dari kambing Kacang, umumnya di dominasi warna hitan dan yang sedikit berwarna kecoklatan. Ciri khas dari kambing ini antara lain: Bentuk telinga sedang, lurus kesamping dan  kira-kira sepertiga bagian ujung telinga jatuh seperti patah di ujung, garis muka lurus tidak cembung seperti Peranakan Ettawah (PE), garis punggung lurus, bulu rambut sedang menutup semua permukaan kulit tetapi tidak pajang atau tebal, penampilan ambil sedang, tanduk tegak ke belakang.
KARAKTERISTIK KAMBING BENGGALA
Berat rata-rata kambing Benggala umur 6 bulan sekitar 13.8 kg, umur 9 bulan sekitar 18.9 kg, umur 1 tahun  (1 pasang gigi permanent) sekitar 22 kg, umur diatas 2  tahun (2 pasang gigi permanent) sekitar 25.8 kg, umur  3-4 tahun rata-rata bobot badan 31 kg.  Induk kambing Benggala rata-rata bobot badannya 37.9 kg (35-41 kg) dan pejantan kambing Benggala rata-rata 40 kg (40-52.5kg). Berat badan kambing Benggala termasuk tipe sedang lebih besar dar kambing Kacang dan lebih kecil dari kambing Peranakan Ettawah (PE). Kambing ini termasuk tipe pedaging (kambing potong) dan biasanya cukup prolific (jumlah anak sekelahiran lebih dari satu/ kembar). Kambing Benggala mempunai ambing susu cukup bagus sehingga produksi susu relatip cukup untuk kebutuhan anak walaupun kembar 2 atau tiga pada saat pra sapih.
Untuk mendownload artikel ini silahkan Klik dibawah ini

Sumber:
Fitra A. P, A. Batubara, M. Doloksaribu Dan E. Sihite. 2009. Petunjuk Teknis Potensi Beberapa Plasma Nutfah Kambing Lokal Indonesia. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Peternakan. Sumatera Utara.
http://peternakan.litbang.pertanian.go.id

Selasa, 15 September 2015

KARAKTERISTIK KAMBING GEMBRONG

Kambing gembrong adalah salah satu jenis kambing yang memiliki penampilan yang spesifik dan di Indonesia hanya terdapat di Bali. Kambing ini diberi nama kambing gembrong oleh masyarakat setempat karena bulunya yang panjang dan lebat terutama pada yang jantan dengan bulu dibagian muka sering menutupi matanya. Keberadaan kambing gembrong menambah keragaman hayati yang ada di Bali sehingga perlu dipertahankan dan dapat merupakan aset daerah. Namun dewasa ini, populasi kambing gembrong terus berkurang karena beberapa kendala yang dihadapi oleh peternak di lapangan seperti gangguan oleh anjing hutan yang sering memangsa kambing ini terutama di malam hari dan juga banyak yang menderita penyakit scabies (Yupardi, 1998).
Ciri khas dari kambing gembrong adalah berbulu panjang. Pada kambing jantan panjang bulunya sekitar berkisar 15-25 cm, bahkan rambut pada bagian kepala sampai menutupi muka dan telinga. Sedangkan pada kambing gembrong betina berbulu pendek berkisar 5-8 cm.
KARAKTERISTIK KAMBING GEMBRONG
Warna tubuh kambing gembrong pada umumnya putih (61,5%) tapi ada sebagian yang berwarna coklat muda (23,08%) dan coklat (15,38%). Pola warna tubuh umumnya adalah satu warna sekitar 69,23% dan sisanya terdiri dari dua warna 15,38% dan tiga warna 15,38%. Rataan litter size kambing gembrong adalah 1,25. Rataan bobot lahir tunggal 2 kg sedangkan yang kembar dua 1,5 kg. Tingkat kematian prasapih 20% (Sinar Tani, 2007).
Matram et. al, (1993) melaporkan bahwa dalam kondisi pemeliharaan tradisional diperoleh bobot badan kambing jantan dewasa 32–45 kg, tinggi gumba 58–65 cm, lingkar dada 73–86 cm dan panjang badan 56–65 cm. sedangkan kambing gembrong betina dewasa memiliki bobot badan 21–31 kg, tinggi gumba 49–60 cm, lingkar dada 70–82 cm dan tinggi badan 50–61 cm. Kambing gembrong dapat dikawinkan pada umur 6 bulan sehingga beranak pertama kali pada umur 12 bulan dengan tipe kelahirannya berkisar antara lahir tunggal sampai kembar tiga.

Sumber: 
Matram, B., I D. K. H. Putra, W. Wirtha, W. S. Yupardhi dan I G. A. A. Putra. 1993. Pemurnian dan Kinerja Kambing gembrong di Bali Timur. Laporan Penelitian FAFET UNUD Denpasar.
Sinar Tani. 2007. Tujuh Plasma Nutfah Kambing Lokal Indonesia. Edisi 25 April–1 Mei.
Yupardi, W. S. 1998. Gambaran Fisologis Darah Kambing Gembrong Penderita Skabies. Majalah Kedokteran Unud. 29 (100).

Rabu, 01 Juli 2015

KARAKTERISTIK KAMBING KACANG

Kambing Kacang adalah salah satu kambing lokal di Indonesia dengan populasi yang cukup tinggi dan tersebar luas di wilayah indonesia. Kambing kacang memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil, memiliki telinga yang kecil dan berdiri tegak. Kambing ini telah beradaptasi dengan lingkungan setempat, dan memiliki keunggulan pada tingkat kelahiran. Beberapa hasil pengamatan menunjukkan bahwa litter sizenya adalah 1.57 ekor (Setiadi, 2003). kambing ini memiliki keterbatasan dengan rataan bobot badan dewasa yang cukup rendah yaitu sekitar 20–25 kg, dengan tinggi pundak pada jantan dewasa dan betina dewasa adalah 53,80 ± 2,88 cm  dan 52,00 ± 7,38 cm (Setiadi et al., 1997). Rata-rata bobot lahir sekitar 3,2 kg. Kambing kacang jantan muda mencapai dewasa kelamin mulai umur 20-23 minggu. Kambing betina mulai dewasa kelamin saat umur sekitar 300 hari (Sarwono, 2008). Kambing ini memiliki tanduk baik jantan maupun betina. Tanduknya berbentuk pedang, melengkung ke atas sampai ke belakang. Bulu pendek berwarna tunggal (putih, hitam, dan cokelat). Adapula yang warna bulunya berasal dari campuran ketiga warna tersebut.
KARAKTERISTIK KAMBING KACANG
Sumber gambar: jualansapi.com
Kambing kacang (lokal) memiliki potensi dan peluang untuk dikembangkan. Potensinya adalah mudah pemeliharaan dan bisa kawin secara alami. Potensi lainnya adalah daging dan kotoran. Kambing Kacang sangat cocok untuk penghasil daging karena sangat prolifik (sering melahirkan anak kembar dua). Terkadang dalam satu kelahiran menghasilkan keturunan kembar tiga setiap induknya. Kambing kacang berkembang biak sepanjang tahun. Sebagai penghasil daging, ternak ini digunakan sebagai penyediaan daging alternatif untuk memenuhi gizi masyarakat, nilai persentase karkas kambing kacang berkisar 43-44%.

Sumber:
Sarwono, B., 2008. Beternak Kambing Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.
Setiadi, B., D. Priyanto dan M. Martawijaya. 1997. Komparatif Morfologik Kambing. Laporan Hasil Penelitian APBN 1996/1997. Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor.
Setiadi, B. 2003. Alternatif konsep pembibitan dan Pengembangan Usaha Ternak Kambing. Makalah Sarasehan “Potensi Ternak Kambing dan Propek Agribisnis Peternakan", 9 September 2003 di Bengkulu.

Selasa, 30 Juni 2015

KARAKTERISTIK KAMBING JAWARANDU ATAU BLIGON

Kambing Jawarandu memiliki nama lain Bligon, Gumbolo, Koplo dan Kacukan. Kambing jawarandu ini merupakan hasil perkawinan Kambing Peranakan Ettawa (PE) dengan kambing lokal (kambing kacang biasanya). Dimana sifat fisiknya lebih dominan kearah kambing kacang. Kambing Jawarandu mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan Kambing Kacang. Berat badan kambing Jawarandu jantan bisa mencapai lebih dari 40 kg, Selain itu kambing Jawarandu menghasilkan susu lebih banyak dibandingkan kambing kacang. Sehingga kambing jawarandu termasuk kambing dwiguna. Kambing jawarandu memiliki temperamen yang gesit dan lincah. Kambing ini mudah diternakkan di Indonesia karena sudah mampu beradaptasi dilingkungan tropis serta pemberian makannya tidak pilih-pilih.
KARAKTERISTIK KAMBING JAWARANDU ATAU BLIGON

Karakteristik kambing Jawarandu:
Ukuran tubuh kambing jawarandu lebih kecil daripada kambing peranakan etawah, Moncongnya lancip, jantan dan betina sama-sama memiliki tanduk (lurus atau kesamping), telinganya menggantung atau terkulai serta tidak melipat,Panjang kaki sedang dan bulu kaki panjang maupun pendek, bobot lahirnya sekitar 1,5 sampai 2 kg. Kambing ini berbulu hitam, coklat, coklat tua, coklat belang putih, sawo matang atau kombinasi dari berbagai warna tersebut. Kambing jawarandu mampu tumbuh 50 sampai 100 g/hari.

Senin, 29 Juni 2015

KARAKTERISTIK KAMBING SAANEN

Kambing saanen merupakan kambing penghasil susu. Kambing saanen ini bukan asli kambing indonesia tetapi berasal dari lembah saanen, swiss bagian barat. Kambing saanen memiliki ciri diantaranya adalah bermuka segitiga dan hidung yang lusus, telinga tegak kesamping dan kedepan, memiliki bulu pendek berwarna putih atau krem, umumnya terdapat titik hitam di daerah hidung, telinga dan ambing, ekor tipis dan pendek. Kambing saanen memiliki tanduk baik kambing jantan maupun betina. Bobot kambing jantan dewasa berkisar 68-91 kg sedangkan untuk betina sekitar 36-63 kg (Setiawan dan Mt Farm, 2011). Produksi susu di daerah asalnya rata-rata 3-4 liter per hari.
KARAKTERISTIK KAMBING SAANEN

Kambing saanen lebih cocok dipelihara di daerah subtropis daripada di daerah tropis. Kambing saanen sulit beradaptasi didaerah tropis sehingga apabila dipelihara di derah tropis biasanya disilangkan dengan kambing yang tahan pada daerah tropis seperti kambing kacang dan pemeliharaanya di dalam kandang untuk menghindarkan kambing dari sengatan sinar matahari.

Sumber:
Setiawan, B. S., dan MT Farm. 2011. Beternak kambing dan domba. Pt Agromedia Pustaka. Jakarta.

Kamis, 04 Juni 2015

KAMBING PERANAKAN ETAWAH (PE)

Kambing Peranakan Etawah (PE) yaitu bangsa kambing yang diperoleh dari kawin tatar (grading-up) antara kambing asli Indonesia (kambing kacang) dengan kambing Etawah yang didatangkan dari India. Kambing ini merupakan kambing yang asal mulanya dari Purworejo, tepatnya di daerah Kaligesing. Kambing ini hasil dari persilangan antara kambing lokal di Kaligesing dengan kambing Etawah. Hasil perkawinan dari dua bangsa kambing ini menghasilkan peranakan kambing Etawah yang ciri-ciri dan kemampuan produksinya mendekati sifat-sifat karakteristik kambing Etawah.

Kambing Peranakan Etawah (PE) merupakan ternak tipe dwiguna tetapi pada peternakan sering diambil susunya. Karena Menurut Triwulaningsih (1986) produksi susu kambing PE sekitar 0,498 – 0,692 liter per ekor per hari dengan produksi tertinggi dicapai 0,868 liter. Menurut Devandra dan burn (1994) rataan  produki susu kambing Etawah berkisar 0,7–1,0 kg per hari dengan rata-rata waktu laktasi 140 hari. Dengan sistem manajemen yang baik maka periode laktasasi dapat dilakukan sampai 9 bulan dengan puncak produksi pada bulan pertama kedua, dapat dilakukan sampai 9 bulan dengan puncak produksi pada bulan pertama dan bulan kedua, dapat mencapai produksi 4 liter/ekor/hari. Rata-rata bobot lahir kambing Peranakan Etawah adalah 3,5–4 Kg. Berat sapih anak jantan dan betina kambing Peranakan Etawah adalah sekitar 13 kg dan 11 kg. Menurut Pamungkas et al. (2009) standar lingkar dada untuk kambing Peranakan Etawah betina dewasa adalah 80,1 cm. Persentase karkas 51% dengan kenaikan bobot badan rata-rata 50-150 gram/hari tergantung dari pakan yang diberikan.
KAMBING PERANAKAN ETAWAH (PE)
Karakteristik Kambing Peranakan Etawah (PE) menurut Markel dan Subandryo (1997) adalah kuping menggantung ke bawah dengan panjang 18-19 cm, tinggi badan antara 75-100 cm, bobot jantan sekitar 40 kg dan betina sekitar 35 kg. Tetapi dengan pakan kwalitas bagus bobot ternak ini dapat mencapai 80 kg. Kambing PE jantan berbulu di bagian atas dan bawah leher, rambut pundak dan paha belakang lebih lebat dan panjang. Kambing PE betina memiliki rambut panjang hanya pada bagian paha belakang. Warna rambut kambing PE terdiri atas kombinasi coklat sampai hitam atau abu-abu dan muka cembung (Hardjosubroto, 1994). Ciri khas dari Kambing Peranakan Etawah atau PE adalah pada bentuk mukanya yang cembung, bertelinga panjang yang mengglambir, postur tubuh tinggi.
PARAMETER REPRODUKSI KAMBING PE
Sumber:
Atabany, S., I.K. Abdulgani, A. Sudono dan K.Mudikjo. Performa Produksi, Reproduksi dan Nilai Ekonomis Kambing Peranakan Etawah Di Peternakan Barokah. IPB. Bogor.Med. Pet. Vol. 24 No. 2
Devendra, C. & M. Bums. 1994. Produksi Kambing di Daerah Tropis. Penerbit ITB Bandung. Bandung.
Hardjosubroto, W. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak di Lapangan. PT Gramedia Widya Sarana Indonesia, Jakarta.
Markel, R. C. dan Subandriyo. 1997. Sheep and Goat Production Handbook for Southeast Asia. 3rd ed. CV Ekha Putra, Bogor.
Pamungkas, F. A., A. Batubara, M. Doloksaribu dan E. Sihite. 2009. Potensi Beberapa Plasma Nutfah Kambing Lokal Indonesia. Petunjuk Teknis. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Departemen Pertanian.
Triwulaningsih, E. 1986. Beberapa Parameter Genetik Sifat Kuantitatif Kambing Peranakan Etawah (PE). Tesis Magister Smns Fakultas Pascasarjana IPB. Bogor.

Sabtu, 09 Mei 2015

KARAKTERISTIK KAMBING BOERAWA

Kambing Boerawa merupakan jenis kambing hasil persilangan antara kambing Boer jantan dan kambing Peranakan Etawa (PE) betina. Kambing Boerawa saat ini telah berkembang biak dan menjadi salah satu komoditi ternak unggulan diberbagai provinsi di Indonesia. Postur tubuh kambing ini cukup tinggi dan relatif besar. Pertambahan berat badan dapat mencapai 100-150 gram per hari dan mencapai berat potong sekitar 30-40 kg pada umur 12 bulan. Persentase karkas cukup tiggi, yaitu 48-50%.

Kambing Boerawa memiliki ciri–ciri diantara kambing Boer dengan kambing PE sebagai tetuanya. Penampilan kambing Boerawa lebih mirip dengan kambing PE namun telinganya lebih pendek daripada kambing PE dengan profil muka yang sedikit cembung. Selain itu, kambing Boerawa juga memiliki badan yang lebih besar dan padat daripada kambing PE sehinggga jumlah daging yang dihasilkan lebih banyak (Ditbangnak, 2004). Hardjosubroto (1994) menyatakan setiap individu akan mewarisi setengah dari sifat-sifat tetua jantannya dan setengah berasal dari induknya. Kambing Boerawa memiliki beberapa keunggulan antara lain pertumbuhannya yang tinggi yaitu 0,17 kg/hari. Bobot lahir kambing Boerawa mencapai 3,7 kg dengan pertambahan bobot tubuh mencapai 0,17 kg/hari. Bobot tubuh kambing Boerawa umur 8 bulan dapat mencapai 40 kg (Ditbangnak, 2004)
KARAKTERISTIK KAMBING BOERAWA
Kambing Boerawa saat ini sedang dikembangbiakan dan menjadi salah satu ternak unggulan di Provinsi Lampung. Kambing tersebut dipelihara oleh masyarakat sebagai penghasil daging karena keunggulan sifat yang dimiliki sehinga harga jualnya juga tinggi dan permintaan pasar terhadap kambing Boerawa tingi (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung, 2004). Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan menggambarkan tentang performans kambing Boerawa pada awal dikenalkan di masyarakat, Adhianto dan Sulastri (2007) menyatakan bahwa kambing Boerawa memiliki bobot lahir, sapih dan usia 1 tahun masing-masing 2,9 kg; 19,8 kg; dan 40,9 kg. Rataan lama kebuntingan induk kambing boerawa pada penelitian ini adalah 159,31 + 4,37 hari.

Menurut Sutama et.,al. (2003), rata-rata bobot lahir pada persilangan kambing Boer dan Peranakan Etawah adalah 3,86 kg. Pada penelitian ini rata-rata yang diperoleh lebih rendah, hal ini diduga disebabkan oleh faktor genetik dan faktor lingkungan dimana tetuanya dipelihara. Menurut pendapat Kostaman dan Sutama (2005), faktor genetik merupakan potensi atau kemampuan yang dimiliki oleh  ternak, sedangkan faktor lingkungan merupakan kesempatan yang diperoleh ternak dimana tempatnya berada. Dari hasil penelitian Kusuma et.,al. (2012) di dapatkan data kinerja reproduksi kambing boerawa yang di pelihara di perdesaan yaitu lama kebuntingan 159,31 + 4,37 hari, litter size 1,62 + 0,65 ekor, dan bobot lahir 3,02 + 0,29 kg.

Sumber:
Adhianto, K., dan Sulastri 2007. Evaluasi Performan Produksi Kambing Peranakan Ettawa dan Boerawa pada sistem Pemeliharaan di Pedesaaan. Jurnal AGRITEK-Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian, Teknologi Pertanian, Kehutanan, Terakreditasi Ditjen Dikti No.26/DIKTI/KEP/2005, Volume 15, No.3, Juni 2007, hal 504--506.
Disnak Lampung. 2004. Pemkab Tanggamus Alokasikan Dana Program Sentra Kambing Boerawa. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung. Bandarlampung
Kostaman, T. Dan I-K Sutama. 2005. Laju pertumbuhan kambing anak hasil persilangan antara kambing Boer dengan Peranakan Etawah pada priode pra-sapih. JITV 10: 106 – 112.
Kusuma A, N. Ngadiyono, Kustantinah dan I.G. S. Budisatria. 2012. Lama Kebuntingan, Litter Size, dan Bobot Lahir Kambing Boerawa  pada Pemeliharaan Perdesaan di Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus. Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol. 12 (2): 131-136 ISSN 1410-5020.
Sutama, I-K., B. Setiadi, Igm.Budiarsana, T. Kostaman A. Wahyuarman, M.S. Hidayat, Mulyawan, R. Sukmana Dan Bachtiarl. 2003. Pembentukan kambing persilangan Boereta untuk meningkatkan produksi daging dan susu. Laporan Hasil Penelitian, Balai Penelitian Ternak.

Kamis, 19 Maret 2015

DOMBA LOKAL INDONESIA

Domba lokal merupakan salah satu jenis ternak penghasil daging di indonesia yang memiliki keunggulan, diantaranya adalah mudah pemeliharaannya, cepat berkembang biak dan memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap kondisi alam di Indonesia. Domba merupakan ternak ruminansia kecil yang dalam pemeliharaan tidak begitu sulit, hal ini disebabkan karena ternak domba badannya relatif kecil dan cepat dewasa sehingga secara otomatis cukup menguntungkan karena dapat menghasilkan wol dan daging (Murtidjo, 1992).  Ternak domba sampai saat ini pengusahaannya masih didominasi oleh peternakan rakyat dengan skala usaha kecil dan sistem pemeliharaannya masih bersifat tradisional, yaitu untuk manajemen pemberian pakan tidak memperhatikan kesesuaian dengan kebutuhan ternak. Rata-rata pertambahan bobot badan (PBB) domba lokal yang dipelihara di peternakan rakyat berkisar 30 gram/hari, namun melalui perbaikan teknologi pakan PBB domba lokal mampu mencapai 57 – 132 g/ekor (Prawoto et al., 2001). Purbowati (2007) melaporkan domba yang diberi complete feed (17,35% protein kasar) dalam bentuk pelet 5,6% bobot badan menghasilkan PBB 164 g/hari. Bobot badan dewasa dapat mencapai 30-40 kg pada jantan dan betina 20-25 kg dengan persentase karkas 44-49% (Tiesnamurti, 1992).
Domba lokal di Indonesia masih mempunyai produktivitas yang rendah khususnya sifat pertumbuhan dan kualitas daging. Beberapa upaya telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas domba diantaranya perbaikan pakan dan manajemen pemeliharaan, seleksi, persilangan, dan kombinasi antara seleksi dan persilangan. Produktivitas ternak dapat ditentukan melalui faktor bahan makanan yang meliputi jumlah dan kualitas pakan. Kebutuhan nutrien setiap ternak bervariasi antar jenis dan umur fisiologis ternak. Kebutuhan nutrisi ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis kelamin, tingkat produksi, keadaan lingkungan, dan aktivitas fisik ternak (Haryanto, 1992). Kebutuhan nutrien ternak dapat dikelompokkan menjadi komponen utama yaitu energi, protein, mineral dan vitamin. Zat-zat makanan tersebut berasal dari pakan yang dikonsumsi oleh ternak.
Populasi domba lokal paling tinggi berada di Pulau Jawa, yang menyebar di Jawa Barat (46%), Jawa Tengah (27%) dan Jawa Timur (18%) (Direktorat Jenderal Peternakan, 2007). Domba di daerah Jawa Tengah kebanyakan hasil persilangan antara Domba Ekor Gemuk (DEG) dan Domba Ekor Tipis (DET), dengan komposisi darah tidak diketahui pasti. Ciri-ciri domba lokal antara lain muka cembung, telinga pendek dan terletak di belakang tanduk, domba jantan bertanduk, sedangkan domba betina tidak bertanduk, sering terdapat timbunan lemak dipangkal ekor, warna bulu putih, pertumbuhan lambat namun dapat bertahan hidup di tempat yang kering (Rusyad, 1977).  
DOMBA LOKAL INDONESIA

Menurut Kartadisastra (1997), semua domba memiliki beberapa karakteristik yang sama kedudukanya dalam sistematika hewan yaitu :
Filum               : Chordata
Sub Filum        : Vertebrata (bertulang belakang)
Marga              : Gnatostomata (mempunyai rahang)
Kelas               : Mammalia (menyusui)
Bangsa            : Placentalia (mempunyai plasenta)
Suku                : Ungulata (berkuku)
Ordo                : Artiodactyla (berkuku genap)
Sub Ordo        : Seledontia (ruminansia)
Famili              : Bovidae
Sub Famili       : Caprinus
Genus              : Ovis
Spesies            : Ovis aries
Beternak domba dapat memberikan keuntungan diantaranya sebagai berikut :
1.   Domba mudah beradaptasi terhadap berbagai lingkungan seperti halnya Indonesia yang terletak di daerah tropis.
2.   Cepat berkembangbiak, dalam kurun waktu dua tahun dapat beranak tiga kali dan setiap kelahiran mampu menghasilkan hingga 2 ekor anak .
3.   Dagingnya merupakan salah satu sumber protein hewani untuk pemenuhan gizi manusia dan cukup disukai konsumen (Sudarmono dan Sugeng, 2003).

Indonesia memiliki dua tipe domba yang paling menonjol yaitu domba ekor tipis (DET) dan domba ekor gemuk (DEG). Asal-usul domba ini tidak diketahui secara pasti, namun diduga DET berasal dari India dan DEG berasal dari Asia Barat (Williamson dan Payne, 1993). Domba-domba lokal Indonesia diberi nama sesuai dengan daerah dan karakteristiknya, seperti domba Donggala, domba Garut, domba Kisar, Domba Ekor Gemuk, Domba Ekor Tipis Jawa dan Domba Ekor Tipis Sumatera. Domba lokal mempunyai beberapa keunggulan, antara lain mampu beradaptasi dengan baik pada lingkungan tropis, tidak mengenal musim kawin, bersifat prolifik, dan kebal terhadap beberapa macam penyakit dan parasit. Namun demikian, domba lokal mempunyai produktifitas yang rendah. Peningkatan produktifitas domba lokal dapat dilakukan dengan cara seleksi. Seleksi pada domba lokal dilakukan terhadap sifat-sifat yang mempunyai nilai ekonomis tertentu. Salah satu sifat yang mempunyai nilai ekonomis tinggi adalah sifat pertumbuhan.
A.  DOMBA DONGGALA
Salah satu domba–domba lokal yang berada di kawasan timur Indonesia dikenal dengan nama domba lokal Palu atau domba Donggala yang berada di lembah Palu dan Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah. Domba ini merupakan salah satu komoditas unggulan Sulawesi Tengah berdasarkan kondisi sumber daya lahan, iklim, dan sosial ekonomi. Domba lokal Palu mempunyai beberapa keunggulan antara lain dapat bertahan hidup dengan pakan berkualitas rendah, mampu bertahan hidup pada tekanan iklim relatif panas, daya tahan yang tinggi terhadap penyakit dan parasit. Keunggulan ini merupakan karakteristik yang khas untuk digunakan sebagai sumber genetik dalam perbaikan domba Palu melalui seleksi dan persilangan. Demikian halnya domba Palu merupakan sumberdaya genetik (plasma nutfah) ternak yang dapat dikembangkan untuk pengembangan dan perbaikan mutu genetik bangsa domba secara regional dengan tetap menjaga kemurnian dan kelestariannya. Apalagi domba lokal Palu termasuk ternak spesifik lokasi yang bernilai ekonomi tinggi dan banyak diusahakan masyarakat, sehingga sangat mendesak untuk ditangani secara serius (Amirudin dan Salmin, 2008).  Populasi domba Palu masih sangat rendah dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Pada tahun 1989 populasi domba Palu masih berjumlah 16.192 ekor tahun 1987 kemudian menjadi 7.408 ekor tahun 2003 bahkan populasi domba tersebut kini tinggal berjumlah 3.270 ekor (Disnak Sulteng 2005).
B.  DOMBA LOKAL SUMATERA
Domba sumatera pada umumnya sangat produktif dan dapat beranak sepanjang tahun. Domba lokal sumatera dapat beranak 1.82 ekor dalam setahun dan dapat memproduksi anak sapihan 2.2 ekor pertahun dengan bobot sapih 21 kg per 22 kg bobot induk. Akan tetapi pada umumnya domba sumatera ini relatif kecil dan tidak memenuhi persyaratan bobot badan ekspor yakni diatas 35 kg. Dari proses persilangan dengan domba St. croix. Bobot lahir maupun bobot sapih anak domba hasil persilangan lebih tinggi dari anak domba lokal sumatera. Keunggulan dari penampilan anak hasil persilangan tampak bahwa anak mortalitas pra sapih dan jarak beranak relatif lebih rendah dari anak domba murni baik lokal Sumatera maupun (yang berasal dari Amerika Tengah) diharapkan terbentuk bangsa domba bertipe bulu yang memenuhi persyaratan eksport dan dapat beradaptasi terhadap lingkungan (Subandriyo, 1995).
C.  DOMBA JONGGOL
Domba jonggol merupakan hasil persilangan domba lokal ekor tipis dengan domba garut yang berkembang di Unit Pendidikan, Penelitian dan Peternakan Jonggol Institut Pertanian Bogor (UP3J-IPB) sejak tahun 1980 dan telah mengalami seleksi secara alami pada lingkungan yang panas dan kering (UP3J, 1992). Domba jonggol memiliki ciri-ciri lebar ekor 3,54±0,89 cm dan tidak berlemak. Domba betina tidak bertanduk, telinga berukuran kecil sampai medium, bulu biasanya berwarna putih, belang hitam dan banyak bercak warna hitam disekitar mata dan hidung, tinggi pundak 55,66±3,37 cm domba jantan dan 57,87±4,26 cm betina dewasa, bobot badan domba jantan dan betina dewasa masing-masing 34,90±6,96 dan 26,11±4,12 kg (Sumantri et al., 2007).
Sumber:
Amirudin Dg. M. Dan Salmin. 2008. Karakteristik Domba Lokal Palu  Berdasarkan Keragaman Morfometrik. Staf Pengajar Pada Program Studi Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu. J. Agroland 15 (1) : 68 – 74.
Dinas Peternakan Sulawesi Tengah. 2005. Statistik Peternakan Sulawesi Tengah. Palu.
Direktorat Jenderal Peternakan. 2007. Statistika Peternakan 2007. Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian RI, Jakarta.
Haryanto, B. 1992. Pakan domba dan kambing. Prosiding Saresahan Usaha Ternak Domba dan Kambing Menyongsong Era PJPT II. Ikatan Sarjana Ilmu-ilmu Peternakan Indonesia (ISPI) Cabang Bogor dan Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI) Cabang Bogor. Bogor.
Kartadisastra, H. R. 1997. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak Ruminansia. Kanisius. Yogyakarta.
Murtidjo, B.A., 1992. Beternak Domba Pedaging dan Wol, Kanisius, Yogyakarta.
Prawoto, J. A., C. M. S. Lestari, dan E. Purbowati. 2001. Keragaan dan Kinerja Produksi Domba Lokal Jantan yang Dipelihara Intensif dengan Memanfaatkan Ampas Tahu sebagai Pakan Campuran. Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Tahun 1998/1999. Lembaga Penelitian Universitas  Diponegoro. Semarang. Hal 68-70 (Abstr).
Purbowati, E. 2007. Kajian Perlemakan Karkas Domba Lokal dengan Pakan Komplit dari Jerami Padi dan Konsentrat pada Bobot Potong yang Berbeda. Program Pasca Sarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. (Disertasi Doktor Ilmu Ternak).
Rusyad, A. 1977. Sheep breeds of Indonesia. Report for FAO/UNEP Project “Conservation of Animal Genetic Resources”. pp: 10.
Sudarmono, A.S dan Sugeng Y.B, 1993. Beternak Domba. Penebar Swadaya. Jakarta
Sumantri C., A. Einstiana, J.F. Salamena and I. Inounu. 2007. Keragaan dan hubungan phylogenik antar domba lokal di Indonesia melalui pendekatan analisis morfologi. J. Ilmu Ternak dan Veteriner. 12: 42-54.
Tiesnamurti, B. 1992. Alternatif pemilihan jenis ternak ruminansia kecil untuk wilayah Indonesia bagian timur. Potensi ruminansia kecil bagian timur. Prosiding Lokakarya Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. BPT Bogor.
UP3J (Unit Pendidikan, Penelitian dan Peternakan Jonggol). 1992. Laporan Perkembangan Ternak. Fakultas Peternakan. Institut pertanian Bogor. Jonggol
Williamson G. dan W. J. A. Payne., 1993. Pengantar Peternakan di Daerah tropis. Terjemahan oleh : IGN Djiwa Darmadja. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Terimakasih telah membaca artikel tentang Domba Lokal Indonesia ini, semoga bermanfaat dan menambah wawasan anda tentang dunia peternakan.

Jumat, 06 Maret 2015

KARAKTERISTIK KAMBING BOER

Kambing Boer berasal dari Afrika Selatan dan telah menjadi ternak yang ter-registrasi di Indonesia selama lebih dari 65 tahun. Kata "Boer" artinya petani. Kambing Boer merupakan satu-satunya kambing pedaging yang sesungguhnya, yang ada di dunia karena pertumbuhannya yang cepat. Kambing ini dapat mencapai berat yang siap dipasarkan dengan bobo 35 - 45 kg pada umur lima hingga enam bulan, dengan rataan pertambahan berat tubuh antara 0,2 - 0,4 kg per hari. Keragaman ini tergantung pada banyaknya susu dari induk dan ransum pakan sehari-harinya. Dibandingkan dengan kambing perah lokal, persentase daging pada karkas kambing Boer jauh lebih tinggi dan mencapai 40% - 50% dari berat tubuhnya (Ted dan Shipley, 2005).
Klasifikasi kambing Boer tersebut menurut Sutama dan Budiarsana (2009)  ialah:
Kingdom         : Animalia
Fillum              : Chordata
Kelas               : Mamalia
Ordo                : Artiodactyla
Subordo          : Ruminansia
Famili              : Bovidae
Subfamili         : Caprini
Genus              : Capra
Spesies            : Capra aegragus
Kambing Boer dilaporkan sebagai salah satu ternak ruminansia kecil yang paling tangguh di dunia. Kambing Boer mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan baik dengan semua jenis iklim, dari daerah panas kering di Namibia, Afrika dan Australia sampai daerah bersalju di Eropa (Barry dan Godke, 1991). Ciri-ciri kambing Boer yaitu sebagai berikut : bulu tubuhnya berwarna putih, bulu pada bagian leher berwarna gelap, tanduknya melengkung ke belakang, badan kuat, gerakannya gesit, bentuk tubuhnya simetris dengan perdagingan yang dalam dan merata (American Boer Goat Association, 2001).
KARAKTERISTIK KAMBING BOER
Kambing Boer merupakan satu-satunya kambing tipe pedaging yang pertumbuhannya sangat cepat yaitu 0,2—0,4 kg per hari dan bobot tubuh pada umur 5—6 bulan dapat mencapai 35—45 kg dan siap untuk dipasarkan. Presentase daging pada karkas kambing Boer mencapai 40%--50% dari berat badannya (Ted dan Shipley, 2005). Bobot tubuh kambing Boer jantan umur 8 bulan dapat mencapai 64 kg, umur 12 bulan 92 kg, sedangkan pada saat dewasa bobot tubuhnya dapat mencapai sekitar 114—116 kg. Pertumbuhan kambing Boer dapat mencapai 250 g/hari (Barry dan Godke, 1991)
Mulai tahun 1920-an, banyak usaha yang dilakukan untuk meningkatkan mutu kambing boer memalui pemuliabiakan terseleksi untuk produksi daging. Pola warna yang disukai adalah kepala dengan leher berwarna coklat, badan serta kaki berwarna putih dan kulit berpigmen pada bagian tubuh yang terpapar sebagai pelindung sengatan matahari. Tanduk menonjol dengan baik, telinga lebar dan menggantung. Kambing boer memiliki angka reproduksi tinggi yaitu 7% kembar tiga, 50% kembar dua dan menghasilkan susu dan kulit yang bermanfaat cukup baik (Devendra dan Burns, 1994). Penjantan kambing Boer mulai aktif kawin pada umur 7-8 bulan, dimana aktivitas seksual ini bisa dipertahankannya sehingga umur 7-8 tahun (Nurrohmawati, 2008).
Karakteristik kualitatif dan kuantitatif kambing Boer tersebut menurut Mahmilia dan Tarigan (2004), seperti pada Tabel 1
KARAKTERISTIK KAMBING BOER
Daftar Pustaka
American Boer Goat Association. 2001. http://www.cometothefarm.com/link-pagestoats/Associations/
Barry, D.M. and R.A. Godke. 1991. The Boer Goat. The Potential for Cross. Symp. In: Goat Meat Production and Marketing. Oklahama. USA. 180-189.
Devendra, C. Dan M. Burns. 1994. Produksi Kambing di daerah Tropis. Institut Teknologi Bandung, Bandung.
Mahmilia, F Dan A. Tarigan. 2004. Karakteristik Morfologi Dan Performans Kambing Kacang, Kambing Boer Dan Persilangannya. Pros Lokakarya Nasional Kambing Potong. Bogor, Puslitbang Peternakan. Hlm. 209 – 212.
Sutama, I dan Budiarsana, IGM. 2009. Panduan Lengkap Kambing dan Domba. Penebar Swadaya, Jakarta.
Ted dan Shipley. 2005.”Mengapa Harus Memelihara Kambing Boer, Daging Masa Depan”. http//www.indonesiaboergoad.com/ind/

Minggu, 08 Februari 2015

SALURAN PEMASARAN DAN TATA NIAGA KAMBING DAN DOMBA DI INDONESIA

Diversifikasi usahatani dengan ternak domba merupakan salah satu upaya alternatif untuk meningkatkan pendapatan petani. Soedjana, et al. (1993), melaporkan bahwa lebih dari 90% populasi ternak domba di Indonesia dibudidayakan masyarakat dalam bentuk usaha peternakan rakyat yang merupakan cabang sistem usahatani. Pengusahaan domba masih merupakan usaha sambilan dengan jumlah pemilikan 2–5 ekor dengan tingkat pendapatan kurang dari 30% dari total pendapatan usahatani. Dilihat dari aspek ekonomi, pemeliharaan ternak domba mempunyai prospek yang cerah untuk memenuhi permintaan dalam maupun luar negeri. Pertumbuhan konsumsi daging domba di Indonesia dalam kurun waktu 1969 - 1993, meningkat dari rata-rata 5,6% per tahun menjadi 7,5% per tahun (Soehadji, 1992).
Sementara itu, dari sisi pasokan, secara nasional populasi ternak domba hanya bertumbuh 1,88% per tahun (1989 – 1994). Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa produksi peternakan khususnya ternak ruminansia hanya dapat mencukupi 45% pangsa pasar nasional, selebihnya diimpor dari luar negeri.  Bila dilihat fluktuasi harga produk peternakan dari tahun ke tahun tidak begitu tinggi, bahkan dapat dikatakan mengalami kenaikan terus menerus. Namun kenyataannya dilapangan kenaikan harga produk peternakan tersebut tidak mencerminkan kenaikan tingkat pendapatan peternaknya. Hal ini disebabkan karena ciri pasar pada produk pertanian yang bersifat monopsonistis dimana biasanya peternak hanya sebagai “price taker” bukan “price maker” baik didalam memasok input maupun dalam menyalurkan output (produksinya). Kuasa pasar yang demikian akan menekan harga yang diterima oleh petani  dan pada saat yang bersamaan meningkatkan bagian yang diterima lembaga pemasaran sementara konsumen harus membayar harga yang lebih tinggi.
Anwar (1995) mengatakan suatu aktivitas ekonomi dikatakan secara teknis efisien, apabila sejumlah input tertentu menghasilkan maksimum output, atau tingkat output tertentu dapat dihasilkan dengan biaya sekecil-kecilnya. Sumber inefisiensi dalam pertanian biasanya disebabkan karena: 1. Jeleknya sarana transportasi dankomunikasi Langka dan mahalnya upaya untuk memperoleh informasi 2. Terbatasnya jumlah barang input dan output hasil produksi petani menurut ruang, bentuk maupun waktu.
Akibatnya keadaan pasar menjadi tersekat- sekat (segmented markets) ke dalam unit-unit kecil yang terbatas pada komunitas lokal . Oleh karena itu kelembagaan tradisional yang sering dikatakan merugikan petani pada kenyataannya merupakan salah satu bentuk kelembagaan yang dipilih peternak. Kegiatan transaksi ini dinilai lebih efisien oleh petani karena beberapa hal, antara lain discontinuity of production di pedesaan, skala ekonomi (economics of scale) usaha di perdesaan belum efisien untuk melakukan transaksi dalam institusi pasar dan resiko yang ditanggung oleh petani relatif lebih kecil .

II. TINJAUAN PUSTAKA
Tataniaga merupakan salah satu cabang aspek pemasaran yang menekankan bagaimana suatu produksi dapat sampai ke tangan konsumen (distribusi). Tataniaga dapat dikatakan efisien apabila mampu menyampaikan hasil produksi kepada konsumen dengan biaya semurah-murahnya dan mampu mengadakan pembagian keuntungan yang adil dari keseluruhsn harga yang dibayar konsumen kepada semua pihak yang ikut serta dalam kegiatan produksi dan tataniaga. (Rahardi, 2000).
Saluran pemasaran adalah rangkaian sekelompok lembaga pemasaran yang  terlibat secara langsung dalam proses pemindahan barang dari titik produksi sampai ke titik konsumsi. Saluran pemasaran produk peternakan untuk beberapa komoditas tertentu seperti susu dan daging kambing dan domba relatif lebih panjang, karena melibatkan banyak pelaku pemasaran. Saluran pemasaran susu kambing dan domba produk dalam negri sampai menjadi susu siap konsumsi melibatkan banyak banyak pelaku pemasaran, yaitu: peternak secara individu, kelompok peternak, tempat pelayanan koperasi, koperasi, pusat koperasi, gabungan koperasi susu indonesia, industri pengolah susu, grosir, pedagang pengecer dan konsumen akhir. Saluran pemasaran daging kambing dan domba yang berasal dari kambing dan domba impor  sampai menjadi makanan siap saji melibatkan mata rantai sebagai berikut: peternak kambing dan domba Negara importir, asosiasi peternak kambing dan domba, pelelang, exportir, importir, peternak penggemukan, jagal, pedagang daging, industri pengolah daging, grosir, pedagang pengecer dan konsumen akhir.
Pelaku pemasaran yang terlibat secara langsung dalam proses kegiatan pemasaran dapat bersifat memiliki dan menguasai, menguasai tetapi tidak memiliki dan tidak memiliki juga tidak menguasai. Pelaku pemasaran yang memiliki dan menguasai barang adalah pelaku yang membeli barang tersebut. Pelaku yang memiliki barang berarti ia dapat memperlakukan barang tersebut sesukahatinya, apakah barang tersebut mau ia simpan, jual, gadai atau diberi perlakuan yang lainnya. Pelaku pemasaran yang hanya menguasai barang berarti ia hanya punya hak untuk memperjualbelikan barang tesebut. Pelaku pemasaran yang tidak memiliki dan tidak menguasai barang berarti ia hanya berfungsi sebagai fasilitator saja, agar pemasaran dapat berjalan dengan baik.
Menurut  Kotler  (2002),  saluran  tataniaga  adalah  serangkaian  lembaga yang melakukan  semua  fungsi  yang  digunakan  untuk menyalurkan  produk  dan status  kepemilikannya  dari  produsen  ke  konsumen. Produsen memiliki  peranan utama  dalam  menghasilkan  barang-barang  dan  sering  melakukan  sebagian kegiatan  pemasaran,  sementara  itu  pedagang  menyalurkan  komoditas  dalam waktu, tempat, bentuk yang diinginkan konsumen. Hal  ini berarti bahwa saluran tataniaga yang berbeda akan memberikan keuntungan yang berbeda pula kepada masing-masing lembaga yang terlibat dalam kegiatan tataniaga tersebut. Saluran  tataniaga dari suatu komoditas perlu diketahui untuk menentukan jalur  mana  yang  lebih  efisien  dari  semua  kemungkinan  jalur-jalur  yang  dapat ditempuh.    Selain  itu  saluran  pemasaran  dapat  mempermudah  dalam  mencari besarnya margin yang diterima tiap lembaga yang terlibat. Menurut  Kotler  dan  Amstrong  (2001),  Saluran  tataniaga  terdiri  dari serangkaian lembaga  tataniaga atau  perantara yang akan memperlancar kegiatan tataniaga  dari  tingkat  produsen  sampai  tingkat  konsumen. Tiap  perantara  yang melakukan  tugas membawa  produk  dan  kepemilikannya  lebih  dekat  ke  pembeli akhir yang merupakan satu tingkat saluran. Saluran nol-tingkat (saluran tataniaga nol-langsung) terdiri dari produsen yang menjual langsung ke  konsumen  akhir. Saluran  satu-tingkat  terdiri  dari  satu  perantara  penjual,  yaitu  pengecer.  Saluran dua-tingkat dari dua perantara, seperti pedagang besar dan pengecer. Saluran tiga-tingkat  dalam  saluran  tataniaga  barang  konsumsi memiliki  tiga  perantara,  yaitu pedagang besar, pemborong dan pengecer.

III.       PEMBAHASAN
A.    Saluran Tataniaga
Saluran tataniaga adalah pergerakan barang-barang dari pihak produsen ke pihak konsumen melalui lembaga tataniaga. Panjang pendeknya saluran tataniaga yang dilalui oleh suatu hasil peternakan tergantung dari beberapa faktor yaitu jarak antara produsen ke konsumen, cepat tidaknya produk rusak, skala produksi dan posisi keuangan pengusaha (Siregar, 2007).
Menurut Hanafiah (2006), panjang pendeknya saluran tataniaga yang dilalui oleh suatu hasil peternakan tergantung dari beberapa faktor, antara lain:
a.  Jarak antara produsen ke konsumen. Semakin jauh jarak antara produsen ke konsumen biasanya makin panjang saluran yang ditempuh oleh produk.
b.  Cepat tidaknya produk rusak. Produk yang cepat atau mudah rusak harus segera diterima oleh konsumen, dan dengan demikian menghendaki saluran yang pendek dan cepat.
c.  Skala produksi. Bila produksi berlangsung dalam ukuran-ukuran kecil maka jumlah produk yang dihasilkan berukuran kecil pula. Dalam keadaan demikian kehadiran pedagang perantara diharapkan, dan demikian saluran yang dilalui produk cenderung panjang.
d. Posisi keuangan pengusaha. Produsen yang posisi keuangannya kuat cenderung untuk memperpendek saluran tataniaga. Pedagang yang posisi keuangannya kuat akan dapat melakukan fungsi tataniaga lebih banyak dibandingkan dengan pedagang yang posisi keuangannya (modal) lemah. Dengan demikian pedagang yang memiliki modal kuat cenderung memperpendek saluran tataniaga.
B.  Lembaga Tataniaga
Lembaga tataniaga adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tataniaga dengan nama barang-barang bergerak dari pihak produsen sampai pihak konsumen. Dalam istilah tataniaga ini termasuk golongan produsen, pedagang perantara dan lembaga pemberi jasa perorangan, perserikatan atau perseroan yang berusaha dalam bidang tataniaga dikenal sebagai pedagang perantara. Lembaga ini membeli dan mengumpulkan barang-barang yang berasal dari produsen dan menyalurkan kepada konsumen (Hanafiah, 2006).
Menurut Rahardja (2003), lembaga-lembaga dalam proses distribusi barang dari produsen ke konsumen dapat dikelompokkan menjadi empat golongan antara lain:
a.   Pedagang yaitu pedagang besar dan pedagang kecil
b.   Perantara khusus yaitu agen, makelar, dan komisioner
c.   Eksportir dan importer
d.   Lembaga-lembaga pembantu dalam proses distribusi yaitu bank, asuransi, pengepakan (packing), perusahaan pengangkutan, perusahaan periklanan dan konsultan.
C.  Efisiensi Tataniaga
Tataniaga yang efisien adalah sampainya produk ke konsumen akhir menurut tempat, waktu, dan bentuk yang diinginkan konsumen dengan biaya yang serendah-rendahnya serta adanya pembagian yang adil dari harga yang dibayar konsumen akhir kepada semua pihak yang terkait dalam kegiatan produksi dan tataniaga tersebut (Mubyarto, 1992). Efisiensi tataniaga merupakan salah satu komponenen penting dalam menciptakan sistem tataniaga yang dapat memberikan keuntungan kepada berbagai pihak yang terkait dalam tataniaga ayam, seperti: peternak, pedagang dan konsumen. Melalui pelaksanaan tataniaga yang efisien pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan tingkat harga.
Faktor-faktor yang mendukung terciptanya tataniaga yang efisien mencakup: struktur pasar, lembaga tataniaga yang terlibat, dan transmisi harga. Pengukuran efisiensi tataniaga pertanian secara umum dapat dibedakan secara kualitatif dan secara kuantatif. Ukuran secara kualitatif sebagai upaya mengungkapkan keterkaitan tataniaga terhadap kesejahteraan masyarakat yang menggunakan pendekatan teknik S-C-P, yaitu; market struktur, market conduct dan market performance (Sukartawi, 1993). Adapun pengukuran secara kuantatif digunakan beberapa konsep antara lain: Elastisistas Transmisi Harga dan Marjin Tataniaga.
Efisiensi tataniaga akan tercipta apabila berada dalam mekanisme pasar yang bersaing sempurna dengan besarnya marjin tataniaga konstan. Indikator lain yang digunakan untuk mengukur efisiensi tataniaga adalah bagian yang diterima oleh peternak (farmer share). Berkaitan marjin tataniaga dan efisiensi, terdapat dua ukuran efisiensi tataniaga, yaitu: efisiensi operasional dan efisiensi harga. Ukuran efisiensi operasional dicerminkan oleh biaya tataniaga dan marjin tataniaga. Efisiensi harga dicerminkan oleh korelasi harga sebagai akibat pergerakan produk dari pasar satu ke pasar yang lain. Marjin tataniaga lebih sering digunakan untuk analisis efisiensi tataniaga, karena dapat menggambarkan penyebaran marjin tataniaga, dan efisiensi operasional (Sukartawi, 1993).
D.   Strategi Penjualan ternak diantaranya:
1.    Untuk kambing/domba penbibitan :
a.   Usahakan menjual ternak tidak terlalu muda (cempe) atau sesuai dengan rencana, yaitu umur lepas sapih (g - 10 bulan).
b.   Pastikan bahwa ternak yang akan dijual dalam kondisi sehat (tidak mengidap penyakit).
c.   Apabila mempunyai cacat fisik sebaiknya dryual langsung kepadajagal atau pembeli dan diberikan informasi.
d.   Sebelum menjual sebaiknya mempelajari situasi pasar untuk melihat tingkat penawaran dan permintaan. Dalam jumlah banyak (berkelompok) lebih baik menghubungi pedagang, sehingga dapat meningkatkan posisi tawar dan memperpendek rantai pasar.
2.    Untuk kambing/domba penggemukan
a.   Pastikan bahwa ternak telah mencapai bobot badan tertentu (sesuai selera konsumen) dengan cara menimbang ternak sebagai sampel.
b.   Usahakan menjalin hubungan dengan pedagang atau jagal untuk mendapatkan informasi harga dan situasi pasar (penawaran dan permintaan)
c.   Penjualan ternak dalam jumlah banyak (berkelompok) lebih baik mengundang pedagang, kalau secara individu langsung
3.    Hasil produsi ternak kambing/domba yang berupa anak dan penambahan bobot badan dapat dijual melalui berbagai cara, yaitu:
a.   Secara langsung kepada pengguna/konsumen atau melalui pelaku pasar (blantik).
b.   Menjual langsung kepada konsumen, merupakan cara terbaik karena seluruh nilai jual bisa diterima oleh petani ternak.
c.   Menjual ternak melalui blantik desa, cara ini lebih efektif karena dapat dilakukan sewaktu - waktu, tanpa membuang waktu danbiaya,tetapi nilai jual yang diperoleh lebih rendah sedikit.
d.   Menjual ternak ke pasar hewan, peternak bebas memilih p emb eli tetap i memerlukan waktu datbiay a transportasi.
e.   Menjual ternak kepada jagal, cara ini dapat dilakukan dengan berlangganan sehingga dapat berlanjut/ berkesinambungan.
f.    Sebaiknya menjual ternak secara berkelompok, serta produksi ternak diatur dan sesuaikan jumlahnya dengan kebutuhan pasar.
SALURAN PEMASARAN DAN TATA NIAGA KAMBING DAN DOMBA DI INDONESIA
E.   Saluran Pemasaran Kambing dan Domba
Terdapat 5 saluran dalam sistem pemasaran kambing dan domba yaitu:
1.  Saluran I : Peternak – P. Pengumpul – P.Eceran – Konsumen
2.  Saluran II: Peternak – P. Pengumpul –Konsumen
3.  Saluran III: Peternak – P. Pengumpul – P.Besar – P. Eceran – Konsumen
4.  Saluran IV: Peternak – P. Besar – P. Eceran– Konsumen
5.  Saluran V : Peternak – P. Eceran – Konsumen

IV.       PENUTUP
A.   Kesimpulan
1.   Tataniaga yang efisien adalah sampainya produk ke konsumen akhir menurut tempat, waktu, dan bentuk yang diinginkan konsumen dengan biaya yang serendah-rendahnya serta adanya pembagian yang adil dari harga yang dibayar konsumen akhir kepada semua pihak yang terkait dalam kegiatan produksi dan tataniaga
2.   Faktor-faktor yang mendukung terciptanya tataniaga yang efisien mencakup: struktur pasar, lembaga tataniaga yang terlibat, dan transmisi harga.
3.   Ada lima kemungkinan jalur penjualan kambing dan domba yang dapat dilakukan oleh petenak, yaitu pemasok, pengecer, supermarket, eksportir, atau langsung ke konsumen. Dari kelima kemungkinan tersebut yang paling banyak dilakukan oleh peternak adalah melalui pemasok, pengecer, atau langsung dijual ke konsumen.