Ternak

Tampilkan postingan dengan label ayam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ayam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 November 2015

TERNAK KALKUN

Kalkun adalah unggas yang bentuknya mirip ayam sehingga disebut Ayam kalkun. Perbedaan kalkun dan ayam adalah bentuk ekor kalkun yang khas dan pialnya yang menggantung. Oleh pemerintah, kalkun digolongkan ke dalam aneka unggas, yaiyu unggas yang nilai manfaatnya sama dengan merpati, puyuh dan angsa (Santa. 2013). Kalkun mempunyai bulu cantik dan ukuran yang cukup besar dibanding ayam kampung sehingga masyarakat biasanya memelihara kalkun sebagai ternak hias, tetapi kalkun juga dapat dikembangkan sebagai unggas potong dan penghasil telur.  Menurut Prayitno dan Murad (2009) Klasifikasinya kalkun termasuk dalam Filum Chordata, SubFilum Vertebrata, kelas Aves, Ordo Galliformes, FamilyPhasianidae, Sub Family Miliagris, Genus Meleagris, SpesiesMeleagris Gallopavo, Meleagris Silvestri, dan Meleagris Ocellata.

Kalkun yang berkembang di Indonesia yaitu memiliki tubuh yang relatif jauh lebih kecil dibandingkan dengan varietas kalkun yang dipelihara di negara maju. Bobot kalkun betina dewasa sekitar 3,0-3,5 kg sedangkan jantannya sekitar 6-8 kg. Warna bulunya beragam, ada yang gelap, putih, gelap/hitam bercampur putih, cokelat, dan abu-abu. Diduga kalkun ini adalah keturunan dari berbagai spesies dan varietas kalkun yang ada pada waktu itu dibawa masuk oleh orang-orang Belanda ke Indonesia (Prayitno dan Murad, 2009).
Ciri ciri kalkun jantan dan betina
Cara membedakan kalkun jantan dan betina dapat dilihat dari ukuran tubuhnya. Kalkun jantan memiliki tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan kalkun betina. kalkun jantan juga memiliki bulu yang lebih indah dan memiliki snoodyang lebih panjang di atas kepalanya, sedangkan betina memiliki snoodtetapi kurang muncul dan warna bulu kurang berwarna-warni. Suara kalkun jantan juga lebih keras dibandingkan dengan kalkun betina. Kalkun betina tipe ringan dapat dikawinkan pada umur 30 minggu dan  pejantannya dapat mulai dikawinkan pada umur 34 minggu, sedangkan kalkun tipe berat baru dapat dikawinkan pada umur 36 minggu dan pejantannya pada umur 40 minggu. Seekor pejantan kalkun dapat mengawini 10-15 betina. Perkawinan secara alami dilakukan 3 minggu sebelum pemungutan telur untuk ditetaskan.

Menurut Rasyaf dan Amrullah (1983), sebagai unggas potong, daging kalkun memiliki keunggulan yaitu memiliki kandungan protein yang tinggi (30,5-34,2%). Selain itu, mengandung lemak dan energi yang rendah, asam amino yang terkandung dalam proteinnya sangat lengkap dan sempurna seperti telur. Pemeliharaan kalkun dapat dilakukan secara alami atau organik (tidak menggunakan bahan vitamin dan obat-obatan kimia), sehingga dagingnya relatif aman dikonsumsi oleh manusia. Daging kalkun memiliki rasa, aroma, dan tekstur yang tidak bermasalah dan bisa diterima oleh semua golongan.

Sumber :
Prayitno, D.S., dan B.C. Murad. 2009. Manajemen Kalkun Berwawasan Animal Welfare. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.
Rasyaf, M. Dan I.K. Amrullah. 1983. Beternak Kalkun. Cetakan Pertama. Penebar Swadaya. Jakarta
Santa. 2013. Seri Life Skill Beternak Kalkun. PT Musi Perkasa Utama. Jakarta.

Sabtu, 12 September 2015

AYAM NEW HAMPSHIRE


Ayam New hampshire merupakan keturunan ayam Rhode Island Red (RIR) yang berasal dari negara bagian New Hampshire di Amerika Serikat, dan selama bertahun-tahun ayam tersebut telah berubah banyak dari pembiakan selektif. Apabila ayam ini dikawinkan dengan Cornish (inggris) akan menghasilkan ayam broiler. Ayam ini merupakan ayam tipe dwiguna, apabila dipelihara dapat diambil daging maupun telurnya.
Sumber gambar: www.chickensales.com.au
Ciri - ciri ayam New hampshire adalah:
1.      Bulu tumbuh cepat dan cepat mencapai dewasa kelamin.  
2.      Berat atau bobot ayam dewasa jantan 3,5-4 kg, betina 2,5-3 kg.
3.      Jengger dan pial berwarna merah dengan bentuk jengger single.
4.      Telur berwarna coklat dan lebih besar dari telur yang dihasilkan oleh Rhode Island Red(RIR).
5.      Bulu lebih terang bila dibandingkan dengan Rhode Island Red (RIR).
6.      Bulu utama hitam dengan bulu penutup hitam dan ujung merah.

Senin, 09 Februari 2015

CIRI – CIRI DAN MACAM AYAM KELAS MEDITERANIA

Ayam merupakan salah satu hewan yang telah mengalami domestikasi oleh manusia sehingga dapat dikendalikan kehidupannya agar dapat memproduksi barang yang berguna bagi manusia. Produk utama yang dihasilkan oleh ayam adalah telur dan daging. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur.
            Ilmu ternak unggas merupakan salah satu cabang keilmuan yang mempelajari berbagai hal tentang  kehidupan unggas (khususnya ayam), yang pada akhirnya dari sana kita dapat mengetahui bagaimana ayam dapat kita tingkatkan produksinya. Untuk lebih memudahkan dalam mempelajari mata kuliah ini, maka hendaknya harus diketahui terlabih dahulu istilah – istilah yang biasa digunakan didalamnya. Salin itu, kita juga perlu mengetahui ciri – ciri ayam dari beberapa daerah sebagai awalan dalam mempelajari mata kuliah ini. 
            Dibawah ini dijelaskan sedikit tentang definisi beberapa istilah yang berkaitan dengan Ilmu Ternak Unggas dan ciri – ciri dari ayam kelas Mediterania.

            Definisi tentang beberapa istilah yang biasa digunakan dalam mempelajari ilmu ternak unggas :
1.   Kelas (Class) adalah tingkatan dalam taksonomi sesudah divisi dan sebelum bangsa
2.  Bangsa (breed) adalah Klasifikasi atau suatu jenis yang ada pada tingkatan hewan,tumbuhan maupun manusia berdasarkan bentuk norfologi dan besar tubuh yang sama dari setiap kelas. Biasanya ini terjadi pada hewan dan tumbuhan. Jika di terjemahkan kedalam sosiologi manusia akan berbeda makna 
3.  Varietas adalah standar klasifikasi aman berdasarkan daerah asal usul geografis yang memberikan variasi perbedaan bentuk dan sifat karakteristik pada hewan. Sebagai contoh misalnya jenis Ayam Asia, Amerika maupun Inggris
4.   Strain adalah Varietas yang secara umum turun menurun dan telah beradaptasi dengan lingkungan biasanya juga di sebut garis keturunan
5.  Tipe adalah menunjukan suatu identifikasi yang menunjukan kelemahan, kelebihan, manfaat dan kegunaan
6.   DOC (Day Old Chick) adalah anak ayam usia 1 hari

AYAM KELAS MEDITERANIA
Ayam mediteran terkenal karena bentuk badan lebih kecil dibandingkan ayam asia, inggris, atau amerika, cuping telinga putih, cepat mencapai dewasa kelamin (4 – 6 bulan), produksi telur tinggi (284 – 300 butir/tahun), tidak mengeram, kerabang telur berwarna putih, kaki tidak berbulu, penampilan nervus, serta jengger tunggal dan lebar kecuali ayam yang mempunyai jengger butter cup. Varietas – varietas yang terkenal dalam ayam kelas mediteran adalah Single Comb White Leghorn (SCWL), SCW Minorica, Single Comb Ancona(SCA).
1.   Ayam Leghorn
Ayam leghorn berasal dari italia. Tanda spesifik ayam leghorn adalah bentuk tubuh ramping, paruh, kulit, dan kaki berwarna kuning, bentuk jengger tunggal dengan 5 buah gerigi pada bagian depan tegak dan belakang rebah ke samping (meskipun ada Comb Rose). Ekor mencuat membentuk sudut 400 dengan ekor, bobot ayam dewasa 2,7 – 2,9 kg (jantan) dan 2,0 – 2,25 kg (betina). Produksi telur 284 – 300 butir/ekor/tahun. Kulit telur berwarna putih. Konsumsi pakan 110 g/ekor/hari meskipun ayam diberi pakan secara ad libitum.
 CIRI – CIRI DAN MACAM AYAM KELAS MEDITERANIA
Varietas ayam leghorn yang terkenal adalah single comb white leghorn (SCWL). Ayam ini tahan terhadap temperature panas sehingga cocok untuk dikembangkan sebagai ayam petelur di daerah tropis. Ayam leghorn sensitive terhadap stress, tetapi tidak memiliki sifat mengeram.
2.   Ayam Minorca
Ayam Minorca berasal dari pulau Minorca di laut mediteran dan merupakan bangsa ayam yang terbesar dari kelas mediteran. Tanda specific ayam Minorca adalah tubuh panjang, dada bulat, punggung panjang dengan lekukan halus terhadap leher dan ekor, kulit berwarna putih, jengger tungga dengan 6 gerigi, dan pial besar. Berat jantan 3,20 – 3,6 kg dan berat betina 2,7 – 3,00 kg.
CIRI – CIRI DAN MACAM AYAM KELAS MEDITERANIA
 Varietas ayam Minorca yang terkenal adalah Single Comb White Minorca (SCWM), Single Comb Black Minorca (SCBM)  dan Single Comb Buff Minorca (SCBM).
3.   Ayam Andalusian
            Ayam blue andalusian berwarna biru seperti Blue Playmouth rock, perbandingan antara warna bulu hitam : Biru : putih adalah 1 : 2 : 1. Warna kulit putih, paruh berwarna merah, dan kuku biru gelap. Bobot bervariasi antara 1,75 – 2,5 kg untuk ayam betina dan 2,5 – 3,5 kg untuk ayam jantan.
CIRI – CIRI DAN MACAM AYAM KELAS MEDITERANIA
 4.   Ayam Ancona
            Ayam ancona berasal dari italia seperti leghorn. Tanda – tanda spesifik ayam ancona adalah bentuk jengger sama dengan aym leghorn, earna bulu hitam kehijau – hijauan dengan bintik – bintik putih, paruh berwarna kuning dengan tepi hitam, berat badan 2,70 – 2,95 kg pada ayam jantan dan 2,25 – 2,50 kg pada ayam betina. 
CIRI – CIRI DAN MACAM AYAM KELAS MEDITERANIA
 5.   Ayam Butter Cup
            Tanda spesifik ayam butter cupadalah bulu berwarna kuning keemasan dengan comb berbentuk piala (cup). Kaki dan jari berwarna hitam, dan paruh berwarna tanduk terang. Pada ayam butter cup jantan, bulu pada kepala, leher, dan dada berwarna oranye merah bercahaya, sedangkan bagian yang lain berwarna hitam kehijau – hijauan dengan sadikit strip merah. Pada ayam betina, bulu kepala berwarna kuning keemasan. Demikian pula bulu sayap, punggung, dan dada berwarna keemasan dengan garis – garis hitam.
CIRI – CIRI DAN MACAM AYAM KELAS MEDITERANIA
KESIMPULAN
1.  Mengetahui istilah – istilah yang biasa digunakan dalam suatu cabang keilmuan dapat mempermudah dalam mempelajari cabang keilmuan  tersebut.
2.   Berbagai jenis ayam dari daerah mediterania mempunyai ciri khas masing-masing.

Senin, 26 Januari 2015

TIPE AYAM BERDASARKAN FUNGSINYA

Ayam adalah jenis hewan dalam kelas aves (hewan bersayap) yang telah didomestikasi oleh manusia untuk dimanfaatkan daging maupun telurnya. Ayam umumnya dapat di kawin silangkan dengan kerabat dekatnya seperti ayam hutan hijau yang menghasilkan hibrida mandul yang jantannya dikenal sebagai ayam bekisar. Ayam termasuk hewan yang mudah beradaptasi disembarang tempat, asalkan ketersediaan makanan melimpah. Ayam yang telah didomestikasi saat ini mudah untuk dijinakkan sehingga memudahkan dalam pemeliharaan. Ayam merupakan sumber protein hewani yang baik, karena mengandungasam amino essensial yang lengkap dan dalam perbandingan jumlah yang baik. Ayam mempunyai beberapa tipe dan fungsi, antara lain adalah:
1.   AYAM PETELUR (LAYER)
Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya. Menurut beberapa sumber bahwa asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banya. Pengembangan usaha ternak unggas jenis ras layer (ayam petelur) di Indonesia masih memiliki prospek yang bagus, terlebih lagi konsumsi protein hewani masih kecil. Ini dikaitkan dengan perkembangan jumlah penduduk yang selalu meningkat dari tahun ke tahu terus diimbangi dengan kesadaran akan arti penting peningkatan gizi dalam kehidupan. Hal ini berimplikasi pada pola konsumsi makanan yang juga akan terus meningkat.
Tipe ayam petelur ada dua, yaitu tipe ringan dan tipe sedang. Ayam tipe ringan khusus di kembangkan untuk bertelur saja. Ciri ayam tersebut badan ramping, kecil, mata bersinar, dan bercengger merah darah. Ayam tipe ini di pelihara untuk di ambil telurnya sehingga bentuk ayam ini relatif kecil apabila di bandingkan dengan ayam tipe medium. Ayam tipe medium di kembangkan untuk produksi telur dan di ambil dagingnya sehingga ayam ini Memiliki bobot badan lebih berat dari pada ayam tipe ringan (Rasyaf, 1994).
Ayam petelur memiliki sifat nervous (mudah terkejut ), bentuk tubuh ramping, cuping telinga berwarna putih, produksi telur tinggi (200 butir / ekor / tahun ), efisien dalam pengunaan ransum untuk membentuk telur, tidak memiliki sifat mengengram (Sudarmono, 2003).
a.   Bobot relatif kecil
b.   Seksualitas baik
c.   Mulai Bertelur 5-6 bulan
d.   Memiliki lemak yang sedikit 
Contoh ayam petelur adalah Leghorn, Minorca, Ancona, Fayoumi, Lohmann

2.   AYAM BROILER (PEDAGING)
Ayam broiler adalah istilah untuk menyebutkan strain ayam hasil budidaya teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis dengan ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan irit, siap dipotong pada usia relatif muda, serta menghasilkan kualitas daging berserat lunak (Murtidjo, 1990). Ditambahkan oleh Rasyaf (2004) bahwa ayam broiler merupakan ayam pedaging yang mengalami pertumbuhan pesat pada umur 1-5 minggu. Pada umumnya di Indonasia ayam broiler sudah dipasarkan pada umur 5- 6 minggu dengan berat 1.3-1.6 kg, walaupun laju pertumbuhannya belum maksimum karena ayam broiler dengan berat ≤ 1.3 kg mengalami kesulitan dalam pemasarannya.
Hardjoswaro dan Rukminasih (2000) menyatakan bahwa ayam broiler dapat digolongkan kedalam kelompok unggas penghasil daging artinya dipelihara khusus untuk menghasilkan daging. Umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut: kerangka tubuh besar, pertumbuhan badan cepat, pertumbuhan bulu yang cepat, lebih efisien dalam mengubah ransum menjadi daging.
Contoh ayam pedaging adalah starbro, plymouth rock, cornish, sussex

3.   AYAM DWIGUNA (PETELUR DAN PEDAGING)
Ayam ini mempunyai sifat tengah-tengah yaitu mampu memproduksi telur dan daging, tetapi produksi telur lebih rendah dibanding ayam petelur dan produksi daging lebih rendah dibanding tipe pedaging, oleh karena itu ayam ini dinamakan tipe dwiguna (dualpurpose). Ayam tipe dwiguna ini umumnya berasal dari Amerika. Dari beberapa tanda spesifik, kadangkala diketemukan penyimpangan dari standard perfection yaitu disqualification yang meliputi antara
lain:
a.   Jumlah geligi ujung jengger lebih banyak atau kadangkala lebih sedikit.
b.   Jari atau persendian lutut bengkok.
c.   Warna cincin mata tidak sesuai.
d.   Kadangkala diketemukan cacat warna bulu.
e.   Warna putuh pada cuping telinga pada ayam Amerika dan Asia.
f.    Bobot badan sering tidak sesuai dengan ukuran standard.
g.   Kaki dan tulang dada bengkok
Contoh ayam dwiguna adalah Rhode Island Red, Australorp, New Hampshire

4.   AYAM HIAS
Ayam hias merupakan ayam yang mempunyai keunikan dan keindahan yang berbeda dengan ayam pada umumnya. Ayam hias ini sangat diminati oleh para penghoby ayam. Ayam ini tidak digunakan sebagai penghasil daging maupun telur, tetapi hanya digunakan sebagai ayam hias yang biasanya di pelihara dirumah.
Contoh: Ayam kapas, ayam ketawa, ayam kate, ayam onagodari dll.

Senin, 12 Januari 2015

KARAKTERISTIK AYAM WALIK

Ayam lokal merupakan sumber daya genetik yang potensial dalam penyediaan daging dan telur. Pada seluruh kepulauan di Indonesia tersedia berbagai rumpun ayam lokal yang mempunyai penampilan spesifik ataupun tidak spesifik dengan populasi hampir sama dengan jumlah penduduk di Indonesia. Diketahui Indonesia merupakan salah satu pusat domestikasi ayam di dunia setelah Cina dan India, namun demikian pengelolaan ayam lokal di Indonesia sebagian besar masih dipelihara secara tradisional. Ayam lokal di Indonesia secara turun temurun telah dipelihara oleh  masyarakat, umumnya yang terdapat di pedesaan baik sebagai hewan piaraan, penghias halaman, hewan aduan, keperluan ritual maupun tabungan keluarga. 
KARAKTERISTIK AYAM WALIK
Ayam Walik merupakan salah satu jenis ayam lokal langka yang terdapat di Indonesia. Ayam Walik merupakan ayam lokal yang mempunyai penampilan bulunya keriting (terbalik) ke arah depan dan belakang, sehingga permukaan kulit tubuhnya terlihat jelas. Hal demikian disampaikan pula oleh Sarwono (2003) bahwa ayam Walik memiliki bulu terbalik, sehingga tampak mengeriting. Ayam jenis ini banyak ditemui di daerah Kabupaten Bogor dan Sukabumi. Bentuk dan perawakan tubuh hampir sama dengan ayam Kampung. Warna bulunya beraneka ragam, hitam, coklat, coklat kemerahan, coklat kekuningan, putih, blorok bintik-bintik merah dan hitam atau putih dan hitam, dan kombinasi warna lainnya. Warna bulu yang beragam pada ayam Walik dipengaruhi oleh kerja gen i yang memicu produksi pigmen melanin. Pigmen melanin terbagi menjadi dua tipe yaitu eumelanin dan pheomelanin. Eumelanin yang membentuk warna hitam dan biru pada bulu, dan pheomelanin yang membentuk warna merah-cokelat, salmon, dan kuning tua (Brumbaugh dan Moore, 1968). Kulit badan, sisik kaki dan paruh berwarna putih kuning atau kehitaman/kelabu tua.  Warna kuning pada shank, pada ayam bangsa Amerika dan bangsa-bangsa yang lain, adalah karena adanya lemak atau pigmen lipokrom (lypocrome) pada lapisan epidermis dan pigmen hitam atau melanin tidak terdapat pada epidermis dan dermis. Shank yang berwarna kuning juga dapat dipengaruhi oleh pemberian pakan yang mengandung karotenoid dan xanthofil seperti jagung kuning. Suprijatna et al. (2005) menyatakan bahwa warna kuning shank disebabkan oleh pigmen karotenoid dari pakan. Xantofil pada jagung dapat menyebabkan kaki dan kulit menjadi berwarna kuning (Anggorodi, 1985). Jengger berbentuk tunggal atau pea, bergerigi berwarna merah (Sartika dan Sofjan, 2007). Ukuran ayam Walik berbeda-beda, bobot badan dewasa berkisar 1-3 kg. Ayam Walik dewasa cukup tahan terhadap perubahan cuaca, tetapi ayam Walik anakan kurang tahan terhadap dingin dan udara lembab, sehingga membutuhkan perawatan yang cukup baik (Rukmana, 2003).
Keunggulan yang dimiliki ayam Walik dinyatakan dalam Somes (1990) bahwa ayam Walik memiliki metabolisme basal cepat, produksi kelenjar hormon tiroid dan adrenal yang tinggi, meningkatkan asupan makanan, konsumsi oksigen, detak jantung, dan peningkatan volume sirkulasi darah. Bulunya yang terbalik arah tumbuhnya, memberikan keuntungan dengan semakin mudahnya ayam Walik untuk meregulasikan suhu tubuh pada suhu lingkungan yang panas sehingga ayam Walik tetap nyaman dalam suhu yang tinggi.

SEJARAH DAN BUDIDAYA AYAM CEMANI

Ayam cemani merupakan salah satu jenis ayam lokal khas propinsi Jawa Tengah yang berasal dari Karisidenan Kedu tepatnya di daerah Kabupaten Temanggung dan sekitarnya. Ayam cemani ini banyak dipelihara oleh masyarakat di desa Kedu, desa Beji dan desa Kahuripan, Kecamatan Kedu Kabupaten Temanggung sejak awal abad 20. Ayam cemani dikenal memiliki harga yang mahal, namun budidaya ayam cemani baru dilakukan oleh sebagian masyarakat di daerah tertentu, warna hitam tidak selamanya kelam , mungkin itu salah satu kalimat yang bisa dipakai untuk mengatakan pada Ayam Cemani. Warna Hitam pada Ayam Cemani justru menjadi pertanda cerahnya masa depan pemilik Ayam cemani. Ini bukan karena mistis atau kesaktian Ayam cemani hitam legam tersebut, tetapi karena harga Ayam Cemani yang Hitam legam sangat tinggi bisa mencapai jutaan rupiah. Tak heran jika ini menjadi keuntungan tersendiri bagi peternak ayam cemani. Sehingga banyak peternak menekuni Budidaya Ayam Cemani ini. Harga ayam cemani sangat bervariasi tergantung pada kualitasnya, kualitas Ayam cemani yang baik dinilai bersadarkan tingkat kepekatan warna hitam di seluruh tubuh, mulai dari bulu, kulit,kaki, kuku,lidah, tulang dan darahnyapun hitam. Harga ayam cemani standard berkisar antara 150 ribu hingga 500 ribu untuk ukuran dewasa, sedangkan untuk cemani super tidak ada batasnya bisa mencapai jutaan rupiah.
Ayam Cemani jantan dewasa pada waktu berdiri normal mencapai tinggi sekitar 60 cm dengan lingkar dada mencapai 34 cm dan panjang sayap 25 cm. Sementara, ayam betina dewasa mencapai tinggi 50 cm dengan lingkar dada 27 cm dan panjang sayap 21 cm. Bobot anak ayam umur sehari berkisar antara 28-32 gram/ekor. Bobot ayam betina berumur 5 bulan berkisar antara 1.200-1.300 gram/ekor. Ayam jantan umur 5 bulan berkisar antara 1.400-1.500 gram/ekor. Umur pertama bertelur berkisar antara 4,6-6,5 bulan dan produksi telur pada pemeliharaan diumbar dan semi intensif berkisar 56-77 butir per ekor/tahun, sementara yang dipelihara intensif dalam kandang batere dapat mencapai 215 butir/ekor/tahun. Bobot telur ayam berkisar antara 41-49 gram/butir. Konsumsi pakan ayam dewasa per hari mencapai 93 gram per ekor (Iskandar dan saepudin, 2004).
Perbedaan antara ayam Kedu Hitam dan ayam Cemani adalah pada ayam Kedu Hitam sebaran warna hitam hanya pada bulunya saja, sedangkan pada ayam Cemani sebaran warna hitam menyebar keseluruh tubuh. Jadi ayam Cemani merupakan ayam Kedu hitam tetapi ayam kedu hitam belum tentu ayam Cemani. Diduga ayam cemani ini didapat dari hasil perkawinan antar keluarga yang dekat hubungan kerabatnya dari beberapa generasi diikuti dengan seleksi kearah ayam yang berwarna hitam.
Sejarah ayam cemani dan ayam kedu hitam ini ada dua macam versi, yaitu versi Makukuhan dan versi Tjokromiharjo. Versi Makukuhan ini merupakanlegenda yang berkembang di Desa Kedu dan sekitarnya, disebutkan bahwa ayamcemani pada awalnya dibawa dan dikembangbiakkan oleh seorang bernama Ki Ageng Makukuhan pada era akhir pemerintahan kerajaan Majapahit. Sedangkan versi lain adalah ayam ini dibawa dan dikembangkan oleh seorang ahli peternakan sekaligus kepala desa Kalikuto yang pernah belajar kepada Dr. Douwes Dekker yaitu Tjokromiharjo. Versi ini mengatakan bahwa ayam cemani bukan berasal dari Kedu, namun berasal dari persilangan beberapa generasi ayam Inggris yang dibawa pada zaman pemerintahan kolonial Raffles dengan ayam lokal Indonesia yang berkembang hingga daerah Kedu. Di kedu persilangan ayam inimenghasilkan keturunan yang berwarna hitam yang kini kita kenal dengan namaayam hitam kedu atau juga ayam cemani
SEJARAH DAN BUDIDAYA AYAM CEMANI
B.  Budidaya Ayam Cemani 
Budi daya ayam cemani relatif mudah, hanya butuh ketelatenan saja. Tatacara pemeliharaan ayam Cemani sama dengan cara pemeliharaan ayam Kedu Hitam. Ayam Camani dikawinkan dengan sesama ayam Cemani secara alami dengan perbandingan maksimal 1 jantan 5 betina untuk yang ditetaskan sendiri oleh induknya, karena ayam ini masih memiliki sifat mengeram dan mengasuh anaknya. Anak-anak ayam yang menetas kemudian dipisahkan antara yang berwarna hitam legam murni, anak ayam Cemani dari yang berwarna selain hitam, sebagai anak ayam Kedu.
Ayam  cemani kecil sangat rentan terhadap kematian terutama pada suhu yang rendah. Untuk mengantisipasinya pemeliharaan DOC sampai usia satu bulan ditempatkan pada kandang Box yang diberi lampu pijar. Lampu pijar akan membantu menjaga suhu ruangan tetap hangat. Pada pagi hari box anakan Ayam Cemani ditempatkan pada tempat yang terkena sinar matahari dan diletakkan pada tempat yang relatif teduh jika matahari mulai terik.
 Pemeliharaan anak-anak ayam dapat segera dilakukan begitu telur menetas dan dipisahkan dari induknya, atau dari mesin apabila ditetaskan dengan mesin tetas untuk dipelihara dalam kandang yang dilengkapi dengan pemanas. Setelah anak-anak ayam berumur 4 hari, segera dilakukan imunisasi dengan vaksin tetelo atau ND (Newcastle desease), yang dapat diperoleh dari toko-toko pakan dan obat ayam. Imunisasi kemudian diulang pada umur 4 minggu dan 4 bulan. Selain vaksin ND, dapat juga diimunisasi dangan vaksin cacar flow pox, apabila perlu.
Proses seleksi dilakukan terus menerus untuk memisahkan anak-anak ayam yang berbulu bukan hitam.Ayam dapat dipelihara dalam kandang berlantai kawat atau bambu atau langsung di atas lantai tanah atau sekam atau serbuk gergaji secukupnya. Ukuran kandang bervariasi  disesuaikan dengan besar ayam. Untuk ayam dewasa setiap luasan lantai 1 m persegi, maksimum dapat diisi oleh 4-6 ekor. Ruangan dalam kandang ayam harus terhindar dari pemanasan matahari langsung dan basah kena air hujan. Ventilasi dibuat secukupnya di sekitar dinding kandang. Kebersihan kandang harus selalu dipelihara untuk menghindarkan ayam dari penyakit. Larutan desinfektant dapat dipakai untuk menyemprot setiap pojok kandang setelah dibersihkan dari sampah dan debu. Penerangan dapat diberikan secukupnya terutama untuk anak-anak ayam untuk memudahkan pengontrolan pada waktu malam hari.
Jenis pakan yang dapat diberikan untuk lebih mudahnya dapat memakai pakan jadi komersial untuk ayam ras tipe petelur mulai dari pakan untuk anak ayam, ayam muda dan ayam dewasa. Namun untuk menekan harga, pakan dapat dibuat dengan campuran berbagai bahan pakan seperti dedak padi, jagung giling, menir, gabah dan sebagainya, yang disesuaikan dengan ketersediaan bahan dan murah harganya. Berikut ini disajikan salah satu contoh formula ransum sederhana dengan bahan-bahan pakan yang mudah diperoleh untuk anak ayam, ayam muda dan ayam dewasa. Adapun kandungan gizi sedikit ditingkatkan untuk mengatasi kemungkinan penurunan kualitas bahan-bahan pakan yang kadang terjadi dari waktu kewaktu. Pakan lebih baik diberikan dalam bentuk kering sekali atau dua kali setiap hari secara berlebih dengan selalu memperhatikan sisa pakan pada pagi hari sebelum diberi, jika masih ada sisa penambahan pakan bisa dikurangi. Konsumsi ransum bulanan per ekor, mulai dari 4 minggu pertama, ayam akan memakan sebanyak 392 gram/ekor, kemudian sebanyak 838 g/iet pada 4 minggu berikutnya dan seterusnya untuk konsumsi pakan pada umur 5 sampai dengan 8 minggu, keudian sebnayak 1.159 gram. Memasuki umur 13 minggu, ayam memakan sebanyak 1.364 gram/ekor. Selanjutnya ayam akan makan terus akibat bertambahnya sampai umur dewasa yang rata- rata hanya makan sebanyak kurang lebih 100 gram/ekor/hari
Dengan bertambahnya usia ayam cemani bertambah pula ukuran tubuh dan jumlah bulu-bulunya, ayam sudah harus mulai dipindah pada kandang yang lebih luas. Pemanasan dengan lampu pijar diseduaikan dengan kebutuhan, jika suhu tidak terlalu dingin bisa ditiadakan. Kandang yang terlalu sempit akan mengganggu pertumbuhan dan membuat kandang menjadi lembab. Kandang yang lembab akan berpotensi mendatangkan bibit penyakit. Penempatan kandang hendaknya terpisah dari pemukiman dan terkena sinar matahari yang cukup terutama pada pagi hari. Karena itu pada Pola budi Daya ayam cemani diusahakan kandang menghadap ke arah timur.
Kesimpulan
            Ayam cemani merupakan ayam lokal khas Indonesia yang berkembang awal di daerah Temanggung. Ayam ini memiliki ciri seluruh tubuhnya berwarna hitam mulai dari bulu, menyebar mulai dari jengger, kulit muka, mata, paruh, kaki, cakar, kuku sampai ke rongga mulut dan lubang dubur (cloaca). Ayam Cemani merupakan tipe ayam dwi guna yaitu bisa dimanfaatkan daging maupun produksi telurnya. Manjemen pemeliharaan ayam Cemani sama dengan pemeliharaan ayam buras pada umumnya. Jenis pakan yang diberikan pada umur 1 bulan ke atas berupa pakan komersil juga bisa ditambahkan  nasi aking, bekatul.
Diambil dari berbagai sumber

Minggu, 11 Januari 2015

AYAM LEHER GUNDUL (LEGUND)


Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk keanekaragaman ayam lokal. Sampai saat ini, masih banyak ayam lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal. Unggas merupakan salah satu ternak yang banyak dipelihara oleh masyarakat Indonesia terutama ayam lokal atau ayam kampung. Hal tersebut karena ayam lokal diketahui mempunyai keanekaragaman sifat genetik yang tinggi seperti warna bulu, kulit, bentuk jengger, sifat produksi dan reproduksinya. Keanekaragaman genetik juga dapat disebabkan oleh sistem pemeliharaan dan perkawinan yang tidak terkontrol dari generasi ke generasi. Faktor lingkungan yang menekan juga merupakan faktor yang menyebabkan perubahan sebagai upaya tubuh untuk beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya.
Ayam Legund merupakan salah satu ayam lokal Indonesia yang mempunyai ciri leher tidak ditumbuhi bulu yang merupakan salah satu ayam lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal. Ayam Legund pada umumnya dihubungkan dengan Turkens, Transilvania Naked Neck, Bare Necks, Hackleness, dan Rubber Necks, yang seluruhnya memilki karakteristik sifat leher gundul. Gen Na merupakan gen dominan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan bulu (lambat) pada bagian leher (Somes, 1993).Ayam leher gundul merupakan salah satu ayam lokal yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai ayam penghasil daging. menunjukkan bahwa ayam legund mampu menampilkan pertambahan bobot badan yang lebih baik jika dibandingkan dengan ayam buras lain (Mu’in, 1992). Kelestarian ayam buras harus dijaga baik jumlah maupun keasliannya. Cara pemeliharaan juga perlu untuk diperhatikan agar ayam lokal tidak punah dan jumlahnya menjadi berkurang. Pemanfaatan ayam legund sebagai plasma nutfah penghasil daging hingga saat ini belum nampak. Ayam ini dianggap sebagai ayam buras biasawalaupun performans ayam legund nampak jauh lebih besar dibandingkan dengan ayam buras lain.
Ayam tanpa bulu telah berhasil dikembangkan oleh para ilmuwan, salah satunya yaitu seorang ahli genetika Israel, Avigdor Cahaner, menghasilkan genetik ayam tak berbulu pertama di dunia yang dilakukan di fakultas genetika Rehovot Agronomy Institute dekat Tel Aviv, Israel. Ayam dengan kulit telanjang diciptakan dengan perkawinan silang antara ayam Broiler dengan spesies ayam yang memiliki leher tak berbuluatau yang biasa disebut dengan ayam leher gundul. Ayam Legund pada umumnya dihubungkan dengan Turkens, Transilvania Naked Neck, Bare Necks, Hackleness, dan Rubber Necks, yang seluruhnya memilkikarakteristik sifat leher gundul (Somes, 1993). Gen Na merupakan gen dominan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan bulu (lambat) pada bagian leher (Jull, 1949; Hutt, 1949).
Touchburn et al. (1980) mengemukakan bahwa pengurangan bulu penutup tubuh akibat adanya gen Na sebesar 40% pada ayam Legund komplit dominan dan 30% pada ayam Legund tidak komplit. Kondisi tersebut dapat meningkatkan fleksibilitas dalam pengaturan suhu tubuh pada suhu lingkungan panas. Pengurangan jumlah bulu penutup tubuh pada ternak ayam menurutHorts dan Mathur (1994)berhubungan secara langsung dengan peningkatansuhu permukaan tubuh. Lebihlanjut dikemukakan bahwa peningkatan suhu permukaan tubuh tersebut sangat membantu proses adaptasi terhadap cekaman panas melalui peningkatanpembuangan panas (sensible heat loss) melalui permukaan tubuh.
Merat (1993) menggolongkan gen leher gundul (Na) sebagai gen Pliotropy, yaitu gen yang berpengaruh terhadap dua sifat atau lebih, atau karena memiliki keterkaitan dengan gen-gen lain. Digolongkan demikian karena gen tersebut memberikan pengaruh baik terhadap transfer atau pembuangan panas ke luar tubuh (lingkungan) dan memperbaiki efisiensipakan. Hal ini menyebabkan gen tersebut banyak manfaatnya bagi ayam petelur maupun ayam broiler dalam kaitannya dengan pembentukan strain ayam yang cocok untuk kondisi daerah beriklim tropis.
B. Karakteristik Ayam Legund
Karakteristik ayam Legund terbagi menjadi dua, yaitu karakteristik kualitatif dan karakteristik kuantitatif. Karakteristik kualitatif adalah suatu sifat pada individu yang diklasifikasikanke dalam satu dari dua kelompok atau lebih dan pengelompokkan itu berbeda jelassatu sama lain, karakteristik kualitatif dapat dilihat dari bentuk keanekaragaman. Karakteristik kuantitatif sendiri berkaitan dengan data yang dapat diukur dari suatu individu, sebagai contoh jumlah produksi telur maupun pertambahan bobot badan harian.
Contoh karakteristik ayam Legund adalah warna bulu, pola bulu, corak bulu, kerlip bulu, warna shank, bentuk jengger, warna cuping dan warna mata. Warna bulu pada ayam Legund ada putih dan berwarna. Warna bulu terkait dengan pigmen melanin yang terbagimenjadi dua tipe, yaitueumelanin yang membentuk warna hitam dan biru pada bulu, dan pheomelanin yang membentuk warna merah-cokelat, salmon, dan kuning tua (Brumbaugh dan Moore, 1968). Kerja dari pigmen tersebut diatur oleh gen I (inhibitor) sebagaigen penghambat produksi melanin dan gen i sebagai gen pemicu produksi melanin sehingga ada dua sifat utama pada sifat warna bulu ayam, yaitu sifat berwarna dan sifat tidak berwarna. Warna bulu putih disebabkan oleh pantulan beberapapermukaan bulu, akan tetapi kebanyakan warna-warna pada bulu dihasilkan oleh beberapa pigmen seperti pigmen karoten menghasilkan warna kuning dan orange tetapi pigmen melanin menghasilkan warna hitam dan merah pada bulu (Stevens, 1991).
Warna Bulu Ayam Legund
Gambar 1. Warna Bulu Ayam Legund
Pola bulu merupakan karakteristik genetik dan sifat yang menurun . Pola bulu pada ayam Legund jantan dan betina adalah pola hitam, pola liar, pola kolombian, dan pola bulu putih. Pola bulu warna putih ditemukan pada ayam Legund betina dikarenakan tidak ada pigmen melanin yang menyebabkan bulu menjadi putih(Stevens, 1991).
Gambar 2. Pola Bulu Ayam Legund
Corak bulu pada ayam Legund jantan dan betina ialah corak bulu lurik dan polos. Corak bulu lurik terbentuk karena adanya kerja gen B yang menghambatdeposisi melanin dan akan menimbulkan garis-garis pada warna dasar hitam sehingga bulu terlihat hitam bergaris-garis putih (Hutt, 1949).
Gambar 3. Corak Bulu Ayam Legund
Kerlip bulu ayam Legund jantan dan betina terdiri dari kerlip keperakan dan kerlip keemasan. Kerlip bulu ditemukan pada ayam, baikyang berbulu hitam polos maupun yang berbulu putih, namun kurang terlihat pada ayam yang memiliki gen autosomal merah atau yang memiliki bulu dengan kombinasi warna yang keragamannya sangat kompleks. Gen pembawa sifat kerlipbulu ini terdapat pada kromosom kelamin (Hutt, 1949).
Gambar 4. Kerlip Bulu Ayam Legund
Warna shank merupakan ekspresi dari adanya beberapa pigmen pada epidermis dan dermis (Jull, 1951). Fenotipe warna shank ayam Legund  diantaranya adalah warna shank kuning, hitam, hijau dan abu-abu. Menurut Jull (1951), warna shankmerupakan penampakan dari adanya beberapa pigmen tertentu pada epidermis dan dermis. Warna kuning pada shankadalah karena adanya lemak ataupigmen lipokrom (lypocrome) pada lapisanepidermis dan pigmen hitam atau melanin tidak terdapat pada epidermis dan dermis. Warna shank kuning/putih dapat dipengaruhi oleh ras Amerika, yaitu Single Rhode Island Red dan Barred Plymouth Rock. Warna shank hijau karena terdapat warna hitam pada dermis dan warna kuning pada epidermis.
Gambar 5. Shank Ayam Legund
Gambar 6. Jengger Ayam Legund
Gambar 7. Cuping Ayam Legund
Gambar 8. Mata Ayam Legund
C. Produktivitas Ayam Legund
Telah dikemukakan bahwa dengan berkurangnya sebagian bulu penutup tubuh pada ayam Legund, sangat membantu proses adaptasi terhadap cekamanpanas melalui peningkatan pembuangan panas (sensible heat loss) melalui permukaan tubuh. Adanya hubungan positif antara pengurangan bulu penutup tubuh pada ayamLegund dengan pembuangan panas berperan  terhadap metabolisme tubuh yang pada akhirnya berpengaruh pula terhadap  sifat produksi ayam, terutama di daerah tropis dengan kondisi panas yang ekstrim (Sidadolog, 1991).
Merat (1993) berpendapat bahwa pemanfaatan Legund dianggap sangat pentinguntuk tujuan produksi telur di daerah bersuhu tinggi, hal tersebut didasarkan pada mortalitas induk ayam Legund yang lebih rendah, rata-rata berat telur lebih tinggi, kerabang telur lebih kuat, dan masa bertelur berlangsung lebih lama jika dibandingkan dengan ayam berbulu normal. Hasil penelitian Cahaner et al.(1993) menunjukan bahwa gen Na berpengaruh  positif terhadap pertumbuhan danproduksi daging pada ayam broiler, baik  yang dipelihara pada suhu normal maupun pada suhu tinggi (320C). Pertambahan berat badan ayam Legund umur 4 sampai dengan 5 minggu pada suhu normal meningkat 4,6-10%, sedangkan pada suhu tinggipertambahan berat badan ayam Legund mencapai 7,1-22,8%. Introduksi gen Na pada ayam broiler dapat meningkatkan bobot badan ayam broiler dibandingkan dengan bobot badan ayam broiler yang berbulu normal (Yunis dan Cahaner, 1999).
D. Contoh Ayam Legund
1.   Ayam Ayunai
Ayam Ayunai adalah unggas lokal berukuran sedangdari Merauke, Papua.Keunikan ayam ini terletak pada absennya bulu dari kepala hingga bagian atas tembolok, sehingga leher tampak polos alias gundul.
Gambar 9.Ayam Ayunai dari Merauke, Papua
Berat tubuh ayam jantan dewasa berkisar antara 3,4─4 kg dan ayam betina berkisar 1,5─2 kg. Produksi telur 10─14 butir per periode peneluran. Dalam satu tahun produksi telur sebanyak 40─60 butir. Bobot telur 60─75 gr. Prosentase karkas 75─80%.Umur siap kawin 8 bulan (jantan) dan 7 bulan (betina). Umur mulai fase produksi 6 bulan, lama produksi bertelur 30 bulan. Jarak antara masa bertelur 10─14 hari. Masa rontok bulu antar masa bertelur 6 minggu.Dilihat dari produksi telur dan bobotnya, Ayam Ayunai sangat cocok dibudidayakan sebagai ayam petelur dan pedaging (Dwiyanto dan Prijono, 2007).
2.   Ayam Bali
Ayam ini tersebar di Pulau Bali. Pejantan dipelihara sebagai ayam petarung. Penampilan fisiknya tergolong prima, yakni besar, padat dan jika berdiri tegak membentuk sudut 60o, sayangnya bagian lehernya agak pendek dan kepalanya sedikit kecil.
Gambar 10. Ayam Bali
Ciri unik lainnya adalah sangat sedikitnya bulu yang tumbuh di bagian leher (trondol). Sepintas penampilan ayam gundul ini mirip ayam Ayunai atau ayam Saigon. Dibandingkan dengan ayam Ayunai, ayam Saigon memiliki struktur tulang yang lebih tebal.Ukuran tubuhnya pun juga lebih besar.Jengger ayam Ayunai kecil dan warnanya merah pucat. Ayam jantan dewasa berukuran sedang dengan bobot sekitar 2,5 kg. Jumlah telur rata-rata pada setiap periode telur dapat mencapai 14 butir.
3.   Ayam Saigon
Ayam Saigon ini sebenarnya masuk ke Indonesia hampir bersamaan dengan masuknyaAyam Bangkok,namun kepopuleran ayam ini meredup seiring dengan terkenalnya ayam Bangkok yang berjaya di berbagai kalangan ayam di berbagai daerah di Indonesia. Ayam Saigon mempunyai struktur daging dengan serat otot yang jauh lebih baik jika dibandingkan Ayam Bangkok, disamping itu Ayam Saigon juga mempunyai struktur tulang yang sangat kokoh jika dibandingkan dengan daerah lain.
Gambar 11. Ayam Saigon
Ciri-ciri ayam Saigon antara lain :
a.  Sejak lahir ayam Saigon mempunyai kepala yang gundul.
b.  Mempunyai bulu normal tetapi di sekitar leher tidak ada bulunya, sehingga hanya terlihat kulitnya.
c.  Tidak mempunyai bulu rawis.
E. Cara Pemeliharaan Ayam Legund
Beberapa cara pemeliharaan ayam Legund diantaranya ialah:
1.   Pemeliharaan Secara Berkeliaran (Extensif) yaitu cara memelihara ayam kampung yang diliarkan tanpa diurus sarana produksinya (pakan, kandang dan vaksin).
2.   Pemeliharaan Secara Umbaran Terbatas yaitu memelihara ayam kampung dihalaman terpagari sehingga ayam masih dapat berkeliaran ditempat terbatas.
3.   Pemeliharaan Secara Semi Intensif yaitu memelihara ayam kampung secara terkurung total, luas lantai juga terbatas (bahkan dalam box), vaksinasi rutin, pakan pada awal pemeliharaan (1 sampai 14-21 hari) dengan pakan buatan pabrik (nutrisi pakannya sesuai kebutuhan).
4.   Pemeliharaan Secara Intensif yaitu memelihara ayam kampung seperti pemeliharaan ayam broiler, pakan  memakai standar pakan ayam pedaging dari awal sampai panen (umur 70-90 hari), dan vaksinasi lengkap.

KESIMPULAN
Ayam Legund merupakan salah satu ayam lokal Indonesia yang mempunyai ciri leher tidak ditumbuhi bulu. Gen Na merupakan gen dominan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan bulu (lambat) pada bagian leher. Karakteristik ayam Legund ialah mempunyai perbedaan warna bulu, pola bulu, corak bulu, kerlip bulu, warna shank, bentuk jengger, warna cuping dan warna mata. Hal ini disebabkan oleh ayam Legund yang merupakan ayam lokal, dimana ayam lokal melakukan perkawinannya secara alami atau bebas, tanpa adanya perlakuan khusus seperti pemuliaan atau pemurniaan galur ayam Legund.