Ternak

Tampilkan postingan dengan label kulit samak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kulit samak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 31 Oktober 2015

Proses, Teknik, dan Cara Penyamakan Kulit

Proses, teknik, dan cara penyamakan kulit. Penyamakan kulit adalah suatu proses mengubah kulit mentah menjadi kulit tersamak (leather). penyamakan kulit biasanya digunakan pada hampir semua jenis ternak antara lain kulit sapi, kerbau, kambing, kelinci, domba, ikan pari dll, bahkan beberapa hewan ekstrim diantaranya ular, harimau dan buaya. Penyamakan kulit merupakan cara untuk mengubah kulit yang bersifat labil dan mudah rusak oleh pengaruh fisik, kimia dan biologi menjadi kulit yang stabil terhadap pengaruh tersebut yang biasa disebut. Kulit samak memiliki sifat khusus yang sangat berbeda dengan kulit mentahnya, baik sifat fisis maupun sifat khemisnya. Kulit mentah mudah membusuk dalam keadaan kering, keras, dan kaku. Sedangkan kulit tersamak memiliki sifat yang awet dan mudah dibentuk menjadi segala jenis kerajinan diantaranya tas, jaket, sabuk atau gesper, gantungan kunci, cover buku, dompet dan kerajinan lainnya. 

Teknik mengolah kulit mentah menjadi kulit samak disebut penyamakan. Dengan demikian, kulit hewan yang mudah busuk dapat menjadi tahan terhadap serangan mikroorganisme. Prinsip mekanisme penyamakan kulit adalah memasukkan bahan penyamak ke dalam jaringan serat kulit sehingga menjadi ikatan kimia antara bahan penyamak dan kulit didalam serat kulit.


Dalam proses penyamakan dikenal adanya sistem penyamakan berbulu dan tidak berbulu. Sistem penyamakan berbulu tentunya ditujukan untuk mempertahankan keindahan bulunya sedangkan penyamakan tidak berbulu tentunya sengaja ditujukan untuk menghilangkan bulu. Sekilas yang membedakan kedua proses ini adalah dilakukannya proses pengapuran pada sistem penyamakan tidak berbulu dengan tujuan supaya mempermudah dalam menghilangkan bulunya.

Terdapat tiga tahapan pokok dalam industri penyamakan kulit yaitu :

pretanning atau Pengerjaan basah (beamhouse), Kegiatan ini bertujuan untuk mengawetkan kulit mentah agar dapat bertahan hingga penyamakan sesungguhnya dilakukan. Kegiatan ini dinamakan dengan pengerjaan basah yang meliputi proses perendaman (soaking), pengapuran (liming), pembuangan kapur (deliming), baitsen (bating), dan pengasaman (pickling). Adapun tujuan dari masing-masing kegiatan yaitu :
  • Perendaman bertujuan untuk mengubah kondisi kulit kering menjadi lemas dan lunak.
  • Pengapuran bertujuan untuk menghilangkan bulu dan epidermis, kelenjanr keringat dan lemak, zat-zat yang tidak diperlukan, memudahkan pelepasan subcutis, dsb.
  • Pembuangan kapur bertujuan untuk menghilangkan kapur yang tergandung dalam kulit, karena penyamakan dilakukan dalam kondisi asam sehingga harus terbebas dari kapur yang bersifat basa.
  • Bating merupakan proses penghilangan zat-zat non kolagen
  • Pengasaman bertujuan membuat kulit bersifat asam (pH 3,0 – 35), agar kulit tidak bengkak bila bereaksi dengan obat penyamaknya.


Penyamakan (tanning), kulit pickle direndam pada bahan penyamak, yang proses penyamakannya terdiri dari penyamakan nabati, penyamakan krom, penyamakan kombinasi, dan penyamakan sintesis. Tahapan proses penyamakan disesuaikan dengan jenis kulit. Kulit dibagi atas 2 golongan yaitu hide (untuk kulit dari binatang besar seperti kulit sapi, kerbau, kuda dan lain-lain), dan skin(untuk kulit domba, kambing, reptil dan lain-lain). Jenis zat penyamak yang digunakan mempengaruhi hasil akhir yang diperolah. Penyamak nabati (tannin) memberikan warna coklat muda atau kemerahan, bersifat agak kaku tapi empuk, kurang tahan terhadap panas. Penyamak mineral paling umum menggunakan krom. Penyamakan krom menghasilkan kulit yang lebih lembut / lemas, dan lebih tahan terhadap panas.

Penyelesaian akhir (finishing), prosesnya terdiri dari pengetaman (shaving), pemucatan (bleaching), penetralan (neutralizing), pengecatan dasar, peminyakan (fat liquoring), penggemukan (oiling), pengeringan, pelembaban, dan perenggangan. Kegiatan setelah penyamakan kulit terdiri atas pengetaman (shaving), pemucatan (bleaching), penetralan (neutralizing), pengecatan dasar, peminyakan (fat liquoring), penggemukan (oiling), pengeringan, pelembaban, dan perenggangan, masing-masing kegiatan yaitu seperti berikut :
  • Pengetaman merupakan suatu kegiatan yang membuat kulit memiliki tingkat ketebakan yang sama.
  • Pemucatan bertujuan untuk menghilangkan flek-flek besi, merendahkan pH, dan lebih menguatkan ikatan antara bahan penyamak dengan kulit.
  • Penetralan dilakukan bagi kulit samak krom, karena kulit samak krom berkadar asam tinggi, sehingga perlu dinetralkan agar tidak mengganggu proses selanjutnya.
  • Pengecatan dasar dilakukan dengan tujuan agar pemakaian cat tutup tidak terlalu tebal
  • Peminyakan pada kulit memiliki tujuan antara lain untuk pelumas serat- serat kulit agar kulit menjadi tahan tarik dan tahan getar, menjaga serat kulit agar tidak lengket satu dengan yang lainnya, dan membuat kulit tahan air.
  • Penggemukkan bertujuan agar zat penyamak tidak keluar ke permukaan sebelum kering.
  • Pengeringan dilakukan bagi kulit atasan dengan tujuan untuk menghentikan proses kimiawi dalam kulit. Kulit yang diperah airnya dengan mesin atau tangan kemudian dikeringkan.
  • Pelembaban dilakukan bagi kulit bawahan dengan tujuan agar kulit dengan mudah dapat menyesuaikan dengan kondisi udara disekitar.
  • Kegiatan akhir dari bagian ini adalah peregangan yang bertujuan agar kulit mulut secara maksimal. Sehingga dengan demikian, tidak akan mulur lagi setelah menjadi barang.

Jenis - jenis penyamakan kulit

  1. Penyamakan nabati. penyamakan nabati digunakan bahan penyamak nabati yang berasal dari alam. Bahan penyamak nabati merupakan bahan penyamak yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang mengandung bahan penyamak.
  2. Penyamakan krom. menggunakan krom sulfat basa. Kulit yang disamak dengan bahan penyamak ini memberi sifat lemas, kuat, tetapi kurang berisi.
  3. Penyamakan kombinasi. adalah penyamakan kulit dengan dua atau lebih bahan penyamak, dengan tujuan saling melengkapi karena setiap bahan penyamak memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.
  4. Penyamakan sintesis. Pada dasarnya penyamakan sintesis tidak jauh beda dengan penyamakan nabati, hanya saja menggunakan bahan sintesis yaitu organic polyacid yang memiliki kemampuan menyamak kulit.


Senin, 20 April 2015

Tahapan Proses Penyamakan Kulit Samak nabati

Beberapa tahapan Proses Penyamakan Kulit
Perendaman (Soaking) 
Tujuan dilakukan perendaman (soaking) yaitu melunakkan kulit dengan maksud mengembalikan kulit seperti kulit basah (green hido atau kulit segar), menghilangkan kotoran, mempermudah menetralisasi bahan-bahan kimia pada proses berikutnya, dan menghilangkan garam-garam pengawet karena garam mencegah pembengkakan kulit sehingga akan menyulitkan pada proses berikutnya
Proses soaking dilakukan pertama kali dengan memisahkan kulit menurut klasifikasinya. Setelah itu, kulit ditimbang beratnya dan kulit dimasukkan dalam campuran air, antiseptik, teepol, dan NaOH. Temperatur air perendam 600% dibuat suhu sekitar 27 sampai 30ºC (suhu lebih dari 30ºC terjadi dekomposisi kulit), kemudian ditambahkan campuran antiseptik 0,5%, teepol 0,5%, dan NaOH 0,5%. Kulit diremas-remas selama 30 menit dan direndam selama semalam. Tanda-tanda kulit yang baik setelah perendaman yaitu tidak terdapat bau busuk, kulit lemas secara merata, bulunya tidak rontok dan beratnya naik menjadi 200 sampai 250 persen (dari berat awal kulit).

Baca juga (Proses, teknik, dan cara penyamakan kulit)
Pengapuran (Liming)
Tujuan proses pengapuran adalah menghilangkan epidermis, manghilangkan kelenjar minyak dan lemak, menghilangkan zat-zat kulit yang tidak diperlukan, untuk kulit yang memerlukan tingkat kelemasan yang tinggi maka proses pengapuran perlu dilakukan lebih lama dan lebih banyak zat kulit yang dikurangi, menghilangkan dan memudahkan pelepasan lapisan subkutis dari lapisan kutisnya

Kulit dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan air lalu kulit ditimbang beratnya. Kulit dimasukkan dalam campuran air sebanyak 400% (dari berat kulit), kapur 5%, dan Na2S 2%. Sebelumnya Na2S diencerkan dengan air panas dengan perbandingan 1:10. Kulit diremas-remas selama 20 menit kemudian didiamkan selama 10 menit. Kegiatan ini dilakukan sebanyak 4 kali, lalu kulit direndam selama semalam.
Penambahan Na2S bertujuan untuk memutuskan ikatan protein sehingga sisik dengan kulit gampang untuk dihilangkan. Penambahan kapur bertujuan untuk membengkakkan kulit. faktor-faktor yang mempengaruhi hasil proses pengapuran adalah temperatur, pH, konsentrasi, dan waktu. Tingginya suhu tidak boleh melebihi 27oC, hal ini dapat menyebabkan kapur menjadi sulit larut dan akan membahayakan kulit karena kulit dalam keadaan basa kuat. pH pada saat proses pengapuran diusahakan berkisar antara 11 sampai 12, bila pH terlalu rendah maka aktifitas bahan perontok bulu akan berkurang namun bila terlalu tinggi maka akan dapat merusak rajah kulit. Semakin tinggi konsetrasi pengapuran maka pengapuran akan semakin baik. Hal ini terjadi karena penghilangan globular protein maupun perontokan dapat berjalan dengam cepat. Waktu dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ketebalan kulit, jenis kulit, dan tujuan penggunaan kulit jadi.
Tanda-tanda kulit yang baik setelah pengapuran yaitu kulit tidak hancur, nerf tidak rusak, tidak terdapat goresan, tidak ada bintik-bintik dan bekas darah, dan bulu mudah dilepaskan dari kulit.
Buang kapur (Deliming)
Tujuan deliming untuk menghilangkan sisa-sisa kapur yang masih tersisa pada kulit. deliming atau proses buang kapur bertujuan untuk menghilangkan kapur yang terikat maupun yang tidak terikat pada bagian daging dan serat-serat kulit serta mempersiapkan kulit untuk proses selanjutnya. Jika kapur didalam kulit tidak dihilangkan maka kulit menjadi keras, mudah rapuh, dan berwarna gelap pada proses selanjutnya.
Langkah pertama, kulit ditimbang untuk mengetahui beratnya. Selanjutnya kulit dimasukkan dalam campuran air 200% dan natrium formiat 3%. Kemudian asam sulfat yang telah diencerkan sebanyak 0,75% dari berat kulit ditambahkan sedikit demi sedikit ke dalam campuran tersebut. Penambahan asam sulfat yang dilakukan harus dilakukan dengan tepat. Jika penambahan asam sulfat berlebihan akan menyebabkan kulit menjadi rusak. Selanjutnya kulit diremas-remas selama 90 menit lalu direndam selama semalam.
Tanda-tanda proses deliming berhasil apabila 2/3 sampai 3/4 penampang kulit berwarna putih (sebelumnya kulit telah diberi indikator pp) dan sisa kapur yang tertinggal berwarna merah dengan indikator pp akan menghilang pada proses selanjutnya.
Degreasing
Degreasing yaitu proses yang dilakukan untuk menghilangkan lemak yang ada di dalam kulit. Degreasing dilakukan dengan menimbang kulit telebih dahulu beratnya kemudian kulit dimasukkan ke dalam air 100%, teepol 5%, dan bensin 5%. Kulit diremas-remas selama 45 menit.  degreasing bertujuan untuk membuang sisa-sisa lemak baik setelah pikel maupun sebelum proses penyamakan serta menghilangkan seluruh lemak alami pada jaringan lemak yang masih terdapat pada kulit baik pada bagian daging maupun bagian yang dirajah.
Bating
Tujuan bating yaitu melanjutkan pembuangan sisa zat-zat dalam kulit yang bukan kolagen yang belum hilang pada proses liming, menghilangkan sisa-sisa akar bulu, menghilangkan kepekaan kulit agar kulit tidak mengadakan kontraksi, dan menghilangkan zat-zat kulit yang tidak diperlukan.
Proses bating biasanya menggunakan enzim kelenjar pankreas hewan ternak (babi, sapi, kambing, dan domba). Pankreas dari sapi kemampuan digestinya lemah, kambing dan domba kemampuan digestinya medium, sedangkan babi kemampuan digestinya yang paling kuat
Bahan-bahan yang digunakan proses bating yaitu air 100%, oropon 1%. Oropon berfungsi sebagai agensia bating. terdapat banyak nama-nama paten yang terdapat dalam perdagangan misanya oropon,pancreal, enzylon, dan lain-lain. Proses bating dilakukan dengan mencuci kulit terlebih dahulu kemudian menimbang beratnya. Kulit dimasukkan ke dalam campuran air dan oropon kemudian kulit diremas-remas selama 2 jam dan kulit direndam selama semalam.
Tanda-anda kulit yang baik setelah mengalami proses bating apabila kulit ditetesi indikator pp penampang kulit seluruhnya akan berwarna putih, apabila kulit ditekan dengan ibu jari akan membekas dan lama kembalinya, dan kulit akan terasa licin kalau dipegang.
Tanning
Tanning bertujuan untuk mengubah kulit mentah yang mudah rusak oleh aktivitas mikroorganisme, khemis, atau phisis menjadi kulit tersamak yang lebih tahan terhadap pengaruh-pengaruh tersebut.
Proses tanning memerlukan waktu yang cukup lama, oleh karena itu diperlukan waktu yang dibutuhkan selama semalam. prinsip penyamakan nabati dimulai dengan bahan penyamak (mimosa) yang bermolekul kecil dan daya ikat kecil, sehingga penetrasi kedalam kulit bebas. Kemudian molekul dan daya ikatnya diperbesar didalam kulit dengan cara merubah kepekatan larutan penyamak dan pHnya maka kulit akan tersamak merata dan sempurna. Oleh karena itu penyamakan dimulai dengan zat penyamak nabati yang kepekatan larutannya rendah (pH tinggi) dan diakhiri dengan kepekatan larutan yang tinggi (pH rendah).
Proses tanning dilakukan menggunakan campuran air 100% dan mimosa 10%, kemudian kulit diremas-remas selama 90 menit dan kulit direndam selama semalam.
Netralisasi
Netralisasi bertujuan agar kulit dalam kondisi yang normal (pH normal). Proses netralisasi dilakukan dengan cara mengalirkan air pada seluruh permukaan kulit. Setelah proses netralisasi kulit dibentangkan dan dibiarkan sampai mengering.