Ternak

Tampilkan postingan dengan label sapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sapi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Desember 2015

3 Penyakit pada Pedet yang Perlu Diwaspadai

Kejadian kematian pedet pada umur 2 – 3 minggu dapat sangat tinggi. Kematian ini pada peternakan dapat serendah 1 %, tetapi juga dapat meningkat sampai mencapai 20 – 25 %. Beberapa penyakit tidak langsung menyebabkan kematian, tetapi menyebabkan pedet menjadi lemah kondisinya, membuat pedet tersebut rentan terhadap penyakit lain. Sebagai contoh gangguan digesti biasanya menurunkan ketahanan tubuh pedet terhadap penyakit infeksi. Secara umum penyakit pedet disebabkan karena baik oleh infeksi bakteri maupun virus, atau kekurangan pakan dan manajemen yang jelek.


Sejumlah metode / cara sangat penting untuk mengurangi kejadian penyakit pedet. Misalnya merupakan hal yang sangat penting untuk memberi pakan yang cukup pada induk agar menghasilkan pedet yang sehat waktu dilahirkan. Garam yodium (iodine) perlu diberikan pada induk untuk mencegah kejadian gondok (goiter) pada pedet. Pedet harus segera mengkonsumsi kolostrum sebagai sumber vitamin A, antibody dan kaya akan energi, segera setelah lahir. Lingkungan pedet harus bersih, bebas debu kotoran, dan harus kering. Luka pada tali pusar harus didesinfektan segera setelah lahir. Susu harus diberikan dalam waktu tertentu dan jumlah pemberian sehari tidak lebih dari 10 % berat badan pedet. Temperatur susu dan pemberiannya harus teratur / rutin dari hari ke hari. Penambahan antibiotik dalam susu atau milk replacer dapat menangkal penyakit. Sanitasi alat-alat persusuan sangat penting artinya. Apabila ternak sakit harus dipisahkan dari pedet lainnya untuk mencegah penyebaran / penularan. Tiga penyakit yang biasa menyerang pedet adalah calf septicemia acute, diarrhea, dan pneumonia.

Calf septicemia acute.

Ini merupakan penyakit yang ganas yang biasanya menyerang pedet pada umur 3 – 5 hari. Salah satu tanda penyakit ini adalah diarrhea, dimana faecesnya cair, baunya sangat spesifik dan berwarna putih keabu-abuan. Warna faeces merupakan alasan mengapa penyakit ini juga disebut “white scours”. Diarrhea ini menyebabkan kondisi menjadi lemah dan dehidrasi, dengan indikasi mata menjadi sayu. Penyakit ini merupakan penyakit infeksi dan pada umumnya menyebabkan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh virus dan diikuti oleh infeksi Escherichia coli di intestinum.

Untuk mencegah calf septichemia acut sapi harus beranak di kandang yang bersih, kering dan bebas debu kotoran. Pedet harus mengkonsumsi kolostrum segera setelah lahir, dan pusar harus didesinfektan untuk mencegah jangan sampai berfungsi sebagai jalan masuknya virus dan bakteri ke dalam tubuh pedet. Pemberian pakan dengan antibiotik, vaksinasi induk menjelang beranak, dan vaksinasi pedet yang baru lahir dengan bakterin, serum, atau antitoksin dapat mengurangi kejadian penyakit tersebut. Pedet yang telah terinfeksi harus ditangani dokter hewan. Karena dehidrasi, imbangan cairan tubuh pedet harus dikembalikan normal dengan jalan diinfus larutan elektrolit balans yang mengan-dung Na. Kombinasi antibiotik dengan obat-obat sulfa diberikan pada pedet. Pemberian serum anti bakterial bersama-sama dengan vitamin A dan transfusi darah dari induknya juga dapat membantu. Pedet harus dipisahkan segera untuk mencegah penularan. Sapi yang lain tidak dibenarkan melahirkan di kandang yang telah tercemar, sebelum kandang tersebut dibersihkan dan didesinfektan.

Diarrhea biasa (Common Scours)

Diarrhea atau berak cair biasa pada pedet, biasanya tidak menyebabkan kematian tetapi menurunkan vitalitas dan kecepatan pertumbuhan, dan menyebabkan pedet tersebut lebih peka terhadap penyakit infeksi. Penyakit diarrhea ini dapat terjadi pada berbagai umur, tetapi lebih sering terjadi pada periode susu. Faecesnya berwarna normal tetapi konsistensinya cair / agak cair. Pedet yang demikian tampak lemah, matanya tidak bercahaya dan daun telinganya lemah menggantung. Temperatur tubuh dan frekuensi respirasinya meningkat.

Kejadian ini sering disebabkan karena kelebihan pemberian pakan (over-feeding), tetapi juga dapat disebabkan karena ketidak teraturan pemberian susu (ada perubahan dalam komposisi, temperatur susu, dan jumlah yang diberikan). Alat-alat yang kotor, ambing yang kotor atau mengkonsumsi bahan kasar dari beddingnya juga dapat menyebabkan diarrhea. Apabila pedet menampakkan tanda-tanda diarrhea biasa, jumlah pakan (tapi bukan yang cair) sebaiknya dikurangi menjadi setengahnya pada pemberian pakan berikutnya dan pemberian pakan susu secara bertahap ditingkatkan. Antibiotikaa dan obatpobat sulfa dapat menurunkan kejadian diarrhea.

Radang Paru-paru (Pneumonia)

Pneumonia paling banyak menyebabkan kematian pedet, biasanya terjadi pada umur 3 -8 minggu dan disertai dengan diarrhea atau penyakit lain yang menyebabkan pedet menjadi lemah. Pedet yang terserang pneumonia menunjukkan tanda-tanda sering batuk-batuk, frekuensi respirasi meningkat, temperatur tubuh meningkat, bulu tampak kusam, kehilangan nafsu makan, kondisi tubuh melemah dan dari hidung keluar cairan yang cukup banyak dan agak berbahu.

Pneumonia disebabkan oleh virus. Pneumonia juga dapat disebabkan karena cuaca yang dingin, becek, kandang yang kurang ventilasi. Perubahan temperatur yang mendadak yang menyebabkan pedet kedinginan atau transportasi pedet dari farm satu ke farm lainnya dapat menimbulkan penyakit tersebut.

Pencegahan pneumonia dapat dikerjakan dengan cara menyediakan lingkungan (kandang) yang kering dan hangat, mengusahakan pemberian pakan yang rutin, dan pemberian antibiotik dalam pakan selama periode susu. Penanganan terhadap kejadian pneumonia terdiri dari menghilangkan penyebabnya dan memindahkan pedet yang sakit ke kandang yang kering dan hangat. Obat-obat sulfa dan antibiotik dapat membantu penyembuhan. Pedet yang sakit harus segera diisolasi, untuk mencegah atau memperkecil penularan pada pedet yang lain.

Selasa, 08 Desember 2015

Saluran Pencernaan pada Sapi

Sapi sebagai ternak ruminansia lambungnya terdiri dari 4 kompartemen (bagian), sedangkan pada ternak monogastrik antara lain manusia, babi, tikus, kuda dan lain sebagainya lambung tersebut hanya terdiri dari satu bagian saja. Kondisi yang demikian memungkinkan sapi mempunyai keunggulan dalam hal kemampuan pencernaan dan pemanfaatan bagian dari tumbuh-tumbuhan dan bahan lain yang tidak dapat dimanfaatkan oleh ternak monogastrik. Sebagai contoh misalnya selulosa yang merupakan komponen terbesar dari jaringan tanaman, dan urea yang merupakan sumber non protein nitrogen (NPN) sangat terbatas penggunaannya pada ternak non ruminansia. Namun pada ternak ruminansia melalui kegiatan fermentasi dan sintesis oleh mikroorganisme dalam lambung kempleksnya, dapat secara efisien memanfaatkan bahan-bahan tersebut untuk tujuan produksi. Sapi perah mengubah pakan tersebut menjadi susu dan daging, dua produk pangan bagi manusia yang enak (palatabel) dan bernilai gizi tinggi.

Anatomi Tractus Digestivus

Diagram yang disederhanakan dari tractus digestivus ternak ruminansia dan jalur yang dilewati oleh ingesta (pakan) ditunjukkan pada gambar 15. Pakan dari mulut melalui oesophagus, masuk kedalam rumen, dimana bahan tersebut bercampur dengan isi rumen yang sudah ada dan difermentasi oleh mikroorganisme rumen. 


Sebagian pakan di regurgitasi / dikeluarkan lagi sampai ke mulut, dimulut mengalami remastikasi / dikunyah lagi dan resalivasi / penambahan saliva kemudian ditelan kembali (redeglutisi) masuk kedalam rumen dan reticulum untuk selanjutnya mengalami proses fermentasi lebih lanjut. Asam-asam lemak hasil dari fermentasi pakan akan diabsorbsi kedalam aliran darah dari dinding rumen dan reticulum. Sisa pakan mengalir menuju omasum dan abomasum, dimana pencernaan selanjutnya terjadi. Akhirnya pakan yang sudah tercerna tadi masuk kedalam intestinum untuk proses pencernaan lanjut dan absorbsi kedalam aliran darah atau dikeluarkan sebagai faeces. Keterangan mengenai organ dan struktur lain yang terlibat dalam proses pencernaan dibicarakan dibawah ini.

Mulut, Lidah, dan Gigi

Bibir sapi agak kurang pergerakannya dan kurang berfungsi dalam proses pengambilan dan pemasukan pakan kedalam mulut (prehension). Organ yang sangat berperan dalam proses prehension adalah lidah. Lidah sapi sangat panjang, kuat, mudah digerakkan, permukaannya kasar dan mudah dilingkarkan pada rumput / hijauan dan pakan lain, yang kemudian dimasukkan diantara gigi seri dan bantalan gigi pada bagian atas dan dipotong.

Sapi dewasa mempunyai 8 gigi seri pada rahang bawah dan tidak ada satupun pada rahang atas. Pada rahang atas yang berhadapan dengan gigi seri terdapat bantalan gigi, terdiri dari jaringan ikat yang tebal dibungkus lapisan epithel yang tebal dan mengalami cornifikasi, sehingga sangat keras. Sapi tidak mempunyai gigi taring di rahang atas maupun bawah, tetapi mempunyai 6 pasang gigi pada masing-masing rahang atas dan bawah yang  berupa 3 pasang premolar dan 3 pasang molar, yang keduanya disebut gigi samping (cheek teeth). 
Rumus gigi permanen sapi adalah 2 X {I 0/4; C0/0; P 3/3; M 3/3 } = 32, dimana I = insisivi (gigi seri), C = caninus (gigi taring), P = premolare dan M = molar (gigi geraham). Untuk rumus gigi susu formulanya adalah 2 X { Di 0/4 ; Dc 0/0 ; Dp 3/3 } = 20, dimana Di = Insisivus decidui, Dc = Caninus decidui, dan Dp = Premolar decidui. Rata-rata pergantian gigi seri dapat digunakan untuk memperkirakan umur sapi, seperti pada tabel di atas.

Kelenjar Ludah dan Oesophagus

Kelenjar ludah yang terdapat dalam rongga mulut mengeluarkan cairan yang dikenal dengan nama ludah (saliva). Pada sapi kelenjar ludah yang dikenal adalah kelenjar parotid, submaxilaris, inferior molar, ventral sublingual, buccal, palatine, pharyngeal, dan labial.
Oesophagus merupakan saluran yang berasal dari mulut menuju ke rumen, panjangnya sekitar 3,5 ft ( 105 cm ) pada sapi dewasa. Pakan dan saliva dicampur dalam mulut ditekan dan tertelan melalui oesophagus menuju kedalam rumen, dan secara periodik isi rumen bergerak balik ke mulut melalui oesophagus (regurgitasi).

Rumen

Rumen yang disebut juga paunch dibagi menjadi 4 area oleh lembaran otot-otot yang disebut sebagai pilar. Ada satu kantung dorsal, satu kantung ventral, dan dua kantung posterior. Gerakan dari  otot-otot pilar memaksa pakan dalam rumen bergerak dalam putaran sehingga isi rumen tercampur merata dengan cairan rumen. pada permukaan dalam rumen terdapat banyak papila, yang menyebabkan permukaan dinding rumen menjadi sangat luas dan sangat membantu dalam proses absorbsi nutrien dari rumen.

Hanya sebagian kecil dari reticulum yang jelas terpisah dengan rumen. Antara isi rumen dan reticulum tercampur secara bebas, dan kedua bagian lambung sapi ini sering dikenal sebagai retikulo-rumen. Dinding reticulum yang tebal bagian dalam vili-vilinya membentuk bangunan seperti rumah tawon / seperti jala sehingga bagian ini sering juga disebut sebagai perut jala. Pada bagian kanan yang terbuka berhubungan langsung dengan omasum, dimana pakan yang telah mengalami pencernaan di rumen dan reticulum mengalir masuk. Sebuah lekukan dalam reticulum membentang antara oesophagus dan omasum disebut oesophageal groove. Pada anak sapi (pedet) yang masih menyusu, bagian samping lekukan tersebut akan melengkung / menutup keatas sehingga terbentuk tabung dengan suatu gerakan refleks yang disebabkan adanya aliran benda cair, sehingga susu yang diminum langsung menuju kedalam omasum, sebelum rumen dan reticulum berkembang. Walaupun terjadi dalam proses ruminasi normal, susu akan lebih efisien apabila langsung menuju kedalam abomasum dan dicerna disitu dan di intestinum. Fermentasi oleh mikrobia rumen akan membuang-buang energi dan menurunkan kualitas protein dari pakan yang berupa susu yang mudah dicerna dan mempunyai nilai gizi tinggi.

Omasum

Setelah terjadi fermentasi dalam rumen dan reticulum, pakan mengalir melalui orificium reticulo-omasal masuk kedalam omasum. Omasum terdiri dari banyak jaringan otot yang berbentuk lembaran-lembaran seperti dalam buku, sehingga bagian ini disebut juga perut buku.

Abomasum

Abomasum adalah perut sejati pada sapi. Hanya disini bagian lambung sapi yang mengandung jaringan / kelenjar yang  mensekresikan  getah  lambung. Dinding abomasum dilapisi banyak lipatan sehingga memperluas areal sekresi dari kelenjar. Abomasum merupakan 80 % atau lebih bagian dari lambung pedet yang baru lahir. Kompartemen lain berkembang jauh lebih cepat sejak pedet makan pakan padat, dan pada sapi dewasa kapasitas abomasum kurang dari 10 % total kapasitas lambung sapi.

Intestinum Tenue (Usus Halus)

Setelah terjadi pencernaan dalam abomasum, hasil yang telah tercerna mengalir lewat pylorus menuju ke duodenum, yang merupakan bagian dari intestinum tenue. Disebut intestinum tenue atau usus kecil karena diameternya yang tidak seimbang dengan panjangnya yaitu panjangnya 140 feet ( + 42 m) dan diameternya hanya 2 inchi ( + 5 cm) pada sapi dewasa.  Vili yang merupakan bangunan seperti jari-jari tumbuh memenuhi permukaan dinding dalam usus halus. Fungsi vili ini untuk membantu mencampur isi usus dengan enzim pencernaan dan memperluas area absorbsi dalam intestinum. Isi usus digerakkan dengan gerak peristaltik, yang merupakan gelombang gerakan akibat adanya kontraksi dan relaksasi dari otot-otot dinding usus.

Walaupun lambung pedet yang baru lahir mempunyai empat kompartemen seperti pada sapi dewasa, rumen dan reticulum pada pedet dan sapi dewasa berbeda terutama pada tingkat perkembangannya. Berat jaringan atau ukuran besar relative kompartemen lambung pedet pada berbagai umur sampai umur 9 bulan ditunjukkan dalam Tabel 8 diatas. Pada pedet yang baru lahir abomasum merupakan sekitar 50 % dari total lambung, sedangkan pada pedet yang lebih tua ( 9 bulan) rumen dan reticulum menempati persentase yang paling besar sampai 64 %. Perbandingan relative ini sama hasilnya apabila yang diperbandingkan berat jaringan, ataupun volume masing-masing kompartemen. 
Lambung pedet yang baru lahir sama atau mirip dengan lambung ternak non ruminansia. Susu masuk kedalam lambung (omasum) melewati oesophageal groove (reticular groove) menuju ke lubang reticulo-omasal. Pada pedet muda oesophageal groove menutup oleh gerak refleks dan berfungsi sebagai pipa yang mengalirkan pakan cair atau agak cair langsung ke omasum. Gerak refleks tersebut akan menghilang sesaat pedet mencapai dewasa, sehingga pakan baik yang padat maupun cair tetap masuk kedalam rumen dan reticulum.

Pada pedet muda rumino-reticulum belum cukup berkembang, sehingga belum mampu untuk mencerna hijauan. Demikian juga mikro-oganisme rumen belum berkembang, karena itu pakan untuk pedet harus berbeda dengan pakan sapi dewasa. Pakan pedet harus mengandung vitamin B kompleks dan protein yang cukup dengan imbangan asam amino yang baik, karena nutrien tersebut belum dapat disintesis oleh mikrobia rumen. Dengan demikian ransum pedet harus terdiri dari konsentrat susu, sedangkan hijauan hanya dapat diberikan sedikit sebagai latihan sedikit demi sedikit dan semakin bertambah sejalan dengan perkembangan rumen dan reticulum.
Ternyata dari hasil penelitian ditunjukkan bahwa hasil akhir fermentasi rumen merupakan stimulan yang penting untuk perkembangan rumen-reticulum (khususnya papila rumen). Asam-asam lemak yang efektif pada proses perkembangan papilla rumen adalah asam butirat, propionat dan asetat. Larutan glukosa dan garam tidak efektif. Perkembangan jaringan otot rumen tergantung pada adanya bahan kering (pakan kasar) dalam rumen.

Coecum

Coecum walaupun besar dan penting sebagai tempat untuk pencernaan oleh mikrobia pada beberapa ternak termasuk kelinci dan kuda, coecum sapi hanya kecil dan tidak mempunyai peranan yang penting. Namun demikian juga terjadi digesti mikrobial dan sintesis beberapa komponen tetapi tidak seberapa dibandingkan dengan kegiatan mikrobia dalam rumen dan reticulum.

Usus besar

Isi dari usus kecil mengalir menuju coecum dan usus besar yang panjangnya sekitar 35 ft dan diameternya bervariasi antara 2 – 5 inchi dan berakhir pada anus.

Senin, 07 Desember 2015

Cara Merawat Sapi Induk Laktasi dan Kering

Sapi induk laktasi setelah melahirkan pada awal (menghasilkan susu) produksi susu meningkat dengan cepat, dan puncak (peak) produksi susu dicapai pada hari ke 30-50, atau minggu ke 3-6, atau bulan ke 1-2. Setelah puncak produksi dicapai, kemudian produksi susu cenderung menurun sampai sapi kering (tidak menghasilkan susu) atau sapi dikeringkan (pemerahan dihentikan karena sapi sudah bunting 7 bulan). Pada saat produksi susu meningkat, kadar lemak dan kadar protein menurun. Sedangkan pada saat produksi susu menurun, kadar lemak dan kadar protein meningkat. Hubungan produksi susu dengan kadar lemak terjadi korelasi negatif, artinya pada saat produksi susu mencapai puncaknya, kadar lemaknya terendah. Proporsi produksi susu selama masa laktasi (10 bulan), pada bulan pertama, kedua dan seterusnya sampai bulan ke 10, masing-masing: 13%, 13%, 12%, 12%, 10%, 10%, 9%, 8%, 7% dan 6% total produksi.


Periode awal laktasi

Periode awal masa laktasi adalah masa yang paling kritis, terjadi pada saat mulai menghasilkan susu. Pada saat ini produksi susu naik dengan cepat sampai mencapai puncak produksi. Pada awal masa laktasi (bulan pertama dan kedua setelah beranak) proposi produksi susu masing-masing 13% total produksi selama masa laktasi (10 bulan)

Periode laktasi tengah

Pada periode laktasi tengah sapi harus dijaga supaya puncak produksi berlangsung selama mungkin (persistensi bagus). Masalah utama yang dapat terjadi dalam tahap ini adalah masalah menurunnya susu. Pada periode laktasi tengah meliputi bulan ke 3 s/d ke 6, proporsi produksi susu setiap bulannya masing-masing sekitar 12%, 12%, 10% dan 10% total produksi selama masa laktasi.

Periode laktasi akhir

Pada periode laktasi akhir produksi susu makin menurun, proporsi produksi susu pada bulan ke 7, ke 8, ke 9 dan ke 10 masing-masing 9%, 8%, 7% dan 6% total produksi selama masa laktasi.

Dari uraian tersebut di atas ada 3 petunjuk yang perlu diperhatikan pada tatalaksanan untuk sapi perah.

  • Pada periode laktasi permulaan, produksi susu secepatnya meningkat hingga jumlah tertinggi (bulan 1 -2).
  • Waktu puncak produksi dijaga agar berat badan sapi tidak turun.
  • Pada periode akhir sampai masa kering, badan sapi dijaga jangan sampai terlalu gemuk.

PERAWATAN SAPI KERING

Masa kering merupakan masa yang penting bagi sapi perah, maka perlu pemberian pakan dan perawatan yang tepat. Masa kering harus diartikan sebagai persiapan permulaan dimulainya masa laktasi baru, bukan sebagai akhir laktasi. Pengeringan mulai dilakukan 2 bulan sebelum sapi melahirkan atau sapi sudah bunting 7 bulan. Untuk pengeringan sapi ada 3 metode, yaitu:

  1. Intermittent milking, yaitu pengurangan frekuansi pemerahan secara bertahap, artinya semula sapi diperah dua kali sehari, kemudian diperah satu kali sehari. Selanjutnya pada hari berikutnya sapi diperah satu kali setiap dua hari, dan akhirnya pemerahan dihentikan.
  2. Incomplete milking, yaitu pada saat sapi akan dikeringkan dilakukan pemerahan dengan tidak sempurna. selanjutnya apabila produksi sudah menurun hanya tinggal beberapa  liter per harinya, kemudian pemerahan dihentikan.
  3. Abrupt cessation of milking. Metode pengeringan ini adalah yang terbaik, terutama bagi sapi pada waktu akan dikeringkan produksinya masih tinggi, dan  untuk menghindari agar sapi tidak kena mastitis. Caranya, tiga hari sebelum pengeringan dilakukan, semua pemberian konsentrat dihentikan dan pemberian hijauan dikurangi kira-kira tinggal setengah sampai dua pertiganya pemberian normal. Penurunan pakan baik kualitas maupun kuantitasnya akan berakibat penurunan produksi susu karena sekresi susu berkurang. Pada pemerahan terakhir, puting dibersihkan dan dicelupkan pada desinfektan untuk menghindari agar ambing tidak kemasukan bakteri. 

Perlunya sapi dikeringkan

  • Memulihkan kondisi sapi setelah memproduksi susu selama laktasi dan memberikan kesempatan kelenjar ambing untuk beristirahat. Sapi membutuhkan waktu 6 minggu untuk memulihkan kelenjar susu dan mengganti persediaan energi.
  • Sejak awal sampai akhir laktasi banyak kehilangan alveoli atau kelenjar susu. Itulah sebabnya mengapa produksi pada periode akhir laktasi turun. Saat dikeringkan sapi membuat alveoli kembali untuk memproduksi susu lebih banyak lagi pada laktasi berikutnya.
  • Sampai akhir laktasi sapi menggunakan hampir seluruh timbunan gizi (nutrisi) untuk menghasilkan susu, sehingga sapi harus menimbun nutrisi lagi untuk persiapan beranak dan laktasi berikutnya. Kondisi yang baik pada saat akan beranak, produksi susu akan labih banyak pada laktasi berikutnya dan segera akan mencapai puncak produksi.
  • Pemerahan selama masa laktasi akan menguras persediaan kalsium, fosfor dan mineral lainnya. Jumlah dan keseimbangan mineral yang tidak tepat dapat menyebabkan milk fever dan masalah lain.
  • Memberi kesempatan pertumbuhan pedet sebelum lahir, lebih dari separo janin berkembang 2 bulan sebelum lahir.
  • Menghasilkan kolostrum untuk pedet yang akan dilahirkan.


Minggu, 06 Desember 2015

Cara Merawat Sapi Dara

Setelah sapi dara umur 12 bulan akan tumbuh baik apabila hijauan yang diberikan secara bebas dan berkualitas baik. Jadi perlu diusahakan sebelum umur 12 bulan sapi dara harus memiliki nafsu makan hijauan yang kuat, rumen sehat dan kuat. Apabila pakan yang diberikan baik, sapi dara menunjukkan birahi pertama sekitar 9-10 bulan. Adakalanya apabila pakan kurang baik sapi tidak menunjukkan birahi sampai umur 20 bulan atau lebih. Setelah berumur 12 bulan meskipun menunjukkan tanda birahi belum cukup umur untuk dilakukan IB. Target IB akan dilakukan pada umur 15 bulan apabila berat sudah mencapai 800-850 lb (375 kg) untuk sapi FH, dan 575-625 lb (270 kg) untuk sapi Jersey. Pencatatan reproduksi harus dilakukan mulai birahi pertama, sehingga dapat dideteksi perkiraan birahi berikutnya. Setelah sapi umur 12 bulan dapat mengkonsumsi rumput lebih banyak dengan kualitas yang baik, pertumbuhannya juga akan lebih baik. Salah satu hambatan kualitas rumput di daerah tropis tidak akan sebaik di daerah subtropis, sehingga pakan sapi umur di atas 12 bulan perlu ditambah konsentrat sekitar 1 kg/ 100 kg berat badan/ekor/hari. Kalau jumlah hijauan yang diberikan secara bebas dan kualitasnya baik, jumlah konsentrat yang diberikan dukurangi agar sapi dara tidak terlalu gemuk.


Apabila sapi dara sudah berumur 15 bulan, beratnya sekitar 350 kg, dan mununjukkan tanda-tanda kawin, yaitu kelaminnya merah, bengkak, mengeluarkan slem, gelisah, menaiki temannya atau kalau dinaiki temannya diam (standing heat) dan tidak mau makan, maka sapi dapat dikawinkan.

Pemberian pakan beberapa bulan menjelang melahirkan.

Beberapa bulan menjelang melahirkan, pemberian pakan konsentrat ditingkatkan untuk menjaga kebuntingan. Apabila hijauan yang diberikan kurang baik, konsentrat yang diberikan sekitar 3-4 kg/ekor/hari. Apabila hijauan yang diberikan kualitasnya baik, maka konsentrat yang diberikan sekitar 2-3 kg/ekor/hari. Agar perototan sapi menjadi kuat, maka sapi bunting perlu diumbar.

Pemberian pakan beberapa mingu sebelum kelahiran

Selama 2-3 minggu sebelum melahirkan sapi dara perlu diberi pakan konsentrat lebih banyak agar kebutuhan nutrisi tercukupi sewaktu sapi melahirkan. Penambahan pemberian pakan konsentrat 2-3 minggu sebelum melahirkan disebut challenge feeding atau lead feeding. Lama kebuntingan sapi Holstein dan Jersey rata-rata 278-279 hari, Guernsey 283-284 hari dan Brown Swiss 288-290 hari.

Sabtu, 05 Desember 2015

Cara Merawat Pedet (Anak Sapi) Setelah Disapih sampai Umur 12 Bulan

Mulai umur 2 bulan sampai 3 bulan pemberian susu dihentikan (disapih). Pada umur 3 bulan sampai 6 bulan, pakan formula (calf starter) mulai diganti pakan formula lain (konsentrat) dengan komposisi: PK 16%,  TDN 70%. Penggantian makanan formula (calf starter) dengan formula lain (konsentrat) dibatasi maksimum 2 kg/ekor/hari. Rumput yang diberikan dapat dimulai dengan rumput segar yang baik secara bertahap. Pedet mulai umur 3 bulan dapat dikeluarkan dari kandang untuk melakukan gerak badan di tempat terlindung (catatan: apabila pedet semasa kecilnya diikat, maka pertumbuhannya akan terhambat dan kaki serta badannya sampai dewasa akan lemah). Setelah pedet umur 3 bulan, sebaiknya ditempatkan di kandang kelompok (group pen) agar terjadi persaingan dalam makanan. Sebaiknya jumlah pedet di dalam kandang kelompok dibatasi paling banyak 5 ekor dan umur serta besarnya pedet diusahakan hampir sama. Penempatan pedet di dalam kandang berkelompok hendaknya dipisahkan antara pedet jantan dan betina, karena pedet jantan umumnya lebih kuat dalam perebutan pakan.


Pemberian pakan pedet umur 5-6 bulan, pakan formula (konsentrat) dibatasi maksimum 2 kg/ekor/hari. agar pedet mau makan rumput sebanyak-banyaknya (rumen dapat berkembang). Rumput yang diberikan dapat berupa rumput segar yang baik secara bebas.
Pedet umur 7-12 bulan, rumput segar yang baik diberikan secara bebas dan konsentrat diberikan tidak lebih dari 2 kg/ekor/hari agar pedet mau makan rumput sebanyak-banyaknya dan pedet tidak menjadi gemuk.

Apabila pertumbuhan pedet sejak disapih umur 2 – 12 bulan  dibanding dengan data pedoman pertumbuhan sapi Holstein (sumber data: Junior Holstein Heifer Project) Amerika ternyata sapi dara umur 12 bulan  beratnya lebih rendah daripada data. Hal ini salah satu sebab diduga karena perbedaan berat lahir pedet. Tabel 4.3 rata-rata berat pedet 33,5 kg, sedangkan rata-rata berat lahir sapi Holstein di Amerika di atas 40 kg.

Jumat, 04 Desember 2015

Cara Pemberian Pakan Sapi Perah

Pemberian makanan pada sapi perah yang perlu diperhatinkan selain jumlahnya juga kandungan nutrisinya harus sesuai kebutuhan. Karena itu makanan yang diberikan dibedakan menjadi: 
  • makanan sapi sedang tumbuh
  • makanan sapi laktasi
  • makanan sapi kering
  • makanan tantangan.

Makanan sapi sedang tumbuh

Makanan pedet dibedakan:
  • Pedet sejak lahir sampai umur 5-6 hari (paling sedikit 3 hari), pedet harus mendapat kolostrum
  • Pedet sejak lepas kolostrum sampai disapih, makanan yang diberikan selain susu atau pengganti susu, juga harus diberi calf starter (makanan konsentrat formula untuk pedet), hijauan dan air minum (apabila pedet sudah lahap makan calf starter). 
  • Pedet setelah disapih sampai umur satu tahun dan sapi dara sebelum dan sesudah bunting. Pakan yang diberikan berupa konsentrat, hijauan dan air minum secara bebas.

Makanan sapi laktasi

Nutrisi yang dibutuhkan oleh sapi laktasi harus mempunyai beberapa informasi sebagai berikut: 1) kondisi dan berat badan sapi, 2) produksi susu, 3) kadar lemak susu, 4) tanggal beranak atau lama laktasi (hari), 5) lama kebuntingan (bulan), 6) jenis dan komposisi makanan misalnya bahan kering, protein kasar, TDN dan sebagainya.
Setelah sapi beranak, pada awal laktasi produksi susu meningkat dengan cepat sampai mencapai puncaknya. Pada periode laktasi pertengahan, produksi susu sudah mulai menurun sampai akhir laktasi. Produksi susu pada saat mulai menurun hendaknya diusahakan tidak menurun dengan tajam. Pada saat ini hendaknya diusahakan sapi sudah bunting. Agar waktu puncak produksi dapat dicapai, berat sapi tidak turun, dan pada akhir masa laktasi sampai masa kering sapi tidak terlalu gemuk, upaya yag dilakukan adalah mengatur konsumsi bahan kering. Standar pemberian bahan kering pada seekor sapi perah laktasi sekitar 2,5-3% berat badan. 


Tahap I (awal laktasi)
Setelah sapi melahirkan sampai 70 hari merupakan masa yang paling kritis karena pada saat ini sapi mulai memproduksi susu. Empat sampai enam minggu setelah sapi beranak, produksi susu akan naik dengan cepat sampai mencapai puncak produksi 70 hari setelah sapi beranak. Pada tahap I  setelah sapi beranak terjadi penurunan berat tubuh. Agar berat tubuh tidak turun drastis, pemberian konsentrat dinaikkan 0,5-1 kg per hari, tetapi konsentrat yang kita berikan jangan sampai berlebihan (65% di atas total bahan kering) dan kandungan serat kasarnya dalam ransum harus di atas 15% untuk pemeliharaan fermentasi di rumen.
Pemberian ekstra 0,5 kg konsentrat (1 kg kedelai + bahan lain) bagi setiap 5 liter susu yang dihasilkan oleh sapi yang produksi susunya 25 liter per hari akan lebih efisien karena biasanya pada saat produksi meningkat, sapi kehilangan berat badan karena ketidakseimbangan energi. Jumlah  dan kualitas hijauan yang diberikan pada saat itu akan mempengaruhi pemberian protein. Apabila pemberian nutrisi tidak seimbang dapat berakibat puncak produksi susu selama lakasi rendah. Jika konsentrat yang dikonsumsi meningkat terlalu cepat atau terlalu tinggi maka kemungkinan sapi akan menderita off feed dan displaced abomasum (perut muntir). Saran-saran untuk meningkatkan nutrisi yang dikonsumsi pada tahap 1 adalah:
  • Kualitas hijauan harus tinggi
  • Berikan protein alami
  • Tingkatkan pemberian konsentrat secara tetap setelah beranak
  • Gunakan konsentrat berenergi tinggi
  • Kurangi situasi stres


Tahap II (puncak konsumsi bahan kering)
Sepuluh minggu ke 2 (minggu 10-20) setelah beranak sapi harus dijaga supaya puncak produksi berlangsung selama mungkin.(tahap II) terlihat pada 12-14 minggu setelah beranak, sapi akan mengkonsumsi bahan kering terbanyak. Konsentrat yang dimakan dapat mencapai 2,5% berat abdan sapi (sapi berat 650 kg membutuhkan 16 kg konsentrat). Bahan kering hijauan yang dimakan paling sedikit 1% berat badan sapi, hijauan tersebut digunakan untuk memelihara fungsi rumen dan tes lemak.

Masalah utama: Pada tahap II dapat terjadi masalah menurunnya produksi susu, tes lemak rendah, birahi tidak terdeteksi, tidak terlihat birahi (anestrus)

Saran-saran:
Untuk menaikkan nutrisi yang dikonsumsi ikutilah saran-saran sebagai berikut:
  • Dua sampai tiga bulan setelah sapi melahirkan apabila ada tanda-tanda minta kawin, sapi dikawinkan agar jarak beranak (calving interval) dapat diatur satu tahun.
  • Berilah hijauan dan konsentrat beberapa kali sehari
  • Berilah makanan terbaik.
  • Batasi pemberian urea menjadi 2 kg per 100 kg konsentrat
  • Kurangi situasi stres

Tahap III ( pertengahan dan akhir laktasi)
Pada pertengahan dan akhir laktasi yaitu pada hari ke 140-305 setelah sapi beranak, sebagian besar sapi hanya mengalami sedikit masalah. Produksi susu mulai menurun, sapi diharapkan sudah bunting. Sesuaikan pemberian konsentrat dengan produksi susunya. Sapi yang kehilangan berat badannya pada awal laktasi harus diberi nutrisi ekstra untuk menggantikan cadangan dalam tubuhnya, jangan menunggu sampai sapi mengalami masa kering. Pada saat itu apabila sapi masih muda berumur 2 tahun diberi 20% atai lebih sebagai tambahan pertumbuhan. Sapi berumur 3 tahun tambahan untuk pertumbuhan 10% lebih. Produksi susu hendaknya tidak menurun dengan tajam. Penurunan produksi susu 8-10% dari bulan sebelumnya adalah normal.

Tahap IV (masa kering)
Masa kering dilakukan 6-8 minggu (2 bulan) sebelum laktasi berikutnya. Walaupun kebutuhan nutrisi tidak tinggi, tetapi masa ini merupakan masa yang kritis bagi sapi kering. Kesalahan yang terjadi pada masa kering dapat mempengaruhi produksi susu pada masa laktasi berikutnya. Sapi membutuhkan makanan yang cukup untuk pertumbuhan janin dan persediaan kebutuhan  tubuh. Bahan kering yang dikonsumsi hendaknya 2% dari berat badannya. Konsumsi bahan kering hijauan sebanyak 1% dari berat badannya, maka konsumsi bahan kering konsentrat tidak boleh lebih dari 1% berat badan. Dua sampai tiga minggu sebelum sapi melahirkan, sapi diberi makanan tantangan (challenge feeding).

Masalah utama yang terjadi pada masa kering ini adalah milk fever, displaced abomasum dan sindrom sapi kegemukan. Sindrom sapi kegemukan sering terjadi pada sapi yang kondisi tubuhnya kegemukan, sehingga hati berlemek dan nafsu makan berkurang dan sapi cenderung mudah terkena penyakit dan kesalahan metabolisme.

Perawatan yang disarankan:
  • Batasi pemberian makanan tantangan (tambahan konsentrat sebelum beranak). Paling banyak berikan 1% dari berat tubuh sapi.
  • Kebutuhan nutrisi harus seimbang (energi, protein, mineral dan vitamin)
  • Tentukan apakah sapi membutuhkan konsentrat.
  • Hindarkan pemberian energi dan kalsium yang berlebihan.

Cara memberi konsentrat

Sampai saat ini masih banyak peternak sapi perah memberikan pakan konsentrat dicampur air secara berlebihan, terkesan sapinya dipaksa minum sebanyak-banyaknya sehingga perut sapi menjadi besar. Perlakuan yang demikian itu kurang baik karena makanan konsentrat yang dicampur air akan merangsang menutupnya saluran rumen. sehingga makanan akan langsung masuk omasum. Jadi makanan konsentrat kurang dapat dimanfaatkan (pencernaan konsentrat kurang sempurna kerena tidak melalui rumen), karena makanan konsentrat yang dicampur dengan air berlebihan langsung ditelan masuk omasum tanpa adanya proses pengunyahan kembali (remastikasi). Agar sapi mau makanan kering sebaiknya dibiasakan sejak pedet, yaitu sejak pedet diberi pakan formula berupa calf starter atau berupa pakan konsentrat dan diberikan dalam bentuk kering.

Cara memberi air minum

Sapi perah akan menderita lebih parah apabila kekurangan air daripada kekurangan gizi yang lain. Hilangnya 10% air tubuh, sapi akan mengalami kematian. Jumlah air yang dibutuhkan oleh sapi perah bervariasi. beberapa faktor yang mempengaruhi konsumsi air bagi seekor sapi adalah: 1) umur, 2)berat badan, 3) produksi susu, 4) panas dan kelembaban udara (cuaca) dan 5) jenis ransum pakan. Intensitas produksi juga mempengaruhi air yang dibutuhkan. Seekor sapi  yang tidak dalam masa laktasi akan minum air sebanyak 40 liter. Saat sapi memproduksi susu 10-25 liter, kebutuhan air akan naik sampai 75 liter. Jika produksi susu mencapai 35 liter per hari, maka air yagn diminum hampir 90 liter. Pada umumnya sapi membutuhkan 3-4 liter air untuk menghasilkan 1 (satu) liter susu. Sebaiknya air minum diberikan secara bebas.

Makanan sapi kering

Masa kering merupakan suatu masa yang paling penting bagi sapi perah dalam arti pemberian makan dan perawatan yang tepat. Masa kering harus diartikan sebagai permulaan dimulainya masa laktasi baru, bukan sebagai akhir laktasi. Perawatan sapi kering yang efektif dapat menaikkan kondisi dan kapasitas produksi.

Berilah hijauan yang berkualitas tinggi pada awal sapi dikeringkan sampai 3 minggu masa kering. Enam minggu sebelum beranak, mulailah memberikan konsentrat dua kali sehari.Jumlah konsentrat yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi sapi dan kualitas hijauan. Pemberian makanan bervariasi bagi setiap ekor sapi per hari, yaitu 1,5-9 kg, tergantung jumlah dan kualitas hijauan yang diberikan.

Ransum konsentrat khusus bagi sapi kering dapat diberikan selama masa kering. Ransum konsentrat ini mengandung protein 2-4% lebih rendah daripada ransum konsentrat bagi sapi laktasi. Sangat disarankan untuk memberikan ransum sapi kering. Jumlah kalsium (Ca) dan fosfor (P) harus seimbang (antara 1:1 atau 2:1)

Banyak peternak berhasil setelah mereka mengikuti pemberian makanan tantangan. Sapi-sapi itu mengkonsumsi 1-1,5 kg konsentrat untuk tiap 100 kg berat tubuhnya, kira-kira 2-3 minggu sebelum beranak sampai sapi beranak. Pemberian makanan tantangan sebelum sapi beranak akan membantu rumen, nafsu dan kebiasaan makan, dan sapi akan menyesuaikan makanan tersebut sebelum beranak. Sapi yang beranak dalam kondisi yang baik akan memulai dan memelihara produksi yang lebih tinggi dan kasus milk fever dapat diperkecil.

Enam puluh hari masa kering merupakan hari-hari terpenting dalam hidup sapi. Bayak orang berpikir bahwa  masa kering diantara masa laktasi adalah non produktif. Tetapi pada kenyataannya sapi itu sangat produktif karena sangat menentukan banyaknya susu yang akan dihasilkannya. Perawatan sapi yang kurang baik selama pengeringan dapat mengakibatkan setelah beranak produksi susu rendah dan dapat terjadi gangguan metabolisme seperti milk fever.

Perawatan sapi selama kering selain menentukan tingginya produksi susu setelah melahirkan juga menentukan pertumbuhan janin, karena janin tumbuh tiga kali selama masa pengeringan. Selama masa kering sapi juga memperbaiki kelenjar susu.

Makanan Tantangan

Makanan tantangan (challenge feeding atau lead feeding) adalah makanan yang diberikan pada sapi kering (akhir kebuntingan) dan pada sapi laktasi (awal laktasi) sehingga sapi dapat mencapai produksi maksimum pada awal laktasi, tanpa dibatasi oleh kurangnya persediaan energi unutk produksi saat itu.

Cara memberi makanan tantangan
  • Dua atau tiga minggu sebelum beranak, berilah konsentrat sebanyak 1,5 kg per hari. Kemudian tambahkan 0,5 kg konsentrat setiap harinya sampai sapi itu mengkonsumsi 1,0 – 1,5 kg konsentrat per 100 kg berat badan sapi. Jadi untuk sapi seberat 550 kg memerlukan 5-8 kg konsentrat per hari. Penambahan konsentrat sebelum beranak akan memberikan kesempatan pada sapi beranak atas kenaikan energi yang dimakan.
  • Setelah sapi beranak, tambahkan konsentrat sampai sapi mencapai produksi susu maksimum, hal ini dapat dicapai kira-kira dalam waktu 3-6 minggu setelah sapi beranak.
  • Setelah sapi beranak 2 minggu, sesuaikan pemberian konsentrat menurut produksinya.
  • Untuk masa sisa laktasi, sesuaikan pemberian jumlah konsentrat menurut berat susu yang dihasilkan tiap bulannya. Teruskan menambah konsentrat 0,5 kg sampai hasil produksi susu tambahan tidak dapat menutup harga konsentrat.

Sapi akan memberikan reaksi terbaik pada saat awal laktasi. Saat ada kemajuan dalam masa laktasi, jadwal pemberian konsentrat harus dilihat kembali, paling tidak satu bulan satu kali dan sesuaikan dengan biaya yang dikeluarkan. Seperti yang kita harapkan, sebagian sapi akan memberikan reaksi yang lebih besar terhadap pemberian konsentrat yang banyak daripada sapi-sapi yang lain. Bagi sapi yang tidak memberikan reaksi terhadap konsentrat yang diberikan, hendaknya kita mengurangi konsentrat sampai tingkat pemberian konsentrat sesuai dengan harga kelebihan susu yang dihasilkan. Beberapa peternak menyatakan bahwa mereka mengalami kenaikan produksi 900 liter per ekor, bahwa dengan mengurangi hijauan dan menambah konsentrat keuntungan dapat mencapai lebih dari 2.000 liter per laktasi.

Keuntungan pemberian makanan tantangan.
Apabila kita bandingkan dengan metode kuno yaitu, 0,5 kg konsentrat untuk tiap 1,5 – 2 liter susu yang dihasilkan, keuntungannya adalah:
  • Memberikan kesempatan pada mikroorganisme ruminan sapi yang menyesuaikan dengan kandungan konsentrat yang tinggi sebelum beranak.
  • Sapi  makan konsentrat yang tinggi sebelum dan sesudah beranak.
  • Menyediakan energi berlimpah untuk sapi pada saat ia membutuhkannya pada awal laktasi. Oleh sebab itu makanan ini menantang untuk berproduksi semaksimal mungkin.
  • Akibat puncak produksi susu yang tigngi cenderung tetap bertahan sepanjang siklus produksi (persistensi bagus)
  • Membantu memelihara berat tubuh.
  • Menghindari makanan yang tidak ekonomis karena pemasukan energi ditentukan oleh kemampuansapi untuk bereaksi.

Kerugian pemberian makanan tantangan.
  • Pemberian konsentrat yang tinggi sebelum sapi beranak, cenderung mengakibatkan sapi menderita pengerasan ambing (udder udema). Walaupun dengan pengontrolan belum dapat menyokong kasus ini, mereka telah memperlihatkan bahwa tidak ada perbedaan dalam kasus ini, antara sapi yang diberi konsentrat tinggi dan sapi yang diberi konsentrat sedikit sebelum beranak.
  • Produksi tinggi yang diakibatkan pemberian konsentrat tinggi akan menyebabkan kasus mastitis tinggi pula. Hal ini adalah benar, ransum konsentrat tinggi akan menyebabkan ambing menegang, sehingga mastitis kronis akan timbul karena ambing menegang secara berlebihan. Walaupun tingkat pemberian konsentrat tidak menyebabkan mastitis, tetapi kemungkinan sudah ada tanda-tanda mastitis di ambing sebelumnya.
  • Tidak semua sapi memperlihatkan perubahan terhadap pemberian konsentrat yang tinggi untuk menaikkan produksi, sehingga beberapasapi terlalu banyak diberi konsentrat sehingga merupakan pemborosan.
  • Pemberian makanan tantangan lebih menguntungkan apabila harga konsentrat lebih menguntungkan daripada harga hijauan. Adakalanya pada saat harga konsentrat tinggi, tidak ekonomis memberikan konsentrat tinggi. Kita lebih untung dengan memberi pakan hijauan berkualitas tinggi. Di sini yang penting bukan produksi tinggi, tetapi memperoleh keuntungan tinggi.


Kamis, 03 Desember 2015

Cara Merawat anak sapi (pedet) Sejak Lahir Sampai Disapih

Kematian sapi perah tertinggi adalah selama masih pedet sejak lahir sampai umur 3 bulan mencapai 20%. Agar kematian pedet dapat dikurangi, dan pedet tumbuh menjadi sapi yang baik, selain diusahakan pedet waktu lahir harus sehat dan kuat, maka perawatan pedet dapat dimulai sejak pedet masih di dalam kandungan dalam bentuk janin (fetus). Lebih dari 50% pertumbuhan janin dialami selama beberapa minggu akhir kebuntingan. Pada saat itu pertumbuhan janin sangat cepat, yaitu 3 – 4 kali lebih cepat dari pertumbuhan sebelumnya. Agar pedet dapat dilahirkan sehat dan kuat maka 6-8 minggu (dua bulan) sebelum kelahiran, pemerahan dihentikan (dikeringkan) dan 2-3 minggu sebelum melahirkan dilakukan challenge feeding program, yaitu ternak diberi pakan tambahan konsentrat untuk persiapan kelahiran, serta hijauan yang diberikan berkualitas tinggi agar induk setelah melahirkan menghasilkan kolostrum sebagai sumber protein (antibodi) serta vitamin A dan D untuk pedetnya


Bagaiman caranya untuk dapat mencapai tujuan tersebut?. Tahapan-tahapan pemeliharaan induk dan anaknya yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut:

Persiapan Sebelum Pedet Lahir
Satu minggu sebelum sapi melahirkan, cuci kotoran yang melekat pada ambing dan masukkan sapi ke dalam kandang yang sudah disucihamakan dan diberi alas jerami kering pada lantainya. Usahakan di dalam kandang bebas dari benda-benda tajam yang berbahaya bagi induk maupun anak yang akan dilahirkan. Jaga agar supaya sapi dapat beristirahat dengan tenang.

Perawatan Pedet Setelah Lahir
Setelah pedet lahir dilakukan tindakan sebagai berikut:
  • Secepatnya pedet dipindah di tempat yang aman dan diberi alas jerami atau rumput kering yang bersih.
  • Segera bersihkan lendir yang ada di hidung dan mulut pedet.
  • Periksalah apakah pedet sudah dapat bernafas. Apabila belum dapat bernafas, dapat dibantu dengan nafas buatan yaitu dengan menekan pada bingkai dada berkali-kali atau menggerak-gerakkan/ mengangkat kaki depan. Adakalanya pernafasan itu terganggu adanya lendir yang terdapat di dalam mulut dan tenggorokan, maka lidah ditarik keluar dan lendir dikeluarkan dari mulut dan tenggorokan dibersihkan dengan jari telunjuk.
  • Setelah pedet dapat bernafas, tindakan selanjutnya adalah mengoleskan/memasukkan larutan iodin 7% ke dalam potongan tali pusar agar badan pedet tidak kemasukan bibit penyakit melalui tali pusar (biasanya tali pusar sudah putus dengan sendirinya sewaktu dilahirkan) Apabila tali pusar pedet terlalu panjang, dapat dipotong panjangnya sekitar 5-7 cm. Kalau tali pusar terjadi pendarahan dapat dicegah dengan cara diikat.
  • Biarkan induk menjilati anaknya, agar jilatannya lebih kuat, taburkan garam dapur di tubuh pedet. Jilatan induk ini akan membantu lancarnya pernafasan dan merangsang sirkulasi darah. Apabila induk tidak mau menjilati anaknya, bersihkan lendir pada tubuh pedet dengan kain lap bersih dan kering dengan digosokkan sampai seluruh permukaan tubuh pedet kering.
  • Tahap selanjutnya, pedet dipindah di kandang observasi (observation pen). Waktu memindahkan pedet ke kandang pedet sebaiknya diusahakan agar induknya tidak mengetahui dimana anaknya ditempatkan agar induk segera melupakan anaknya.

Syarat Kandang Pedet
  1. Sebaiknya kandang pedet dibuat individu (satu kandang untuk satu pedet) agar sehabis diberi minum susu tidak saling menyundul sehingga tidak terjadi hair ball (bola bulu).
  2. Sirkulasi udara dan cahaya matahari yang cukup sehingga lantai kandang selalu kering.
  3. Kandang pedet sebaiknya dibuat mudah dibersihkan, mudah mengontrol kesehatan pedet, mudah memberi pakan, mudah menjaga penyakit infeksi, mencret serta perawatan lainnya.

Pemberian Kolostrum pada Pedet
Apabila pedet lahir sehat dan kuat biasanya 30-60 menit setelah lahir sudah dapat berdiri. Pedet waktu lahir tidak memiliki kekebalan untuk  melawan penyakit. Oleh karena itu agar pedet setelah lahir dapat melawan penyakit, 30-60 menit setelah lahir pedet segera diberi minum kolostrum. Kolostrum adalah susu yang dihasilkan oleh sapi setelah melahirkan sampai sekitar 5-6 hari. Kolostrum sangat penting untuk pedet setelah lahir karena kolostrum mengandung zat pelindung atau antibodi (gama glubolin) yang dapat menjaga ketahanan tubuh pedet dari penyakit yang berbahaya. Pedet biasanya diberi kolostrum segar paling sedikit 3 hari. Pembrian kolostrum seawal mungkin sangat penting. Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa semakin cepat pemberian kolostrum semakin cepat kolostrum masuk ke dalam abomasum intestinum. Selanjutnya antibodi segera diserap dan antibodi masuk ke dalam darah pedet dan secepatnya pedet dapat mencegah atau melawan penyakit. Antibodi dapat diserap melalui dinding usus hanya selama 24 jam sampai 36 jam pertama kehidupan sejak dilahirkan. Jumlah terbanyak antibodi yang dapat diserap adalah dalam 1 (satu) jam pertama sebanyak 50% antibodi yang ada di dalam kolostrum. Pada 20 jam berikutnya efisiensi penyerapan antibodi hanya 12%. 
Setelah 24 jam sampai 36 jam atau setelah menelan bakteri atau bahan asing lainnya, permukaan usus akan kehilangan kemampuan untuk menyerap antibodi. Oleh karena itu penting sekali memberi kolostrum pada jam pertama kelahiran dengan peralatan yang bersih.

Kolostrum selain penting bagi pencegahan penyakit (terutama pada awal kehidupan setelah dilahirkan), juga merupakan makanan yang nilai gizinya lebih tinggi dari susu normal. Kolostrum mengandung lebih banyak protein (terutama dalam bentuk laktoglobulin atau gama globulin), lemak, mineral  dan vitamin-vitamin dari pada susu normal. Kolostrum juga mengandung laktosa yang lebih rendah dari susu normal. Hal ini sangat berguna karena kandungan laktosa yang tinggi dapat menyebabkan pedet menderita diare/mencret.

Komposisi Kolostrum
  1. Kolostrum mengandung vitamin A 10-100 kali dan zat besi (Fe) 12-15 kali lebih banyak daripada susu normal dan dapat disimpan di dalam hati. Ini sangat penting karena pedet waktu lahir mengalami kekurangan vitamin A dan Fe.
  2. Kolostrum mengandung vitamin D kira-kira 3 kali lebih banyak dari susu normal.
  3. Kolostrum mengandung protein 4-7 kali lebih banyak dibanding susu normal (terutama dalam bentuk gama glubolin atau laktoglubolin atau antibodi). Antibodi alami yang ada di kolostrum tidak ada tandingannya dibanding dengan klostrum buatan manusia.
  4. Kolostrum bersifat laxan, yaitu dapat membantu mengeluarkan kotoran hitam lengket yang dinamakan "tahi gagak" (meconium) yang tertimbun di usus halus, dimana pada waktu pedet lahir merupakan tumpukan kotoran tempat berkembangbiaknya bermacam-macam bakteri yang harus segera dikeluarkan. Apabila pedet setelah lahir tidak mendapat kolostrum, maka sulitlah untuk dapat mempertahankan hidupnya. Sebagian besar mendapat infeksi bakteri secara besar-besaran dan dengan cepat dapat menyebabkan septicaemia (infeksi darah)yang fatal. Anak sapi yang demikian meskipun masih tahan hidup, umumnya akan sakit-sakitan dan diakhiri dengan kematian. 

Jika sapi induk setelah melahirkan tidak menghasilkan kolostrum karena sakit atau mati setelah melahirkan, maka untuk menanggulangi biasanya peternak menyimpan sebagian kolostrum segar hasil perahan pertama dari sapi lain yang disimpan di dalam almari pendingin (dibekukan) guna cadangan kalau-kalau ada anak sapi lain yang tidak mendapat kolostrum dari induknya. Penyimpanan kolostrum dalam bentuk beku, sebaiknya tidak lebih dari 4-6 bulan. Apabila pembekuan kolostrum segar tidak memungkinkan, dapat ditempuh dengan meminta dari tetangganya yang mempunyai sapi yang beranaknya bersamaan. Jika terpaksa tidak ada kolostrum sama sekali, terpaksa anak sapi yang baru lahir diberi minum kolostrum buatan.
Umumnya sapi perah setelah melahirkan menghasilkan kolostrum lebih banyak daripada yang diperlukan anaknya. Karena kolostrum sampai hari ke 5 setelah melahirkan tidak dapat dijual (karena kalau direbus menggumpal), maka kelebihan kolostrum tersebut dapat langsung diberikan pada pedet lain yang umurnya lebih tua atau disimpan pada suhu kamar, dan terjadi proses fermentasi akan menghasilkan susu asam (kolostrum asam) dapat menghambat perkembangan bakteri susu sehingga kolostrum akan tahan lama. Cara membuat kolostrum asam secara sederhana,  setiap ember dicampur dengan kelebihan kolostrum hari sebelumnya dan disimpan pada tempat yang terlindung dari cahaya matahari. Lakukan pengadukan setiap hari satu sampai dua kali. Fermentasi susu asam secara alamiah sebaiknya digunakan sampai 2-3 minggu.

Pemberian Kolostrum Sejak Lahir sampai Umur 3 (tiga) Hari.
Pemberian kolostrum hari pertama
Hasil penelitian menunjukkan hampir 93% pedet yang dilahirkan tidak memiliki kekebalan untuk melawan penyakit pada waktu lahir, karena pada waktu pedet lahir tidak mendapat bekal antibodi dari induknya. Antibodi diperoleh dari kolostrum merupakan sumber antibodi bagi pedet yang baru lahir. Penelitian menunjukkan bahwa "jumlah" dan " waktu" pemberian kolostrum sangat penting untuk mencegah penyakit. Makin awal pedet mendapat kolostrum akan lebih baik, tetapi umumnya pedet mau minum kolostrum sekitar 30 menit – 1 jam setelah lahir. Apabila hasil pemerahan pertama cukup jumlahnya, sebaiknya pemberian pertama pada hari pertama 30 menit – 1 jam setelah lahir pedet diberi kolostrum sebanyak sekitar 5% berat badan pedet. Apabila berat lahir 40 kg, kolostrum yang diberikan sekitar 2 liter. Pemberian kolostrum kedua dengan jumlah yang sama diberikan 12 jam kemudian.
Sebaiknya dianjurkan agar pedet setelah lahir (setelah dijilati induknya atau setelah dikeringkan) segera dipisah dengan induknya, ditempatkan dikandang yang mudah dikontrol kesehatannya (kandang observasi = observation pen) yang telah disiapkan. Pemberian kolostrum yang pertama dengan menggunakan ember atau botol diberi dot atau menggunakan ember terbuka (nipple pail, nipple bottle, open pail), atau ember yang diberi selang plastik. Usahankan peralatan di atas dijaga kebersihannya, akan lebih baik selain bersih juga disediakan tempat minum pada masing-masing pedet. Hal ini untuk melindungi dari pencemaran penyakit, lebih-lebih pada pemberian hari pertama, karena apabila tempat minum kotor berakibat kotoran atau bakteri akan menutup permukaan usus sehingga menghambat penyerapan antibodi. Cara melatih pedet minum kolostrum yang pertama apabila menggunakan ember terbuka perlu kesabaran, caranya mula-mula pedet dibiarkan menjilat atau menghisap jari telunjuk yang dibasahi kolostrum. Selanjutnya jari telunjuk yang diisap-isap, perlahan-lahan dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam ember yang berisi kolostrum sehingga mulut pedet masuk ke dalam kolostrum dan dibiarkan beberapa menit mengisap-isap jari telunjuk dan kolostrum turut terserap sedikit-sedikit. Kemudian jari telunjuk perlahan-lahan dilepas dari mulut pedet. Perlakuan demikian itu perlu diulang-ulang sehingga akhirnya pedet mau minum kolostrum dari ember tanpa bantuan lagi, atau dengan botol yang diberi selang karet lunak 

Pemberian kolostrum pada hari ke 2 dan ke 3.
Kolostrum harus diberikan paling sedikit selama 3 hari setelah kelahiran. Sesuai Tabel 4.1. menunjukkan bahwa kandungan zat pelindung atau antibodi pada hari ke 2 dan 3 sangat menurun (1,0%) dan kemampuan usus menyerap zat pelindung atau antibodi (Grafik 4.1.) semakin mendekati 0%. Pemberian kolostrum pada hari ke 2 dan 3 diberi sekitar 8-10% berat badan  per hari atau sekitar 4 liter per hari dan segera diberikan sehabis pemerahan (masih hangat). Frekuensi pemebrian sebaiknya tiga kali sehari, karena apabila diberikan satu kali sehari akan memberatkan perut pedet yang bisa menyebabkan pertumbuhan lambat karena kemungkinan pedet diare/mencret.

Cara Membuat Kolostrum Buatan
Di muka telah dikatakan bahwa kolostrum alami mutunya tidak akan ditandingi kolostrum buatan manusia. Kolostrum buatan sekali minum terdiri campuran ½ liter susu murni + 1 sendok teh minyak ikan + 1 sendok teh kastroli + 1 telur yang dikocok di dalam ¼ liter air hangat. Pemberian kolostrum buatan diberikan 3 kali sehari selama 3-4 hari.

Pemberian Pakan pada Pedet (hari ke 4 sampai disapih)
Sampai umur satu mingu pada dasarnya pedet bukan  ternak pemamah biak (ruminansia), melainkan ternak yang berperut sederhana. Apabila dibandingkan dengan sapi dewasa, rumen, retikulum dan omasum pedet belum berkembang, sedangkan abomasum merupakan bagian yang terbesar (70%) dari total alat pencernaan. Susu yang diminum tidak melalui rumen, tetapi langsung dari mulut ke abomasum melalui esophageal groove. Esophageal groove adalah saluran yang mencegah susu atau susu pengganti agar tidak masuk ke rumen, karena pada saat itu makanan yang dikonsumsi berupa makanan cairan (susu), maka makanan akan masuk osephagus dan selanjutnya masuk ke abomasum dan diserap oleh intestinum. Rumen akan tetap tidak berkembang sampai konsentrat atau hijauan belum diberikan pada pedet. Agar rumen segera berfungsi, dianjurkan setelah pedet berumur sekitar satu minggu, pedet dilatih makan pakan kasar berupa calf starter dan hijauan tersebut masuk ke rumen dan dicerna oleh bakteri yang ada dalam rumen, dan selanjutnya akan merangsang perkembangan rumen. Apabila pedet diberi konsentrat dan hijauan sejak umur satu minggu, maka rumen akan berfungsi secara penuh setelah pedet berumur 2-3 bulan, volume remen sekitar 70% dari volume alat pencernaan. Pada saat dewasa volume rumen bisa sampai 80% dan abomasum hanya sekitar 7%. 
Pakan pedet hari ke 4 sampai disapih pada dasarnya ada 4 pilihan makanan: 
1) susu murni, 
2) kolostrum asam,
3) susu pengganti
4) susu afkiran.

Susu murni
Susu merupakan makanan bergizi tertinggi bagi pedet, dan biasanya diberikan secara terbatas. Sejak umur 1 minggu sampai sekitar 1 bulan, susu yang diberikan sekitar 10% berat badan per hari (diberikan 2 kali per hari). Mulai umur 1 minggu pedet mulai dilatih atau disediakan calf starter dalam bentuk kering dan rumput secara bebas ditempatkan di kotak/rak secara bebas. Calf starter adalah pakan konsentrat/formula khusus untuk pedet sejak umur 1 minggu, sebaiknya  diberikan dalam bentuk kering dan ditempatkan di kotak. Syarat calf starter adalah harus disukai pedet, berenergi tinggi (75% TDN atau 75 Mcal ENE) dan kandungan protein kasar 16-18%. Agar pedet segera mau makan calf starter, maka perlu dilatih dengan mengusapkan pada moncong/bibir pedet. Apabila tahu rasanya maka pedet akan menjilati calf starter yang tersedia. Berilah makanan baru setiap hari. Mulai umur 3 minggu kalau pedet sudah mau makan rumput kering atau calf starter, sediakan air minum yang bersih secukupnya agar pedet dapat minum secara bebas. Jangan memberi rumput segar pada pedet yang belum disapih karena akan mengurangi nafsu makan calf starter. Rumput untuk pedet sebaiknya diusahakan dari jenis rumput-rumputan yang daunnya kecil dan kandungan gizinya tinggi, seperti star grass dan rumput lapangan yang kualitasnya baik. Apabila pedet mulai dilatih makan calf starter pada umur 1 minggu, maka setelah pedet umur sekitar 1 bulan dapat mengkonsumsi 0,5 kg calf starter dan pemberian susu mulai dikurangi. Pada umur 8 minggu pedet sudah dapat mengkonsumsi calf starter sebanyak 1,0 kg, dan konsumsi susu dikurangi lagi. Pada umur 9 minggu (2 bulan) pedet dapat menghabiskan calf starter sekitar 1,0-1,3 kg, konsumsi susu mulai dihentikan (disapih). Pemberian makan pada pedet umur minggu ke 1 sampai dengan minggu ke 9 

Kolostrum asam
Kelebihan kolostrum hari ke 2 dan ke 3 serta kolostrum hari ke 4 dan ke 5 (tidak boleh dijual karena kalau direbus menggumpal) dapat diberikan pedet dalam bentuk segar atau kolostrum asam (fermentasi). Keuntungan menggunakan kelebihan kolostrum untuk pedet adalah 1) nilai gizi tinggi, 2) murah, 3) memungkinkan menaikkan berat badan dan 4) mengurangi penyakit diare. Karena kolostrum asam lebih kental dibanding susu normal, maka waktu akan memberikan dicampur dengan air panas dengan perbandingan kolostrum asam 3 bagian dan  air panas 1 bagian (3:1). Kalau kelebihan kolostrum sudah habis padahal pedet belum disapih, maka dapat dilanjutkan dengan susu murni atau susu pengganti secara bertahap. Misalnya 50% kolostrum asam : 50% susu murni atau susu pengganti, baru kemudian esok harinya kolostrum dikurangi hingga 100% susu murni atau susu pengganti. Sedangkan cara pemberian pakan kasar yaitu rumput kering dan calf starter juga dilakukan seperti pada pemberian susu murni.

Cara membuat kolostrum asam
Siapkan ember plastik (tidak mudah kena karat) yang cukup besarnya dan dilengkapi dengan tutup. Masukkan kelebihan kolostrum ke dalam ember tersebut dan simpan pada tempat yang terlindung dari cahaya matahari. Lakukan pengadukan setiap hari 1 sampai 2 kali. Perlu diperhatikan bahwa susu yang terkena mastitis dan susu dari sapi sehabis disuntik antibiotik tidak dapat dipakai karena hasil fermentasinya kurang baik. Kolostrum asam dibuat secara alamiah dapat digunakan selama 2 sampai 3 minggu.

Saran-saran penggunaan kolostrum asam
  • Pastikan bahwa kolostrum yang diasamkan berasal dari pemerahan hari ke 2 sampai dengan hari ke 5, dicampur dan disimpan di dalam ember plastik dan ditutup. Bersihkan dahulu ember plastik yang akan dipakai agar bebas dari karat. Jangan menggunakan penampung dari logam yang dapat berkarat karena akan keracunan seng atau logam lain.
  • Pencampuran pemerahan kari ke 2 sampai dengan ke 5 akan cukup untuk diberikan pada seekor pedet selama 20 hari. Jika lebih dari seekor sapi yang beranak pada hari yang sama atau hari yang berbeda, kolostrumnya dapat dicampur.
  • Pembuatan kolostrum asam secara alami sebaiknya untuk mempercepat fermentasi dengan mencampur 3 sampai 5 sendok makan kolostrum yang sudah asam ke dalam kolostrum yang akan diasamkan.
  • Jangan menyimpan kolostrum asam lebih dari 3 minggu, terutama pada musim panas. Penelitian telah menyatakan bahwa kolostrum akan menjadi sangat asam dan banyak proteinnya yang rusak.
  • Aduk kolostrum asam setiap hari, yaitu sebelum diberikan pada pedet dan sebelum penyimpanan kembali. Pengadukan membantu mencegah buih dan penggumpalan.
  • Apabila kolostrum asam kental, maka waktu akan diberikan pada pedet dicampur dengan air panas dengan perbandingan kolostrum dan air 3:1. Penggunaan air panas sebagai pencampur akan membuat kolostrum hangat dan lebih cocok bagi pedet.
  • Mulailah memberikan kolostrum asam pada hari ke 4 setelah pedet lahir (setelah diberi kolostrum murni selama 3 hari). Fermentasi kolostrum sebelum sempurna sehingga tidak begitu asam bagi pedet. Hal ini membantu pedet untuk menyukai makanan asam.
  • Jika jumlah kolostrum asam telah dikumpulkan setidaknya selama 1 minggu, maka telah terjadi fermentasi penuh dan kolostrum dapat dicampur menjadi satu untuk mengirit tempat dan waktu.

Susu pengganti (replacement milk)
Susu pengganti berbeda-beda kualitasnya. Susu pengganti yang baik mengandung setidak-tidaknya 20% protein yang kesemuanya berasal dari produk hewan. Bila sumber protein berasal dari tumbuh-tumbuhan maka kadarnya harus 22-24%, karena protein nabati kurang dapat dicerna dibandingkan dengan protein susu. Persentase lemak yang terkandung dalam susu pengganti yang baik paling sedikit 10% dan paling banyak 30% BK. Lemak hewani lebih baik daripada lemak nabati. Lesitin kedelai (terutama bila tercampur rata) merupakan sumber lemak susu pengganti yang cukup baik. Sumber karbohidrat yang dapat digunakan oleh pedet adalah laktosa dan dekstrosa. Sumber karbohidrat seperti pati dan gula (sukrosa) tidak cocok untuk pedet.

Susu afkiran
Susu yang berasal dari sapi yang sedang diobati antibiotik karena mastitis tidak dapat dijual. Susu afkiran tersebut dapat digunakan sebagai pakan pedet. Penelitian menyatakan bahwa pedet yang minum susu mastitis pertumbuhan dan kesehatannya sama baiknya dengan pedet yang diberi makanan lain. Susu afkiran yang asam telah dilaporkan lebih cocok untuk pedet daripada yang difermentasikan. Susu afkiran harus ditangani seperti menangani kelebihan kolostrum. Pedoman untuk mengasamkan kolostrum berlaku juga bagi fermentasi susu afkir. Pemerahan pertama setelah pengobatan antibiotik jangan digunakan. Pedet yang diberi susu yang mengandung antibiotik akan memiliki endapan obat di dagingnya dan bila pedet dipotong harus menunggu beberapa hari sampai antibiotknya bersih.

Selasa, 01 Desember 2015

10 Gambar Sapi Terbaik

Sapi merupakan salah satu hewan ternak populer didunia, tak salah jika gambar sapi juga banyak diminati oleh banyak kalangan terutama bagi orang yang jago menggambar. karena itu pada kesempatan kali ini ternak.net menghimpun beberapa gambar yang menurut kami adalah gambar yang cukup bagus dan unik.

gambar yang disebutkan kali ini adalah hasil dari olahan tangan kreatif menggunakan media tradisional berupa pensil maupun olahan digital dengan menggunakan software khusus untuk menggambar digital.

berikut 10 gambar sapi terbaik versi ternak.net























sekian gambar sapi yang telah kami cari melalui mesin pencari paling populer yaitu google, semoga dapat menginspirasi anda untuk menggambar baik secara tradisional maupun gambar digital.

Senin, 30 November 2015

Proses Pencernaan Pakan Sapi

Makanan atau bahan-bahan makanan atau pakan sapi adalah bahan-bahan yang dapat diberikan kepada ternak, sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganggu kesehatan, dengan tujuan untuk kelangsungan hidupnya secara normal. 

Proses Pencernaan


Perut (lambung = waduk) ruminansia terdiri dari 4 macam: 1) lambung penampung (rumen), 2) lambung jaring (reticulum), 3) lambung buku (omasum) dan 4) lambung sejati (abomasum). Bahan-bahan makanan atau pakan yang dimakan sapi dikunyah dengan bantuan air liur (ludah = saliva) di dalam mulut. Air liur selain diperlukan untuk membantu mengunyah dan menelan makanan yang kering, juga untuk memecah pati menjadi maltose dan dextrose yang mudah larut. Air liur sapi dewasa diperkirakan sekitar 120 pound (± 55 liter) per hari, cukup untuk buffer, menetralisir/memelihara rumen tetap netral ( pH = 7,0).


Setelah makanan dikunyah dan dicampur dengan air liur, pakan tersebut ditelan dan masuk kedalam rumen dan bagian yang halus masuk ke dalam retikulum. Pada sapi dewasa daya tampung rumen sekitar 40 galon atau sebanyak 300 pound (± 136 kg) bahan. Di dalam rumen makanan atau pakan yang masih kasar mengalami fermentasi atas pengaruh bermacam-macam bakteri, yang memecahkan selulosa dari dinding-dinding sel-sel tanaman sehingga zat-zat makanan yang tertutup oleh diding selulosa tersebut dapat "dikerjakan" oleh enzim sehingga makanan menjadi lebih lunak dan halus. Setelah itu makanan dimuntahkan kembali ke dalam mulut, dikunyah-kunyah dan dicampur lagi dengan air liur sehingga berupa bubur. Kemudian makanan ditelan untuk kedua kalinya.Selanjutnya bahan makanan yang halus masuk ke retikulum. Retikulum letaknya berhadapan langsung di depan rumen, satu sama lain tidak terpisah sama sekali sehingga pertikel-pertikel makanan bebas melewatinya.

Bagian dalam dari retikulum seperti sarang lebah, dan disebut lambung jaring, yang berperan utama sebagai penyaring benda berat seperti paku atau potongan kawat yang tertelan bersama makanan. Bahan makanan tersebut selanjutnya masuk omasum. Fungsi omasum telah diketahui tidak sebanyak perut lainnya. Peran utama yang telah diketahui adalah memeras/menurunkan kandungan air dan mendesak/menekan bahan makanan, yang akhirnya masuk ke abomasum (lambung sejati). 

Di dalam abomasum, makanan dicampur dan dihancurkan oleh getah waduk yang mengandung HCl. Bersamaan dengan itu, zat-zat protein dari makanan dipecah oleh enzim chymoseine menjadi protease-protease dan pepton-pepton. Selama di dalam waduk, makanan bereaksi asam, tetapi kemudian di dalam usus berubah menjadi alkalis.

Di dalam usus, makanan berturut-turut mengalami perubahan-perubahan lagi oleh enzim-enzim dari pankreas dari dinding usus serta empedu yang berasal dari hati. Setelah terjadinya proses pencernaan, di dalam usus terbentuk zat-zat yang susunannya sederhana sehingga mudah diserap oleh darah melalui dinding-dinding usus kecil dan oleh darah makanan tersebut diedarkan ke seluruh bagian tubuh. Diagram perut ruminansia dan diagram bagian-bagian sistem pencernaan masing-masing dapat dilihat pada Gambar 3.1 dan 3.2.

Zat-zat makanan yang tidak dapat dipergunakan, dikeluarkan kembali dengan perantaraan alat tubuh sepeerti: zat-zat yang mengandung N dikeluarkan melalui ginjal, bagian yang tidak dapat dicerna dikeluarkan melalui usus berupa kotoran (feces), zat-zat mineral dikeluarkan melalui kulit, ginjal dan feses, air dikeluarkan melalui kulit, ginjal, paru-paru dan feses, gas-gas seperti CO2 dikeluarkan melalui paru-paru.

Minggu, 25 Oktober 2015

Perkembangan Sapi Perah Di Indonesia

Bangsa sapi perah yang asli dari Indonesia dapat dikatakan tidak ada. Sapi perah di Indonesia berasal dari sapi impor dan hasil persilangan antara sapi impor dengan sapi lokal. Menurut Dirjen Peternakan (1996) pada tahun 1995 di Indonesia terdapat sekitar 200.000 ekor sapi perah dan hampir seluruhnya merupakan sapi FH dan keturunannya. Sapi FH dimasukkan di Indonesia dari negeri Belanda atau Australia. Sejak tahun 1972 mulai diimpor semen beku dari New Zealand, dan mulai tahun 1979 dilakukan impor sapi dara FH langsung dari Australia dan New Zealand. 

Sebelum tahun 1979 sapi-sapi FH murni diternakkan antara lain di :
  • Rowoseneng, Temanggung
  • Baturraden, Purwokerto
  • Lembang, Bandung
  • Pasar Minggu, Jakarta.

Produksi susu sapi FH di Indonesia tidak setinggi di tempat asalnya. Hal ini banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : iklim, kualitas pakan, seleksi yang kurang ketat, manajemen dan mungkin juga sapi yang dikirim ke Indonesia kualitas genetiknya tidak sebaik yang diternakkan di negeri asalnya. Sapi FH murni yang ada di Indonesia rata-rata produksi susunya sekitar 10 liter per hari dengan calving interval 12 – 15 bulan dan lama laktasi kurang lebih 10 bulan, atau produksi susu rata-rata 2.500 – 3.000 liter per laktasi.


Hasil silangan antara sapi lokal dengan sapi FH sering disebut sapi PFH (Peranakan Friesian Holstein). Sapi ini banyak dipelihara rakyat terutama di daerah Boyolali, Solo, Ungaran, Semarang dan Yogyakarta. Dapat dijumpai pula sapi PFH di daerah Pujon, Batu, Malang dan sekitarnya. Warna sapi PFH seperti sapi FH tetapi sering dijumpai warna yang menyimpang, misalnya warna bulu kipas ekor hitam, kuku berwarna hitam dan bentuk tubuhnya memperlihatkan bentuk sapi lokal, kadang-kadang masih terlihat adanya gumba yang meninggi.

Berdasarkan asal-usulnya sapi perah di Indonesia, dapat digolongkan menjadi tiga kelompok (berdasarkan kemurnian darah bangsanya): yaitu :
  • Sapi bangsa murni (pure breed) FH. Sapi FH murni, termasuk sapi-sapi FH yang diimpor langsung dari breeder (dilengkapi dengan sertifikat), dan juga sapi kelahiran di Indonesia yang induknya FH murni serta semen atau pejantannya juga merupakan FH murni.
  • Sapi Persilangan atau Peranakan FH (FH crossbred). Ini merupakan sapi hasil persilangan antara sapi FH murni dengan sapi lokal, dan diketahui tingkat kemurnian darah FH nya (berapa persen darah FH nya).
  • Sapi non discript. (Sapi yang tidak jelas kemurnian bangsanya). Termasuk sapi non discript adalah sapi-sapi yang jelas bukan sapi FH murni, tetapi tidak diketahui dengan jelas tingkat kemurnian darah FH nya dan mempunyai ciri-ciri seperti sapi FH.

Pada umumnya untuk sapi crossbred dan sapi non discript seperti diatas, di Indonesia biasa disebut sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH).

Sabtu, 24 Oktober 2015

Sapi Sahiwal, Red Sindhi, Gir, Ongole, Bangsa Sapi dari Daerah Tropis

Bangsa sapi perah dari daerah tropis yang terkenal dan banyak diternakkan termasuk antara lain : Sahiwal, Red Sindhi, Gir ,Ongole. Bangsa sapi perah lain yang kurang populer dan tidak banyak diternakkan antara lain : Kankrey (Gujarat) ; Halikar ; Hissar ; dll.


SAPI SAHIWAL

Sapi Sahiwal adalah sapi perah terbaik di India dan diduga sapi ini merupakan sapi perah asli asal daerah tropis yang terbaik di dunia. Sapi Sahiwal berasal dari daerah Punyab, distrik Montgomery, Pakistan, daerah antara 29o5’ – 30o2’ LU. Daerah tersebut pada musim panas, panasnya sangat hebat rata-rata 107,8oF (42,1oC) dan maksimum mencapai 118 oF (47,8oC), pada musim dingin temperatur udara dapat terus turun sampai 41,7 oF (5,4 oC), dan curah hujan 11 inchi (27,9 cm).

Sapi Sahiwal mempunyai warna kelabu kemerah-merahan atau kebanyakan merah warna sawo atau coklat. Sapi betina bobot badannya mencapai 450 kg, sedangkan yang jantan 500 - 600 kg. Sapi ini tahan hidup di daerah asalnya dan dapat berkembang di daerah-daerah yang curah hujannya tidak begitu tinggi. Sapi Sahiwal merupakan sapi perah berasal dari daerah tropis yang produksi susunya paling tinggi yaitu antara 2.500 – 3.000 kg per tahun dengan kadar lemak 4 – 5 %. Menurut Ware (1941) berdasarkan catatan yang ada, sapi Sahiwal yang terbaik dari 289 ekor dapat memproduksi antara 6.000 – 13.000 pound (2.722 – 5.897 liter) dengan kadar lemak 3,7 %.

RED  SINDHI

Sapi Red Sindhi setingkat dibawah sapi Sahiwal. Asal dari daerah distrik Karachi, Hyderabad dan Kohistan. Daerah tersebut umumnya kering dan panas (50 – 108 oF). Sapi Red Sindhi berwarna merah tua dan tubuhnya lebih kecil bila dibandingkan dengan sapi Sahiwal, sapi betina dewasa rata-rata bobot badannya 300 – 350 kg, sedangkan yang jantan 450 – 500 kg.  Produksi susunya juga tidak sebaik sapi Sahiwal, rata-rata 2.000 kg per tahun, tetapi ada yang mencapai 3.000 kg per tahun dengan kadar lemak sekitar 4,9 %.

SAPI GIR 

Sapi Gir berasal dari daerah semenanjung Kathiawar dekat Bombay di India Barat dengan curah hujan 20 – 25 inchi atau 50,8 – 63,5 cm. Daerah ini terletak antara 20o5’ – 22o6’ LU. Pada saat musim panas, temperatur udara mencapai 98 oF (36,7 oC)  dan pada musim dingin temperatur udara sampai 60 oF (15,5 oC).

Warna sapi Gir pada umumnya putih dengan sedikit bercak-bercak coklat atau hitam, tetapi ada juga yang kuning kemerahan. Sapi ini tahan untuk bekerja, baik di sawah maupun di tegalan. Ukuran bobot badan sapi betina dewasa sekitar 400 kg, sedangkan yang jantan dewasa beratnya mencapai 600 kg. Produksi susu rata-rata 2.000 liter per tahun dengan kadar lemak 4,5 – 5 %.

SAPI ONGOLE

Sapi Ongole berasal dari distrik Ongole di India. Warna sapi Ongole putih, tetapi pada pantat, leher dan kepalanya  pada sapi jantan berwarna kelabu gelap. Bobot badan sapi betina dewasa 450 – 500 kg, sedangkan yang jantan 500 – 650 kg. Sapi Ongole produksi susunya jauh dibawah Sahiwal dan Red Sindhi, yaitu rata-rata 3.030 pound (1.374 kg) selama periode laktasi 313 hari dan calving interval rata-rata 479 hari.

Beberapa perbedaan yang nyata antara sapi perah asal daerah subtropis dengan daerah tropis antara lain :
1.Rata-rata produksi susu sapi asal daerah subtropis lebih tinggi dibandingkan dengan sapi asal daerah tropis.
2.Rata-rata sapi asal daerah subtropis tubuhnya lebih besar.
3.Pedet yang dilahirkan sapi asal daerah subtropis pada umumnya lebih besar dibandingkan dengan sapi asal daerah tropis.
4.Pertambahan bobot badan (body weight gain) sapi asal daerah subtropis lebih tinggi dibandingkan dengan sapi asal daerah tropis.
5.Kedewasaan sapi daerah subtropis lebih cepat dan calving interval (jarak beranak) sapi daerah subtropis lebih pendek.

Jumat, 23 Oktober 2015

Mengenal Sapi Milking Shorthorn dan Red poll, Sapi perah yang Kurang Populer

Bangsa sapi perah yang berasal dari Bos Taurus (sapi Eropa) tetapi popularitas, populasi dan jumlah produksi susunya realtif lebih kecil, antara lain Red Danish berkembang di Denmark, Dutch Belted berkembang di Belanda dan lain-lain. Di negara maju apabila memelihara sapi dengan tujuan utama manghasilkan susu saja disebut special purpose. Selain sapi special purpose di negara maju juga dikenal tipe sapi dual-purpose atau dwiguna artinya sapi tersebut salain dapat menghasilkan susu cukup tinggi dan sapi tersebut mudah digemukkan dengan cepat. Tipe sapi dual purpose atau dwiguna yang dapat menghasilkan susu yang cukup besarnya dan disamping itu juga harus cepat dan mudah digemukkan dan sifat itu harus dapat diwariskan kepada keturunannya. Tipe dual purpose atau dwiguna yang utama adalah bangsa-bangsa sapi Milking Shorthorn dan Red Poll, keduanya terkenal karena produksi susu dan kualitas dagingnya.

Sapi Milking Shorthorn

Bangsa sapi Milking Shothorn karena sapi tersebut tanduknya pendek. Sapi ini juga disebut Derham, asalnya dari Derham, Yorkshire dan Northumberland di Timur Laut Inggris.

sapi milking shorthorn

Ukuran badan
Sapi Milking Shorthorn betina dewasa beratnya berkisar 1.400 – 1.800 pound (635 – 816 kg). Berat pejantan biasanya 2.000 – 2.400 pound (907 – 1.088 kg).

Warna
Sapi Milking Shorthorn warnanya merah dan putih, merah/putih, abu-abu.

Produksi
Sapi Milking Shorthorn menurut DHIA 1976-1977 diperoleh data dari 2.406 ekor produksi susu rata-rata 10.399 pound (4.717 kg) dan lemak 381 pound (173 kg) atau kadar lemak rata-rata 3,66 persen. Sapi Milking Shorthorn pada waktu laktasi (selama menghasilkan susu) nampak kurus, tetapi cepat menjadi gemuk waktu kering. Pedet sapi Milking Shorthorn menghasilkan daging pedet yang bagus. Apabila diberi pakan yang baik dapat menghasilkan daging yang berkualitas tinggi.

Sapi Red Poll

Bangsa sapi Red Poll berasal dari Inggris, hampir sama sifatnya dengan sapi Milking Shorthorn. Sapi ini berasal dari persilangan Norfolk dan Suffolk (inggris) pada tahun 1800. Bangsa sapi ini semula disebut Norfolk dan Suffolk Red Polled. Sejak tahun 1943 disebut Red Poll. Sapi tersebut tidak bertanduk.

sapi red poll

Warna
Sapi Red Poll berwarna merah tua.

Ukuran badan
Sapi Red Poll besarnya cukup, berat sapi betina dewasa 1.200 – 1.700 pound (544 – 771 kg). Berat pejantan 2.000 pound atau lebih.

Produksi
Sejak tahun 1909 – 1946 dari 1.702 sapi yang telah tercatat produksi susu rata-rata 8.615 pound (3.998 kg) dan lemaknya 376 pound (171 kg) dengan kadar lemak 4,3 persen.. Daging pedet Red Poll sama dengan Milking Shorthorn keduanya berkualitas tinggi. Sapi Red Poll maupun Milking Shorthorn menghasilkan karkas yang bagus.