Ternak

Tampilkan postingan dengan label sapi perah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sapi perah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Desember 2015

Cara Pemberian Pakan Sapi Perah

Pemberian makanan pada sapi perah yang perlu diperhatinkan selain jumlahnya juga kandungan nutrisinya harus sesuai kebutuhan. Karena itu makanan yang diberikan dibedakan menjadi: 
  • makanan sapi sedang tumbuh
  • makanan sapi laktasi
  • makanan sapi kering
  • makanan tantangan.

Makanan sapi sedang tumbuh

Makanan pedet dibedakan:
  • Pedet sejak lahir sampai umur 5-6 hari (paling sedikit 3 hari), pedet harus mendapat kolostrum
  • Pedet sejak lepas kolostrum sampai disapih, makanan yang diberikan selain susu atau pengganti susu, juga harus diberi calf starter (makanan konsentrat formula untuk pedet), hijauan dan air minum (apabila pedet sudah lahap makan calf starter). 
  • Pedet setelah disapih sampai umur satu tahun dan sapi dara sebelum dan sesudah bunting. Pakan yang diberikan berupa konsentrat, hijauan dan air minum secara bebas.

Makanan sapi laktasi

Nutrisi yang dibutuhkan oleh sapi laktasi harus mempunyai beberapa informasi sebagai berikut: 1) kondisi dan berat badan sapi, 2) produksi susu, 3) kadar lemak susu, 4) tanggal beranak atau lama laktasi (hari), 5) lama kebuntingan (bulan), 6) jenis dan komposisi makanan misalnya bahan kering, protein kasar, TDN dan sebagainya.
Setelah sapi beranak, pada awal laktasi produksi susu meningkat dengan cepat sampai mencapai puncaknya. Pada periode laktasi pertengahan, produksi susu sudah mulai menurun sampai akhir laktasi. Produksi susu pada saat mulai menurun hendaknya diusahakan tidak menurun dengan tajam. Pada saat ini hendaknya diusahakan sapi sudah bunting. Agar waktu puncak produksi dapat dicapai, berat sapi tidak turun, dan pada akhir masa laktasi sampai masa kering sapi tidak terlalu gemuk, upaya yag dilakukan adalah mengatur konsumsi bahan kering. Standar pemberian bahan kering pada seekor sapi perah laktasi sekitar 2,5-3% berat badan. 


Tahap I (awal laktasi)
Setelah sapi melahirkan sampai 70 hari merupakan masa yang paling kritis karena pada saat ini sapi mulai memproduksi susu. Empat sampai enam minggu setelah sapi beranak, produksi susu akan naik dengan cepat sampai mencapai puncak produksi 70 hari setelah sapi beranak. Pada tahap I  setelah sapi beranak terjadi penurunan berat tubuh. Agar berat tubuh tidak turun drastis, pemberian konsentrat dinaikkan 0,5-1 kg per hari, tetapi konsentrat yang kita berikan jangan sampai berlebihan (65% di atas total bahan kering) dan kandungan serat kasarnya dalam ransum harus di atas 15% untuk pemeliharaan fermentasi di rumen.
Pemberian ekstra 0,5 kg konsentrat (1 kg kedelai + bahan lain) bagi setiap 5 liter susu yang dihasilkan oleh sapi yang produksi susunya 25 liter per hari akan lebih efisien karena biasanya pada saat produksi meningkat, sapi kehilangan berat badan karena ketidakseimbangan energi. Jumlah  dan kualitas hijauan yang diberikan pada saat itu akan mempengaruhi pemberian protein. Apabila pemberian nutrisi tidak seimbang dapat berakibat puncak produksi susu selama lakasi rendah. Jika konsentrat yang dikonsumsi meningkat terlalu cepat atau terlalu tinggi maka kemungkinan sapi akan menderita off feed dan displaced abomasum (perut muntir). Saran-saran untuk meningkatkan nutrisi yang dikonsumsi pada tahap 1 adalah:
  • Kualitas hijauan harus tinggi
  • Berikan protein alami
  • Tingkatkan pemberian konsentrat secara tetap setelah beranak
  • Gunakan konsentrat berenergi tinggi
  • Kurangi situasi stres


Tahap II (puncak konsumsi bahan kering)
Sepuluh minggu ke 2 (minggu 10-20) setelah beranak sapi harus dijaga supaya puncak produksi berlangsung selama mungkin.(tahap II) terlihat pada 12-14 minggu setelah beranak, sapi akan mengkonsumsi bahan kering terbanyak. Konsentrat yang dimakan dapat mencapai 2,5% berat abdan sapi (sapi berat 650 kg membutuhkan 16 kg konsentrat). Bahan kering hijauan yang dimakan paling sedikit 1% berat badan sapi, hijauan tersebut digunakan untuk memelihara fungsi rumen dan tes lemak.

Masalah utama: Pada tahap II dapat terjadi masalah menurunnya produksi susu, tes lemak rendah, birahi tidak terdeteksi, tidak terlihat birahi (anestrus)

Saran-saran:
Untuk menaikkan nutrisi yang dikonsumsi ikutilah saran-saran sebagai berikut:
  • Dua sampai tiga bulan setelah sapi melahirkan apabila ada tanda-tanda minta kawin, sapi dikawinkan agar jarak beranak (calving interval) dapat diatur satu tahun.
  • Berilah hijauan dan konsentrat beberapa kali sehari
  • Berilah makanan terbaik.
  • Batasi pemberian urea menjadi 2 kg per 100 kg konsentrat
  • Kurangi situasi stres

Tahap III ( pertengahan dan akhir laktasi)
Pada pertengahan dan akhir laktasi yaitu pada hari ke 140-305 setelah sapi beranak, sebagian besar sapi hanya mengalami sedikit masalah. Produksi susu mulai menurun, sapi diharapkan sudah bunting. Sesuaikan pemberian konsentrat dengan produksi susunya. Sapi yang kehilangan berat badannya pada awal laktasi harus diberi nutrisi ekstra untuk menggantikan cadangan dalam tubuhnya, jangan menunggu sampai sapi mengalami masa kering. Pada saat itu apabila sapi masih muda berumur 2 tahun diberi 20% atai lebih sebagai tambahan pertumbuhan. Sapi berumur 3 tahun tambahan untuk pertumbuhan 10% lebih. Produksi susu hendaknya tidak menurun dengan tajam. Penurunan produksi susu 8-10% dari bulan sebelumnya adalah normal.

Tahap IV (masa kering)
Masa kering dilakukan 6-8 minggu (2 bulan) sebelum laktasi berikutnya. Walaupun kebutuhan nutrisi tidak tinggi, tetapi masa ini merupakan masa yang kritis bagi sapi kering. Kesalahan yang terjadi pada masa kering dapat mempengaruhi produksi susu pada masa laktasi berikutnya. Sapi membutuhkan makanan yang cukup untuk pertumbuhan janin dan persediaan kebutuhan  tubuh. Bahan kering yang dikonsumsi hendaknya 2% dari berat badannya. Konsumsi bahan kering hijauan sebanyak 1% dari berat badannya, maka konsumsi bahan kering konsentrat tidak boleh lebih dari 1% berat badan. Dua sampai tiga minggu sebelum sapi melahirkan, sapi diberi makanan tantangan (challenge feeding).

Masalah utama yang terjadi pada masa kering ini adalah milk fever, displaced abomasum dan sindrom sapi kegemukan. Sindrom sapi kegemukan sering terjadi pada sapi yang kondisi tubuhnya kegemukan, sehingga hati berlemek dan nafsu makan berkurang dan sapi cenderung mudah terkena penyakit dan kesalahan metabolisme.

Perawatan yang disarankan:
  • Batasi pemberian makanan tantangan (tambahan konsentrat sebelum beranak). Paling banyak berikan 1% dari berat tubuh sapi.
  • Kebutuhan nutrisi harus seimbang (energi, protein, mineral dan vitamin)
  • Tentukan apakah sapi membutuhkan konsentrat.
  • Hindarkan pemberian energi dan kalsium yang berlebihan.

Cara memberi konsentrat

Sampai saat ini masih banyak peternak sapi perah memberikan pakan konsentrat dicampur air secara berlebihan, terkesan sapinya dipaksa minum sebanyak-banyaknya sehingga perut sapi menjadi besar. Perlakuan yang demikian itu kurang baik karena makanan konsentrat yang dicampur air akan merangsang menutupnya saluran rumen. sehingga makanan akan langsung masuk omasum. Jadi makanan konsentrat kurang dapat dimanfaatkan (pencernaan konsentrat kurang sempurna kerena tidak melalui rumen), karena makanan konsentrat yang dicampur dengan air berlebihan langsung ditelan masuk omasum tanpa adanya proses pengunyahan kembali (remastikasi). Agar sapi mau makanan kering sebaiknya dibiasakan sejak pedet, yaitu sejak pedet diberi pakan formula berupa calf starter atau berupa pakan konsentrat dan diberikan dalam bentuk kering.

Cara memberi air minum

Sapi perah akan menderita lebih parah apabila kekurangan air daripada kekurangan gizi yang lain. Hilangnya 10% air tubuh, sapi akan mengalami kematian. Jumlah air yang dibutuhkan oleh sapi perah bervariasi. beberapa faktor yang mempengaruhi konsumsi air bagi seekor sapi adalah: 1) umur, 2)berat badan, 3) produksi susu, 4) panas dan kelembaban udara (cuaca) dan 5) jenis ransum pakan. Intensitas produksi juga mempengaruhi air yang dibutuhkan. Seekor sapi  yang tidak dalam masa laktasi akan minum air sebanyak 40 liter. Saat sapi memproduksi susu 10-25 liter, kebutuhan air akan naik sampai 75 liter. Jika produksi susu mencapai 35 liter per hari, maka air yagn diminum hampir 90 liter. Pada umumnya sapi membutuhkan 3-4 liter air untuk menghasilkan 1 (satu) liter susu. Sebaiknya air minum diberikan secara bebas.

Makanan sapi kering

Masa kering merupakan suatu masa yang paling penting bagi sapi perah dalam arti pemberian makan dan perawatan yang tepat. Masa kering harus diartikan sebagai permulaan dimulainya masa laktasi baru, bukan sebagai akhir laktasi. Perawatan sapi kering yang efektif dapat menaikkan kondisi dan kapasitas produksi.

Berilah hijauan yang berkualitas tinggi pada awal sapi dikeringkan sampai 3 minggu masa kering. Enam minggu sebelum beranak, mulailah memberikan konsentrat dua kali sehari.Jumlah konsentrat yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi sapi dan kualitas hijauan. Pemberian makanan bervariasi bagi setiap ekor sapi per hari, yaitu 1,5-9 kg, tergantung jumlah dan kualitas hijauan yang diberikan.

Ransum konsentrat khusus bagi sapi kering dapat diberikan selama masa kering. Ransum konsentrat ini mengandung protein 2-4% lebih rendah daripada ransum konsentrat bagi sapi laktasi. Sangat disarankan untuk memberikan ransum sapi kering. Jumlah kalsium (Ca) dan fosfor (P) harus seimbang (antara 1:1 atau 2:1)

Banyak peternak berhasil setelah mereka mengikuti pemberian makanan tantangan. Sapi-sapi itu mengkonsumsi 1-1,5 kg konsentrat untuk tiap 100 kg berat tubuhnya, kira-kira 2-3 minggu sebelum beranak sampai sapi beranak. Pemberian makanan tantangan sebelum sapi beranak akan membantu rumen, nafsu dan kebiasaan makan, dan sapi akan menyesuaikan makanan tersebut sebelum beranak. Sapi yang beranak dalam kondisi yang baik akan memulai dan memelihara produksi yang lebih tinggi dan kasus milk fever dapat diperkecil.

Enam puluh hari masa kering merupakan hari-hari terpenting dalam hidup sapi. Bayak orang berpikir bahwa  masa kering diantara masa laktasi adalah non produktif. Tetapi pada kenyataannya sapi itu sangat produktif karena sangat menentukan banyaknya susu yang akan dihasilkannya. Perawatan sapi yang kurang baik selama pengeringan dapat mengakibatkan setelah beranak produksi susu rendah dan dapat terjadi gangguan metabolisme seperti milk fever.

Perawatan sapi selama kering selain menentukan tingginya produksi susu setelah melahirkan juga menentukan pertumbuhan janin, karena janin tumbuh tiga kali selama masa pengeringan. Selama masa kering sapi juga memperbaiki kelenjar susu.

Makanan Tantangan

Makanan tantangan (challenge feeding atau lead feeding) adalah makanan yang diberikan pada sapi kering (akhir kebuntingan) dan pada sapi laktasi (awal laktasi) sehingga sapi dapat mencapai produksi maksimum pada awal laktasi, tanpa dibatasi oleh kurangnya persediaan energi unutk produksi saat itu.

Cara memberi makanan tantangan
  • Dua atau tiga minggu sebelum beranak, berilah konsentrat sebanyak 1,5 kg per hari. Kemudian tambahkan 0,5 kg konsentrat setiap harinya sampai sapi itu mengkonsumsi 1,0 – 1,5 kg konsentrat per 100 kg berat badan sapi. Jadi untuk sapi seberat 550 kg memerlukan 5-8 kg konsentrat per hari. Penambahan konsentrat sebelum beranak akan memberikan kesempatan pada sapi beranak atas kenaikan energi yang dimakan.
  • Setelah sapi beranak, tambahkan konsentrat sampai sapi mencapai produksi susu maksimum, hal ini dapat dicapai kira-kira dalam waktu 3-6 minggu setelah sapi beranak.
  • Setelah sapi beranak 2 minggu, sesuaikan pemberian konsentrat menurut produksinya.
  • Untuk masa sisa laktasi, sesuaikan pemberian jumlah konsentrat menurut berat susu yang dihasilkan tiap bulannya. Teruskan menambah konsentrat 0,5 kg sampai hasil produksi susu tambahan tidak dapat menutup harga konsentrat.

Sapi akan memberikan reaksi terbaik pada saat awal laktasi. Saat ada kemajuan dalam masa laktasi, jadwal pemberian konsentrat harus dilihat kembali, paling tidak satu bulan satu kali dan sesuaikan dengan biaya yang dikeluarkan. Seperti yang kita harapkan, sebagian sapi akan memberikan reaksi yang lebih besar terhadap pemberian konsentrat yang banyak daripada sapi-sapi yang lain. Bagi sapi yang tidak memberikan reaksi terhadap konsentrat yang diberikan, hendaknya kita mengurangi konsentrat sampai tingkat pemberian konsentrat sesuai dengan harga kelebihan susu yang dihasilkan. Beberapa peternak menyatakan bahwa mereka mengalami kenaikan produksi 900 liter per ekor, bahwa dengan mengurangi hijauan dan menambah konsentrat keuntungan dapat mencapai lebih dari 2.000 liter per laktasi.

Keuntungan pemberian makanan tantangan.
Apabila kita bandingkan dengan metode kuno yaitu, 0,5 kg konsentrat untuk tiap 1,5 – 2 liter susu yang dihasilkan, keuntungannya adalah:
  • Memberikan kesempatan pada mikroorganisme ruminan sapi yang menyesuaikan dengan kandungan konsentrat yang tinggi sebelum beranak.
  • Sapi  makan konsentrat yang tinggi sebelum dan sesudah beranak.
  • Menyediakan energi berlimpah untuk sapi pada saat ia membutuhkannya pada awal laktasi. Oleh sebab itu makanan ini menantang untuk berproduksi semaksimal mungkin.
  • Akibat puncak produksi susu yang tigngi cenderung tetap bertahan sepanjang siklus produksi (persistensi bagus)
  • Membantu memelihara berat tubuh.
  • Menghindari makanan yang tidak ekonomis karena pemasukan energi ditentukan oleh kemampuansapi untuk bereaksi.

Kerugian pemberian makanan tantangan.
  • Pemberian konsentrat yang tinggi sebelum sapi beranak, cenderung mengakibatkan sapi menderita pengerasan ambing (udder udema). Walaupun dengan pengontrolan belum dapat menyokong kasus ini, mereka telah memperlihatkan bahwa tidak ada perbedaan dalam kasus ini, antara sapi yang diberi konsentrat tinggi dan sapi yang diberi konsentrat sedikit sebelum beranak.
  • Produksi tinggi yang diakibatkan pemberian konsentrat tinggi akan menyebabkan kasus mastitis tinggi pula. Hal ini adalah benar, ransum konsentrat tinggi akan menyebabkan ambing menegang, sehingga mastitis kronis akan timbul karena ambing menegang secara berlebihan. Walaupun tingkat pemberian konsentrat tidak menyebabkan mastitis, tetapi kemungkinan sudah ada tanda-tanda mastitis di ambing sebelumnya.
  • Tidak semua sapi memperlihatkan perubahan terhadap pemberian konsentrat yang tinggi untuk menaikkan produksi, sehingga beberapasapi terlalu banyak diberi konsentrat sehingga merupakan pemborosan.
  • Pemberian makanan tantangan lebih menguntungkan apabila harga konsentrat lebih menguntungkan daripada harga hijauan. Adakalanya pada saat harga konsentrat tinggi, tidak ekonomis memberikan konsentrat tinggi. Kita lebih untung dengan memberi pakan hijauan berkualitas tinggi. Di sini yang penting bukan produksi tinggi, tetapi memperoleh keuntungan tinggi.


Rabu, 02 Desember 2015

10 macam Bahan Pakan Ternak Sapi Perah

Bahan makanan sapi seperti disebutkan di muka adalah segala sesuatu yang dapat dimakan ternak sapi, sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganggu  keseahtan sapi dengan tujuan untuk kelangsungan hidupnya. Kita harus pandai memilih bahan makanan yang dikehendaki karena ada bahan makanan yang adakalanya banyak mengandung protein tetapi energinya rendah atau sebaliknya.
Bahan makanan sapi dapat digolongkan berupa: rumput, daun-daunan, jerami, hasil-hasil pertanian, hasil samping/sisa industri pertanian.


Rumput

Telah diketahui bahwa rumput merupakan makanan untuk sapi, dan dapat diberikan dalam jumlah yang besar. Kandungan nutrisi rumput tergantugn jenis rumput, umur rumput, kesuburan tanah, iklim, pemeliharaan dan pemupukan tanak. Macam rumput dapat dibagi menjadi 2 golongan  yaitu rumput lapangan dan rumput tanaman.

Rumput lapangan

Rumput lapangan adalah segala macam rumput yang terdapat dan tumbuh liar di lapangan-lapangan, kebun-kebun, sawah, tegalan atau di hutan dan lain tempat. Pada umumnya rumput lapangan di Indonesia tidak begitu bagus dibanding dengan rumput penggembalaan di negeri Barat yang telah maju, dimana padang rumput yang ada dipelihara dan dipupuk dengan baik. Rumput lapangan di Indonesia dalam keadaan segar rata-rata hanya mengandung 1,5% protein dari berat segar atau 7,%% dari bahan keringnya. Bagi sapi perah, rumput itu semata-mata hanya dapat menculupi kebutuhan hidup pokok. Apabila kualitas rumput lapangan baik selain dapat mencukupi kebutuhan hidup pokok juga produksi susu ± 5 liter per hari. Diantara rumput-rumput lapangan yang sudah terkenal, baik untuk pakan sapi perah dan sangat digemari antara lain:
a. Rumput grinting (kekawatan = cynodon tactilon)
b. Rumput cakar ayam (sumbu gangsir =  digitaria sanguinalis)
c. Rumput lulangan ( elensine indica)
d. Rumput ganjuran (paspalum scorbiculatum)
e. Rumput lempuyangan (paspalum distichum)
f. Rumput tuton (panicum colonum)
g. Rumput lamuran (polytrias amaurta)

Rumput tanaman

Rumput tanaman adalah rumput yang keberadaannya ditanam dan dirawat dan hasilnya banyak dan dapat dipotong secara periodik. Penanaman rumput tersebut dalam baris-baris dengan jarak 60 x 30 cm untuk memudahkan pemeliharaan dan pemotongan. Biasanya rumput tanaman itu dapat dipotong dua bulan setelah ditanam dan selanjutnya dipotong 45 – 50 hari sekali. Jika pemeliharaan dan pemupukannya baik, hasilnya sangat memuaskan dan dapat dipotong sembilan kali setahun.
Beberapa rumput tanaman yang sudah biasa ditanan dan telah dibuktikan hasilnya adalah:
  • Rumput benggala (panicum macimun) Rumput ini berasal dari Afrika dan hampir ditanan di semua negara-negara tropis, serta lebih dari 50 tahun diusahakan di Indonesia. Oleh penduduk Jawa disebut juga "rumput landa". Rumput ini sangat disukai ternak, terutama sapi. Kadar proteinnya ± 9,5% dari bahan keringnya. Tumbuh subur di daerah yang banyak hujan dan berada pada ketinggian hingga 1.000 meter di atas permukaan laut dan dapat menghasilkan ± 150.000 kg per ha/tahun.
  • Rumput australia (paspalum dilatatum) Rumput ini lebih banyak mengandung protein dari pada rumput benggala, yaitu ± 10,8% dari bahan kering, tetapi hasilnya tidak sebanyak rumput benggala, kira-kira 90.000 kg per ha/tahun dan membutuhkan banyak air. Di daerah pegunungan tumbuhnya lebih baik daripada rumput benggala.
  • Rumput gajah (pennisetum purpureum) Rumput ini berasal dari Afrika. Hasil dan kadar proteinnya hampir sama dengan rumput benggala, tetapi agak lebih tahan kering. Produksi dapat mencapai 270 ton per ha/tahun.
  • Rumput mexicana (teosinte, euchlaena mexicana) Rumput ini berasal dari Meksiko yang dapat menghasilkan banyak, daunnya lebar-lebar seperti daun jagung, tetapi sayang rumput ini membutuhkan pemeliharaan yang agak intensif dan hasilnya lekas turun sesudah lima kali pemotongan.
  • Rumput kolonjono (panicum muktuh) Rumput ini sangat populer dikalangan rakyat dan disangka memang rumput Indonesia asli. Sebenarnya rumput ini berasal dari Amerika Selatan. Rumput ini hailnya juga banyak dan disukai sapi, tetapi menghendaki banyak air.
  • Rumput raja (king grass) Rumput raja adalah hasil persilangan pennisetum purpureum dengan P. typhoides. Menurut Siregar (1988) produksi hijauan king grass 1.076 ton/ha/tahun. Produksi  bahan kering 110 ton/ha/tahun. Kandungan protein kasar 13,5%; lemak 3,5%; abu 18,6%; Ca 0,37% dan P 0,35%

Daun-daunan

Yang dimaksud dengan daun-daunan adalah daun-daun tanaman atau pohon-pohonan, jadi bukan rumput. Banyak macam daun-daunan yang dapat dipergunakan untuk pakan ternak. Diantaranya yang terpenting dan terbaik adalah daun-daunan tanaman jenis leguminosa. Leguminosa itu umumnya sangat baik kandungan nutrisinya (protein, kalsium dan fosfor) serta sangat digemari ternak. Hampir semua pengusaha susu sudah tahun akan kebaikan daun-daun leguminosa itu, antara lain juga dapat mempertinggi produksi susu.

Daun leguminoss (daun kacang-kacangan)

Sayang tidak semua daun leguminosa dapat dipergunakan untuk pakan sapi, sebab diantaranya yang mengandung racun alkoloid, yang kadang-kadang dapat membawa kematian ternak. Umumnya daun leguminosa itu kalau terlalu banyak diberikan dapat menyebabkan mencret. Sebaiknya daun leguminosa diberikan bersama-sama rumput, dan paling banyak 50% dari rumput. Daun leguminosa yang umum dan baik untuk pakan sapi adalah:

Daun turi (sesbania grandiflora)

Turi ini mudah dan dapat tumbuh dimana-mana, dapat ditanam secara besar-bearan, setahun sesudah menanam sudah dapat deipetik daunnya, sedangkan kayunyapun dapat dipergunakan sebagai kayu bakar. Daun turi paling disukai semua ternak, juga sapi perah. Kandungan proteinnya rata-rata 40% dari bahan keringnya. Pohon turi itu tidak merusak tanaman lainnya dan karenanya dapat dianjurkan untuk ditanam dimana-mana.

Daun kelorworo (jayanti atau sesbania sesban)

Pohon serta daunnya lebih kecil daripada turi, dan tidak begitu digemari, tetapi dapat dibuat campuran pakan hijauan.

Daun lamtoro (petai cina, kemlandingan atau leucaena glauca)

Kadar proteinnya tinggi dan disukai, tetapi tidak boleh diberikan terlalu banyak. Juga kepada sapi yang sedang diperah jangan diberi daun lamtoro karena susunya akan berbau petai.

Daun kacang tanah (arachis hypogaea)

Semasa panen kacang tanah, daunnya dapat dipergunakan sebagai pakan sapi. Proteinnya tinggi dan disukai sapi, tetapi daun ini tidak boleh diberikan lebih dari 50% dari rumput, agar tidak menyebabkan diare.

Gliricidia maculata

Gliricidia maculata bukan tanaman asli Indonesia, tetapi tanaman ini didatangkan dari Ceylon pada tahun 1900. Tanaman tersebut mula-mula berasal dari Amerika Tengah dan kemudian disebarkan ke India, Filipina, Malaya dan pada tahun 1900 seorang Belanda membawa Gliricidia di perkebunan Deli Sumatera. Selanjutnya disebarkan di Sumatera dan Jawa. Produksi hijauan Gliricidia dengan interval pemotongan 3 bulan menghasilkan 74.074 kg per ha/tahun, dan kadar proteinnya rata-rata 26,49% bahan kering.

Daun tanaman lainnya.

Pada musim sukar mendapatkan rumput atau leguminosa, daun-daun lain dapat pula diberikan sebagai tambahan campuran pakan hijauan. Daun tanaman lain tersebut adalah:
a. Daun jagung (zea mais)
b. Daun ubi jalar (ketala rambat = ipomoea batatas)
c. Daun tebu (saccharum officinarum)
d. Daun dadap (erythrina lithosperma)
e. Daun waru (hisbiseus tiliacus)
f. Daun jeunjing (sengon = albizzia falcata)

Jerami

Kandungan nutrisi jerami relatif lebih rendah daripada rumput atau daun-daunan. Jerami hanya diberikan pada sapi pada saat-saat sukar mendapatkan rumput atau daun-daunan. Jerami sungguh penting artinya karena dapat disimpan dengan mudah dan dapat digunakan pada waktu-waktu sulit pakan. Macam jerami tersebut antara lain:

Jerami leguminosa

Jerami leguminosa adalah berasal dari tanaman leguminosa (kacang-kacangan) yang telah dipetik buahnya, antara lain:
a. Jerami kedelai
b. Jerami kacang tanah
c. Jerami kacang panjang dan lain-lain
2. Jerami jagung dan padi
Nilai gizinya terlalu rendah. Kalau tidak terpaksa sebaiknya sapi perah jangan diberi jerami jagung atau jerami padi.

Hasil-hasil pertanian

Telah dibicarakan di muka bahwa pakan sapi perah selain dari makanan kasar (rumput, daun-daunan dan jerami), juga masih memerlukan makanan penguat dan makanan tambahan berupa garam-garam mineral dan vitamin. Makanan penguat (konsentrat) umumnya terdiri dari campuran: hasil-hasil pertanian berupa biji-bijian (jagung, kedelai, kacang hijau), hasil sampingan/sisa (bungkil kedelai, bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit, bungkil kacang tanah, bungkil wijen, ampas tahu, ampas kecap, bekatul, dedak padi, dedak jagung dan sebagainya). Pada umumnya harga bahan-bahan pakan harganya juga lebih mahal daripada rumput. Penggunakan bahan pakan yang berasal dari hasil-hasil pertanian berupa biji-bijian yang harganya relatif mahal dan penggunaannya masih bersaing dengan kebutuhan untuk makanan manusia sedapat mungkin kita hindari. Beberapa jenis bahan yang biasa dipergunakan untuk makanan penguat pada sapi perah adalah:

Jagung

Jagung sangat baik untuk pakan ternak, harganya tidak begitu mahal, mudah didapatkan, begitu pula daya cernanya sangat tinggi. Protein jagung disebut zein, yang banyak mengandung asam amino histina. Lebih-lebih jagung kuning atau merah, disamping itu juga mengandung banyak karotin (provitamin A)

Kedelai.

Dari semua bahan pakan yang berbutir, kedelai adalah pakan yang tinggi nilai gizinya. Tidak saja karena protein (± 37%) dan lemaknya (± 17-19%), juga komposisi proteinnya mendekati protein hewani. Campuran kedelai dan jagung merupakan susunan pakan yang sangat baik karena supplementary effect dari zat-zat protein. Karena tingginya kadar lemak dan mahal harganya, kedelai lebih baik diberikan tidak lebih dari 25% dari seluruh jumlah ransum pakan.

Hasil samping/sisa industri  pertanian


Bungkil

Untuk mendapatkan zat protein yang lebih murah dan tidak bersaing penggunaannya dengan pangan manusia, biasanya untuk ternak diberikan bermacam-macam bungkil dari pabrik. Bunkil umumnya banyak mengandung protein serta harganya jauh lebih murah. Diantaranya yang banyak dan umum dipergunakan untuk ternak di Indonesia adalah:
a. Bungkil kelapa
b. Bungkil kelapa sawit
c. Bungkil kedelai
d. Bungkil wijen

Ampas

Ampas dari industri pertanian yang banyak dipergunakan untuk pakan ternak di Indonesia
a. Ampas tahu basah atau kering
b. Ampas kecap
c. Tetes dari pabrik gula (proteinnya tidak begitu banyak tetapi kaya karbohidrat yang  mudah dicerna, rasanya sedap dan manis, baik diberikan sedikit-sedikit untuk menyedapkan campuran pakan sapi)

Dedak

Dedak sangat populer dan banyak dipergunakan. Fluktuasi harga sangat nyata, pada musim panen besar harganya rendah, tetapi pada suatu saat (paceklik) harganya melambung. Dedak banyak macamnya antara lain:
a. Dedak huller dari pabrik penggilingan padi (dedak terbaik) proteinnya 14-16%.
b. Dedak kualitas II dari pabrik proteinnya 6-9%.
c. Dedak kampung berasal dari penumbukan padi di kampung-kampung, kualitasnya hampir sama dengan dedak pabrik kualitas II, terlalu banyak serat kasar.

Bekatul

Bekatul (lebih halus daripada dedak), proteinnya  lebih kecil daripada dedak halus. Harganya lebih tinggi dan lebih sukar diperoleh karena juga banyak dimakan orang. Bekatul jangan terlalu banyak diberikan pada sapi perah karena dapat menurunkan jumlah maupun kualitas susu.

Dedak Jagung

Dedak jagung lebih baik daripada dedak padi karena lebih mudah dicerna dan preteinnya tinggi (± 10%). Kualitas pakan, lebih-lebih pakan hijauan (rumput dan daun-daunan) dipengaruhi oleh kesuburan tanah, iklim, umur pakan, serta cara memberikannya.

Minggu, 25 Oktober 2015

Perkembangan Sapi Perah Di Indonesia

Bangsa sapi perah yang asli dari Indonesia dapat dikatakan tidak ada. Sapi perah di Indonesia berasal dari sapi impor dan hasil persilangan antara sapi impor dengan sapi lokal. Menurut Dirjen Peternakan (1996) pada tahun 1995 di Indonesia terdapat sekitar 200.000 ekor sapi perah dan hampir seluruhnya merupakan sapi FH dan keturunannya. Sapi FH dimasukkan di Indonesia dari negeri Belanda atau Australia. Sejak tahun 1972 mulai diimpor semen beku dari New Zealand, dan mulai tahun 1979 dilakukan impor sapi dara FH langsung dari Australia dan New Zealand. 

Sebelum tahun 1979 sapi-sapi FH murni diternakkan antara lain di :
  • Rowoseneng, Temanggung
  • Baturraden, Purwokerto
  • Lembang, Bandung
  • Pasar Minggu, Jakarta.

Produksi susu sapi FH di Indonesia tidak setinggi di tempat asalnya. Hal ini banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain : iklim, kualitas pakan, seleksi yang kurang ketat, manajemen dan mungkin juga sapi yang dikirim ke Indonesia kualitas genetiknya tidak sebaik yang diternakkan di negeri asalnya. Sapi FH murni yang ada di Indonesia rata-rata produksi susunya sekitar 10 liter per hari dengan calving interval 12 – 15 bulan dan lama laktasi kurang lebih 10 bulan, atau produksi susu rata-rata 2.500 – 3.000 liter per laktasi.


Hasil silangan antara sapi lokal dengan sapi FH sering disebut sapi PFH (Peranakan Friesian Holstein). Sapi ini banyak dipelihara rakyat terutama di daerah Boyolali, Solo, Ungaran, Semarang dan Yogyakarta. Dapat dijumpai pula sapi PFH di daerah Pujon, Batu, Malang dan sekitarnya. Warna sapi PFH seperti sapi FH tetapi sering dijumpai warna yang menyimpang, misalnya warna bulu kipas ekor hitam, kuku berwarna hitam dan bentuk tubuhnya memperlihatkan bentuk sapi lokal, kadang-kadang masih terlihat adanya gumba yang meninggi.

Berdasarkan asal-usulnya sapi perah di Indonesia, dapat digolongkan menjadi tiga kelompok (berdasarkan kemurnian darah bangsanya): yaitu :
  • Sapi bangsa murni (pure breed) FH. Sapi FH murni, termasuk sapi-sapi FH yang diimpor langsung dari breeder (dilengkapi dengan sertifikat), dan juga sapi kelahiran di Indonesia yang induknya FH murni serta semen atau pejantannya juga merupakan FH murni.
  • Sapi Persilangan atau Peranakan FH (FH crossbred). Ini merupakan sapi hasil persilangan antara sapi FH murni dengan sapi lokal, dan diketahui tingkat kemurnian darah FH nya (berapa persen darah FH nya).
  • Sapi non discript. (Sapi yang tidak jelas kemurnian bangsanya). Termasuk sapi non discript adalah sapi-sapi yang jelas bukan sapi FH murni, tetapi tidak diketahui dengan jelas tingkat kemurnian darah FH nya dan mempunyai ciri-ciri seperti sapi FH.

Pada umumnya untuk sapi crossbred dan sapi non discript seperti diatas, di Indonesia biasa disebut sapi Peranakan Friesian Holstein (PFH).

Sabtu, 24 Oktober 2015

Sapi Sahiwal, Red Sindhi, Gir, Ongole, Bangsa Sapi dari Daerah Tropis

Bangsa sapi perah dari daerah tropis yang terkenal dan banyak diternakkan termasuk antara lain : Sahiwal, Red Sindhi, Gir ,Ongole. Bangsa sapi perah lain yang kurang populer dan tidak banyak diternakkan antara lain : Kankrey (Gujarat) ; Halikar ; Hissar ; dll.


SAPI SAHIWAL

Sapi Sahiwal adalah sapi perah terbaik di India dan diduga sapi ini merupakan sapi perah asli asal daerah tropis yang terbaik di dunia. Sapi Sahiwal berasal dari daerah Punyab, distrik Montgomery, Pakistan, daerah antara 29o5’ – 30o2’ LU. Daerah tersebut pada musim panas, panasnya sangat hebat rata-rata 107,8oF (42,1oC) dan maksimum mencapai 118 oF (47,8oC), pada musim dingin temperatur udara dapat terus turun sampai 41,7 oF (5,4 oC), dan curah hujan 11 inchi (27,9 cm).

Sapi Sahiwal mempunyai warna kelabu kemerah-merahan atau kebanyakan merah warna sawo atau coklat. Sapi betina bobot badannya mencapai 450 kg, sedangkan yang jantan 500 - 600 kg. Sapi ini tahan hidup di daerah asalnya dan dapat berkembang di daerah-daerah yang curah hujannya tidak begitu tinggi. Sapi Sahiwal merupakan sapi perah berasal dari daerah tropis yang produksi susunya paling tinggi yaitu antara 2.500 – 3.000 kg per tahun dengan kadar lemak 4 – 5 %. Menurut Ware (1941) berdasarkan catatan yang ada, sapi Sahiwal yang terbaik dari 289 ekor dapat memproduksi antara 6.000 – 13.000 pound (2.722 – 5.897 liter) dengan kadar lemak 3,7 %.

RED  SINDHI

Sapi Red Sindhi setingkat dibawah sapi Sahiwal. Asal dari daerah distrik Karachi, Hyderabad dan Kohistan. Daerah tersebut umumnya kering dan panas (50 – 108 oF). Sapi Red Sindhi berwarna merah tua dan tubuhnya lebih kecil bila dibandingkan dengan sapi Sahiwal, sapi betina dewasa rata-rata bobot badannya 300 – 350 kg, sedangkan yang jantan 450 – 500 kg.  Produksi susunya juga tidak sebaik sapi Sahiwal, rata-rata 2.000 kg per tahun, tetapi ada yang mencapai 3.000 kg per tahun dengan kadar lemak sekitar 4,9 %.

SAPI GIR 

Sapi Gir berasal dari daerah semenanjung Kathiawar dekat Bombay di India Barat dengan curah hujan 20 – 25 inchi atau 50,8 – 63,5 cm. Daerah ini terletak antara 20o5’ – 22o6’ LU. Pada saat musim panas, temperatur udara mencapai 98 oF (36,7 oC)  dan pada musim dingin temperatur udara sampai 60 oF (15,5 oC).

Warna sapi Gir pada umumnya putih dengan sedikit bercak-bercak coklat atau hitam, tetapi ada juga yang kuning kemerahan. Sapi ini tahan untuk bekerja, baik di sawah maupun di tegalan. Ukuran bobot badan sapi betina dewasa sekitar 400 kg, sedangkan yang jantan dewasa beratnya mencapai 600 kg. Produksi susu rata-rata 2.000 liter per tahun dengan kadar lemak 4,5 – 5 %.

SAPI ONGOLE

Sapi Ongole berasal dari distrik Ongole di India. Warna sapi Ongole putih, tetapi pada pantat, leher dan kepalanya  pada sapi jantan berwarna kelabu gelap. Bobot badan sapi betina dewasa 450 – 500 kg, sedangkan yang jantan 500 – 650 kg. Sapi Ongole produksi susunya jauh dibawah Sahiwal dan Red Sindhi, yaitu rata-rata 3.030 pound (1.374 kg) selama periode laktasi 313 hari dan calving interval rata-rata 479 hari.

Beberapa perbedaan yang nyata antara sapi perah asal daerah subtropis dengan daerah tropis antara lain :
1.Rata-rata produksi susu sapi asal daerah subtropis lebih tinggi dibandingkan dengan sapi asal daerah tropis.
2.Rata-rata sapi asal daerah subtropis tubuhnya lebih besar.
3.Pedet yang dilahirkan sapi asal daerah subtropis pada umumnya lebih besar dibandingkan dengan sapi asal daerah tropis.
4.Pertambahan bobot badan (body weight gain) sapi asal daerah subtropis lebih tinggi dibandingkan dengan sapi asal daerah tropis.
5.Kedewasaan sapi daerah subtropis lebih cepat dan calving interval (jarak beranak) sapi daerah subtropis lebih pendek.

Jumat, 23 Oktober 2015

Mengenal Sapi Milking Shorthorn dan Red poll, Sapi perah yang Kurang Populer

Bangsa sapi perah yang berasal dari Bos Taurus (sapi Eropa) tetapi popularitas, populasi dan jumlah produksi susunya realtif lebih kecil, antara lain Red Danish berkembang di Denmark, Dutch Belted berkembang di Belanda dan lain-lain. Di negara maju apabila memelihara sapi dengan tujuan utama manghasilkan susu saja disebut special purpose. Selain sapi special purpose di negara maju juga dikenal tipe sapi dual-purpose atau dwiguna artinya sapi tersebut salain dapat menghasilkan susu cukup tinggi dan sapi tersebut mudah digemukkan dengan cepat. Tipe sapi dual purpose atau dwiguna yang dapat menghasilkan susu yang cukup besarnya dan disamping itu juga harus cepat dan mudah digemukkan dan sifat itu harus dapat diwariskan kepada keturunannya. Tipe dual purpose atau dwiguna yang utama adalah bangsa-bangsa sapi Milking Shorthorn dan Red Poll, keduanya terkenal karena produksi susu dan kualitas dagingnya.

Sapi Milking Shorthorn

Bangsa sapi Milking Shothorn karena sapi tersebut tanduknya pendek. Sapi ini juga disebut Derham, asalnya dari Derham, Yorkshire dan Northumberland di Timur Laut Inggris.

sapi milking shorthorn

Ukuran badan
Sapi Milking Shorthorn betina dewasa beratnya berkisar 1.400 – 1.800 pound (635 – 816 kg). Berat pejantan biasanya 2.000 – 2.400 pound (907 – 1.088 kg).

Warna
Sapi Milking Shorthorn warnanya merah dan putih, merah/putih, abu-abu.

Produksi
Sapi Milking Shorthorn menurut DHIA 1976-1977 diperoleh data dari 2.406 ekor produksi susu rata-rata 10.399 pound (4.717 kg) dan lemak 381 pound (173 kg) atau kadar lemak rata-rata 3,66 persen. Sapi Milking Shorthorn pada waktu laktasi (selama menghasilkan susu) nampak kurus, tetapi cepat menjadi gemuk waktu kering. Pedet sapi Milking Shorthorn menghasilkan daging pedet yang bagus. Apabila diberi pakan yang baik dapat menghasilkan daging yang berkualitas tinggi.

Sapi Red Poll

Bangsa sapi Red Poll berasal dari Inggris, hampir sama sifatnya dengan sapi Milking Shorthorn. Sapi ini berasal dari persilangan Norfolk dan Suffolk (inggris) pada tahun 1800. Bangsa sapi ini semula disebut Norfolk dan Suffolk Red Polled. Sejak tahun 1943 disebut Red Poll. Sapi tersebut tidak bertanduk.

sapi red poll

Warna
Sapi Red Poll berwarna merah tua.

Ukuran badan
Sapi Red Poll besarnya cukup, berat sapi betina dewasa 1.200 – 1.700 pound (544 – 771 kg). Berat pejantan 2.000 pound atau lebih.

Produksi
Sejak tahun 1909 – 1946 dari 1.702 sapi yang telah tercatat produksi susu rata-rata 8.615 pound (3.998 kg) dan lemaknya 376 pound (171 kg) dengan kadar lemak 4,3 persen.. Daging pedet Red Poll sama dengan Milking Shorthorn keduanya berkualitas tinggi. Sapi Red Poll maupun Milking Shorthorn menghasilkan karkas yang bagus.

Kamis, 22 Oktober 2015

Bangsa Sapi Perah Baru, Silangan Sapi Bos Taurus dan Bos Indicus

Timbulnya pemikiran menyilangkan sapi dari Bos Taurus (sapi Eropa) dengan Bos Indicus (sapi berponok) adalah untuk menciptakan bangsa sapi perah baru di Australia dan New Zealand, membentuk sapi yang produksi susunya tinggi dan tahan terhadap kondisi padang rumput (tahan panas) dan tahan terhadap caplak. Untuk mewujudkan keinginan tersebut timbul pemikiran menggabungkan daya tahan adaptasi panas dan resistensi terhadap parasit yang dimiliki sapi dari Bos Indicus dengan kemampuan berproduksi susu yang tinggi yang dimiliki oleh Bos Taurus. Dengan demikian terjadilah persilangan antara sapi Bos Taurus dengan Bos Indicus. Berikut ini ada beberapa breed baru sapi perah yang telah diciptakan/direkayasa di Australia antara lain:

AUSTRALIAN ILLAWARA SHORTHORN (AIS)
Sapi ini dikembangkan di distrik Illawara, New South Wales dan banyak berkembang di daerah Queensland dan Australia Barat. AIS berasal dari campuran 3 darah Bos Taurus yaitu Milking Shorthorn, Devon dan Ayrshire. Pada tahun 1977 produksi susu dapat mencapai 3.400 liter per laktasi dengan kadar lemak 4,0 %.  Sapi ini mempunyai warna merah mulus, tetapi ada juga yang pada tubuhnya terdapat bintik-bintik atau bercak-bercak putih pada dada dan flank. Pedet yang dilahirkan bobot badannya sekitar 33 kg, sedangkan induknya mencapai 800 kg. Sapi ini termasuk tipe sapi dwiguna.


AUSTRALIAN  MILKING  ZEBU (AMZ)
AMZ merupakan hasil silangan antara sapi Jersey betina dari Bos Taurus dengan sapi jantan Red Sindhi atau Sahiwal dari Bos Indicus, namun keturunan dari sapi Jersey dengan Red Sindhi banyak disingkirkan. Dari persilangan ini diambil keturunan ketiga dan dikembangkan merupakan sapi AMZ. Seleksi pada ternak hasil silangan tersebut terutama berdasarkan tes ketahanan terhadap stres yang ditimbulkan oleh iklim panas. Sapi AMZ mempunyai warna bulu coklat kekuningan sampai kemerahan. Bobot badan pedet yang baru dilahirkan antara 20 – 30 kg, sedangkan sapi betina dewasa antara 320 – 400 kg, dan jantan dewasa berkisar antara 500 – 550 kg. Di Queensland produksi susu mencapai 4.159 liter per laktasi, di tempat yang sama sapi FH hanya memproduksi susu 3.852 liter per laktasi. Sapi ini di New South Wales yang udaranya sejuk produksi susunya 1.425 liter per laktasi (1977), dengan kadar lemak susunya 4,9 %. Sapi ini sudah diimpor ke Malaysia, Fiji, Philipina dan Trinidat.

AUTRALIAN  FRISIAN  SAHIWAL (AFS)
Pada tahun 1952 pejantan Sahiwal yang diimpor dari Pakistan oleh CSIRO disilangkan dengan betina Jersey menghasilkan AMZ. Oleh Department of Primary Industries disilangkan dengan betina Sahiwal. Warna sapi ini tidak menentu tetapi warna umumnya hitam, coklat dan merah, bulunya halus mengkilat. Bobot lahir sekitar 28 kg, sapi induk berat badannya mencapai 580 kg, dan pejantan dapat mencapai 650 kg. Bentuk tubuhnya mirip dengan sapi perah, tetapi mempunyai bincut (ponok) kecil, telinga besar dan kakinya lebih kuat daripada sapi FH. Produksi susunya di Queensland 2.376 – 4.159 liter per laktasi, ini berarti masih dibawah produksi susu sapi FH sampai diatas AMZ. Sapi ini termasuk sapi dwiguna dan merupakan sapi yang tahan terhadap caplak.

Rabu, 21 Oktober 2015

Mengenal si Cantik Sapi Jersey

Bangsa sapi Jersey dikembangkan di pulau Jersey (Inggris) yang terletak hanya 22 mil dari pulau Guernsey. Pulau Jersey juga memiliki padang rumput yang bagus. Sapi Jersey dikembangkan untuk tujuan utama lemak susu untuk mentega, sehingga pulau Jersey hasil utamanya adalah mentega. Seperti halnya sapi Guernsey, sapi Jersey juga tidak disukai untuk produksi daging. Warna sapi Jersey tidak uniform, ada yang berwarna kuning sampai hitam, ada pula yang berwarna merah dan merah tua. Warna yang digemari umumnya warna coklat muda dengan warna agak hitam di daerah kepala, sedangkan sapi jantan mempunyai warna yang lebih tua.

Sapi Jersey adalah sapi perah yang mempunyai tubuh terkecil. Sapi ini meskipun kecil tubuhnya tetapi sebagai sapi perah bentuknya indah. Perutnya jelas tampak besar dibandingkan dengan badannya dan ambingnya besar serta bagus sehingga bentuk segitiga badannya tampak jelas sekali. Pada waktu laktasi badannya tampak tidak berlemak, sehingga merupakan tipe sapi perah yang baik. Sapi Jersey sifatnya sangat peka dan kurang tenang, tetapi hidupnya lebih sederhana dan tahan panas. Kemampuan merumputnya (grassing ability) bagus sekali. Tidak ada sapi perah yang kemampuan merumputnya sebaik sapi Jersey, dapat merumput di atas padang rumput (pastura) yang sedang maupun yang jelek. Syarat-syarat pemelihara-annya lebih rendah daripada bangsa sapi perah yang lebih besar. 


























Warna
Sapi Jersey warnanya tidak seragam (uniform). Ada yang berwarna kuning terang sampai hitam dan ada pula yang berwarna merah dan merah tua. Bulu kipas ekor ada yang  berwarna hitam atau putih. Moncong mulut berwarna hitam dengan warna terang di sekelilingnya. Warna yang umum dan digemari ialah yang berwarna coklat muda, dengan warna agak hitam di kepala, yang jantan berwarna agak lebih tua.

Ukuran badan
Sapi Jersey adalah sapi perah yang terkecil (tergolong small breed) kecuali sapi Kerry dari Ireland. Berat sapi betina (mature cows) berkisar 800 – 1.100 pound (362 – 498 kg). Berat sapi jantan (bull) 1.200 – 1.600 pound (544 – 725 kg).

Bentuk/bangun
Sapi Jersey ini meskipun kecil tetapi bentuknya indah. Perutnya nyata besar dibandingkan dengan badannya. Ambingnya besar dan bagus, sehingga badannya berbentuk segitiga yang nyata sekali. Pada waktu laktasi badannya nampak tidak gemuk, sehingga mendekati tipe perah yang sesungguhnya.

Sifat
Sapi Jersey sifatnya sangat peka dan kurang tenang, tetapi hidupnya lebih sederhana dan tahan panas. Kecakapan merumput bagus sekali. Tidak ada sapi perah yang kecakapannya merumput sebaik sapi Jersey yang dapat merumput di padang rumput (pasture) yang sedang maupun yang jelek. Sapi Jersey meskipun kecil tetapi sangat aktif. Syarat-syarat pemeliharaan sapi Jersey lebih rendah dari pada bangsa sapi yang lebih besar. Sapi jantan (bull) biasanya nakal atau ganas.

Produksi
Sapi Jersey produksi susunya tidak begitu tinggi. Menurut DHIA 1976-1977 rata-rata produksi susu selama satu tahun 10.002 pound (4.541 kg) dengan produksi lemak 495 pound (225) kg atau kadar lemak 5,00 persen dengan total solid 15 persen. Lemak berwarna kuning, butir-butirnya besar sehingga mudah dibuat mentega. Rekor produksi susu dihasilkan oleh sapi yang diberi nama Basil Lucy Minne Patsy milik William H.H. Diley and Son, Canal Winchester, Ohio. Produksi susu dengan pemerahan dua kali sehari selama 365 hari mengasilkan susu 30.180 pound (13.689 kg) dengan kandungan lemak 1.368 pound (620 kg) atau kadar lemak 4,53 persen.

Pedet
Berat pedet waktu lahir kecil 60 pound (27 kg) dan sukar tumbuh.

Perkawinan
Sapi dara Jersey umur 15 bulan berat 575 – 625 pound (260 – 283 kg) dapat dikawinkan.

Selasa, 20 Oktober 2015

Bangsa sapi Guernsey, sikuning dari Inggris

Bangsa sapi Guernsey berasal dari pulau Guernsey di Inggris. Warna sapi Guernsey kuning terang (light fawn) sampai hampir merah dengan tanda warna putih pada dahi, kaki, bulu kipas ekor dan flank. Selain itu juga terdapat warna putih pada bagian tubuhnya, pigmen kulitnya berwarna kuning emas.

Sapi Guernsey umumnya lebih besar daripada sapi Jersey, tetapi lebih kecil bila dibandingkan dengan sapi Holstein. Bobot badan rata-rata sapi betina dewasa mencapai 1.100 pound dengan kisaran antara 800 – 1.300 pound, sedangkan bobot sapi jantan dewasa dapat mencapai 1.700 pound. Sapi ini penampilannya lebih tenang daripada sapi Jersey, tetapi tidak setenang sapi Holstein. Kemampuan merumputnya cukup baik.

Bangsa sapi Guernsey
Warna
Warna sapi Guernsey bervariasi dari kuning terang sampai hampir merah dengan tanda warna putih pada dahi, kaki, rambut kipas ekor dan lipatan antara paha dan perut (flank). Kulit berwana kuning.

Ukuran badan
Sapi Guernsey umumnya lebih besar dari sapi Jersey, tetapi lebih kecil dari pada sapi Holstein. Berat sapi betina dewasa bervariasi antara 800 – 1.300 pound (363 – 589 kg) atau rata-rata 1.100 pound (499 kg).

Sifat
Bangsa sapi Guernsey peka dan aktif, tetapi tidak mudah terganggu. Kecakapan merumput bagus.

Produksi susu
Produksi susu bangsa sapi Guernsey lebih rendah dari sapi Holstein, tetapi kadar lemaknya lebih tinggi. Susu sapi Guernsey berwarna kuning emas dan terkenal di pasaran. Menurut DHIA 1976-1977 rata-rata produksi selama satu tahun 10.764 pound (4.887 kg), produksi lemak 502 pound (228 kg) atau kadar lemak 4,7 persen. Pemegang rekor produksi sapi Guernsey: Cleverland Nances Indy Jean milik Raymond Orisio California, dengan produksi susu 33.380 pound (15.153 kg) dengan produksi lemak 1.421 pound (645 kg).

Pedet
Berat pedet waktu lahir 75-80 pound (35 kg).

Perkawinan
Sapi dara Guernsey umur 15 bulan apabila beratnya 625 – 675 pound (283 – 306 kg) ada tanda-tanda minta kawin dapat dikawinkan, dan beranak pertama pada umur 24 bulan.

Senin, 19 Oktober 2015

Mengenal Sapi Perah Ayrshire, Sikecil yang Sangat Aktif

Bangsa sapi perah Ayrshire berasal dari Country (Shire) di daerah Ayr, yaitu bagian barat daya Skotlandia. Wilayah tersebut dingin dan lembab, padang rumput relatif tidak banyak tersedia, dengan demikian ternak terseleksi secara alamiah akan ketahanan serta kesanggupan untuk merumput.

Warna
Warna sapi Ayrshire bervariasi dari merah dan putih sampai warna mahoni dan warna merahnya amat terang atau hampir hitam.

Ukuran badan
Besarnya sapi Ayrshire lebih kecil dibanding sapi Holstein, dan hampir sama dengan Brown Swiss. Berat rata-rata sapi betina dewasa sekitar 1.250 pound (567 kg). Berat pejantan (bull) berkisar 1.600 – 2.300 pound (726 – 1.403 kg)

sapi perah Ayrshire

Bentuk/bangun
Sapi Ayrshire tanduknya panjang mengarah ke atas. Leher sapi Ayrshire lebih pendek dan tebal dari pada bangsa sapi perah lainnya.

Sifat
Sapi Ayrshire sangat aktif, kurang tenang, peka dengan keadaan di sekitarnya dan cerdik. Sapi Ayrshire cakap merumput karena stamina yang kuat dan keaktifannya.

Produksi susu
Menurut DHIA tahun 1976-1977 rata-rata produksi susu selama satu tahun 11.608 pound (5.360 kg) dengan lemak 471 pound (214 kg) atau kadar lemak 3,99 persen. Leete Farms Betty's Ida tercatat sebagai pemegang rekor pada umur 6 tahun selama 305 hari dengan pemerahan dua kali sehari menghasilkan susu 37.170 pound (16.886 kg) dengan jumlah lemak 1.592 pound (722 kg) atau kadar lemak 4,3 persen.

Pedet
Pedet Ayrshire berat lahir 75 – 80 pound (35 kg).

Perkawinan
Sapi dara Ayrshire umur 15 bulan berat 700 – 750 pound (317 – 340 kg) dapat dikawinkan dan beranak pertama umur 24 bulan.

Minggu, 18 Oktober 2015

Mengenal Bangsa Sapi Brown Swiss, Sapi dengan Kemampuan Merumput yang bagus

Bangsa sapi Brown Swiss dikembangkan di lereng-lereng pegunungan Switzerland (Swiss) dan pada musim semi merumput di kaki gunung sampai lereng yang paling tinggi. Keadaan alam seperti itu melahirkan hewan-hewan yang sangat tangguh dengan kemampuan merumput yang bagus.

Warna
Warna sapi Brown Swiss bervariasi mulai dari coklat muda sampai coklat gelap.

Ukuran badan
Sapi Brown Swiss juga temasuk sapi yang besar (large breed). Berat sapi betina dewasa 1.200 – 1.400 pound (544 – 635 kg), dan sapi jantan (bull) beratnya 1.600 – 2.400 pound (726 – 1.088 kg). Ukuran badannya yang besar serta lemak badannya yang berwarna putih, juga disukai untuk produksi daging.
sapi brown swiss

Bentuk/bangun
Bangsa sapi Brown Swiss tidak seperti bangsa sapi perah lainnya, sapi Brown Swiss di Switzerland untuk tujuan susu dan daging. Sapi Brown Swiss tulangnya besar, kulit tebal dan longgar.

Sifat
Sapi Brown Swiss sifatnya tenang dan mudah dikendalikan dengan kecenderungan bersifat acuh, jinak dan mudah penanganannya, pandai merumput dan aktif.

Produksi susu
Menurut DHIA tahun 1976 – 1977 menunjukkan produksi susu sapi Brown Swiss selama satu tahun rata-rata 12.428 pound (5.462 kg) dan produksi lemak 502 pound (228 kg) dengan kadar lemak 4,04 persen. Rekor produksi susu dihasilkan oleh sapi yang diberi nama Green Pasture's Rayetta, milik Earnest dan Bert St. John of Glandale, Arizona, dengan produksi susu selama 365 hari sebanyak 36.160 pound (16.402 kg) dengan jumlah lemak 1.611 pound (73 kg), atau kadar lemak 4,5 persen dengan pemerahan dua kali sehari.

Pedet
Pedet sapi Brown Swiss, berat lahir lebih kurang 90 pound (40 kg). Lemak daging pedet Brown Swiss berwarna putih, pertambahan berat cepat dan menghasilkan daging berkualitas bagus.

Perkawinan
Sapi dara Brown Swiss umur 15 bulan apabila beratnya 775 – 825 pound (357 – 374 kg) dapat dikawinkan, diharapkan beranak pertama pada umur 24 bulan.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Mengenal Sapi Friesian Holstein (FH), Bangsa Sapi Perah Unggul dari Belanda

Bangsa sapi Holstein berasal dari Propinsi Friesland (Belanda atau Holland). Di Belanda sapi tersebut disebut Holstein Friesian, di Amerika disebut Holstein. Di Indonesia sapi tersebut disebut Fries Holland atau Friesian Holstein (FH). Nenek moyang sapi Holstein adalah sapi hitam dan sapi putih, yaitu sapi Batavia dan sapi Friesian. Perkembangan sapi Holstein tersebut diawali oleh dua orang imigran Eropa yang tinggal di daerah Deltha Rhine yang subur kira-kira 2000 tahun yang lalu. Daerah Rhine kemudian menjadi negara Belanda, dan sapi Holstein dikembangkan untuk mengatasi kelebihan rumput. Selain itu juga diadakan pengafkiran yang ketat dan selanjutnya dimulai pengembangan genetik.

Perkembangan Sapi Friesian Holstein
Bangsa sapi Holstein adalah bangsa yang tertua. Di dalam masa Romawi (Caesar) kurang lebih 2000 tahun yang lalu, sapi Holstein sudah terdapat di Belanda (Netherland). Sejak jaman itu sampai sekarang, Belanda merupakan negeri sapi perah yang termashur. Sapi Holstein ini tidak hanya berkembang di negara asalnya yaitu di Propinsi Friesland, tetapi juga tersebar ke seluruh pelosok dunia. Sapi Holstein tersebar ke seluruh muka bumi karena dapat menyesuaikan dirinya dengan iklim dan pakan, baik di daerah subtropis maupun di daerah tropis. Sampai saat ini sapi Holstein merupakan sapi perah yang paling populer, karena kemampuan produksi sapi ini tidak diragukan lagi oleh dunia.
Sapi Friesian Holstein (FH), Bangsa Sapi Perah Unggul dari Belanda

Bentuk/bangun Sapi Friesian Holstein
Sapi Holstein termasuk bangsa sapi yang besar (large breed), dengan kesanggupan makan dan ambingnya juga besar. Kepala panjang, sempit dan lurus. Paha lurus dan bahu ramping yang dikehendaki.

Sifat Sapi Friesian Holstein.
Sapi Holstein betina biasanya tenang dan jinak, tetapi yang jantan (bull) umumnya ganas.

Warna Sapi Friesian Holstein
Warna standar sapi Holstein adalah belang hitam putih (black and white) yang berbatas dengan tegas. Imbangan warna putih dan hitam jumlahnya tidak mengikat. Bulu kipas ekor, perut dan kaki dari lutut dan tumit kebawah serta dahi berwarna putih (ada kalanya berbentuk segitiga). Sapi Holstein ada kalanya juga ada yang berwarna merah dan putih, tetapi warna ini belum tentu diwariskan kepada anaknya. Warna yang tidak dikehendaki (cacat warna) adalah warna keseluruhan putih atau keseluruhan hitam, warna hitam pada kaki di bawah lutut, tumit dan bulu kipas ekor.

Ukuran badan Sapi Friesian Holstein
Standar berat sapi Holstein betina dewasa 1.250 pound (567 kg), dan berat pejantan (bull) tidak kurang dari 1.800 pound (816 kg). Kebanyakan berat sapi betina dewasa sekitar 1.300 – 1.600 pound (589 – 725 kg) dan yang jantan beratnya diatas satu ton. Sapi Holstein adalah sapi perah yang tergolong paling berat dibanding bangsa sapi lainnya.

Produksi Susu Sapi Friesian Holstein
Menurut Dairy Herd Improvement Association (DHIA) diperoleh data tahun 1976-1977 sebanyak 1,1 juta ekor rata-rata produksi susu selama satu tahun 14.293 pound (6.489 kg) dan produksi lemak 525 pound (238 kg) atau 3,7 persen. Rekor produksi susu bernama Beecher Arlinda Ellen milik Herold Beecher family, Rochester, Indiana, yang produksi susu 365 hari dengan pemerahan dua kali sehari menghasilkan susu 55.662 pound (27.830 kg) dan lemak 1.572 pound (713 kg) atau 2,8 persen. Apabila dihitung produksi susu setiap harinya rata-rata 74 liter/ekor/hari dengan produksi susu bulan pertama dan kedua setelah melahirkan rata-rata 90,8 liter/ekor/hari

Pedet Sapi Friesian Holstein
Pedet sapi Holstein besar dan tegap, berat lahir rata-rata 92 pound (42 kg).

Perkawinan Sapi Friesian Holstein
Sapi muda (dara) Holstein umur 15 bulan apabila beratnya 800 – 850 pound (362 – 385 kg) ada tanda minta kawin, maka sudah dapat dikawinkan, dan diharapkan beranak pertama umur 24 bulan.