Ternak

Minggu, 29 Maret 2015

RUMPUT GAJAH UNTUK PAKAN TERNAK

Rumput gajah adalah tanaman yang termasuk ke dalam kelompok tanaman rumput-rumputan. Rumput gajah banyak dimanfaatkan pada bidang peternakan yaitu sebagai pakan ternak seperti sapi, kambing dan kuda. Umumnya rumput gajah yang digunakan diindonesia adalah rumput yang tumbuh secara liar. Namun untuk peternakan yang relatif besar maka rumput yang digunakan adalah rumput yang sengaja ditanaman atau dipelihara secara khusus. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak. Rumput-rumputan dipilih karena merupakan tanaman yang produktifitasnya tinggi dan memiliki sifat yang dapat memperbaiki kondisi tanah (Gonggo et al., 2005). Rumput gajah (Pennisetum purpureum) adalah tanaman yang dapat tumbuh di daerah dengan minimal nutrisi. Rumput gajah membutuhkan minimal atau tanpa tambahan nutrient. Tanaman ini dapat memperbaiki kondisi tanah yang rusak akibat erosi. Tanaman ini juga dapat hidup pada tanah kritis dimana tanaman lain relatif tidak dapat tumbuh dengan baik (Sanderson dan Paul, 2008).

Berikut adalah klasifikasi dari Rumput Gajah (Pennisetum purpureum)
Kingdom         : Plantae
Phlum              : Spermatophyta
Class                : Monokotil
Ordo                : Poales
Family             : Poaceae
Genus              : Pennisetum
Spesies            : Pennisetum purpureum
RUMPUT GAJAH UNTUK PAKAN TERNAK
Rumput gajah (Pennisetum purpureum) berasal dari afrika tropik, tumbuh berumpun dan tingginya dapat mencapai 3 m lebih. Permukaan buluhnya licin dan pada buluh yang masih muda bisanya ditutupi oleh sejenis zat lilin tipis. Pelepahnya licin atau berbulu pada waktu muda dan kemudian berbulu-bulu tersebut gugur. Daunnya berbentuk garis, pangkalnya lebar dan ujungnya lancip sekali. Tepi daun kasar. Perbungaan berupa tandan tegak yang panjangnya sampai 25 cm. gagang-gagangnya berbulu. Bulir-bulirnya berkelompok, terdiri dari 3-4 buliran tiap kelompoknya dan bergagang pendek sekali. Pangkal bulirnya bulirannya berbulu panjang dan halus. Perbanyakan dapat dilakukan dengan pemecahan rumpun dan potongan-potongan buluhnya. Dapat tumbuh hingga pada ketinggian 1500 m dpl (www.flickr.com). (Okaraonye dan Ikewuchi, 2009) menambahkan bahwa rumput gajah mempunyai daun relatif besar, bunga tersusun dalam tandan warna keemasan, batangnya tebal dan keras. Rumput gajah banyak disukai ternak karena bernilai gizi yang tinggi (Soegiri et al., 1980). Produktifitas rumput gajah adalah 40 ton per hektar berat kering pada daerah beriklim subtropis dan 80 ton per hektar pada daerah beriklim tropis (Woodard dan Prine, 1993). Total karbohidrat dan serat kasar termasuk selulosa jumlahnya masing-masing adalah 30,91% dan 9,09%.

Masa panen rumput gajah yaitu saat umur 55-60 hari atau saat belum berbunga. pada umur tersebut rumput gajah belum tua tidak terlalu muda. Cara memanen rumput gajah adalah dengan cara memotong batang nya dari bagian tanah, kira-kira dengan ketinggian 10-15 cm dari permukaan tanah. Kalau pemotongannya tinggi atau terlalu rendah, maka tunas yang tumbuh tidak akan banyak, maka pemotongan rumput gajah harus diperhatikan dengan jarak yang pas dari tanah. Rumput gajah dibudidayakan dengan potongan batang (stek) atau sobekan rumpun (pous) sebagai bibit. Bahan stek berasal dari batang yang sehat dan tua, dengan panjang stek 20-25 cm (2-3 ruas atau paling sedikit 2 buku atau mata). Sebelum penanaman bagian vegetatif dari sobekan rumpun dipangkas terlebih dahulu untuk menghindari penguapan yang tinggi sebelum sistem perakaran dapat aktif menghisap air.
Menurut Okaraonye dan Ikewuchi (2009) analisis kandungan kimia dari rumput gajah adalah sebagai berikut: 
Kandungan nutrien rumput gajah
Rumput gajah (Pennisetum purpureum) merupakan tanaman pakan ternak yang sangat responsif terhadap pemupukan berat yaitu pada dosis 40 ton pupuk kandang/ha/tahun, 800 kg/urea/ha/tahun, 200 kg KCl/ha/tahun dan 200 kg TSP/ha/tahun (Lugiyo dan Sumarto, 2000). Rumput gajah juga sebagai tanaman konservasi lahan, terutama di daerah bertopografi pegunungan dan berlereng (Prasetyo, 2003). Adiati et al. (1995) menyatakan bahwa pertumbuhan dan produksi rumput gajah di Indonesia sangat bervariasi. Pertumbuhan dan produksi rumput ini akan lebih baik bila dilakukan pemupukan dengan dosis yang tepat dan sesuai. Penggunaan dosis pupuk N, P, dan K secara optimal dapat meningkatkan produksi rumput gajah.
Sumber:
Adiati, U. Soepeno, E. Handiwirawan, A. Gunawan dan D. Anggraenu. 1995. Pengaruh pemberiaan pupuk kandang terhadap produksi rumput gajah (pennisetum purpureum) di kecamatan Puspo kabupaten Pasuruan. Prosiding Seminar Nasional Peternakan dan veteriner, 7-8 November di bogor. Jilid 2: 583-5866.
Gonggo, B. M., Hermawan, B., and Anggraeni, D. 2005. Pengaruh jenis tanaman penutup dan pengolakan tanah terhadap sifat fisika tanah pada lahan alang-alang. Jurnal ilmu-ilmu pertanian Indonesia. 7(1):44-55.
Okaraonye, C. C., and Ikewuchi, J. C. 2009. Nutritional and antinutritional components of Pennisetum purpureum Schumach. Pakistan journal of nutritional 8(1): 32-34
Prasetyo, A. 2003. Model Usaha Rumput Gajah Sebagai Pakan Sapi Perah Di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Lokakarya Nasional Tanaman Pakan Ternak. Semarang.
Sanderson, M. A. and R. A., Paul. 2008. Perennial forages as second generation bioenergy crops. International Journal of Molecular Sciences, 9, 768-788
Soegiri, Ilyas, H.S., Damayanti. 1980. Mengenal Beberapa Jenis Hijauan Makanan Ternak Daerah Tropik. Direktorat Bina Produksi Peternakan. Direktorat Jendral Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta.
Woodard, K.R., and G.M., Prine, 1993. Dry matter accumulation of elephantgrass, energycane and elephantmillet in a subtropical climate. Crop Science, 33, 818–824.

Sabtu, 28 Maret 2015

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS TELUR

Telur adalah salah satu bahan makanan asal ternak yang bernilai gizi tinggi karena mengandung zat-zat makanan yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia seperti protein dengan asam amino yang lengkap, lemak, vitamin, mineral, serta memiliki daya cerna yang tinggi (Sirait, 1986).Menurut Sudaryani (2003), telur merupakan produk peternakan yang memberikan sumbangan terbesar bagi tercapainya kecukupan gizi masyarakat. Dari sebutir telur didapatkan gizi yang cukup sempurna karena mengandung zat–zat gizi yang sangat baik dan mudah dicerna. Oleh karenanya telur merupakan bahan pangan yang sangat baik untuk anak–anak yang sedang tumbuh dan memerlukan protein dan mineral dalam jumlah banyak dan juga dianjurkan diberikan kepada orang yang sedang sakit untuk mempercepat proses kesembuhannya. Telur mempunyai kandungan protein tinggi dan mempunyai susunan protein yang lengkap, akan tetapi lemak yang terkandung didalamnya juga tinggi.

Secara umum, telur terdiri atas 3 komponen pokok, yaitu : kulit telur atau cangkang (±11% dari berat total telur), putih telur (±57% dari berat total telur), dan kuning telur (±32% dari berat total telur). Adapun bagian-bagian telur secara rinci dapat dilihat di bawah ini
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS TELUR
keterangan gambar :
1.   Kulit luar (shell) dengan lapisan tipis di bagian luar (mucus).
2. Selaput tipis yang menempel pada shell selaput tipis lain yang melekat pada puctoihmtmeliutrto(muesmerbrane).
3.   Lapisan putih telur (egg white) pada 2 tempat, dekat dengan kulit (3a) dan yang dekat dengan kuning telur (3b) kondisinya lebih encer.
4.   Lapisan putih telur kental (diapit 2 lapisan putih telur encer ).
5.   Kuning telur (yolk).
6.   Titik benih (lembaga) atau germ spot.
7.   Tali pengikat kulit telur (chalazeae).
8.   Rongga udara (air space).
9.   Lapisan luar kuning telur (vitellin) (Suprapti, 2002).

1.   Penyakit
Beberapa jenis penyakit ayam, seperti ND (newcastle disease) dan infeksi bronkitis dapat menimbulkan abnormalitas pada kulit telur. Bahkan penyakit tersebut juga menimbulkan penurunan kualitas pada putih telur dan kuning telur
2.   Suhu Lingkungan Induk
Suhu yang panas akan mengurangi kualitas putih telur dan mengurangi kekuatan maupun ketebalan kulit telur. Hal ini disebabkan oleh penurunan nafsu makan pada ayam sehingga zat-zat gizi yang diperlukan tidak mencukupi. Suhu yang diperkenankan maksimal mencapai 29 0C (85 0F) (Sudaryani, 2003).
3.   Pakan
Kualitas pakan juga akan mempengaruhi kualitas kuning telur serta putih telur. Untuk memenuhi sejumlah unsur nutrisi, ayam memperoleh pakan dari berbagai bahan makanan. Bahan pakan sebagai sumber energi yaitu jagung kuning, jagung putih dedak, bekatul dan ubi kayu. Bahan pakan sebagai sumber protein yaitu bungkil kacang kedelai, bungkil kacang tanah, bungkil kelapa. Bahan makanan sebagai sumber mineral yaitu tepung tulang, tepung kerang, tepung ikan (Rasyaf, 1994).
4.   Suhu Penyimpanan Telur
Suhu optimum penyimpanan telur antara 12-15 C dan kelembapan 70-80%. Di bawah atau di atas suhu tersebut akan berpengaruh kurang baik terhadap kualitas telur. Penyimpana telur dalam skala besar sebaiknya dilakukan di ruang yang berpendingin (ber-AC). Jika tidak terdapat AC, dalam ruang penyimpanan dapat diletakkan ember berisi air yang berfungsi untuk menjaga kelembapan ruang. Dengan cara ini penguapan cairan di dalam telur dapat dikurangi (Sudaryani, 2003).
5.   Lama Penyimpanan
Telur  memiliki  kelemahan  yaitu  mudah  rusak  selama penyimpanan yang disebabkan adanya mikroba yang mengkontaminasi telur. Makin lama penyimpanan telur maka makin menurunkan kualitas telur yang diakibatkan keluarnya gas karbondioksida (CO2) pada telur.

Sumber :
Rasyaf, M., 1994. Makanan Broiler. Kanisius, Yogyakarta
Sirait, C. H. 1986. Telur dan Pengolahannya. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan, Bogor.
Sudaryani, T. 2003. Kualitas Telur. Penebar Swadaya, Jakarta.
Suprapti, M. L. 2002. Pengawetan Telur. Kanisius. Yogyakarta.

Jumat, 27 Maret 2015

JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK

Jagung (Zea mays L) adalah tanaman semusim dan termasuk jenis rumputan/ graminae yang mempunyai batang tunggal, meski terdapat kemungkinan munculnya cabang anakan pada beberapa genotipe dan lingkungan tertentu. Batang jagung terdiri atas buku dan ruas. Daun jagung tumbuh pada setiap buku, berhadapan satu sama lain. Bunga jantan terletak pada bagian terpisah pada satu tanaman sehingga lazim terjadi penyerbukan silang. Jagung merupakan tanaman hari pendek, jumlah daunnya ditentukan pada saat inisiasi bunga jantan, dan dikendalikan oleh genotipe, lama penyinaran, dan suhu. Secara umum jagung mempunyai pola pertumbuhan yang sama, namun interval waktu antartahap pertumbuhan dan jumlah daun yang berkembang dapat berbeda. Pertumbuhan jagung dapat dikelompokkan ke dalam tiga tahap yaitu (1) fase perkecambahan, saat proses imbibisi air yang ditandai dengan pembengkakan biji sampai dengan sebelum munculnya daun pertama; (2) fase pertumbuhan vegetatif, yaitu fase mulai munculnya daun pertama yang terbuka sempurna sampai tasseling dan sebelum keluarnya bunga betina (silking), fase ini diidentifiksi dengan jumlah daun yang terbentuk; dan (3) fase reproduktif, yaitu fase pertumbuhan setelah silking sampai masak fisiologis (Subekti et. al.,)
Menurut Tjitrosoepomo, 1991 tanaman jagung dalam tata nama atau sistematika (Taksonomi) tumbuh-tumbuhan jagung diklasifikasi sebagai berikut :
Kingdom         : Plantae
Divisi               : Spermatophyta
Kelas               : Angiospermae
Kelas               : Monocotyledoneae
Ordo                : Graminae
Famili              : Graminaceae
Genus              : Zea
Spesies            : Zea mays L

JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK
Bagian-bagian tanaman jagung yang di gunakan untuk pakan ternak antaralain:
1.   Tebon jagung sendiri adalah seluruh tanaman jagung termasuk batang, daun dan buah jagung muda yang umumnya dipanen pada umur tanaman 45 – 65 hari (Soeharsono dan Sudaryanto, 2006) ada pula yang menyebut tebon jagung tanpa memasukkan jagung muda ke dalamnya.
Tebon jagung ini dapat dimanfaatkan peternak untuk pakan ternak ruminansia.
2.   Biji Jagung dapat digunakan untuk pakan ternak unggas khususnya untuk pembuatan ransum ayam broiler atau yam petelur.

PAKAN TERNAK RUMINANSIA
Limbah tanaman jagung juga dapat dimanfaatkan untuk pakan, tetapi hanya untuk ternak ruminansia karena tingginya kandungan serat. Jerami jagung merupakan bahan pakan penting untuk sapi pada saat rumput sulit diperoleh, terutama pada musim kemarau. Jerami jagung yang diawetkan dengan pengeringan matahari menghasilkan hay dan disimpan oleh petani untuk persediaan pakan sapi pada musim kemarau. Dengan berkembangnya usaha penggemukan sapi impor atau berkembangnya industri sapi perah, seluruh tanaman jagung dapat dimanfaatkan sebagai pakan. Jagung ditanam secara khusus untuk menggantikan rumput. Tanaman jagung pada umur tertentu, terutama ketika bulir mulai tumbuh, mempunyai nilai gizi yang tinggi untuk sapi. Menurut Hartadi et al., (1997), bahwa tanaman Jagung dapat menggantikan rumput potong pada masa istirahat sesudah defoliasi sehingga kontinuitas pakan terjaga. Komposisi kimia hijauan jagung untuk pakan berturut-turut TDN, PK, Ca, P adalah 58%; 8,8%; 0,28% dan 0,14%.

PAKAN TERNAK UNGGAS
Sebagai pakan, jagung dimanfaatkan sebagai sumber energi dengan istilah energi metabolis. Walaupun jagung mengandung protein sebesar 8,5%, tetapi pertimbangan penggunaan jagung sebagai pakan adalah untuk energi. Apabila energi yang terdapat pada jagung masih kurang, misalnya untuk pakan ayam broiler, biasanya ditambahkan minyak agar energi ransum sesuai dengan kebutuhan ternak. Kontribusi energi jagung adalah dari patinya yang mudah dicerna. Jagung juga mengandung 3,5% lemak, terutama terdapat di bagian lembaga biji. Kadar asam lemak linoleat dalam lemak jagung sangat tinggi, sehingga dapat memenuhi kebutuhan ayam, terutama ayam petelur. Jagung mempunyai kandungan Ca dan P yang relatif rendah dan sebagian besar P terikat dalam bentuk fitat yang tidak tersedia seluruhnya untuk ternak berperut tunggal.
Dalam ransum unggas, baik ayam broiler maupun petelur, jagung menyumbang lebih dari separuh energi yang dibutuhkan ayam. Tingginya kandungan energi jagung berkaitan dengan tingginya kandungan pati (>60%) biji jagung. Di samping itu, jagung mempunyai kandungan serat kasar yang relatif rendah sehingga cocok untuk pakan ayam. Kadar protein jagung (8,5%) jauh lebih rendah dibanding kebutuhan ayam broiler yang mencapai >22% atau ayam petelur > 17%. Sebenarnya, ayam memerlukan asam amino yang terdapat dalam protein. Karena itu, untuk menilai kandungan gizi jagung perlu memperhatikan kandungan asam aminonya. Kandungan lisin, metionin, dan triptofan jagung relatif rendah sehingga untuk membuat pakan ayam perlu ditambahkan sumber protein yang tinggi seperti bungkil kedelai. Untuk melengkapi kandungan asam amino dalam ransum pakan ayam dapat ditambahkan asam amino sintetis seperti L Lisin, DL Metionin atau L Treonin.(Tangendjaja dan Wina).

Sumber:
Hartadi, H., S. Reksodiprodjo dan A.D. Tillman. 1997. Tabel Komposisi Bahan Makanan Ternak Untuk  Indonesia. Gadjah Mada University Press,    Yogyakarta.
Subekti N. A., Syafruddin, R. Efendi, dan S. Sunarti. Maros Morfologi Tanaman dan Fase Pertumbuhan Jagung. Balai Penelitian Tanaman Serealia.
Tangendjaja B. dan E. Wina. Limbah Tanaman dan Produk Samping Industri Jagung untuk Pakan. Balai Penelitian Ternak, Bogor.
Tjitrosoepomo, C., 1991. Taksonomi Tumbuhan. Gajah Mada Universy Press, Yogyakarta
Soeharsono & B. Sudaryanto. 2006. Tebon jagung sebagai sumber hijauan pakan ternak strategis di lahan kering Kabupaten Gunung Kidul. Prosiding Lokakarya Nasional Jejaring Pengembangan Sistem Integrasi Jagung – Sapi. Pontianak, 9-10 Agustus 2006. Puslitbang Peternakan, Bogor. Hal: 36-141.

Selasa, 24 Maret 2015

MODEL / TIPE KANDANG TERNAK BERDASARKAN FUNGSINYA

Kandang merupakan salah satu faktor lingkungan hidup ternak, harus bisa memberikan jaminan untuk hidup yang sehat dan nyaman sesuai dengan tuntutan hidup ternak dan bangunan kandang diupayakan harus mampu untuk melindungi ternak dari gangguan yang berasal dari luar seperti sengatan matahari, cuaca buruk, hujan dan tiupan angin kencang. Secara umum kontruksi kandang harus kuat, mudah dibersihkan, bersikulasi udara baik. Selain itu, ternak terlindung dari pengaruh lingkungan yang merugikan. Oleh karena itu, sehubungan dengan kontruksi ini yang perlu mendapat perhatian terutama mengenai arah kandang, ventilasi, atap, dinding dan lantai (Sugeng dan Sudarmono, 2008). Kandang dapat dibuat secara tunggal atau ganda, tergantung dari jumlah ternak yang dipelihara. Kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau sejajar, sementara kandang tipe ganda penempatan ternak sapi dilakukan dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang diantara kedua jajaran tersebut biasanya diberi jalur atau jalan.

Beberapa persyaratan yang diperlukan dalam mendirikan kandang antara lain (1) memenuhi persyaratan kesehatan ternak, (2) mempunyai ventilasi yang baik, (3) efisien dalam pengelolaan (4) melindungi ternak dari pengaruh iklim dan keamanan seperti pencurian (5) serta tidak berdampak buruk terhadap lingkungan sekitarnya. Konstruksi kandang harus kuat dan tahan lama, penataan dan perlengkapan kandang hendaknya dapat memberikan kenyamanan kerja bagi petugas dalam proses produksi seperti memberi pakan, pembersihan, pemeriksaan birahi dan penanganan kesehatan. Bentuk dan tipe kandang hendaknya disesuaikan dengan lokasi berdasarkan agroklimat, pola atau tujuan pemeliharaan dan kondisi fisiologis ternak.
A.  TIPE KANDANG
1.  Kandang Tipe Tunggal
Kandang tunggal merupakan tipe kandang yang ditempati oleh satu ternak di lengkapi oleh tempat pakan dan tempat minum. Penempatan ternak pada kandang tunggal dilakukan dengan metode satu baris atau sejajar, sedangkan pada bagian belakang adalah parit pembuangan kotoran.
Kandang Tipe Tunggal
2.  Kandang Tipe Ganda
Kandang ganda merupakan tipe kandang yang ternaknya saling berhadapan (head to head) atau tolak belakang (tail to tail), dan dilengkapi oleh tempat pakan dan tempat minum.
Kandang Tipe Ganda
3.  Kandang Tipe Paddock
Kandang paddock merupakan tipe kandang dengan penempatan ternal secara individual dan memiliki umbaran sehingga memungkinkan ternak untuk bisa bergerak lebih bebas dibanding dengan kandang tipe individu dan kandang tipe ganda. Kandang ini dikhususkan untuk ternak agar dapat melakukan exercise.
Kandang Tipe Paddock
B.  KANDANG BERDASARKAN FUNGSINYA
1.  Kandang Isolasi dan Karantina
Kandang karantina dipergunakan untuk mengkarantina ternak yang baru masuk atau baru datang dengan tujuan pemeriksaan kondisi ternak yang baru datang tersebut, sedangkan kandang isolasi hanya digunakan untuk memisahkan ternal yang sedang sakit agar tidak menular ke ternak yang lainnya.
2.  Kandang pembibitan
Kandang pembibitan digunakan untukpemeliharan induk/calon induk dengan tujuan untukmenghasilkan anak. Tipe kandang untuk program pembibitan ternak berdasarkan program perkawinanya, yaitu menggunakan kandang individu atau kandang kelompok
3.   Kandang beranak
Kandang beranak atau kandang menyusui adalah kandanguntuk pemeliharaan khusus induk atau calon induk yang telah bunting tua sampai disapihdengan tujuan menjaga keselamatan dan keberlangsungan hidup pedet. Kontruksi kandang beranak harus memberikenyamanan dan keleluasaan bagi induk dan anaknya selama menyusui. Kandang beranak termasuk tipe individu yangdilengkapi dengan palungan pada bagian depan, dan selokanpada bagian dibelakang ternak, serta di belakang kandangdilengkapi dengan halaman pelumbaran. Lantai  kandang selalu bersih, kering dan tidak licin.
4.   Kandang pembesaran
Kandang pembesaran untuk pemeliharaan ternak lepas sapih sampai dewasa. Tipe kandang ini adalahkandang kelompok yang mempunyai umbaran. Kontruksikandang pembesaran untuk ternak lepas sapih harus menjaminternak tidak bisa keluar pagar serta mampu mencapai pakan di dalam palungan
5.   Kandang penggemukan
Kandang penggemukan untuk ternak sampai mencapai bobot tertentu. Lamapemeliharaan ternak pada kandang penggemukan berkisar antara3-5 bulan, tergantung pada kondisi awal ternak (umur dan bobot badan) dan ransum yang diberikan.
6.   Kandang pejantan
Kandang pejantan untuk pemeliharan ternak jantan yang khusus digunakan sebagai pemacek. Tipe kandang pejantanadalah individu yang dilengkapi dengan palungan (sisi depan) dan saluran pembuangan kotoran pada sisi belakang. Kontruksi kandang pejantan harus kuat serta mampu menahanbenturan dan dorongan serta memberikan kenyamanan dankeleluasaan bagi ternak.
Sumber :
Ainur, R. dan Hartati. 2007. Petunjuk Teknis Perkandangan Sapi Potong. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Loka Penelitian Sapi Potong Grati. Pasuruan.
Murtidjo, B.A. 1992. Memelihara Sapi Sebagai Ternak Potong dan Perah. Kasinius. Yogyakarta.

Senin, 23 Maret 2015

PENANAMAN HIJAUAN PAKAN TERNAK

Penanaman hijauan pakan ternak dilakukan pada awal musim penghujan setelah tanah terolah sempurna. Jarak tanam bibit bergantung pada jenis rumput dan tingkat kesuburan tanah. Bila tanah subur jarak dapat diperpendek dan bila tanah kurang subur jarak tanaman lebih baik diperpanjang agar persaingan antar tanaman dapat dikurangi. Bibit yang digunakan dipilih berkualitas baik  agar sesuai dengan lingkungan, mudah dikembangkan dan dikelola serta memberikan produksi tinggi. Bibit hijauan dapat berupa sobekan rumpun (pols) potongan batang (stek), biji dan stolon. Jarak penanaman semua jenis rumput berjarak 1 X 1 M. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah perhitungan jumlah bibit yang dibutuhkan. Cara penanaman bibit hijauan ada 4, yaitu :
1.  Pols
Sobekan rumpun (pols) yang baik diperoleh dari rumpun yang sehat, mengandung banyak akar dan calon anakan baru(tepi rumpun) dan vegetatifnya dipotong agar tidak terlalu banyak penguapan, sebelum sistem perakarannya dapat menghisap air secara aktif. Setiap pols terdiri dari 1-2 batang rumput dan diambil dari bagian rumpun yang baru. Penanaman dilakukan dengan membuat lubang-lubang di areal yang akan ditanami dan kemudian rumpun diletakkan di dalam lubang setelah itu lubang ditutup dengan tanah. Tanaman yang penanamannya menggunakan teknik pols contohnya adalah rumput star grass dan rumput bede (Brachiaria decumbens)
2.  Stek
Stek adalah cara tanam yang menggunakan batang sebagai media tanam, stek diambil dari batang tua dan sehat serta minimal terdapat 2 ruas calon bibit. Bagian bawah pada bibit berujung lancip untuk memudahkan dalam penancapan stek ke tanah. Cara penanamannya dilakukan dengan penancapan benih stek ke dalam tanah. Kedudukan pada stek lebih baik miring untuk memudahkan pertumbuhan bibit. Setelah  panancapan tanah ditekan rapat supaya stek tidak mudah rebah dan kering dan memudahkan calon akar untuk tumbuh. Tanaman yang penanamannya menggunakan teknik stek contohnya adalah rumput gajah.
3.  Stolon
Stolon adalah cara penanaman dengan menggunakan potongan batang yang merayap atau batang yang berhimpit dengan tanah. Cara penanamanya adalah ruas bagian bawah dimasukkan ke dalam tanah  karena akan tumbuh akar. Pada stolon bibit rumput  berkedudukan berbaring pada tanah dan akan tumbuh menyebar dan membentuk suatu rumpun baru.
4.  Biji
Biji adalah cara penanaman dengan menggunakan benih biji dari tanaman itu sendiri, contoh tanaman yang menggunakan cara tanam benih biji adalah jagung. Cara penanamannya adalah dengan membuat lubang-lubang di areal yang akan ditanami jagung lalu biji jagung dimasukkan ke dalam lubang-lubang tersebut.

1.   Perawatan
Dalam menjaga pertumbuhan tanaman agar dapat tumbuh dan berproduksi tinggi perlu dilakukan perawatan pada kebun rumput yaitu berupa peyulaman, pembersihan gulma, pendangiran, pemupukan, pembersihan saluran drainase, dan peremajaan.
a.   Penyulaman
Penyulaman adalah suatu kegiatan yang di lakukan untuk mengganti tanaman yang mati dengan tanaman yang baru sehingga populasi tanaman sesuai dengan jumlah produksi yang diinginkan.
b.   Pembersihan gulma
Pembersihan gulma adalah untuk membersihkan rumput liar ataupun tanaman lain yang dapat mengganggu tanaman pokok. Tumbuhan liar tersebut dapat bersaing dengan tanaman pokok terhadap air, sinar matahari, zat hara dan dalam pengelolaan. Hal tersebut dapat mengganggu pertumbuhan tanaman pokok sehingga pertumbuhan terganggu dan akhirnya mati. Pembersihan gulma dilakukan dengan menggunakan alat cangkul dan sabit.
c.   Pendangiran
Pendangiran yaitu usaha menggemburkan tanah disekitar tanaman dengan maksud untuk memperbaiki struktur tanah yang berguna bagi pertumbuhan tanaman.
d.   Pemupukan
Tujuan dari pemupukan adalah memberi zat makanan untuk tanaman, mempertahankan kesuburan tanah dan memperbaiki struktur tanah. Pemupukan dengan pupuk buatan jenis urea dengan dosis 250 kg/ha dan pupuk organik dengan dosis 4000 kg/ha.
PEMUPUKAN TANAMAN
e.   Pembersihan drainase
Pembersihan drainase adalah cara untuk membersihkan saluran air dari kotoran atau tumbuhan yang menghambat suplai air ke lahan. Pembersihan dilakukan dengan menggunakan sabit dan cangkul dengan tujuan agar hijauan pakan mendapatkan suplai air yang cukup. Sumber air berasal dari limbah cair kandang atau air bekas  memandikan sapi dan kotoran cair.
2.   Pemotongan
Pemotongan rumput dilakukan pada umur 55 hari yaitu rumput sebelum berbunga. Alasan mengapa dilakukannya pemotongan rumput usia 55 hari yaitu bahwa kandungan nutrisi terbaik di umur tersebut. Pemotongan tanaman yang ditinggalkan tidak boleh terlalu pendek maupun terlalu tinggi yaitu berkisar anta 8-15 cm diatas permukaan tanah.
3.   Peremajaan
Peremajaan tanaman dilakukan ketika tanaman rumput tidak menunjukkan pertumbuhan yang bagus  dan produktifitasnya menurun. Peremanjaan tersebut pada rumput yang sudah tua antara 5 tahun untuk jenis rumput sedangkan untuk kaliandra dan gamal 10-15 tahun.
Terimakasih telah membaca artikel tentang penanaman hijauan pakan ternak. Semoga bermanfaat.