Ternak

Selasa, 07 April 2015

PENYAKIT GONDOK PADA TERNAK

Gondok terjadi kerena kurangnya iodium, hingga untuk menghasilkan tirtoksin yang cukup, kelenjar gondok mendapatkan pacuan terus menerus dengan hormone thyroxin-stimulating hormone (TSH), hingga terjadi pembesaran dari kelenjar gondok. Suplementasi iodium sebanyak 0,00076% biasanya cukup untuk mencegah gondok. Sebagai akibat kurangnya tiroksin hewan tersebut bertumbuh lambat. Gondok pada anak sapi atau pedet yang baru lahir dapat dicegah dengan jalan memberikan iodium cukup pada induk yang sedang bunting. iodium sendiri adalah sejenis mineral yang terdapat di alam, baik di tanah maupun di air, merupakan zat gizi mikro yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan makhluk hidup. Tidak semua negara mempunyai sumber mineral iodium Indonesia merupakan salah satu dari sedikit wilayah yang beruntung mempunyai sumber iodium tersebut. Sebagian besar iodium di alam terdapat di laut di sampingterdapat lapisan dalam tanah (sumur minyak dan gas alam). iodium bersifat menguap dan peka terhadap cahaya sehingga meskipun garam berasal dari laut secara alamiah tidak lagi mengandung iodium.
A.  Iodium
Iodium merupakan mineral esensial penyusun hormon tiroksin oleh kelenjar tiroid, hormon ini mempunyai peranan mengatur pertumbuhan dengan merangsang metabolisme di dalam jaringan, meningkatkan konsumsi dan produksi panas (Davies, 1982; Tillman dkk., 1999; Anggrodi, 1985). Defisiensi iodium menyebabkan rendahnya produksi tiroksin dan akan merangsang pembesaran atau perbanyakan sel-sel kelenjar tiroid yang sering disebut penyakit gondok. Gejala kekurangan iodium pada ternak betina adalah gangguan reproduksi, dalam keadaan defisiensi induk akan melahirkan anak tanpa bulu, lemah atau mati. Sumber iodium yang terbaik adalah bahan makanan yang berasal dari laut misalnya tepung ikan dan rumput laut. Kebutuhan iodium pada ternak besar 0,1 (mg/kg pakan) pada ayam 0,35 (mg/kg pakan) serta pada babi 0,2 (mg/kg pakan) (Tillman, dkk., 1999).
Fungsi Iodium
Salah satu fungsi Iodium adalah sebagai komponen hormon tiroksin yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Sebelum terbentuk tiroksin, terbentuk haasil perantar terleebih dahulu yaitu di-yodotirosin. Sebelumnya asam amino tirosin mengikat satu iodium membentuk mono-yodo-tirosin yang selanjutnya terjadi di-yodotirosin dan akhirnya dari dua di-yodotirosin membentuk tetra-yodotirosin atau yang disebut tiroksin.
Fungsi tiroksin:
1.  Mengatur jalannya metabolisme energi atau tingkat oksidasi dari semua sel.
2.  Mempengaruhi pertumbuhan fisik dan mental serta pemasakan jaringan.
3.  Mempengaruhi kelenjar endokrin yang lain terutama kelenjar hipofisis dan gonade.
4.  Mempengaruhi berfungsinya neuromuskuler.
5.  Mempengaruhi gerak peredaran di dalam tubuh.
6.  Mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan rambut dan bulu.
7.  Mempengaruhi metabolism berbagai macam nutrient termasuk berbagai macam mineral dan air.
B.  Sumber iodium
Sumber iodium yang baik adalah bahan pakan yang berasal dari lautan. Diantaranya adalah akan, krang, dan rumput laut. Tepung daging dan tulang juga dapat digunakan sebagai sumber bahan pakan yang mengandung iodium. Sebagai suplemen iodium adalah garam yodida yaitu Na yodida, K yodida, Na yodat dan K yodat.
C.  Gondok (Goiter)
Goiter atau gondok adalah kelainan pada ternak pada kelenjar tiroidnya akibat kekurangan iodium. Ternak dewasa sangat jarang mengalami kelainan ini tetapi fetus dan ternak yang masih muda mudah sekali terkena. Kasus goiter yang menyebabkan kematian pada anak kambing dan domba di daerah Bogor, Ciawi dan Cilebut. Kasus menjadi tinggi pada daerah-daerah yang kekurangan iodium.iodium (I) dibutuhkan untuk sintesa hormone tiroid (Triidothyronine/T3) dan tiroksin (T4) yang berperan dalam mengatur metabolisme tubuh dan sangat penting bagi hewan yang bunting, hewan muda dan yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Tiroid merupakan kelenjar yang berbentuk cuping kembar dan di antara keduanya dapat daerah yang menggenting. Kelenjar ini terdapat di depan trakea. Kelenjar tiroid menghasilkan hormon tiroksin yang mempengaruhi metabolisme sel tubuh dan pengaturan suhu tubuh. Tiroksin mengandung banyak iodium. Kekurangan iodium dalam makanan dalam waktu panjang mengakibatkan pembesaran kelenjar gondok karena kelenjar ini harus bekerja keras untuk membentuk tiroksin. Kekurangan tiroksin menurunkan kecepatan metabolisme sehingga pertumbuhan lambat dan kecerdasan menurun. Bila ini terjadi pada anak-anak mengakibatkan kretinisme, yaitu kelainan fisik dan mental yang menyebabkan anak tumbuh kerdil dan idiot. Kekurangan iodium yang masih ringan dapat diperbaiki dengan menambahkan garam iodium di dalam makanan. Produksi tiroksin yang berlebihan menyebabkan penyakit eksoftalmik tiroid (Morbus Basedowi) dengan gejala sebagai berikut; kecepatan metabolisme meningkat, denyut nadi bertambah, gelisah, gugup, dan merasa demam. Gejala lain yang nampak adalah bola mata menonjol keluar (eksoftalmus) dan kelenjar tiroid membesar.
D.  Penyebab
Penyebab terjadinya gondok pada sapi diantaranya adalah:
1.  Adanya zat goitrogen dan obat-obatan misalnya tirosinal ataupun perkhloralyang mengakibatkan kelenjar tiroid tidak mampu menangkap iodium sehingga tidak terbentuk tiroksin.
2.     Adanya zat goitrogen dan tanaman misalnya tirourasi pada kacang tanah, kedelai, dank obis sehingga menghambat sintesis tiroksin atau yodinasi tiroksin.
3.   Adanya sifat yang diturunkan yaitu kurangnya enzim yang spesifik untuk mensitesis tiroksin.
E.  Gejala
Gejala yang dapat terlihat pada sapi yang menderita penyakit gondok adalah sebagai berikut:
1.   Terjadi pembengkakan pada kelenjar ludah.
2.   Mulut terlihat tegang, terutama saat mengunyah dan menelan.
3.   Nafsu makan menurun.
4.   Suhu tubuh naik.
F.   Cara Pencegahan
Pemberian pakan yang mengandung mineral yang cukup terutama iodium. Mineral ini biasa terkandung dalam garam. Pemberian garam yang cukup, selain dapat meningkatkan palatabilitas juga dapat mencegah terjadinya gondok pada ternak.
Secara normal hormon tiroksin diproduksi oleh kelenjar tiroid dalam jumlah yang cukup sehingga dapat mempertahankan produktivitas dan reproduktivitas ternak. Produksinya akan menurun jika proses biosintesanya terhambat karena kekurangan/ defisiensi iodium. Faktor lain penyebab kondisi ini adalah adanya zat gastrogenik (tiosianat) pada pakan yang dikonsumsinya. Kombinasi keduanya akan memicu terjadinya goiter pada ternak. mendeteksi kadar tiosianat yang tinggi di dalam tubuh kambing yang sering mengonsumsi daun ubi kayu. Zat ini mampu menghambat up take iodium oleh kelenjar tiroid. Beberapa tanaman yang mengandung zat anti tiroid yaitu kubis, sudan grass dan white clover.
Sumber: Dirangkum dari berbagai sumber.

PEMANFAATAN PUPUK KANDANG DARI TERNAK DOMBA

Pemeliharaan ternak singkron dengan usaha pembuatan pupuk organik. Kegiatan tersebut secara langsung berkesinambungan untuk dapat dijalankan bersamaan. Secara prinsip semua yang ada dalam kegiatan tersebut akan termanfaatkan dan bernilai ekonomi tinggi. Segala hal yang ada di sekitar peternakan domba mempunyai nilai ekonomi, tidak terkecuali adalah kotoran ternak. Bagi pemilik/pemelihara peternakan produksi kotoran akan melimpah baik itu kotoran dalam bentuk cair/ urine maupun kotoran keras. Semua kotoran tersebut tidak ada yang terbuang akan tetapi dijadikan pupuk organik sehingga akan dapat menjadi tambahan pendapatan dalam mengelola peternakan. Limbah menjadi problematika yang semakin berat pengaruhnya bagi kehidupan manusia. Selain dampaknya dapat membahayakan kesehatan, juga merusak kelestarian lingkungan. Untuk mengatasi masalah ini, program pengolahan limbah semakin digalakan, di antaranya dengan mengolahnya menjadi pupuk dan pakan ternak. Cara ini dapat mengurangi dampak negatif sampah sekaligus memberikan profit dan menciptakan lapangan pekerjaan melalui usaha pengolahan limbah organik.
Konsep peternakan yang dijalankan seperti ini, peternak akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar dengan di dukung faktor usaha lainnya. Selain mendapatkan laba dari ternak yang dipelihara, juga akan mendapatkan laba dari kotoran ternak melalui pupuk organik. Cara menjalankan masing – masing usaha secara terintegrasi akan lebih komplek seandainya sekalian dijalankan dengan melakukan kegiatan pertanian. Mulai dari cara menernakkan domba dan kambing, mengolah kotoran ternak menjadi pupuk organik, hingga menanam sayuran organik.
Pemanfaatan kotoran yang merupakan residu kandang bersama limbah organik lainnya berfungsi efektif. Sebagai komponen utama pembuatan pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk segala macam tanaman. Selain itu sistem untuk pemanfaatan kotoran yang dimanfaatkan untuk pupuk organik juga secara tidak langsung akan memicu peternak untuk merubah sistem pemeliharaan dari tradisional menjadi sistem modern. Sistem modern yang dimaksud adalah pemeliharaan dengan menggunakan kandang panggung sehingga kotoran mudah ditampung dan pengawasannya juga mudah.
Beberapa cara pengolahan kotoran domba:
a.   Bubur
Bubur adalah campuran kotoran dan urin  mengandung sekitar 60% dari feses dan  40% dari urin. Komponen utama dalam  urin adalah  urea. Bubur harus disimpan setidaknya untuk dua bulan terutama dalam kondisi dingin.
b.   Urine
Saat ini urine sedang dipertimbangkan sebagai desinfektan alami hama pembasmi. Karena waktu yang sangat lama universal yang digunakan dalam kombinasi dengan berbagai tanaman atau kotoran untuk memproduksi pertumbuhan tanaman. Urin dapat digunakan sebagai pengendali jamur patogen pada tanaman.
PENAMPUNGAN FESES DOMBA
Kegiatan usaha secara integritas ini akan memunculkan kegiatan yang berkesinambungan untuk saling berkolaborasi dalam usaha. Hal ini karena memacu usaha produksi pertanian secara organik yang berkualitas tinggi, perbaikan pada kondisi tanah, perbaikan estetika melalui perbaikan pengelolaan kandang domba sehingga lokasi peternakan tetap indah dan asri, usaha peternakan secara penggemukan untuk mencukupi kebutuhan daging akan tetap terjaga.
Jadi ternak dengan memanfaatkan sumber daya alam memproduksi makanan bergizi nilai tinggi untuk jenis manusia yang membantu untuk mendapatkan keuntungan bagi masyarakat pertanian dan juga membantu dalam ketahanan pangan. Sebagai sampingan ternak jika dimanfaatkan dengan baik tidak hanya menyediakan pupuk organik untuk produksi pertanian tetapi juga memberikan kontribusi energi bahan bakar. Yang mempertahankan kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas. Juga dengan memanfaatkan ternak sampingan perlindungan lingkungan, menjaga penurunan kesehatan masyarakat di pencemaran lingkungan dapat dicapai untuk ini kita hanya perlu kesadaran untuk kegiatan dilakukan dalam masyarakat petani pedesaan jika sedang jadi kita tidak perlu khawatir tentang kekurangan pasti dari pupuk kimia komersial sekarang dan kemudian.

PENUTUP
Pemanfaatan kotoran yang merupakan residu kandang bersama limbah organik lainnya berfungsi efektif. Sebagai komponen utama pembuatan pupuk organik yang dapat dimanfaatkan untuk segala macam tanaman. Selain itu sistem untuk pemanfaatan kotoran yang dimanfaatkan untuk pupuk organik juga secara tidak langsung akan memicu peternak untuk merubah sistem pemeliharaan dari tradisional menjadi sistem modern. Sistem modern yang dimaksud adalah pemeliharaan dengan menggunakan kandang panggung sehingga kotoran mudah ditampung dan pengawasannya juga mudah.
Jadi ternak dengan memanfaatkan sumber daya alam memproduksi makanan bergizi nilai tinggi untuk jenis manusia yang membantu untuk mendapatkan keuntungan bagi masyarakat pertanian dan juga membantu dalam ketahanan pangan. Sebagai sampingan ternak jika dimanfaatkan dengan baik tidak hanya menyediakan pupuk organik untuk produksi pertanian tetapi juga memberikan kontribusi energi bahan bakar. Yang mempertahankan kesuburan tanah dan meningkatkan produktivitas. Juga dengan memanfaatkan ternak sampingan perlindungan lingkungan, menjaga penurunan kesehatan masyarakat di pencemaran lingkungan dapat dicapai untuk ini kita hanya perlu kesadaran untuk kegiatan dilakukan dalam masyarakat petani pedesaan jika sedang jadi kita tidak perlu khawatir tentang kekurangan pasti dari pupuk kimia komersial sekarang dan kemudian.

Sumber:
Anonim. 2013. http://webcache.googleusercontent.com. Diakses pada tanggal 23 Maret 2013 pukul 11.07 WIB. Surakarta.
Anonim. 2013. http://id.wikipedia.org.Diakses pada tanggal 23 Maret 2013 pukul  11.53 WIB. Surakarta.
Anonim. 2013. http://news.detik.com.Diakses pada tanggal 23 Maret 2013 pukul 11.57 WIB. Surakarta.
Anonim. 2013. http://www.anneahira.com. Diakses pada tanggal 23 Maret 2013 pukul 11.57 WIB. Surakarta.

Senin, 06 April 2015

RUMPUT BEDE/ SIGNAL (BRACHIARIA DECUMBENS)

Rumput Brachiaria decumbens (bede) disebut juga rumput signal berasal dari Afrika timur. Brachiaria decumbens mempunyai ciri-ciri, tinggi tanaman 30-45 cm, daun kaku dan pendek, ujung daun meruncing, mudah berbunga, bunga berbentuk seperti bendera. Brachiaria decumbens disebut rumput gembalaan yang tumbuh menjalar dengan stolon membentuk hamparan yang lebat. Rumput bede termasuk rumput berumur panjang, dapat tumbuh dengan membentuk hamparan lebat dan penyebarannya sangat cepat melalui stolon. Rumput bede tahan penggembalaan berat, tahan injakan dan renggutan serta tahan kekeringan dan responsif terhadap pemupukan nitrogen. Selain itu rumput ini juga cepat tumbuh dan berkembang sehingga mudah menutup tanah, tetapi tidak tahan terhadap genangan air. Rumput ini merupakan bahan hay yang balk, karena batangnya kecil mudah menjadi kering. Rumput bede dapat tumbuh baik pada ketinggian 0-1200 m (dataran rendah sampai dataran tinggi) dengan curah hujan 762-1500 mm/tahun, kemasaman tanah (pH) 6-7 (Kismono dan Susetyo, 1977).
Klasifikasi Rumput Bede (Signal)
Divisi                    : Angiospermae
Class                     : Monocotyledoneae
Ordo                     : Graminales
Family                  : Graminaea
Genus                   : Brachiaria
Species                 : Brachiaria Decumbens
RUMPUT BEDE/ SIGNAL (BRACHIARIA DECUMBENS)
\Di Indonesia rumput bede banyak dijumpai di pinggir jalan, pinggir selokan, lapangan, pematang sawah dan di tempat-tempat lainnya yang berbatu. Perkembangbiakan rumput bede di Indonesia sebenarnya sudah tersebar luas, namun pengembangan secara budidaya dan secara ekonomis masih sangat terbatas dibandingkan dengan pengembangan rumput raja (king grass) dan rumput gajah (elephant grass) yang sudah dikenal lebih dahulu oleh petani peternak. Jarak tanam yang sering digunakan untuk penaman rumput bede adalah 30x30 cm atau 40x40cm (Akk, 1983)

Kandungan isi sel rumput Bede mengalami menurun dengan meningkatnya tingkat kedewasaan tanaman, sedangkan kandungan fraksi serat (NDF, ADF, dan Lignin) meningkat dengan meningkatnya tingkat kedewasaan tanaman. Kualitas serat terbaik ditunjukkan oleh hijauan rumput Bede yang dipotong pada umur 30 hari, dan pemotongan rumput masih tetap dapat dilakukan sampai umur 40 hari. Keistimewaan rumput ini adalah tahan hidup di musim kemarau (tahan kering), selain itu karena mempunyai perakaran yang sangat kuat dan cepat menutup tanah sehingga dapat mengurangi erosi (Siregar, 1987).

Pemotongan atau penggembalaan pertama dapat dilakukan setelah tanaman rumput bede berumur 2 bulan bila keadaan memungkinkan (cukup hujan) dengan tujuan untuk meratakan dan merangsang pertumbuhan akar tanaman. Pemotongan/penggembalaan berikutnya dilakukan setiap 5-6 minggu (40 hari) pada musim hujan, sedangkan musim kemarau diperpanjang sampai 8 minggu (60 hari). Tinggi potong rumput bede biasanya 5-15 cm dari permukaan tanah pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau biasanya lebih dari 15 cm dari permukaan tanah.

Kandungan protein kasar dan serat kasar pada berbagai taraf pemotongan dilaporkan oleh Siregar dan Djajanegara (1972) adalah, 13,8% dan 29,69% pada pemotongan 20 hari, 8,86% dan 30,63% pada pemotongan 30 hari, 6,24 dan 33,27 pada pemotongan 45 hari serta 5,90 dan 34,1 pada pemotongan 60 hari. Hasil tersebut menunjukkan bahwa protein kasar pada Brachiaria akan cenderung menurun dan serat kasar akan meningkat sesuai dengan bertambahnya umur potong rumput (http://peternakan.litbang.deptan.go.id/).

Sumber:
Akk. 1983. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja Dan Perah . Penerbit Kanisius.
Kismono, I. Dan S. Susetyo. 1977. Pengenalan Jenis Hijaun Tropika Penting. Produksi Hijauan Makanan Ternak Untuk Sapi Perah . Bplpp. Lembang, Bandung. 1977.
Siregar, M.E Dan A. Djajanegara. 1974. Pengaruh Tingkat Pemupukan Zwavelzuur Kalium (Zk) Terhadap Produksi Segar 5 Jenis Rumput. Buletin L.P.P. Bogor No 12, 1-8
Siregar, M.E. 1987. Produktivitas Dan Kemampuan Menahan Erosi Species Rumput Dan Leguminosa Terpilih Sebagai Pakan Ternak Yang Ditanam Pada Tampingan Teras Bangku Di Das Citanduy, Ciamis.

Sabtu, 04 April 2015

FAKTOR KONSUMSI PAKAN PADA TERNAK

Tingkat konsumsi adalah jumlah makanan yang terkonsumsi oleh hewan bila bahan makanan tersebut diberikan secara adlibitum. Konsumsi merupakan faktor dasar untuk hidup dan menentukan produksi, beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi adalah hewan ternak, makanan yang diberikan (palatabilitas), dan lingkungan tempat hewan ternak dipelihara (Rahman, 2008). Kebutuhan ternak terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat bergantung pada jenis ternak, umur, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembaban nisbi udara) serta bobot badannya. Maka, setiap ekor ternak yang berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda pula.
Kemampuan ternak ruminansia dalam mengkonsumsi ransum dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : 1) faktor ternak itu sendiri yang meliputi besar tubuh atau bobot badan, potensi genetik, status fisiologi, tingkat produksi dan kesehatan ternak; 2) faktor ransum yang diberikan, meliputi bentuk dan sifat, komposisi zat-zat gizi, frekuensi pemberian, keseimbangan zat-zat gizi serta kandungan bahan toksik dan anti nutrisi; dan 3) faktor lain yang meliputi suhu dan kelembaban udara, curah hujan, lama siang atau malam hari serta keadaan ruangan kandang dan tempat ransum. Konversi pakan dipengaruhi oleh ketersediaan zat-zat gizi dalam ransum dan kesehatan ternak, semakin tinggi nilai konversi pakan berarti pakan yang digunakan untuk menaikkan bobot badan persatuan berat semakin banyak atau efisiensi pakan rendah (Siregar, 1994). Standar kebutuhan pakan harus yang digunakan sebagai acuan kebutuhan ternak disesuaikan dengan kondisis ternak disertai dengan tabel komposisi pakan yang menyediakan informasi berhubungan dengan komposisi nutrisi pakan yang digunakan dalam balance ration. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun ransum seimbang antara lain faktor zat gizi dan faktor biaya. Pengunaan bahan pakan yang murah dan kandungan nutrisi yang dapat memenuhi kebutuhan ternak dalam menyusun ransum akan sangat menguntungkan bagi peternak. Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi pakan pada ternak :
1.   Jenis Ternak
Jenis ternak sangat mempengaruhi komsumsi pakan, karena kondisi fisiknya pun sudah berbeda.
2.   Temperatur Lingkungan
Ternak ruminansia dalam kehidupannya menghendaki temperatur lingkungan yang sesuai dengan kehidupannya, baik dalam keadaan sedang berproduksi maupun tidak. Kondisi lingkungan tersebut sangat bervariasi dan erat kaitannya dengan kondisi ternak yang bersangkutan yang meliputi jenis ternak, umur, tingkat kegemukan, bobot badan, keadaan penutup tubuh (kulit, bulu), tingkat produksi dan tingkat kehilangan panas tubuhnya akibat pengaruh lingkungan.
3.   Palatabilitas
Palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai akibat dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, rasa (hambar, asin, manis, pahit), tekstur dan temperaturnya. Hal inilah yang menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak untuk mengkonsumsinya. Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa manis dan hambar daripada asin/pahit. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih tinggi.
FAKTOR KONSUMSI PAKAN PADA TERNAK
4.   Selera.
Selera dipengaruhi oleh kondisi internal ternak, apakah lapar atau tidak, bila dalam keadaan lapar maka selera ternak akan naik dengan sendirinya, bahkan bila keadaan ini sering terjadi ternak bisa mengkonsumsi lebih dari yang di butuhkan.
5.   Status fisiologi
Tingkat konsumsi ternak sangat di pengaruhi status fisiologis ternak yaitu jenis kelamin, umur, dan kondisi kesehatan ternak.
6.   Kandungan Nutrisi Pakan
Kandungan nutrisi yang paling berpengaruh dalam pakan adalah energi, makin tinggi energi makin sedikit pakan yang di konsumsi ternak, sebaliknya apabila semakin rendah energi semakin banyak yang dikonsumsi ternak.
7.   Bentuk Pakan
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan bentuk pellet atau dipotong daripada hijauan yang diberikan seutuhnya. Hal ini berkaitan erat dengan ukuran partikel yang lebih mudah dikonsumsi dan dicerna. Oleh karena itu, rumput yang diberikan sebaiknya dipotong-potong menjadi partikel yang lebih kecil dengan ukuran 3-5 cm. Sedangkan ternak unggas lebih suka dengan pakan dengan bentuk biji-bijian.
8.   Produksi
Kemampuan ternak dalam konsumsi pakan sangat dipengaruhi dengan apa yang sedang di produksinya, baik produksi telur, berat badan, susu, woll dan lain-lain (Kartadisastra 1997).
Sumber :
http://www.saungdomba.com/artikel-domba-garut/356-faktor-faktor-yang-mempengaruhi-konsumsi-pakan-ternak-
Kartasdisastra, H. R. 1997. Penyediaan dan Pengolahan Pakan Ternak Ruminansia Sapi, Kerbau, Domba, dan Kambing. Kanisius. Yogyakarta.
Rahman, D. K., 2008. Pengaruh Penggunaan Hidrolisat Tepung Bulu Ayam dalam Ransum terhadap Kecernaan Bahan Kering dan Bahan Organik serta Konsentrasi Amonia Cairan Rumen Kambing Kacang Jantan. Skripsi. Program Studi Peternakan Universitas Sebelas Maret
Siregar, S. B. 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya. Jakarta.

Rabu, 01 April 2015

Hormon Yang Berperan Saat Kebuntingan Ternak

Kebuntingan berarti suatu keadaan dimana embrio sedang berkembang didalam uterus ternak betina. Secara visual, periode kebuntingan pada umumnya dihitung mulai dari perkawinan yang terakhir sampai terjadinya kelahiran anak secara normal. Satu periode kebuntingan adalah periode dari mulai terjadinya fertilisasi sampai terjadinya kelahiran normal (Partodihardjo, 1980). Periode kebuntingan adalah periode dari fertilisasi atau konsepsi sampai partus atau kelahiran individu muda. Selama periode ini sel-sel tunggal membelah dan berkembang menjadi organisasi yang lebih tinggi yaitu individu. Tingkat kematian periode ini, yaitu ovum, embrio, maupun fetus lebih tinggi dibanding setelah individu lahir. Keluarnya fetus atau embrio yang mati dan yang ukurannya dapat dikenali disebut abortus. Keluarnya fetus yang hidup dan pada waktunya disebut lahir. Keluarnya fetus yang mati pada saat partus pada babi dan hewan lain disebut stillbirths. Lahirnya indiyidu baru sebelum waktunya disebut prematur.
Peleburan spermatozoa denganovum mengawali reaksi kimia dan fisika yang majemuk, bermula dari sebuah sel tunggal yang mengalami peristiwa pembelahan diri yang berantai dan terus menerus selama hidup individu tersebut. Setelah pembuahan, yang mengembalikan jumlah kromosom yang sempurna, pembelahan sel selanjutnya bersifat mitosis sehingga anak-anak sel hasil pembelahannya mempunyai kromosom yang sama dengan induk selnya. Pertumbuhan makhluk baru terbentuk sebagai hasil pembuahan ovum oleh spermatozoa dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu: periode ovum, periode embrio dan periode fetus. Periode ovum dimulai dari terjadinya fertilisasi sampai terjadinya implantasi, sedang periode embrional dimulai dari implantasi sampai saat dimulainya pembentukan alat-alat tubuh bagian dalam. Periode ini disambung oleh periode fetus. Lamanya periode kebuntingan untuk tiap spesies berbeda-beda disebabkan oleh faktor genetik. Hewan yang tidak dalam masa estrus akan menolak untuk kawin. Hewan yang tidak bunting, periode estrus dimulai sejak dari permulaan estrus sampai ke permulaan periode berikutnya (Akoso, 1996).
Hormon yang Berperan saat Kebuntingan Ternak antara lain:
a.   GnRH (Gonadotrophin Realesing Hormon)
GnRH merupakan suatu dekadeptida (10 asam amino) dengan berat molekul 1183 dalton. Hormon ini menstimulasi sekresi Follicle Stimulating Hormon (FSH) dan Lutinizing Hormone (LH) dari hipofisis anterior. Pemberian GnRH meningkatkan FSH dan LH dalam sirkulasi darah selama 2 sampai 4 jam (Salisbury, 1985).
FSH dan LH merangsang folikel ovarium untuk mensekresikan estrogen. Menjelang waktu ovulasi konsentrasi hormon estrogen mencapai suatu tingkatan yang cukup tinggi untuk menekan produksi FSH dan dengan pelepasan LH menyebabkan terjadinya ovulasi dengan menggertak pemecahan dinding folikel dan pelepasan ovum. Setelah ovulasi maka akan terbentuk korpus luteum dan ketika tidak bunting maka PGF2α dari uterus akan melisiskan korpus luteum. Tetapi jika terjadi kebuntingan maka korpus luteum akan terus dipertahankan supaya konsentrasi progesteron tetap tinggi untuk menjaga kebuntingan (Imron, 2008).
b.   Estrogen
Secara alami hormon estrogen dihasilkan oleh folikel yang sedang berkembang, terutama di dalam sel sel granulosa folikel de Graff. Jika folikel de Graff mencapai ukuran maksimum sampai sesaat sebelum terjadi ovulasi, maka dalam waktu yang bersamaan jumlah sel sel teca interna mencapai maksimal. Estrogen merupakan hormon steroid yang berperan dalam merangsang perkembangan saluran kelamin betina, merangsang pelepasan Gn-RH dari hipotalamus dan LH dari hipofisis yang berperan dalam pematangan dan ovulasi folikel de Graff dan mensensitifkan sel sel granulosa untuk berespons terhadap gonadotropin dan merangsang proliferasi serta diferensiasi sel sel tersebut (Whittier et al., 1986).
Hormon estrogen mempunyai fungsi fisiologis yang paling luas dibandingkan semua hormon steroid yang ada dalam darah. Estrogen mempengaruhi susunan syaraf pusat untuk menginduksi tingkah laku estrus pada betina. Hormon estrogen mempunyai peran dalam proses ovulasi melalui umpan balik positif terhadap LH, mempengaruhi uterus untuk dapat meningkatkan endometrium dan miometrium melalui hiperplasia dan hipertrofi sel, perkembangan sifat kelamin sekunder, merangsang pertumbuhan dan perkembangan kelenjar mammae, selanjutnya estrogen mempunyai efek negatif dan positif terhadap hipotalamus dan pelepasan FSH dan LH  (Jabour et al. 1993; McG Agro et al. 1994). Pada awal kebuntingan hormone ini sedikit kemudian kadarnya mulai naik pada saat umur kebuntintingan mulai tua. Pada usia kebuntingan 4 bulan akhir sapi akan mengekskresikan 10 X lipat hormon esterogen didalam air seninya dibanding sesudah melahirkan.
c.   Progesteron
Hormon progesteron adalah hormon yang dihasilkan oleh corpus luteum, tetapi juga didapati di adrenal, plasenta dan testis. Secara umum progesteron bekerja pada jaringan yang telah dipersiapkan oleh estrogen. Frandson (1992), sebagai hormon pertumbuhan yang berperan dalam proses pertumbuhan kelenjar mammary, bersama-sama dengan laktogen plasenta akan bertanggung jawab terhadap proses percabangan dan pembentukan sel-sel epithel kelenjar ambing (Manalu et al, 1998) hormon progesteron pada ternak sapi dan domba disekresikan oleh plasenta selama stadium akhir kebuntingan, peran hormon progesteron secara fisiologis ada 3 kondisi yaitu selama proses siklus estrus, selama kebuntingan dan pasca lahir. Disebutkan oleh Hafez (1987), bahwa progesteron merupakan hormon kebuntingan karena akan menyebabkan penebalan endometrium dan perkembangan kelenjar uterin dalam persiapan terjadinya impalntasi ovum yang sudah dibuahi dan menjaga selama kebuntingan.
Hormon Yang Berperan Saat Kebuntingan Ternak
Secara alamiah hormon progesteron dihasilkan oleh corpus luteum (CL), plasenta dan kelenjar adrenal. Berdasarkan sifat kimiawinya hormon ini dapat mempersiapkan uterus untuk memelihara kebuntingan. Kasus kasus aborsi pada kebuntingan muda dibawah tiga bulan lebih banyak ditimbulkan oleh pengaruh kekurangan produksi hormon ini (Macmillan dan Peterson, 1993). Hormon ini mempunyai peranan paling penting dan dominan dalam mempertahankan kebuntingan. Kadar hormon yang meningkat menyebabkan berhentinya kerja hormon lain serta menyebabkan berhentinya siklus estrus dengan mencegahnya hormon gonadotrophin-gonadotrophin. Progesteron dihasilkan di corpus luteum dan plasenta. Apabila sekresi hormon ini berhenti pada setia kebuntingan akan berakhir selama beberapa hari.
Progesteron penting selama kebuntingan terutama pada tahap-tahap awal. Apabila dalam uterus tidak terdapat embrio pada hari ke 11 sampai 13 pada babi serta pada hari ke 15–17 pada domba, maka PGF2α akan dikeluarkan dari endometrium dan disalurkan melalui pola sirkulasi ke ovarium yang dapat menyebabkan regresinya corpus luteum. Apabila PGF2α diinjeksikan pada awal kebuntingan , maka kebuntingan tersebut akan berakhir (Luqman, 1999).
Sumber:
Akoso, T. B. 1996. Kesehatan Sapi. Kanisius, Yogyakarta.
Frandsond, R.D. 1992. Anatomy dan Fisiologi Hewan. Gadjah Mada UniversityPress.Yogyakarta.
Hafez, E. S. E. 1987. Reproduction in Farm Animal 4 th ed. Lea and Febiger Philadelphia.
Http://etikafarista.blogspot.com/2012/12/makalah-kebuntingan_13.html
Imron, A. 2008. Biologi Reproduksi. Universitas Brawijaya. Malang.
Jabbour H.M., Valehuizen F.A., Green .G, Asher G.W., 1993. Endocrine Responses and Conception Votes In Follow Deer (Dama Dama) Following Oestrous Synchronization and Cervical Insemination With Fresh or Frozen-thawed Spermatozoa. J. Reprod. Fert. 98 : 495-502.
Luqman, M., 1999. Fisiologi Reproduksi. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Surabaya
Macmillan, K.L. and A.J. Peterson, 1993. A New Intravaginal Progesterone Realising Device For Cattle (CIDR-B) for Estrus Synchronization, Increasing Pregnancy Rate and The Treatment of Postpartum Anestrus. J.anim. Sci. 33 : 1-25.
Manalu, W. and M.Y. Sumaryadi. 1998b. Mammary gland indices at the end of lactation in Javanese thin-tail ewes with different litter size. Asian-Austr. J. Anim. Sci. 11:648-654.
McG Agro, Jabbour C.H.M., Goddard P.J., Webb R. London A.S.I. 1994. Superovulation In Red Deer (Cervus Elaphus) and Pere David-s Deer (Elapharus Davidianus) and Fertilitation Rates Following Artificial Insemination With Pere David-s Deer Semen. J. Reprod. Fert. 100 : 629-636.
Partodihardjo, S. 1980. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara. Jakarta
Salisbury, 1985. Fisiologi Reproduksi Hewan Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.
Synchronization in Beef Heifer. J. Anim. Sci. 63: 700-704.
Whittier, J.C., G.H Deutcher, and D.C. Clanton. 1986. Progesterone and Prostaglandin for Etrus.

MACAM MACAM PEMALSUAN SUSU

Susu merupakan cairan yang banyak mengandung gizi yang baik. Pada susu banyak ditemukan vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Untuk itu kualitas dari susu perlu diperhatikan agar tidak merusak kandungan dari susu tersebut. Susu merupakan produk peternakan yang mudah dipelsukan. Tujuan dari pemalsuan susu yaitu untuk menambah volume susu, susu dihargai dengan sedikit lebih mahal, dan untuk memprtahankan sifat susu. Macam-macam pemalsuan susuyang terjadi di antaranya yaitu:
1.  Pemalsuan susu dengan air
Penambahan air pada susu merupakan cara yang paling sederhana. Susu yang dipalsukan dengan air terlalu banyak akan menimbulkan bercak biru pada susu. Dengan menambahkan air pada susu maka akan menurunkan kadar lemak, protein dan kandungan bahan keringnya.
2.  Pemalsuan susu dengan santan
Pemalsuan susu dengan santan menyebabkan susu akan berbau seperti kelapa. Adanya gumpalan lemak santan, hal ini disebabkan karena santan memiliki molekul lemak yang lebih besar dibandingkan lemak susu karena molekul lemak nabati lebih beesar dibanding molekul lemak hewani.
3.  Pemalsuan susu dengan air tajin
Air tajin memiliki keuntungan untuk memalsukan susu, diantaranya warnanya yang putih dan air tajin masih mengandung vitamin dan karbohidrat yang berasal dari beras.
4.  Pemalsuan susu dengan susu kaleng (susu kental manis)
Susu kental manis merupakan produk susu berbentuk cairan kental yang diperoleh dengan menghilangkan sebagian besar air dari susu segar atau hasil rekonstitusi susu bubuk berlemak penuh atau hasil rekombinasi susu bubuk tanpa lemak dengan lemak nabati, yang telah ditambah gula (SNI 01-2971-1998). Penambahan susu dengan menggunakan campuran susu kaleng maupun susu kental manis merupakan pemalsuan yang mudah dan cukup efektif. Hal ini dikarenakan pada susu yang ditambahkan tidak terjadi perubahan warna maupun bau. Namun, penambahan dengan susu kaleng membuat sampel susu terasa lebih manis.
5.  Pemalsuan susu dengan soda kue
Natrium bikarbonat adalah senyawa kimia dengan rumus NaHCO3. Dalam menyebutannya kerap disingkat menjadi bicnat. Senyawa ini termasuk kelompok garam dan telah digunakan sejak lama. Senyaw a ini disebut juga baking soda (soda kue), Sodium bikarbonat, natrium hidrogen karbonat, dan lain-lain. Senyawa ini merupakan kristal yang sering terdapat dalam bentuk serbuk. Natrium bikarbonat larut dalam air. Senyawa ini digunakan dalamroti atau kue karena bereaksi dengan bahan lain membentuk gas karbon dioksida, yang menyebabkan roti “mengembang” (Holleman & Wiberg).
6.  Pemalsuan susu dengan formalin
Formaldehde atau biasa disebut dengan formalin adalah larutan organic dengan rumus kimia CH2O, Formalin merupakan bentuk aldehid yang paling sederhana. Pada temperature ruang, formalin berwujud cair yang bening dengan aroma yang tajam. Ketika dilarutkan didalam air, formalin bergabung dengan air dan membentuk metanediol atau metilen glikol H2C(OH)2. Formalin jarang ditemukan pada makhluk hidup. Formalin merupakan penyebab utama dari keracunan methanol, karena methanol dimetabolisme menjadi formaldehid beracun oleh dehidrogenase alcohol. Pada manusia, mengonsumsi bahan makanan yang mengandung formalin dapat menyebabkan muntah, sakit perut, pusing dan dalam kasus yang ekstrim dapat menyebabkan kematian. Disamping itu, penggunaan formalin dalam bahan makanan dapat menyebabkan efek karsinogen. 
7.  Pemalsuan susu dengan penambahan kaporit
Susu yang dicampur/ dioplos dengan kaporit biasanya dijual di pinggir jalan oleh pedagang kaki lima dengan label “SUSU SEGAR” atau “SUSU MURNI”. Modusnya bermacam-macam, rata-rata pedagang ingin meraih keuntungan lebih banyak dengan susu oplosan ini. Sebelum dijual, susu segar yang didapat dari peternak dicampur dengan air agar lebih banyak. Dengan adanya tambahan air tentunya susu segar akan berubah menjadi encer. Nah, untuk mengembalikan kekentalannya ditambahkan kaporit kedalam susu segar tersebut. Kaporit yang biasanya digunakan untuk penjernih air dan pembunuh kuman ini sebenarnya hanya berfungsi untuk menambah kekentalan susu saja. Jika disimpan, susu murni akan bertahan sampai 5 hari, sedangkan susu oplosan hanya bertahan 2 hari saja.

Pemalsuan dapat dilakukan sedemikian rupa sehingga air susu tidak memperlihatkan adanya penyingkiran susunannya. Hal berikut ini hendaknya mendapat perhatian:
1.  Tiap-tiap air susu yang B.J-nya rendah harus diawasi misalnya lebih rendah dari 1,0280, walaupun tidak semuanya dipalsukan dengan penambahan air.
2.  Bila disamping itu didapatkan kadar lemak rendah, maka kemungkinan  pemalsuan lebih besar.
3.  Dalam hal itu %lemak dalam bahan kering dapat dihitung. Bila kadar lemak dalam bahan kering lebih rendah dari 2.5%, maka air susu harus dikatakan abnormal.
4.   Pemalsuan dengan air dapat dibuktikan selanjutnya, bila titik beku atau angka refraksi air susu diperiksa. Air susu di Indonesia mempunyai titik beku normal diantara 0°C dan – 0,520°C, sedangkan angka refraksi minimal harus 34 (Melk Codex). Perubahan-perubahan air susu dapat pula terjadi karena perubahan makanan yang diberikan.
5. Bila B.J air susu normal, akan tetapi kadar lemaknya rendah, maka biasanya hal ini disebabkan oleh pengambilan kepala susu (krim), juga % lemak di dalam bahan kering sangat rendah. Dalam hal ini penetapan titik beku air susu sangat penting.
Perbedaan antara susu asli dengan susu palsu berdasarkan warna, bau, rasa, dan kekentalan adalah sebagai berikut :
Susu Asli
Susu Palsu
1.  Warna alami susu putih dan tidak bening
1. Timbul warna biru, merah, dan atau kuning
2.  Susu alami memiliki aroma khusus yang tidak menusuk hidung.
2. Berbau aneh
3.  Perpaduan rasa manis dan asin
3. Berasa pahit, lemak, basi/busuk, terlalu amis
4.  Memiliki kadar kekentalan yang lebih tinggi daripada air
4. Kohesitas susu akan berkurang apabila ditambah dengan air, atau kekurangan unsur minyak di dalam susu.
Sumber :
Didapat dari serbagai sumber di internet maupun lapangan.
Terimakasih telah membaca artikel tentang macam macam pemalsuan susu. Semoga bermanfaat dan jangan disalahgunakan.