Ternak

Sabtu, 21 Februari 2015

PEMBUATAN GELATIN DARI TULANG DAN KULIT

Gelatin adalah protein yang diperoleh dari jaringan kolagen hewan yang terdapat pada kulit, tulang dan jaringan ikat. Gelatin merupakan salah satu hidrokoloid yang dapat digunakan sebagai gelling, bahan pengental (thickner) atau penstabil. Gelatin mengandung protein yang sangat tinggi dan rendah kadar lemaknya. Gelatin kering dengan kadar air 8-12% mengandung protein sekitar 84-86% Protein, lemak hampir tidak ada dan 2-4% mineral. Dari 10 jenis asam amino essensial yang dibutuhkan tubuh, gelatin mengandung 9 jenis asam amino essensial, satu asam amino essensial yang hampir tidak terkandung dalam gelatin yaitu Treptophane. Dengan komposisi kimia seperti tersebut dan sifat-sifat fisik lainnya, tidak heran kalau gelatin mempunyai multi guna dalam berbagai industri. Hal ini dikarenakan gelatin bersifat serba bisa, yaitu bisa berfungsi sebagai bahan pengisi, pengemulsi (emulsifier), pengikat, pengendap, pemerkaya gizi, pengatur elastisitas, dapat membentuk lapisan tipis yang elastis, membentuk film yang transparan dan kuat, kemudian sifat penting lainnya yaitu daya cernanya yang tinggi dan dapat diatur, sebagai pengawet, humektan, penstabil, dan lain-lain.
Menurut Saleh (2004) dan Gomez (2001) gelatin yang baik harus memenuhi persyaratan standar mutu yang telah ditetapkan oleh  SII (Standar Industri Indonesia) seperti yang disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Standar Mutu Gelatin
Karakteristik
Syarat
Warna
Bau, rasa
Kadar air
Kadar abu
Logam berat
Arsen
Tembaga
Seng
Sulfit
Tidak berwarna
Normal (dapat diterima konsumen)
Maksimum 16%
Maksimum 3,25%
Maksimum 50 mg/kg
Maksimum 2 mg/kg
Maksimum 30 mg/kg
Maksimum 100 mg/kg
Maksimum 1000 mg/kg
PEMBUATAN GELATIN DARI TULANG DAN KULIT
A.  FUNGSI-FUNGSI GELATIN DALAM BERBAGAI PRODUK :
1.  Jenis produk pangan secara umum: berfungsi sebagai zat pengental, penggumpal, membuat produk menjadi elastis, pengemulsi, penstabil, pembentuk busa, pengikat air, pelapis tipis, pemerkaya gizi.
2.   Jenis produk daging olahan: berfungsi untuk meningkatkan daya ikat air, konsistensi dan stabilitas produk sosis, kornet, ham, dll.
3.   Jenis produk susu olahan: berfungsi untuk memperbaiki tekstur, konsistensi dan stabilitas produk dan menghindari sineresis pada yoghurt, es krim, susu asam, keju cottage, dll.
4.  Jenis produk bakery: berfungsi untuk menjaga kelembaban produk, sebagai perekat bahan pengisi pada roti-rotian, dll
5.   Jenis produk minuman: berfungsi sebagai penjernih sari buah (juice), bir dan wine.
6.   Jenis produk buah-buahan: berfungsi sebagai pelapis (melapisi pori-pori buah sehingga terhindar dari kekeringan dan kerusakan oleh mikroba) untuk menjaga kesegaran dan keawetan buah.
7.  Jenis produk permen dan produk sejenisnya: berfungsi untuk mengatur konsistensi produk, mengatur daya gigit dan kekerasan serta tekstur produk, mengatur kelembutan dan daya lengket di mulut.
B.  TIPE GELATIN
Dari cara pembuatannya, ada dua jenis gelatin yaitu gelatin tipe A dan tipe B. Gelatin tipa A adalah gelatin yang umumnya dibuat dari kulithewan muda (terutama kulit babi), sehingga proses pelunakannya dapat dilakukan dengan cepat yaitu dengan sistem perendaman dalam larutan asam (A = acid). Gelatin tipe B adalah gelatin yang diolah dari bahan baku yang keras seperti dari kulit hewan yang tua atau tulang, sehingga proses perendamannya perlu lama dan larutan yang digunakan yaitu larutan basa  (B = basa). Di pasaran masyarakat keliru menterjemahkan singkatan tersebut.  Konsumen  sering menganggap B adalah singkatan dari beef (sapi), sehingga gelatin B dianggap gelatin sapi, padahal belum tentu, bisa saja dari tulang babi atau lainnya
C.  PERBEDAAN GELATIN TIPE A DAN TIPE B
Prinsip pembuatan gelatin dibagi menjadi dua macam yaitu proses asam  dan proses basa. Perbedaan ini terletak pada proses perendamannya, sehingga akan menghasilkan produk akhir yang berbeda yaitu tipe A dan tipe B. Tipe A bahan baku berasal dari kulit babi atau dari ossein . Sedangkan Tipe B bahan baku berasal kulit hewan dan tulang
D.  PEMBUATAN GELATIN
1.   Pembuatan Gelatin dari Tulang
a)   Alat
1)   Keranjang semprotan.
Alat ini digunakan untuk meletakkan tulang yang dicuci dengan semprotan air. Dasar wadah berlobang-lobang untuk meniriskan air.
2)   Wadah perendaman.
Wadah ini digunakan sebagai tempat merendam serpihan tulang. Untuk itu dapat digunakan bak semen, bak serat gelas (fiber glass), baskom plastik, atau ember plastik.
3)   Mesin penggiling tulang.
Alat ini digunakan untuk menggiling tulang hingga menjadi sepihan dengan ukuran 1-3 cm.
4)   Palu dan kayu landasan.
      Alat ini digunakan jika tidak tersedia mesin penggiling tulang.
5)   Wadah perebusan.
      Alat ini digunakan untuk merebus tulang
6)   Wadah ekstraksi gelatin.
Alat ini digunakan untuk merendam tulang pada suhu panas setelah tulang tersebut direndam dengan larutan kapur. Wadah ini terbuat dari logam tahan karat, seperti aluminium dan stainless steel.
7)   Wadah penguapan larutan gelatin.
Wadah ini digunakan untuk penguapan larutan gelatin. Wadah ini terbuat dari logam tahan karat, seperti aluminium dan stainless steel. Bentuknya berupa bak dangkal dengan permukaan luas. Tungku atau kompor.
8)   Cetakan.
Cetakan terbuat dari plat aluminium atau stainless steel yang bersekat-sekat.
b)   Bahan
1)   Tulang.
2)   Larutan kapur 10 %.
100 kg kapur dimasukkan ke dalam bak, kemudian ditambahkan air sampai volumenya menjadi 1 m3. Campuran ini diaduk-aduk sampai kapurnya larut.
c)   Cara Pembuatan Gelatin
1)   Pencucian.
Tulang dimasukkan ke dalam ember atau bak dan diaduk-aduk, kemudian airnya dibuang. Hal ini dilakukan beberapa kali. Pencucian tulang dapat juga dilakukan penyemprotan air tekanan tinggi agar kotoran-kotoran yang menempel kuat pada tulang terlepas.
2)   Pemotongan.
Tulang dipotong-potong dengan kampak sehingga ukurannya menjadi 5-10 cm. Potongan tulang ini kembali dicuci dengan semprotan air sampai bersih.
3)   Perebusan I.
Potongan yang telah bersih direbus di dalam air mendidih selama 4-5 jam. Kotoran yang mengambang dan buih dibuang. Setelah itu tulang ditiriskan, kemudian dijemur atau dikeringkan dengan alat pengering.
4)   Penggilingan Kasar.
Tulang digiling kasar sehingga ukuran menjadi 1-3 cm. Pengecilan ukuran ini dapat juga dilakukan dengan cara memukul tulang dengan palu.
5)   Perendaman di dalam Larutan Kapur.
Serpihan tulang direndam di dalam larutan kapur 10%. Setiap 1 kg tulang membutuhkan 1 liter larutan kapur. Lama perendaman adalah 4-5 minggu. Selama perendaman, dilakukan pengadukan sekali dua hari. Proses ini akan menyebabkan ossein yang terdapat pada tulang akan membengkak. Proses ini disebut juga proses membengkakkan ossein”. Setelah itu, tulang dicuci dan disemprot dengan air sehingga kotoran dan kapur yang menempel pada tulang terbuang.
6)   Ekstraksi Gelatin.
Gelatin di dalam tulang diekstrak dengan air panas yang bersuhu 60-1000C. Ekstraksi yang baik dapat menghasilkan rendemen 14-15% (dihitung dari berat tulang). Ada 3 tahap ekstraksi yaitu:
Tahap 1.
            Tulang direndam di dalam air bersuhu 600C selama 4 jam. Setiap 1 kg tulang membutuhkan 1 liter air perendam. Selama perendaman, dilakukan pengadukan. Gelatin akan larut ke dalam air perendam. Setelah perendaman, tulang dikeluarkan, dan cairan perendaman dipindahkan ke wadah penguapan larutan gelatin. Di wadah ini larutan gelatin dipanaskan pada suhu 500C sampai kental. Larutan kental ini mengandung gelatin, dan disebut larutan gelatin tahap 1.
Tahap 2.
            Sementara melakukan ekstraksi tahap 1, telah disiapkan air panas bersuhu 700C. Tulang yang diangkat dari air panas tahap 1, langsung dimasukkan ke dalam air panas yang bersuhu 700C tersebut. Selama perendaman dilakukan pengadukan. Lama perendaman adalah 5 jam. Suhu tersebut dipertahankan tetap selama perendaman. Setelah perendaman selesai, tulang segera diangkat, dan cairan perendam dipindahkan ke wadah penguapan larutan gelatin yang telah berisi larutan gelatin dari tahap 1. Di wadah ini larutan gelatin dipanaskan pada suhu 500C sampai kental. Larutan kental ini mengandung gelatin.
Tahap 3.
            Sementara melakukan ekstraksi tahap 2, telah disiapkan air panas bersuhu 1000C. Tulang yang diangkat dari air panas tahap 2, langsung dimasukkan ke dalam air panas yang bersuhu 1000C tersebut. Selama perendaman dilakukan pengadukan. Lama perendaman adalah selama 4-5 jam. Suhu tersebut, dipertahankan tetap selama perendaman. Setelah perendaman selesai, tulang segera diangkat, dan cairan perendaman dipindahkan ke wadah penguapan larutan gelatin yang telah berisi larutan gelatin dari tahap 1 dan 2. Di dalam wadah ini gelatin terus dipanaskan pada suhu 500C sampai kental. Larutan kental ini mengandung gelatin.
7)   Pengentalan Larutan Gelatin.
Larutan gelatin pada wadah pengentalan terus dipanaskan pada suhu 50 C agar lebih kental dan kadar airnya di bawah 40%.
8)   Pencetekan Gelatin.
Larutan yang telah kental dan masih panas dituangkan ke dalam cetakan. Gelatin dibiarkan dingin dan mengeras.
9)   Pengeringan Gelatin.
Pengeringan Gelatin ada 2 cara yaitu:
Yang Pertama, Gelatin yang telah mengeras di dalam cetakan dikeringkan di dalam ruangan yang berdinding kawat agar sirukulasi udara tetap lancar dan tidak dapat dimasuki oleh serangga dan tikus. Proses ini dilakukan sampai kadar air di bawah 20% dan cara yang kedua adalah Gelatin yang telah mengeras dikeluarkan dari cetakan, kemudian dikeringkan dengan alat pengering pada suhu 50-60 C sampai kadar airnya di bawah 20%.
10) Pengemasan Gelatin. Gelatin yang telah kering dapat dikemas
2.   Pembuatan Gelatin Dari Kulit
Untuk membuatan gelatin dari kulit, metode yang dilakukan hampir sama seperti pembuatan dari tulang.
PEMBUATAN GELATIN DARI TULANG DAN KULIT
Sumber:
Dewi Hastuti dkk. 2007. Pengenalan dan proses pembuatan gelatin. Mediagro. Fakultas Peternakan Perikanan dan Ilmu Kelautan UNIPA (Papua).
Gomez, G.M.C. and Montero, P. 2001. Extraction of gelatin from megrim (Lepidorhombus boscii) skins with several organic acids. J. Food Sci. 66 (2) : 213 -216.
http://andunsejati.blogspot.sg/2011/12/pembuatan-gelatin_22.html
Saleh, E., 2004. Teknologi Pengolahan Susu dan Hasil Ikutan Ternak. Program Studi Produksi Tearnak. FP-USU. USU digital library. Medan.

Kamis, 19 Februari 2015

METODE METODE IDENTIFIKASI PADA TERNAK

Identifikasi ternak merupakan suatu bentuk recording yang harus dilakukan pada setiap ternak. Identifikasi ternak dapat dilakukan dalam bentuk ear tag, tato dan papan nama. Identifikasi ternak sangat membantu dalam setiap penanganan terhadap ternak tersebut, misalnya dalam hal penampungan semen. Adanya ear tag dapat membantu petugas handle untuk memeriksa pejantan apakah sesuai dengan jadwal penampungan atau tidak dan kemudian mengeluarkan pejantan yang siap ditampung semennya. Metode identifikasi ternak dapat terbagi dalam 2 kategori, yaitu permanen dan temporer. Identifikasi permanen meliputi menusuk telinga dan pemakaian tattoo, Sketsa, foto, merek (pemberian nama) dan elektrik. Tipe nonpermanen yaitu memakaikan kalung di leher, pemberian tanda di telinga, pemberian gelang kaki, penandaan pada punggung, rantai leher dengan tanda, pemberian tanda di panggul, pemberian tanda pada ekor, menandai dengan cat dan crayon, dan sebagainya. Metode ini sangat ideal untuk semua kondisi. Proses penaandaan pada ternak sangat penting karena agar mempermudah dalam pengidentifikasian. Dimana indentifikasi ternak akan membantu proses rekording, dimana manusia memiliki sifat yang sejak lahir sudah ada pada diri manusia yaitu lupa. Selain itu juga pemberian tanda pada ternak akan mempermudah dalam pemberian pakan sesuai dengan kebutuhan ternak tersebut. Selain itu, pemberian tanda ini juga memudahkan untuk melakukan identifikasi tiap-tiap sapi yang dipeliharabaik dalam mengetahui siklus birahi, dan jenis ternak yang dipelihara.
1.   Label Kandang (Barn Nameplates).
Pada usaha ternak perah yang menggunakan kotak kandang (stall barn), nomor kotak kandang sering digunakan sebagai identititas sapi perah. Label yang paling sering digunakan adalah yang berukuran lebar 6 - 8 inci (9 - 12 cm) dan panjang 14 - 18 inci (35 - 45 cm) dari bahan kertas tebal, plastik, papan atau plywood. Untuk memperoleh keseragaman, label tersebut biasanya diberi garis - garis sebagai tempat untuk menuliskan  nama atau nomor sapi, umur, tanggal kawin, tanggal melahirkan, produksi susu, kandungan lemak susu, tipe ransum dan data lain yang dianggap perlu yaitu yang merupakan informasi dasar mengenai seekor ternak.
2.   Tato Telinga (Ear Tattoos).
Tato telinga dibuat dengan membuat lubang-lubang kecil menggunakan jarum khusus di sekitar bagian dalam telinga lalu lubang- lubang tersebut diolesi dengan tinta khusus. Sebuah tang khusus digunakan untuk melubangi kulit telinga dalam bentuk huruf atau nomor tertentu. Sebelum dilubangi, bagian dalam telinga dibersihkan terlebih dulu untuk mencegah infeksi dan menjamin agar pelumeran tinta tidak sampai terhalang oleh kotoran yang melekat pada telinga. Tinta ini tidak bisa dihapus kalau luka sudah sembuh, sehingga nomor atau huruf yang terbentuk menjadi permanen. Guna memperoleh nomor/ huruf tato yang berbeda-beda digunakan tang tato yang kepalanya dapat berputar.
3.   Sistem kerat ( ear notching )
Yakni memberikan tanda pengenal dengan mengunakan silet atau pisau yang tajam untuk mengerat telinga, caranya adalah sebagai berikut : sebelum daun telinga dikerat terlebih dahulu bagian yang akan dikerat dibersihkan dengan spiritus atau alkohol. Setelah selesai pengeratan,bagian yang beri obat merah
4.   Foto dan Sketsa (Photograph and Sketches).
Identifikasi dengan foto dan sketsa dapat digunakan untuk ternak yang memiliki warna bulu yang tidak seragam seperti sapi FH, Guernsey dan Ayrshire. Pola penyebaran warna bulu (broken colot pattern), sama seperti sidik jari, adalah besifat khas untuk setiap ekor sapi sehingga dapat digunakan sebagai identitas yang unik. Banyak di antara format rekor/ file ternak yang dilengkapi dengan sket/ gambar sapi yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan pola penyebaran warna seekor sapi. Atau bila memungkinkan, dapat juga digunakan foto ternak tersebut yang diambil dari sisi kiri dan sisi kanan. Kelemahan utama cara ini adalah tidak menyediakan banyak informasi terutama yang bersifat harian.
5.   Cap Panas (Hot Brands).
Cap panas termasuk metode pemberian tanda (marking) permanen dan mudah dibaca. Namun demikian banyak peternak kurang menyukainya karena cara ini dapat mengubah penampakan sapi, antara lain merusak kulit. Selain itu, cara ini memerlukan peralatan khusus untuk memegang ternak saat pemberian cap panas. Selanjutnya, di beberapa negara cara ini tidak direkomendasikan karena dianggap menyakiti ternak.  
6.   Cap Beku (Freeze Brands).
Cap beku dibuat dengan peralatan khusus yang harganya mahal sehingga banyak peternak menganggapnya kurang ekonomis. Namun di beberapa tempat pembuatan cap beku ini dilayani oleh ahli veteriner atau penyedia jasa IB. Sebelum dicap, bulu di areal yang akan dicap digunting lalu dicuci dengan alkohol. Branding iron(pembuat cap) yang umum digunakan memiliki kepala dari tembaga, aluminium atau baja sedang untuk pembeku digunakan nitrogen cair atau campuran es kering. Setelah didinginkan, besi pencap (branding iron) dilekatkan erat-erat ke kulit ternak selama 40 - 60 detik sehingga kulit mengalami pembekuan. Faktor-faktor seperti jenis logam dan pendingan yang digunakan, umur ternak serta banyak tidaknya bulu di tempat yang mau dicap akan mempengaruhi lama waktu yang diperlukan untuk pelekatan besi pencap ke kulit ternak. Lima sampai enam minggu kemudian, kulit telah sembuh dari pengaruh pembekuan dan bulu di atasnya tumbuh menjadi putih. Cap seperti ini bersifat permanen dan harus ditaruh pada bulu berwarna gelap agar mudah kelihatan. Kesulitan dalam menyediakan peralatan penjerat sapi serta alat dan bahan yang mahal membuat cara ini kurang populer.  
7.   Anting-anting Logam (Metal Ear Tags).
Anting-anting logam merupakan bentuk identifikasi yang paling umum digunakan. Mereka dilekatkan ke telinga dengan tang khusus. Di negara-negara maju, peternak bisa memperoleh anting-anting logam yang sudah dilengkapi dengan nomor atau kode. namun peternak juga dapat merancangnya sendiri menggunakan tinta khusus. Kelemahan cara ini adalah nomor atau kode agak susah dibaca kecuali ternaknya sangat jinak sehingga mudah didekati atau kalau tidak ternak perlu dikurung lebih dulu.
8.   Anting-anting Plastik (Plastic Ear Tags).
Selain dari logam, anting-anting ada juga yang terbuat dari plastik, baik yang sudah dilengkapi dengan nomor/kode maupun yang masih kosong. Di pasaran tersedia anting - anting plastik dengan warna dan bentuk yang berbeda-beda. Cara aplikasinya sama seperti anting-anting logam yaitu menggunakan tang khusus.
METODE METODE IDENTIFIKASI PADA TERNAK
 9.   Sistem peneng
Sistem ini banyak dipraktikan oleh para peternak tradisional di desa-desa. dengan cara yakni memberi kalung pada ternak dari rantai besi atau bahan lain di beri tanda huruf , nomor atau tulisan
10. Label Pergelangan Kaki dan Ekor (Ankle and Tail Tags). 
Pergelangan kaki dan ekor dapat diberi gelang lalu dilengkapi dengan label. Kelemahannya adalah label sering tertutupi oleh kotoran sehingga sulit dibaca.

CARA (METODE) MENENTUKAN UMUR PADA TERNAK

Umur ternak dalam pemeliharaan mempunyai peran yang penting, karena melalui umur. peternak dapat mengetahui kapan ternak dapat dikawinkan maupun digemukkan. Cara yang paling tepat untuk mengetahui umur ternak adalah dengan melihat catatan produksi atau dari kartu rekording ternak yang bersangkutan. Namun, di Indonesia pencatatan merupakan hal yang belum biasa dilakukan peternak. Apabila tidak terdapat kartu rekording, umur ternak dapat diperkirakan dengan mengamati pergantian giginya, karena pergantian gigi waktunya relatif teratur. Umur merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi bobot. Umur berpengaruh terhadap pertumbuhan badan sapi yang berpengaruh juga terhadap bobot sapi. Pertumbuhan dari tubuh hewan mempunyai arti penting dalam suatu proses produksi, karena produksi yang tinggi dapat dicapai dengan adanya pertumbuhan yang cepat dari hewan tersebut. Pertumbuhan merupakan suatu proses yang terjadi pada setiap mahluk hidup dan dapat pula dimanifestasikan sebagai suatu pertumbuhan dari pada bobot organ ataupun jaringan tubuh yang lain, antara lain tulang, daging, urat dan lemak dalam tubuh (Soeparno, 2005 dalam Pradana, W.dkk, 2014). Pendugaan umur pada sapi potong dapat dilakukan dengan cara melihat perubahan jumlah gigi seri, mengamati kondisi/ keadaan bulu pada ternak, dan recording.
A.  TUJUAN MENGETAHUI UMUR TERNAK :
1.  Menentukan ternak sebagai breeding/ bibit.  Hal ini berkaitan degan umur pubertas ternak, dan umur mulai turunnya fungsi reproduksi ternak.
2.   Tujuan pemeliharaan.  Ini berkaitan erat dengan tingkat produktivitas ternak pada umur tertentu atau sampai kapan ternak mampu produktif, aspek pemeliharaan dan keputusan manajemen (replacement ataurestock). Keputusan manajemen dalam usaha peternakan salah satunya dapat diambil dengan melihat indikator umur tenak yang diusahakan.  Ternak-ternak yang sudah tua dan tidak produktif lagi harus dilakukan penggantian dengan ternak yang muda. 
3.   Transaksi jual – beli.  Untuk menghindari pemalsuan.
4.  Tindakan preventif. Pendugaan pakan dan dosis obat ternak juga harus mempertimbangkan umur ternak.
B.  CARA/ METODE MENENTUKAN UMUR TERNAK :
1.   RECORDING PADA TERNAK
Rekording ternak merupakan proses pencatatan semua kegiatan dan kejadian yang dilakukan pada suatu usaha peternakan. Kegiatan ini perlu dilakukan karena sangat mendukung upaya perbaikan dalam rangka meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha peternakan. Kegiatan pencatatan (rekording) ini dapat meliputi aspek peternaknya, aspek organisasi dan semua kejadian yang dialami dalam usaha peternakan dan performans ternak yang bersangkutan. Variabel yang biasa dicatat dalam rekording ternak adalah identitas sapi (umur, keturunan, dll), performans produksi (khusus pada sapi perah ditambah dengan data produksi susu), performans reproduksi dan kesehatan ternak (Hardjosubroto, 1994 dalam Hakim, L.dkk, 2010).
Hal utama yang paling membantu dalam penentuan umur yaitu dengan ketersediaan catatan atau recording dari ternak itu sendiri.  Misalnya tanggal lahir, dikawinkan, beranak pertama kali dan seterusnya. Waktu kelahiran, catatan ini penting, untuk mengetahui umur ternak yang dilahirkan secara tepat dan akurat, selain itu berguna untuk menentukan umur penyapihan dan waktu mengawinkan kembali domba induk setelah beranak. Dengan adanya pencatatan tersebut, peternak dapat memperoleh keuntungan seperti: peternak dapat membuat beberapa perencanaan diantaranya menentukan waktu mengawinkan setelah beranak agar jarak beranak dapat diperpendek, mengamati jika ada induk berahi kembali setelah dikawinkan.
2.   MENGAMATI GIGI TERNAK
Umumnya metode ini sudah sangat dikenal pada masyakat peternak di Indonesia.  Istilah yang biasa dikenal adalah “poel”. ‘Poel” menunjukkan adanya pergantian gigi ternak, sehingga seberapa banyak tingkat pergantian gigi bisa menjadi dasar menduga umur ternak.  Semakin banyak gigi yang “poel” maka umur ternak juga semakin tua.
Gigi ternak mengalami erupsi dan keterasahan secara kontinyu. Pola erupsi gigi pada ternak memiliki karakteristik tertentu sehingga dapat digunakan untuk menduga umur ternak. Gerakan mengunyah makanan yang dilakukan ternak mengakibatkan terasahnya gigi (Heath dan Olusanya, 1988)
Fase pertumbuhan gigi
Pertumbuhan gigi ternak dibagi menjadi 3 fase yaitu : fase tumbuh gigi (gigi susu), fase pergantian gigi dan fase keausan gigi.
a)   Fase gigi susu: Terjadi pada ternak mulai lahir sampai dengan gigi seri bertukar dengan yang baru.
b)   Pergantian gigi: masa awal dari pergantian gigi sampai dengan selesai
c)   Keausan gigi: gigi sudah tidak berganti-ganti lagi, melainkan sedikit demi sedikit aus.
CARA (METODE) MENENTUKAN UMUR PADA TERNAK
 Formula Gigi Pada Ternak
CARA (METODE) MENENTUKAN UMUR PADA TERNAK
Perkiraan Umur Ternak 
3.   WAWANCARA DENGAN PETERNAK
Menanyakan kepada pemilik ternak mengenai umur ternak tersebut. Akan tetapi metode ini mengandalkan kejujuran dari peternak dan apaka peternak tersebut lupa apa tidak.
4.   MENGAMATI TANDUK TERNAK
Poespo (1986) menyatakan bahwa keadaan cincin tanduk dapat digunakan untuk menafsirkan umur sapi. Rumus yang digunakan yaitu :
Y = X + 2
Dimana Y merupakan umur sapi, X merupakan jumlah cincin tanduk dan 2 merupakan koefisien rata-rata sapi bunting pada umur 2 tahun. Tiap cincin tanduk berhubungan erat dengan kelahiran, periode laktasi dan jalannya pemeliharaan. Sesudah selesai periode kebuntingan pertama, pangkal tanduknya timbul suatu alur melingkar dan selanjutnya setiap kali bunting hal demikian akan terjadi lagi. Pengaruh pencemaran, penyakit dan musim panas menyebabkan cincin tanduk kelihatan dangkal dan tidak terang.
Secara umum sejak umur 6 bulan, tanduk sapi normal akan tumbuh dan secara bertahap pada dasar tanduk akan terlihat lingkaran-lingkaran yang mengelilingi.Pada sapi betina yang secara teratur melahirkan , dapat dilihat jelas pertumbuhan tanduknya. Maka pedoman memberikan taksiran umur sapi betina dewasa adalah banyaknya lingkaran pada tanduk ditambah 4 tahun. Namun untuk sapi jantan dapat dihitung jumlah lingkaran pada tanduk ditambah 5 tahun. Yang perlu diingat adalah penaksiran dengan metode lingkar tanduk ini hanya dapat digunakan pada sapi dewasa, maka perlu dilengkapi dengan taksiran dengan metode gigi sapi.
Penentuan umur ternak dengan melihat lingkar cincin tanduk adalah dengan cara menjumlahkan angka dua pada tiap lingkar cincin tanduk. Misalnya terdapat satu lingkar cincin tanduk berarti sapi tersebut berumur tiga tahun. Asumsi dari penambahan angka dua tersebut adalah sapi telah dewasa kelamin dan siap melahirkan pada umur dua tahun (Timan, 2003).
Pendugaan umur sapi berdasarkan tumbuhnya tanduk dan cincin tanduk adalah yang paling kurang akurat. Oleh karena itu pendugaan dengan cara ini jarang dipergunakan. Prinsip pendugaan umur berdasarkan cincin tanduk didasarkan pada pengaruh pakan. Alasannya, diIndonesia terjadi musim kemarau dan musim hujan (Undang Santosa, 1995).
5.   MENGAMATI BULU TERRNAK
Pendugaan umur dapat dilakukan dengan cara pengamatan keadaan/kondisi bulu ternak sapi potong. Ternak muda memiliki bulu yang panjang dan kasar, sedangkan pada ternak tua bulu lebih pendek dan halus. Bulu yang kasar juga dapat disebabkan oleh keadaan ternak yang sedang sakit ataupun faktor pakan. Sapi subtropis umumnya memiliki bulu yang panjang dan kasar sebagai termoregulator, sedangkan sapi tropis umumnya pendek dan halus (Arbi, 2009).
6.   MENGAMATI TINGKAH LAKU TERNAK
Dengan melihat habitusnya (tingkah laku) kebiasaan terhadap ternaknya secara alami. Ternak yang sehat atau masih muda mempunyai temperamen yang lebih lincah dari pada ternak yang kurang sehat atau sudah tua.

Sumber:
Hakim, L.dkk. 2010. “Model Rekording Data Performans Sapi Potong Lokal di Indonesia”. Ternak Tropika. Vol. 11 (2):-61-73.
Heath, E. dan S. Olusanya. 1988. Anatomi and Physiology of Tropical Livestock, Longmann Singapore Publishers Pte. Ltd. Singapore.
http://ctantiester.blogspot.com/2014/12/judging-pendugaan-umur-sapi.html
http://gemaputri.blogspot.sg/2009/12/menafsir-umur-ternak.html
Pradana, W.dkk, 2014. “Hubungan Umur, Bobot dan Karkas Sapi Bali Betina yang Dipotong Di Rumah Potong Hewan Temesi”. Indonesia Medicus Veterinus. Vol. 3 (1) : 37-42
Soeprapto, H dan Zainal Abidin. 2006. Cara Tepat Penggemukan Sapi Potong. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Timan. 2003. Pengaruh Lingkungan Terhadap Keadaan Fisiologis Ternak. Yogyakarta: Dinas Peternakan Provinsi DIY.
Undang Santosa. 1995. Tatalaksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta

Rabu, 18 Februari 2015

PENDUGAAN BOBOT BADAN TERNAK DENGAN BERBAGAI MACAM RUMUS

Pendugaan berat badan sangat penting dilakukan oleh para pemilik ternak untuk mengetahui bobot tubuh ternak. Cara ini merupakan cara lain untuk mengetahui berat badan ternak selain penimbangan berat badan. Apabila setiap kali harus selalu dilakukan penimbangan, hal ini dirasa kurang praktis di samping timbangan itu jumlahnya terbatas.Pada ternak potong, bobot badan menjadi salah satu hal yang penting diperhatikan karena produk utama dari sapi potong adalah daging dimana untuk mengetahui pertambahan bobot daging peternak perlu melakukan penimbangan terlebih dahulu. Selain dengan cara penimbangan ada banyak cara yang bisa digunakan salah satunya dengan menggunakan dugaan bobot dengan pita ukur atau dengan menggunakan berbagai rumus yang lazim digunakan seperti rumus shoorl, winter dan lain sebagainya.
Bobot badan merupakan bobot yang didapatkan selama sapi dipelihara dan dalam keadaan hidup, sedangkan bobot potong merupakan bobot yang ditimbang sesaat sebelum sapi dipotong (Narasasmita dan Mudikdjo, 1979). Bobot badan sapi merupakan salah satu indikator produktivitas ternak yang dapat diduga berdasarkan ukuran linear tubuh sapi (Kadarsih,2003). Perbedaan bobot badan dewasa sapi pedaging yang berbeda-bedaakan menghasilkan tingkat kegemukannya yang berbeda pula pada umur dan makanan yang sama (Parakkasi, 1999). Perbedaan bobot badan tersebut dikarenakan adanya perbedaan pertambahan bobot badan harian, rataan pakan yang dikonsumsi masing-masing individu, jumlah pertambahan otot tiap hari serta perbedaan jumlah lemak yang telah disimpan oleh tubuh. Perbedaan tersebut akan menjadikan komposisi tubuh atau frame size ternak berbeda (Field dan Taylor, 2002).
Ukuran-ukuran linear tubuh merupakan suatu ukuran dari bagian tubuh ternak yang pertambahannya satu sama lain saling berhubungan secara linear. Kadarsih (2003) menyatakan bahwa ukuran linear tubuh yang dapat dipakai dalam memprediksi produktivitas sapi antara lain panjang badan, tinggi badan, lingkar dada. Ukuran linear tubuh menurut Minish dan Fox (1979) dapat mengidentifikasi pola atau tingkat kedewasaan fisiologis ternak sehingga dapat dijadikan parameter penduga bobot badan ternak. Penentuan frame size menurut Field dan Taylor (2002) dapat ditentukan berdasarkan nilai parameter tubuh ternak tersebut.

TUJUAN PENDUGAAN BOBOT BADAN TERNAK:
1.   Memperkirakan BB ternak
2.   Menentukan harga penjualan dan pembelian
3.   Menaksir jumlah karkas
PENDUGAAN BOBOT BADAN TERNAK DENGAN BERBAGAI MACAM RUMUS

PENGUKURAN TUBUH TERNAK
1.   Panjang badan
a)   Panjang badan absolut : jarak antara samping tulang baku (tuberculum humeralis lateralis)sampai dengan ujung tulang duduk (tuberculum ischiadum)
b)   Panjang badan relatif : proyeksi (garis datar) dari pada panjang badan absolut
2.   Tinggi gumba/ tinggi pundak/ tinggi badan
            jarak lurus dari titik tertinggi tulang gumba sampai ke tanah datar
3.   Lingkar dada
Panjang melingkar/ keliling yang diukur pada bag dada tepat di bag belakang tulang gumba pada tulang rusuk ke 3-4
4.   Lebar dada
Jarak antara kedua bagian samping (lateral) kanan kiri tulang bahu
5.   Dalam dada
      Jarak antara titik tertinggi tulang gumba sampai dengan bagian tepi bawah tulang dada
PENDUGAAN BOBOT BADAN TERNAK DENGAN BERBAGAI MACAM RUMUS

A.  BEBERAPA RUMUS PENDUGAAN BOBOT BADAN SAPI :
1.   Rumus Schoorl:  BB = (LD + 22)2
      100
Keterangan :
a)   BB = Bobot Badan (kg)
b)   LD = Lingkar Dada (cm)
c)   Rumus ini hanya berlaku untuk sapi dewasa, sedangkan untuk pedet rumus ini kurang tepat, karena faktor penambah 22 untuk lingkar dada pada sapi yang sedang tumbuh terlalu besar.

2.   Rumus Winter : BB = (LD)2 X (PB)
    300
Keterangan :
a)   BB= Bobot Badan (pounds);
b)   LD = Lingkar Dada (inchi)
c)   PB = Panjang Badan (inchi)
d)   Rumus ini merupakan gabungan antara panjang badan dan lingkar dada (Willianson dan Payne, 1986).  Tingkat kesalahan rumus ini dibandingkan dengan penimbangan berkisar 2-6% (Soenarjo, 1988).

3.   Rumus Pendugaan yang digunakan di Denmark
BB = (LD + 18)2
100
Keterangan :
a)   BB = Bobot Badan (kg)
b)   LD = Lingkar Dada (cm)

B.  RUMUS PENDUGAAN BOBOT BADAN UNTUK DOMBA/ KAMBING
1.   Rumus Ardjodarmoko (1975)
BB = (LD2)x (PB)
104
Keterangan :
a)   BB= Bobot Badan (kg)
b)   LD = Lingkar Dada (cm)
c)   PB = Panjang Badan (cm)
d)   Rumus ini merupakan penyempurnaan dari rumus Winter, yang diaplikasikan pada kambing / domba.

C.  RUMUS PENDUGAAN BOBOT BADAN UNTUK KERBAU
1.   Rumus Sutardi (1975)
BB (kg) = - 920,72 + 11,904 LD (cm) – 28,869 LD2
2.   Rumus Camoens (1976)
            Y = 40 TP – 11 LD – 450
            Keterangan :
a)   Y  = Bobot badan (pounds)
b)   TP = Tinggi Pundak (inchi)
c)   LD = Lingkar Dada (inchi)

Sejumlah peneliti mencoba membuktikan keakuratan rumus-rumus itu diuji-cobakan terhadap beberapa kelompok sapi antara bobot taksir dan bobot timbangan. Hasilnya rumus Scheiffer dan Lambourne lebih mendekati berat real sapi sebenarnya dengan tingkat kesalahan di bawah 10 persen. Sedangkan rumus Schoorl tingkat kesalahannya mencapai 22,3 persen. Perbedaan perhitungan berat pada mahluk hidup adalah wajar, karena bobot hewan sangat dipengaruhi situasi dan kondisi lingkungan, yakni gelisah (stress), habis makan, banyak minum atau baru buang feses. Hewan yang ditimbang sekalipun, akibat buruk perlakuan dan pengangkutan dapat menyebabkan susut tubuh 5-10%.
Dengan memperoleh angka taksiran bobot hidup, maka persentase karkas dan daging dapat segera diketahui. Karkas sapi berkisar 47-57 persen dari bobot hidupnya dan daging 75 persen dari karkas. Untuk domba persentase karkasnya sekitar 45 persen dan dagingnya 75 persen dari karkas.