Ternak

Minggu, 06 Desember 2015

Cara Merawat Sapi Dara

Setelah sapi dara umur 12 bulan akan tumbuh baik apabila hijauan yang diberikan secara bebas dan berkualitas baik. Jadi perlu diusahakan sebelum umur 12 bulan sapi dara harus memiliki nafsu makan hijauan yang kuat, rumen sehat dan kuat. Apabila pakan yang diberikan baik, sapi dara menunjukkan birahi pertama sekitar 9-10 bulan. Adakalanya apabila pakan kurang baik sapi tidak menunjukkan birahi sampai umur 20 bulan atau lebih. Setelah berumur 12 bulan meskipun menunjukkan tanda birahi belum cukup umur untuk dilakukan IB. Target IB akan dilakukan pada umur 15 bulan apabila berat sudah mencapai 800-850 lb (375 kg) untuk sapi FH, dan 575-625 lb (270 kg) untuk sapi Jersey. Pencatatan reproduksi harus dilakukan mulai birahi pertama, sehingga dapat dideteksi perkiraan birahi berikutnya. Setelah sapi umur 12 bulan dapat mengkonsumsi rumput lebih banyak dengan kualitas yang baik, pertumbuhannya juga akan lebih baik. Salah satu hambatan kualitas rumput di daerah tropis tidak akan sebaik di daerah subtropis, sehingga pakan sapi umur di atas 12 bulan perlu ditambah konsentrat sekitar 1 kg/ 100 kg berat badan/ekor/hari. Kalau jumlah hijauan yang diberikan secara bebas dan kualitasnya baik, jumlah konsentrat yang diberikan dukurangi agar sapi dara tidak terlalu gemuk.


Apabila sapi dara sudah berumur 15 bulan, beratnya sekitar 350 kg, dan mununjukkan tanda-tanda kawin, yaitu kelaminnya merah, bengkak, mengeluarkan slem, gelisah, menaiki temannya atau kalau dinaiki temannya diam (standing heat) dan tidak mau makan, maka sapi dapat dikawinkan.

Pemberian pakan beberapa bulan menjelang melahirkan.

Beberapa bulan menjelang melahirkan, pemberian pakan konsentrat ditingkatkan untuk menjaga kebuntingan. Apabila hijauan yang diberikan kurang baik, konsentrat yang diberikan sekitar 3-4 kg/ekor/hari. Apabila hijauan yang diberikan kualitasnya baik, maka konsentrat yang diberikan sekitar 2-3 kg/ekor/hari. Agar perototan sapi menjadi kuat, maka sapi bunting perlu diumbar.

Pemberian pakan beberapa mingu sebelum kelahiran

Selama 2-3 minggu sebelum melahirkan sapi dara perlu diberi pakan konsentrat lebih banyak agar kebutuhan nutrisi tercukupi sewaktu sapi melahirkan. Penambahan pemberian pakan konsentrat 2-3 minggu sebelum melahirkan disebut challenge feeding atau lead feeding. Lama kebuntingan sapi Holstein dan Jersey rata-rata 278-279 hari, Guernsey 283-284 hari dan Brown Swiss 288-290 hari.

Sabtu, 05 Desember 2015

Cara Merawat Pedet (Anak Sapi) Setelah Disapih sampai Umur 12 Bulan

Mulai umur 2 bulan sampai 3 bulan pemberian susu dihentikan (disapih). Pada umur 3 bulan sampai 6 bulan, pakan formula (calf starter) mulai diganti pakan formula lain (konsentrat) dengan komposisi: PK 16%,  TDN 70%. Penggantian makanan formula (calf starter) dengan formula lain (konsentrat) dibatasi maksimum 2 kg/ekor/hari. Rumput yang diberikan dapat dimulai dengan rumput segar yang baik secara bertahap. Pedet mulai umur 3 bulan dapat dikeluarkan dari kandang untuk melakukan gerak badan di tempat terlindung (catatan: apabila pedet semasa kecilnya diikat, maka pertumbuhannya akan terhambat dan kaki serta badannya sampai dewasa akan lemah). Setelah pedet umur 3 bulan, sebaiknya ditempatkan di kandang kelompok (group pen) agar terjadi persaingan dalam makanan. Sebaiknya jumlah pedet di dalam kandang kelompok dibatasi paling banyak 5 ekor dan umur serta besarnya pedet diusahakan hampir sama. Penempatan pedet di dalam kandang berkelompok hendaknya dipisahkan antara pedet jantan dan betina, karena pedet jantan umumnya lebih kuat dalam perebutan pakan.


Pemberian pakan pedet umur 5-6 bulan, pakan formula (konsentrat) dibatasi maksimum 2 kg/ekor/hari. agar pedet mau makan rumput sebanyak-banyaknya (rumen dapat berkembang). Rumput yang diberikan dapat berupa rumput segar yang baik secara bebas.
Pedet umur 7-12 bulan, rumput segar yang baik diberikan secara bebas dan konsentrat diberikan tidak lebih dari 2 kg/ekor/hari agar pedet mau makan rumput sebanyak-banyaknya dan pedet tidak menjadi gemuk.

Apabila pertumbuhan pedet sejak disapih umur 2 – 12 bulan  dibanding dengan data pedoman pertumbuhan sapi Holstein (sumber data: Junior Holstein Heifer Project) Amerika ternyata sapi dara umur 12 bulan  beratnya lebih rendah daripada data. Hal ini salah satu sebab diduga karena perbedaan berat lahir pedet. Tabel 4.3 rata-rata berat pedet 33,5 kg, sedangkan rata-rata berat lahir sapi Holstein di Amerika di atas 40 kg.

Jumat, 04 Desember 2015

Cara Pemberian Pakan Sapi Perah

Pemberian makanan pada sapi perah yang perlu diperhatinkan selain jumlahnya juga kandungan nutrisinya harus sesuai kebutuhan. Karena itu makanan yang diberikan dibedakan menjadi: 
  • makanan sapi sedang tumbuh
  • makanan sapi laktasi
  • makanan sapi kering
  • makanan tantangan.

Makanan sapi sedang tumbuh

Makanan pedet dibedakan:
  • Pedet sejak lahir sampai umur 5-6 hari (paling sedikit 3 hari), pedet harus mendapat kolostrum
  • Pedet sejak lepas kolostrum sampai disapih, makanan yang diberikan selain susu atau pengganti susu, juga harus diberi calf starter (makanan konsentrat formula untuk pedet), hijauan dan air minum (apabila pedet sudah lahap makan calf starter). 
  • Pedet setelah disapih sampai umur satu tahun dan sapi dara sebelum dan sesudah bunting. Pakan yang diberikan berupa konsentrat, hijauan dan air minum secara bebas.

Makanan sapi laktasi

Nutrisi yang dibutuhkan oleh sapi laktasi harus mempunyai beberapa informasi sebagai berikut: 1) kondisi dan berat badan sapi, 2) produksi susu, 3) kadar lemak susu, 4) tanggal beranak atau lama laktasi (hari), 5) lama kebuntingan (bulan), 6) jenis dan komposisi makanan misalnya bahan kering, protein kasar, TDN dan sebagainya.
Setelah sapi beranak, pada awal laktasi produksi susu meningkat dengan cepat sampai mencapai puncaknya. Pada periode laktasi pertengahan, produksi susu sudah mulai menurun sampai akhir laktasi. Produksi susu pada saat mulai menurun hendaknya diusahakan tidak menurun dengan tajam. Pada saat ini hendaknya diusahakan sapi sudah bunting. Agar waktu puncak produksi dapat dicapai, berat sapi tidak turun, dan pada akhir masa laktasi sampai masa kering sapi tidak terlalu gemuk, upaya yag dilakukan adalah mengatur konsumsi bahan kering. Standar pemberian bahan kering pada seekor sapi perah laktasi sekitar 2,5-3% berat badan. 


Tahap I (awal laktasi)
Setelah sapi melahirkan sampai 70 hari merupakan masa yang paling kritis karena pada saat ini sapi mulai memproduksi susu. Empat sampai enam minggu setelah sapi beranak, produksi susu akan naik dengan cepat sampai mencapai puncak produksi 70 hari setelah sapi beranak. Pada tahap I  setelah sapi beranak terjadi penurunan berat tubuh. Agar berat tubuh tidak turun drastis, pemberian konsentrat dinaikkan 0,5-1 kg per hari, tetapi konsentrat yang kita berikan jangan sampai berlebihan (65% di atas total bahan kering) dan kandungan serat kasarnya dalam ransum harus di atas 15% untuk pemeliharaan fermentasi di rumen.
Pemberian ekstra 0,5 kg konsentrat (1 kg kedelai + bahan lain) bagi setiap 5 liter susu yang dihasilkan oleh sapi yang produksi susunya 25 liter per hari akan lebih efisien karena biasanya pada saat produksi meningkat, sapi kehilangan berat badan karena ketidakseimbangan energi. Jumlah  dan kualitas hijauan yang diberikan pada saat itu akan mempengaruhi pemberian protein. Apabila pemberian nutrisi tidak seimbang dapat berakibat puncak produksi susu selama lakasi rendah. Jika konsentrat yang dikonsumsi meningkat terlalu cepat atau terlalu tinggi maka kemungkinan sapi akan menderita off feed dan displaced abomasum (perut muntir). Saran-saran untuk meningkatkan nutrisi yang dikonsumsi pada tahap 1 adalah:
  • Kualitas hijauan harus tinggi
  • Berikan protein alami
  • Tingkatkan pemberian konsentrat secara tetap setelah beranak
  • Gunakan konsentrat berenergi tinggi
  • Kurangi situasi stres


Tahap II (puncak konsumsi bahan kering)
Sepuluh minggu ke 2 (minggu 10-20) setelah beranak sapi harus dijaga supaya puncak produksi berlangsung selama mungkin.(tahap II) terlihat pada 12-14 minggu setelah beranak, sapi akan mengkonsumsi bahan kering terbanyak. Konsentrat yang dimakan dapat mencapai 2,5% berat abdan sapi (sapi berat 650 kg membutuhkan 16 kg konsentrat). Bahan kering hijauan yang dimakan paling sedikit 1% berat badan sapi, hijauan tersebut digunakan untuk memelihara fungsi rumen dan tes lemak.

Masalah utama: Pada tahap II dapat terjadi masalah menurunnya produksi susu, tes lemak rendah, birahi tidak terdeteksi, tidak terlihat birahi (anestrus)

Saran-saran:
Untuk menaikkan nutrisi yang dikonsumsi ikutilah saran-saran sebagai berikut:
  • Dua sampai tiga bulan setelah sapi melahirkan apabila ada tanda-tanda minta kawin, sapi dikawinkan agar jarak beranak (calving interval) dapat diatur satu tahun.
  • Berilah hijauan dan konsentrat beberapa kali sehari
  • Berilah makanan terbaik.
  • Batasi pemberian urea menjadi 2 kg per 100 kg konsentrat
  • Kurangi situasi stres

Tahap III ( pertengahan dan akhir laktasi)
Pada pertengahan dan akhir laktasi yaitu pada hari ke 140-305 setelah sapi beranak, sebagian besar sapi hanya mengalami sedikit masalah. Produksi susu mulai menurun, sapi diharapkan sudah bunting. Sesuaikan pemberian konsentrat dengan produksi susunya. Sapi yang kehilangan berat badannya pada awal laktasi harus diberi nutrisi ekstra untuk menggantikan cadangan dalam tubuhnya, jangan menunggu sampai sapi mengalami masa kering. Pada saat itu apabila sapi masih muda berumur 2 tahun diberi 20% atai lebih sebagai tambahan pertumbuhan. Sapi berumur 3 tahun tambahan untuk pertumbuhan 10% lebih. Produksi susu hendaknya tidak menurun dengan tajam. Penurunan produksi susu 8-10% dari bulan sebelumnya adalah normal.

Tahap IV (masa kering)
Masa kering dilakukan 6-8 minggu (2 bulan) sebelum laktasi berikutnya. Walaupun kebutuhan nutrisi tidak tinggi, tetapi masa ini merupakan masa yang kritis bagi sapi kering. Kesalahan yang terjadi pada masa kering dapat mempengaruhi produksi susu pada masa laktasi berikutnya. Sapi membutuhkan makanan yang cukup untuk pertumbuhan janin dan persediaan kebutuhan  tubuh. Bahan kering yang dikonsumsi hendaknya 2% dari berat badannya. Konsumsi bahan kering hijauan sebanyak 1% dari berat badannya, maka konsumsi bahan kering konsentrat tidak boleh lebih dari 1% berat badan. Dua sampai tiga minggu sebelum sapi melahirkan, sapi diberi makanan tantangan (challenge feeding).

Masalah utama yang terjadi pada masa kering ini adalah milk fever, displaced abomasum dan sindrom sapi kegemukan. Sindrom sapi kegemukan sering terjadi pada sapi yang kondisi tubuhnya kegemukan, sehingga hati berlemek dan nafsu makan berkurang dan sapi cenderung mudah terkena penyakit dan kesalahan metabolisme.

Perawatan yang disarankan:
  • Batasi pemberian makanan tantangan (tambahan konsentrat sebelum beranak). Paling banyak berikan 1% dari berat tubuh sapi.
  • Kebutuhan nutrisi harus seimbang (energi, protein, mineral dan vitamin)
  • Tentukan apakah sapi membutuhkan konsentrat.
  • Hindarkan pemberian energi dan kalsium yang berlebihan.

Cara memberi konsentrat

Sampai saat ini masih banyak peternak sapi perah memberikan pakan konsentrat dicampur air secara berlebihan, terkesan sapinya dipaksa minum sebanyak-banyaknya sehingga perut sapi menjadi besar. Perlakuan yang demikian itu kurang baik karena makanan konsentrat yang dicampur air akan merangsang menutupnya saluran rumen. sehingga makanan akan langsung masuk omasum. Jadi makanan konsentrat kurang dapat dimanfaatkan (pencernaan konsentrat kurang sempurna kerena tidak melalui rumen), karena makanan konsentrat yang dicampur dengan air berlebihan langsung ditelan masuk omasum tanpa adanya proses pengunyahan kembali (remastikasi). Agar sapi mau makanan kering sebaiknya dibiasakan sejak pedet, yaitu sejak pedet diberi pakan formula berupa calf starter atau berupa pakan konsentrat dan diberikan dalam bentuk kering.

Cara memberi air minum

Sapi perah akan menderita lebih parah apabila kekurangan air daripada kekurangan gizi yang lain. Hilangnya 10% air tubuh, sapi akan mengalami kematian. Jumlah air yang dibutuhkan oleh sapi perah bervariasi. beberapa faktor yang mempengaruhi konsumsi air bagi seekor sapi adalah: 1) umur, 2)berat badan, 3) produksi susu, 4) panas dan kelembaban udara (cuaca) dan 5) jenis ransum pakan. Intensitas produksi juga mempengaruhi air yang dibutuhkan. Seekor sapi  yang tidak dalam masa laktasi akan minum air sebanyak 40 liter. Saat sapi memproduksi susu 10-25 liter, kebutuhan air akan naik sampai 75 liter. Jika produksi susu mencapai 35 liter per hari, maka air yagn diminum hampir 90 liter. Pada umumnya sapi membutuhkan 3-4 liter air untuk menghasilkan 1 (satu) liter susu. Sebaiknya air minum diberikan secara bebas.

Makanan sapi kering

Masa kering merupakan suatu masa yang paling penting bagi sapi perah dalam arti pemberian makan dan perawatan yang tepat. Masa kering harus diartikan sebagai permulaan dimulainya masa laktasi baru, bukan sebagai akhir laktasi. Perawatan sapi kering yang efektif dapat menaikkan kondisi dan kapasitas produksi.

Berilah hijauan yang berkualitas tinggi pada awal sapi dikeringkan sampai 3 minggu masa kering. Enam minggu sebelum beranak, mulailah memberikan konsentrat dua kali sehari.Jumlah konsentrat yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi sapi dan kualitas hijauan. Pemberian makanan bervariasi bagi setiap ekor sapi per hari, yaitu 1,5-9 kg, tergantung jumlah dan kualitas hijauan yang diberikan.

Ransum konsentrat khusus bagi sapi kering dapat diberikan selama masa kering. Ransum konsentrat ini mengandung protein 2-4% lebih rendah daripada ransum konsentrat bagi sapi laktasi. Sangat disarankan untuk memberikan ransum sapi kering. Jumlah kalsium (Ca) dan fosfor (P) harus seimbang (antara 1:1 atau 2:1)

Banyak peternak berhasil setelah mereka mengikuti pemberian makanan tantangan. Sapi-sapi itu mengkonsumsi 1-1,5 kg konsentrat untuk tiap 100 kg berat tubuhnya, kira-kira 2-3 minggu sebelum beranak sampai sapi beranak. Pemberian makanan tantangan sebelum sapi beranak akan membantu rumen, nafsu dan kebiasaan makan, dan sapi akan menyesuaikan makanan tersebut sebelum beranak. Sapi yang beranak dalam kondisi yang baik akan memulai dan memelihara produksi yang lebih tinggi dan kasus milk fever dapat diperkecil.

Enam puluh hari masa kering merupakan hari-hari terpenting dalam hidup sapi. Bayak orang berpikir bahwa  masa kering diantara masa laktasi adalah non produktif. Tetapi pada kenyataannya sapi itu sangat produktif karena sangat menentukan banyaknya susu yang akan dihasilkannya. Perawatan sapi yang kurang baik selama pengeringan dapat mengakibatkan setelah beranak produksi susu rendah dan dapat terjadi gangguan metabolisme seperti milk fever.

Perawatan sapi selama kering selain menentukan tingginya produksi susu setelah melahirkan juga menentukan pertumbuhan janin, karena janin tumbuh tiga kali selama masa pengeringan. Selama masa kering sapi juga memperbaiki kelenjar susu.

Makanan Tantangan

Makanan tantangan (challenge feeding atau lead feeding) adalah makanan yang diberikan pada sapi kering (akhir kebuntingan) dan pada sapi laktasi (awal laktasi) sehingga sapi dapat mencapai produksi maksimum pada awal laktasi, tanpa dibatasi oleh kurangnya persediaan energi unutk produksi saat itu.

Cara memberi makanan tantangan
  • Dua atau tiga minggu sebelum beranak, berilah konsentrat sebanyak 1,5 kg per hari. Kemudian tambahkan 0,5 kg konsentrat setiap harinya sampai sapi itu mengkonsumsi 1,0 – 1,5 kg konsentrat per 100 kg berat badan sapi. Jadi untuk sapi seberat 550 kg memerlukan 5-8 kg konsentrat per hari. Penambahan konsentrat sebelum beranak akan memberikan kesempatan pada sapi beranak atas kenaikan energi yang dimakan.
  • Setelah sapi beranak, tambahkan konsentrat sampai sapi mencapai produksi susu maksimum, hal ini dapat dicapai kira-kira dalam waktu 3-6 minggu setelah sapi beranak.
  • Setelah sapi beranak 2 minggu, sesuaikan pemberian konsentrat menurut produksinya.
  • Untuk masa sisa laktasi, sesuaikan pemberian jumlah konsentrat menurut berat susu yang dihasilkan tiap bulannya. Teruskan menambah konsentrat 0,5 kg sampai hasil produksi susu tambahan tidak dapat menutup harga konsentrat.

Sapi akan memberikan reaksi terbaik pada saat awal laktasi. Saat ada kemajuan dalam masa laktasi, jadwal pemberian konsentrat harus dilihat kembali, paling tidak satu bulan satu kali dan sesuaikan dengan biaya yang dikeluarkan. Seperti yang kita harapkan, sebagian sapi akan memberikan reaksi yang lebih besar terhadap pemberian konsentrat yang banyak daripada sapi-sapi yang lain. Bagi sapi yang tidak memberikan reaksi terhadap konsentrat yang diberikan, hendaknya kita mengurangi konsentrat sampai tingkat pemberian konsentrat sesuai dengan harga kelebihan susu yang dihasilkan. Beberapa peternak menyatakan bahwa mereka mengalami kenaikan produksi 900 liter per ekor, bahwa dengan mengurangi hijauan dan menambah konsentrat keuntungan dapat mencapai lebih dari 2.000 liter per laktasi.

Keuntungan pemberian makanan tantangan.
Apabila kita bandingkan dengan metode kuno yaitu, 0,5 kg konsentrat untuk tiap 1,5 – 2 liter susu yang dihasilkan, keuntungannya adalah:
  • Memberikan kesempatan pada mikroorganisme ruminan sapi yang menyesuaikan dengan kandungan konsentrat yang tinggi sebelum beranak.
  • Sapi  makan konsentrat yang tinggi sebelum dan sesudah beranak.
  • Menyediakan energi berlimpah untuk sapi pada saat ia membutuhkannya pada awal laktasi. Oleh sebab itu makanan ini menantang untuk berproduksi semaksimal mungkin.
  • Akibat puncak produksi susu yang tigngi cenderung tetap bertahan sepanjang siklus produksi (persistensi bagus)
  • Membantu memelihara berat tubuh.
  • Menghindari makanan yang tidak ekonomis karena pemasukan energi ditentukan oleh kemampuansapi untuk bereaksi.

Kerugian pemberian makanan tantangan.
  • Pemberian konsentrat yang tinggi sebelum sapi beranak, cenderung mengakibatkan sapi menderita pengerasan ambing (udder udema). Walaupun dengan pengontrolan belum dapat menyokong kasus ini, mereka telah memperlihatkan bahwa tidak ada perbedaan dalam kasus ini, antara sapi yang diberi konsentrat tinggi dan sapi yang diberi konsentrat sedikit sebelum beranak.
  • Produksi tinggi yang diakibatkan pemberian konsentrat tinggi akan menyebabkan kasus mastitis tinggi pula. Hal ini adalah benar, ransum konsentrat tinggi akan menyebabkan ambing menegang, sehingga mastitis kronis akan timbul karena ambing menegang secara berlebihan. Walaupun tingkat pemberian konsentrat tidak menyebabkan mastitis, tetapi kemungkinan sudah ada tanda-tanda mastitis di ambing sebelumnya.
  • Tidak semua sapi memperlihatkan perubahan terhadap pemberian konsentrat yang tinggi untuk menaikkan produksi, sehingga beberapasapi terlalu banyak diberi konsentrat sehingga merupakan pemborosan.
  • Pemberian makanan tantangan lebih menguntungkan apabila harga konsentrat lebih menguntungkan daripada harga hijauan. Adakalanya pada saat harga konsentrat tinggi, tidak ekonomis memberikan konsentrat tinggi. Kita lebih untung dengan memberi pakan hijauan berkualitas tinggi. Di sini yang penting bukan produksi tinggi, tetapi memperoleh keuntungan tinggi.


Kamis, 03 Desember 2015

Cara Merawat anak sapi (pedet) Sejak Lahir Sampai Disapih

Kematian sapi perah tertinggi adalah selama masih pedet sejak lahir sampai umur 3 bulan mencapai 20%. Agar kematian pedet dapat dikurangi, dan pedet tumbuh menjadi sapi yang baik, selain diusahakan pedet waktu lahir harus sehat dan kuat, maka perawatan pedet dapat dimulai sejak pedet masih di dalam kandungan dalam bentuk janin (fetus). Lebih dari 50% pertumbuhan janin dialami selama beberapa minggu akhir kebuntingan. Pada saat itu pertumbuhan janin sangat cepat, yaitu 3 – 4 kali lebih cepat dari pertumbuhan sebelumnya. Agar pedet dapat dilahirkan sehat dan kuat maka 6-8 minggu (dua bulan) sebelum kelahiran, pemerahan dihentikan (dikeringkan) dan 2-3 minggu sebelum melahirkan dilakukan challenge feeding program, yaitu ternak diberi pakan tambahan konsentrat untuk persiapan kelahiran, serta hijauan yang diberikan berkualitas tinggi agar induk setelah melahirkan menghasilkan kolostrum sebagai sumber protein (antibodi) serta vitamin A dan D untuk pedetnya


Bagaiman caranya untuk dapat mencapai tujuan tersebut?. Tahapan-tahapan pemeliharaan induk dan anaknya yang perlu dijelaskan adalah sebagai berikut:

Persiapan Sebelum Pedet Lahir
Satu minggu sebelum sapi melahirkan, cuci kotoran yang melekat pada ambing dan masukkan sapi ke dalam kandang yang sudah disucihamakan dan diberi alas jerami kering pada lantainya. Usahakan di dalam kandang bebas dari benda-benda tajam yang berbahaya bagi induk maupun anak yang akan dilahirkan. Jaga agar supaya sapi dapat beristirahat dengan tenang.

Perawatan Pedet Setelah Lahir
Setelah pedet lahir dilakukan tindakan sebagai berikut:
  • Secepatnya pedet dipindah di tempat yang aman dan diberi alas jerami atau rumput kering yang bersih.
  • Segera bersihkan lendir yang ada di hidung dan mulut pedet.
  • Periksalah apakah pedet sudah dapat bernafas. Apabila belum dapat bernafas, dapat dibantu dengan nafas buatan yaitu dengan menekan pada bingkai dada berkali-kali atau menggerak-gerakkan/ mengangkat kaki depan. Adakalanya pernafasan itu terganggu adanya lendir yang terdapat di dalam mulut dan tenggorokan, maka lidah ditarik keluar dan lendir dikeluarkan dari mulut dan tenggorokan dibersihkan dengan jari telunjuk.
  • Setelah pedet dapat bernafas, tindakan selanjutnya adalah mengoleskan/memasukkan larutan iodin 7% ke dalam potongan tali pusar agar badan pedet tidak kemasukan bibit penyakit melalui tali pusar (biasanya tali pusar sudah putus dengan sendirinya sewaktu dilahirkan) Apabila tali pusar pedet terlalu panjang, dapat dipotong panjangnya sekitar 5-7 cm. Kalau tali pusar terjadi pendarahan dapat dicegah dengan cara diikat.
  • Biarkan induk menjilati anaknya, agar jilatannya lebih kuat, taburkan garam dapur di tubuh pedet. Jilatan induk ini akan membantu lancarnya pernafasan dan merangsang sirkulasi darah. Apabila induk tidak mau menjilati anaknya, bersihkan lendir pada tubuh pedet dengan kain lap bersih dan kering dengan digosokkan sampai seluruh permukaan tubuh pedet kering.
  • Tahap selanjutnya, pedet dipindah di kandang observasi (observation pen). Waktu memindahkan pedet ke kandang pedet sebaiknya diusahakan agar induknya tidak mengetahui dimana anaknya ditempatkan agar induk segera melupakan anaknya.

Syarat Kandang Pedet
  1. Sebaiknya kandang pedet dibuat individu (satu kandang untuk satu pedet) agar sehabis diberi minum susu tidak saling menyundul sehingga tidak terjadi hair ball (bola bulu).
  2. Sirkulasi udara dan cahaya matahari yang cukup sehingga lantai kandang selalu kering.
  3. Kandang pedet sebaiknya dibuat mudah dibersihkan, mudah mengontrol kesehatan pedet, mudah memberi pakan, mudah menjaga penyakit infeksi, mencret serta perawatan lainnya.

Pemberian Kolostrum pada Pedet
Apabila pedet lahir sehat dan kuat biasanya 30-60 menit setelah lahir sudah dapat berdiri. Pedet waktu lahir tidak memiliki kekebalan untuk  melawan penyakit. Oleh karena itu agar pedet setelah lahir dapat melawan penyakit, 30-60 menit setelah lahir pedet segera diberi minum kolostrum. Kolostrum adalah susu yang dihasilkan oleh sapi setelah melahirkan sampai sekitar 5-6 hari. Kolostrum sangat penting untuk pedet setelah lahir karena kolostrum mengandung zat pelindung atau antibodi (gama glubolin) yang dapat menjaga ketahanan tubuh pedet dari penyakit yang berbahaya. Pedet biasanya diberi kolostrum segar paling sedikit 3 hari. Pembrian kolostrum seawal mungkin sangat penting. Berdasarkan penelitian menunjukkan bahwa semakin cepat pemberian kolostrum semakin cepat kolostrum masuk ke dalam abomasum intestinum. Selanjutnya antibodi segera diserap dan antibodi masuk ke dalam darah pedet dan secepatnya pedet dapat mencegah atau melawan penyakit. Antibodi dapat diserap melalui dinding usus hanya selama 24 jam sampai 36 jam pertama kehidupan sejak dilahirkan. Jumlah terbanyak antibodi yang dapat diserap adalah dalam 1 (satu) jam pertama sebanyak 50% antibodi yang ada di dalam kolostrum. Pada 20 jam berikutnya efisiensi penyerapan antibodi hanya 12%. 
Setelah 24 jam sampai 36 jam atau setelah menelan bakteri atau bahan asing lainnya, permukaan usus akan kehilangan kemampuan untuk menyerap antibodi. Oleh karena itu penting sekali memberi kolostrum pada jam pertama kelahiran dengan peralatan yang bersih.

Kolostrum selain penting bagi pencegahan penyakit (terutama pada awal kehidupan setelah dilahirkan), juga merupakan makanan yang nilai gizinya lebih tinggi dari susu normal. Kolostrum mengandung lebih banyak protein (terutama dalam bentuk laktoglobulin atau gama globulin), lemak, mineral  dan vitamin-vitamin dari pada susu normal. Kolostrum juga mengandung laktosa yang lebih rendah dari susu normal. Hal ini sangat berguna karena kandungan laktosa yang tinggi dapat menyebabkan pedet menderita diare/mencret.

Komposisi Kolostrum
  1. Kolostrum mengandung vitamin A 10-100 kali dan zat besi (Fe) 12-15 kali lebih banyak daripada susu normal dan dapat disimpan di dalam hati. Ini sangat penting karena pedet waktu lahir mengalami kekurangan vitamin A dan Fe.
  2. Kolostrum mengandung vitamin D kira-kira 3 kali lebih banyak dari susu normal.
  3. Kolostrum mengandung protein 4-7 kali lebih banyak dibanding susu normal (terutama dalam bentuk gama glubolin atau laktoglubolin atau antibodi). Antibodi alami yang ada di kolostrum tidak ada tandingannya dibanding dengan klostrum buatan manusia.
  4. Kolostrum bersifat laxan, yaitu dapat membantu mengeluarkan kotoran hitam lengket yang dinamakan "tahi gagak" (meconium) yang tertimbun di usus halus, dimana pada waktu pedet lahir merupakan tumpukan kotoran tempat berkembangbiaknya bermacam-macam bakteri yang harus segera dikeluarkan. Apabila pedet setelah lahir tidak mendapat kolostrum, maka sulitlah untuk dapat mempertahankan hidupnya. Sebagian besar mendapat infeksi bakteri secara besar-besaran dan dengan cepat dapat menyebabkan septicaemia (infeksi darah)yang fatal. Anak sapi yang demikian meskipun masih tahan hidup, umumnya akan sakit-sakitan dan diakhiri dengan kematian. 

Jika sapi induk setelah melahirkan tidak menghasilkan kolostrum karena sakit atau mati setelah melahirkan, maka untuk menanggulangi biasanya peternak menyimpan sebagian kolostrum segar hasil perahan pertama dari sapi lain yang disimpan di dalam almari pendingin (dibekukan) guna cadangan kalau-kalau ada anak sapi lain yang tidak mendapat kolostrum dari induknya. Penyimpanan kolostrum dalam bentuk beku, sebaiknya tidak lebih dari 4-6 bulan. Apabila pembekuan kolostrum segar tidak memungkinkan, dapat ditempuh dengan meminta dari tetangganya yang mempunyai sapi yang beranaknya bersamaan. Jika terpaksa tidak ada kolostrum sama sekali, terpaksa anak sapi yang baru lahir diberi minum kolostrum buatan.
Umumnya sapi perah setelah melahirkan menghasilkan kolostrum lebih banyak daripada yang diperlukan anaknya. Karena kolostrum sampai hari ke 5 setelah melahirkan tidak dapat dijual (karena kalau direbus menggumpal), maka kelebihan kolostrum tersebut dapat langsung diberikan pada pedet lain yang umurnya lebih tua atau disimpan pada suhu kamar, dan terjadi proses fermentasi akan menghasilkan susu asam (kolostrum asam) dapat menghambat perkembangan bakteri susu sehingga kolostrum akan tahan lama. Cara membuat kolostrum asam secara sederhana,  setiap ember dicampur dengan kelebihan kolostrum hari sebelumnya dan disimpan pada tempat yang terlindung dari cahaya matahari. Lakukan pengadukan setiap hari satu sampai dua kali. Fermentasi susu asam secara alamiah sebaiknya digunakan sampai 2-3 minggu.

Pemberian Kolostrum Sejak Lahir sampai Umur 3 (tiga) Hari.
Pemberian kolostrum hari pertama
Hasil penelitian menunjukkan hampir 93% pedet yang dilahirkan tidak memiliki kekebalan untuk melawan penyakit pada waktu lahir, karena pada waktu pedet lahir tidak mendapat bekal antibodi dari induknya. Antibodi diperoleh dari kolostrum merupakan sumber antibodi bagi pedet yang baru lahir. Penelitian menunjukkan bahwa "jumlah" dan " waktu" pemberian kolostrum sangat penting untuk mencegah penyakit. Makin awal pedet mendapat kolostrum akan lebih baik, tetapi umumnya pedet mau minum kolostrum sekitar 30 menit – 1 jam setelah lahir. Apabila hasil pemerahan pertama cukup jumlahnya, sebaiknya pemberian pertama pada hari pertama 30 menit – 1 jam setelah lahir pedet diberi kolostrum sebanyak sekitar 5% berat badan pedet. Apabila berat lahir 40 kg, kolostrum yang diberikan sekitar 2 liter. Pemberian kolostrum kedua dengan jumlah yang sama diberikan 12 jam kemudian.
Sebaiknya dianjurkan agar pedet setelah lahir (setelah dijilati induknya atau setelah dikeringkan) segera dipisah dengan induknya, ditempatkan dikandang yang mudah dikontrol kesehatannya (kandang observasi = observation pen) yang telah disiapkan. Pemberian kolostrum yang pertama dengan menggunakan ember atau botol diberi dot atau menggunakan ember terbuka (nipple pail, nipple bottle, open pail), atau ember yang diberi selang plastik. Usahankan peralatan di atas dijaga kebersihannya, akan lebih baik selain bersih juga disediakan tempat minum pada masing-masing pedet. Hal ini untuk melindungi dari pencemaran penyakit, lebih-lebih pada pemberian hari pertama, karena apabila tempat minum kotor berakibat kotoran atau bakteri akan menutup permukaan usus sehingga menghambat penyerapan antibodi. Cara melatih pedet minum kolostrum yang pertama apabila menggunakan ember terbuka perlu kesabaran, caranya mula-mula pedet dibiarkan menjilat atau menghisap jari telunjuk yang dibasahi kolostrum. Selanjutnya jari telunjuk yang diisap-isap, perlahan-lahan dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam ember yang berisi kolostrum sehingga mulut pedet masuk ke dalam kolostrum dan dibiarkan beberapa menit mengisap-isap jari telunjuk dan kolostrum turut terserap sedikit-sedikit. Kemudian jari telunjuk perlahan-lahan dilepas dari mulut pedet. Perlakuan demikian itu perlu diulang-ulang sehingga akhirnya pedet mau minum kolostrum dari ember tanpa bantuan lagi, atau dengan botol yang diberi selang karet lunak 

Pemberian kolostrum pada hari ke 2 dan ke 3.
Kolostrum harus diberikan paling sedikit selama 3 hari setelah kelahiran. Sesuai Tabel 4.1. menunjukkan bahwa kandungan zat pelindung atau antibodi pada hari ke 2 dan 3 sangat menurun (1,0%) dan kemampuan usus menyerap zat pelindung atau antibodi (Grafik 4.1.) semakin mendekati 0%. Pemberian kolostrum pada hari ke 2 dan 3 diberi sekitar 8-10% berat badan  per hari atau sekitar 4 liter per hari dan segera diberikan sehabis pemerahan (masih hangat). Frekuensi pemebrian sebaiknya tiga kali sehari, karena apabila diberikan satu kali sehari akan memberatkan perut pedet yang bisa menyebabkan pertumbuhan lambat karena kemungkinan pedet diare/mencret.

Cara Membuat Kolostrum Buatan
Di muka telah dikatakan bahwa kolostrum alami mutunya tidak akan ditandingi kolostrum buatan manusia. Kolostrum buatan sekali minum terdiri campuran ½ liter susu murni + 1 sendok teh minyak ikan + 1 sendok teh kastroli + 1 telur yang dikocok di dalam ¼ liter air hangat. Pemberian kolostrum buatan diberikan 3 kali sehari selama 3-4 hari.

Pemberian Pakan pada Pedet (hari ke 4 sampai disapih)
Sampai umur satu mingu pada dasarnya pedet bukan  ternak pemamah biak (ruminansia), melainkan ternak yang berperut sederhana. Apabila dibandingkan dengan sapi dewasa, rumen, retikulum dan omasum pedet belum berkembang, sedangkan abomasum merupakan bagian yang terbesar (70%) dari total alat pencernaan. Susu yang diminum tidak melalui rumen, tetapi langsung dari mulut ke abomasum melalui esophageal groove. Esophageal groove adalah saluran yang mencegah susu atau susu pengganti agar tidak masuk ke rumen, karena pada saat itu makanan yang dikonsumsi berupa makanan cairan (susu), maka makanan akan masuk osephagus dan selanjutnya masuk ke abomasum dan diserap oleh intestinum. Rumen akan tetap tidak berkembang sampai konsentrat atau hijauan belum diberikan pada pedet. Agar rumen segera berfungsi, dianjurkan setelah pedet berumur sekitar satu minggu, pedet dilatih makan pakan kasar berupa calf starter dan hijauan tersebut masuk ke rumen dan dicerna oleh bakteri yang ada dalam rumen, dan selanjutnya akan merangsang perkembangan rumen. Apabila pedet diberi konsentrat dan hijauan sejak umur satu minggu, maka rumen akan berfungsi secara penuh setelah pedet berumur 2-3 bulan, volume remen sekitar 70% dari volume alat pencernaan. Pada saat dewasa volume rumen bisa sampai 80% dan abomasum hanya sekitar 7%. 
Pakan pedet hari ke 4 sampai disapih pada dasarnya ada 4 pilihan makanan: 
1) susu murni, 
2) kolostrum asam,
3) susu pengganti
4) susu afkiran.

Susu murni
Susu merupakan makanan bergizi tertinggi bagi pedet, dan biasanya diberikan secara terbatas. Sejak umur 1 minggu sampai sekitar 1 bulan, susu yang diberikan sekitar 10% berat badan per hari (diberikan 2 kali per hari). Mulai umur 1 minggu pedet mulai dilatih atau disediakan calf starter dalam bentuk kering dan rumput secara bebas ditempatkan di kotak/rak secara bebas. Calf starter adalah pakan konsentrat/formula khusus untuk pedet sejak umur 1 minggu, sebaiknya  diberikan dalam bentuk kering dan ditempatkan di kotak. Syarat calf starter adalah harus disukai pedet, berenergi tinggi (75% TDN atau 75 Mcal ENE) dan kandungan protein kasar 16-18%. Agar pedet segera mau makan calf starter, maka perlu dilatih dengan mengusapkan pada moncong/bibir pedet. Apabila tahu rasanya maka pedet akan menjilati calf starter yang tersedia. Berilah makanan baru setiap hari. Mulai umur 3 minggu kalau pedet sudah mau makan rumput kering atau calf starter, sediakan air minum yang bersih secukupnya agar pedet dapat minum secara bebas. Jangan memberi rumput segar pada pedet yang belum disapih karena akan mengurangi nafsu makan calf starter. Rumput untuk pedet sebaiknya diusahakan dari jenis rumput-rumputan yang daunnya kecil dan kandungan gizinya tinggi, seperti star grass dan rumput lapangan yang kualitasnya baik. Apabila pedet mulai dilatih makan calf starter pada umur 1 minggu, maka setelah pedet umur sekitar 1 bulan dapat mengkonsumsi 0,5 kg calf starter dan pemberian susu mulai dikurangi. Pada umur 8 minggu pedet sudah dapat mengkonsumsi calf starter sebanyak 1,0 kg, dan konsumsi susu dikurangi lagi. Pada umur 9 minggu (2 bulan) pedet dapat menghabiskan calf starter sekitar 1,0-1,3 kg, konsumsi susu mulai dihentikan (disapih). Pemberian makan pada pedet umur minggu ke 1 sampai dengan minggu ke 9 

Kolostrum asam
Kelebihan kolostrum hari ke 2 dan ke 3 serta kolostrum hari ke 4 dan ke 5 (tidak boleh dijual karena kalau direbus menggumpal) dapat diberikan pedet dalam bentuk segar atau kolostrum asam (fermentasi). Keuntungan menggunakan kelebihan kolostrum untuk pedet adalah 1) nilai gizi tinggi, 2) murah, 3) memungkinkan menaikkan berat badan dan 4) mengurangi penyakit diare. Karena kolostrum asam lebih kental dibanding susu normal, maka waktu akan memberikan dicampur dengan air panas dengan perbandingan kolostrum asam 3 bagian dan  air panas 1 bagian (3:1). Kalau kelebihan kolostrum sudah habis padahal pedet belum disapih, maka dapat dilanjutkan dengan susu murni atau susu pengganti secara bertahap. Misalnya 50% kolostrum asam : 50% susu murni atau susu pengganti, baru kemudian esok harinya kolostrum dikurangi hingga 100% susu murni atau susu pengganti. Sedangkan cara pemberian pakan kasar yaitu rumput kering dan calf starter juga dilakukan seperti pada pemberian susu murni.

Cara membuat kolostrum asam
Siapkan ember plastik (tidak mudah kena karat) yang cukup besarnya dan dilengkapi dengan tutup. Masukkan kelebihan kolostrum ke dalam ember tersebut dan simpan pada tempat yang terlindung dari cahaya matahari. Lakukan pengadukan setiap hari 1 sampai 2 kali. Perlu diperhatikan bahwa susu yang terkena mastitis dan susu dari sapi sehabis disuntik antibiotik tidak dapat dipakai karena hasil fermentasinya kurang baik. Kolostrum asam dibuat secara alamiah dapat digunakan selama 2 sampai 3 minggu.

Saran-saran penggunaan kolostrum asam
  • Pastikan bahwa kolostrum yang diasamkan berasal dari pemerahan hari ke 2 sampai dengan hari ke 5, dicampur dan disimpan di dalam ember plastik dan ditutup. Bersihkan dahulu ember plastik yang akan dipakai agar bebas dari karat. Jangan menggunakan penampung dari logam yang dapat berkarat karena akan keracunan seng atau logam lain.
  • Pencampuran pemerahan kari ke 2 sampai dengan ke 5 akan cukup untuk diberikan pada seekor pedet selama 20 hari. Jika lebih dari seekor sapi yang beranak pada hari yang sama atau hari yang berbeda, kolostrumnya dapat dicampur.
  • Pembuatan kolostrum asam secara alami sebaiknya untuk mempercepat fermentasi dengan mencampur 3 sampai 5 sendok makan kolostrum yang sudah asam ke dalam kolostrum yang akan diasamkan.
  • Jangan menyimpan kolostrum asam lebih dari 3 minggu, terutama pada musim panas. Penelitian telah menyatakan bahwa kolostrum akan menjadi sangat asam dan banyak proteinnya yang rusak.
  • Aduk kolostrum asam setiap hari, yaitu sebelum diberikan pada pedet dan sebelum penyimpanan kembali. Pengadukan membantu mencegah buih dan penggumpalan.
  • Apabila kolostrum asam kental, maka waktu akan diberikan pada pedet dicampur dengan air panas dengan perbandingan kolostrum dan air 3:1. Penggunaan air panas sebagai pencampur akan membuat kolostrum hangat dan lebih cocok bagi pedet.
  • Mulailah memberikan kolostrum asam pada hari ke 4 setelah pedet lahir (setelah diberi kolostrum murni selama 3 hari). Fermentasi kolostrum sebelum sempurna sehingga tidak begitu asam bagi pedet. Hal ini membantu pedet untuk menyukai makanan asam.
  • Jika jumlah kolostrum asam telah dikumpulkan setidaknya selama 1 minggu, maka telah terjadi fermentasi penuh dan kolostrum dapat dicampur menjadi satu untuk mengirit tempat dan waktu.

Susu pengganti (replacement milk)
Susu pengganti berbeda-beda kualitasnya. Susu pengganti yang baik mengandung setidak-tidaknya 20% protein yang kesemuanya berasal dari produk hewan. Bila sumber protein berasal dari tumbuh-tumbuhan maka kadarnya harus 22-24%, karena protein nabati kurang dapat dicerna dibandingkan dengan protein susu. Persentase lemak yang terkandung dalam susu pengganti yang baik paling sedikit 10% dan paling banyak 30% BK. Lemak hewani lebih baik daripada lemak nabati. Lesitin kedelai (terutama bila tercampur rata) merupakan sumber lemak susu pengganti yang cukup baik. Sumber karbohidrat yang dapat digunakan oleh pedet adalah laktosa dan dekstrosa. Sumber karbohidrat seperti pati dan gula (sukrosa) tidak cocok untuk pedet.

Susu afkiran
Susu yang berasal dari sapi yang sedang diobati antibiotik karena mastitis tidak dapat dijual. Susu afkiran tersebut dapat digunakan sebagai pakan pedet. Penelitian menyatakan bahwa pedet yang minum susu mastitis pertumbuhan dan kesehatannya sama baiknya dengan pedet yang diberi makanan lain. Susu afkiran yang asam telah dilaporkan lebih cocok untuk pedet daripada yang difermentasikan. Susu afkiran harus ditangani seperti menangani kelebihan kolostrum. Pedoman untuk mengasamkan kolostrum berlaku juga bagi fermentasi susu afkir. Pemerahan pertama setelah pengobatan antibiotik jangan digunakan. Pedet yang diberi susu yang mengandung antibiotik akan memiliki endapan obat di dagingnya dan bila pedet dipotong harus menunggu beberapa hari sampai antibiotknya bersih.

Rabu, 02 Desember 2015

10 macam Bahan Pakan Ternak Sapi Perah

Bahan makanan sapi seperti disebutkan di muka adalah segala sesuatu yang dapat dimakan ternak sapi, sebagian atau seluruhnya dapat dicerna tanpa mengganggu  keseahtan sapi dengan tujuan untuk kelangsungan hidupnya. Kita harus pandai memilih bahan makanan yang dikehendaki karena ada bahan makanan yang adakalanya banyak mengandung protein tetapi energinya rendah atau sebaliknya.
Bahan makanan sapi dapat digolongkan berupa: rumput, daun-daunan, jerami, hasil-hasil pertanian, hasil samping/sisa industri pertanian.


Rumput

Telah diketahui bahwa rumput merupakan makanan untuk sapi, dan dapat diberikan dalam jumlah yang besar. Kandungan nutrisi rumput tergantugn jenis rumput, umur rumput, kesuburan tanah, iklim, pemeliharaan dan pemupukan tanak. Macam rumput dapat dibagi menjadi 2 golongan  yaitu rumput lapangan dan rumput tanaman.

Rumput lapangan

Rumput lapangan adalah segala macam rumput yang terdapat dan tumbuh liar di lapangan-lapangan, kebun-kebun, sawah, tegalan atau di hutan dan lain tempat. Pada umumnya rumput lapangan di Indonesia tidak begitu bagus dibanding dengan rumput penggembalaan di negeri Barat yang telah maju, dimana padang rumput yang ada dipelihara dan dipupuk dengan baik. Rumput lapangan di Indonesia dalam keadaan segar rata-rata hanya mengandung 1,5% protein dari berat segar atau 7,%% dari bahan keringnya. Bagi sapi perah, rumput itu semata-mata hanya dapat menculupi kebutuhan hidup pokok. Apabila kualitas rumput lapangan baik selain dapat mencukupi kebutuhan hidup pokok juga produksi susu ± 5 liter per hari. Diantara rumput-rumput lapangan yang sudah terkenal, baik untuk pakan sapi perah dan sangat digemari antara lain:
a. Rumput grinting (kekawatan = cynodon tactilon)
b. Rumput cakar ayam (sumbu gangsir =  digitaria sanguinalis)
c. Rumput lulangan ( elensine indica)
d. Rumput ganjuran (paspalum scorbiculatum)
e. Rumput lempuyangan (paspalum distichum)
f. Rumput tuton (panicum colonum)
g. Rumput lamuran (polytrias amaurta)

Rumput tanaman

Rumput tanaman adalah rumput yang keberadaannya ditanam dan dirawat dan hasilnya banyak dan dapat dipotong secara periodik. Penanaman rumput tersebut dalam baris-baris dengan jarak 60 x 30 cm untuk memudahkan pemeliharaan dan pemotongan. Biasanya rumput tanaman itu dapat dipotong dua bulan setelah ditanam dan selanjutnya dipotong 45 – 50 hari sekali. Jika pemeliharaan dan pemupukannya baik, hasilnya sangat memuaskan dan dapat dipotong sembilan kali setahun.
Beberapa rumput tanaman yang sudah biasa ditanan dan telah dibuktikan hasilnya adalah:
  • Rumput benggala (panicum macimun) Rumput ini berasal dari Afrika dan hampir ditanan di semua negara-negara tropis, serta lebih dari 50 tahun diusahakan di Indonesia. Oleh penduduk Jawa disebut juga "rumput landa". Rumput ini sangat disukai ternak, terutama sapi. Kadar proteinnya ± 9,5% dari bahan keringnya. Tumbuh subur di daerah yang banyak hujan dan berada pada ketinggian hingga 1.000 meter di atas permukaan laut dan dapat menghasilkan ± 150.000 kg per ha/tahun.
  • Rumput australia (paspalum dilatatum) Rumput ini lebih banyak mengandung protein dari pada rumput benggala, yaitu ± 10,8% dari bahan kering, tetapi hasilnya tidak sebanyak rumput benggala, kira-kira 90.000 kg per ha/tahun dan membutuhkan banyak air. Di daerah pegunungan tumbuhnya lebih baik daripada rumput benggala.
  • Rumput gajah (pennisetum purpureum) Rumput ini berasal dari Afrika. Hasil dan kadar proteinnya hampir sama dengan rumput benggala, tetapi agak lebih tahan kering. Produksi dapat mencapai 270 ton per ha/tahun.
  • Rumput mexicana (teosinte, euchlaena mexicana) Rumput ini berasal dari Meksiko yang dapat menghasilkan banyak, daunnya lebar-lebar seperti daun jagung, tetapi sayang rumput ini membutuhkan pemeliharaan yang agak intensif dan hasilnya lekas turun sesudah lima kali pemotongan.
  • Rumput kolonjono (panicum muktuh) Rumput ini sangat populer dikalangan rakyat dan disangka memang rumput Indonesia asli. Sebenarnya rumput ini berasal dari Amerika Selatan. Rumput ini hailnya juga banyak dan disukai sapi, tetapi menghendaki banyak air.
  • Rumput raja (king grass) Rumput raja adalah hasil persilangan pennisetum purpureum dengan P. typhoides. Menurut Siregar (1988) produksi hijauan king grass 1.076 ton/ha/tahun. Produksi  bahan kering 110 ton/ha/tahun. Kandungan protein kasar 13,5%; lemak 3,5%; abu 18,6%; Ca 0,37% dan P 0,35%

Daun-daunan

Yang dimaksud dengan daun-daunan adalah daun-daun tanaman atau pohon-pohonan, jadi bukan rumput. Banyak macam daun-daunan yang dapat dipergunakan untuk pakan ternak. Diantaranya yang terpenting dan terbaik adalah daun-daunan tanaman jenis leguminosa. Leguminosa itu umumnya sangat baik kandungan nutrisinya (protein, kalsium dan fosfor) serta sangat digemari ternak. Hampir semua pengusaha susu sudah tahun akan kebaikan daun-daun leguminosa itu, antara lain juga dapat mempertinggi produksi susu.

Daun leguminoss (daun kacang-kacangan)

Sayang tidak semua daun leguminosa dapat dipergunakan untuk pakan sapi, sebab diantaranya yang mengandung racun alkoloid, yang kadang-kadang dapat membawa kematian ternak. Umumnya daun leguminosa itu kalau terlalu banyak diberikan dapat menyebabkan mencret. Sebaiknya daun leguminosa diberikan bersama-sama rumput, dan paling banyak 50% dari rumput. Daun leguminosa yang umum dan baik untuk pakan sapi adalah:

Daun turi (sesbania grandiflora)

Turi ini mudah dan dapat tumbuh dimana-mana, dapat ditanam secara besar-bearan, setahun sesudah menanam sudah dapat deipetik daunnya, sedangkan kayunyapun dapat dipergunakan sebagai kayu bakar. Daun turi paling disukai semua ternak, juga sapi perah. Kandungan proteinnya rata-rata 40% dari bahan keringnya. Pohon turi itu tidak merusak tanaman lainnya dan karenanya dapat dianjurkan untuk ditanam dimana-mana.

Daun kelorworo (jayanti atau sesbania sesban)

Pohon serta daunnya lebih kecil daripada turi, dan tidak begitu digemari, tetapi dapat dibuat campuran pakan hijauan.

Daun lamtoro (petai cina, kemlandingan atau leucaena glauca)

Kadar proteinnya tinggi dan disukai, tetapi tidak boleh diberikan terlalu banyak. Juga kepada sapi yang sedang diperah jangan diberi daun lamtoro karena susunya akan berbau petai.

Daun kacang tanah (arachis hypogaea)

Semasa panen kacang tanah, daunnya dapat dipergunakan sebagai pakan sapi. Proteinnya tinggi dan disukai sapi, tetapi daun ini tidak boleh diberikan lebih dari 50% dari rumput, agar tidak menyebabkan diare.

Gliricidia maculata

Gliricidia maculata bukan tanaman asli Indonesia, tetapi tanaman ini didatangkan dari Ceylon pada tahun 1900. Tanaman tersebut mula-mula berasal dari Amerika Tengah dan kemudian disebarkan ke India, Filipina, Malaya dan pada tahun 1900 seorang Belanda membawa Gliricidia di perkebunan Deli Sumatera. Selanjutnya disebarkan di Sumatera dan Jawa. Produksi hijauan Gliricidia dengan interval pemotongan 3 bulan menghasilkan 74.074 kg per ha/tahun, dan kadar proteinnya rata-rata 26,49% bahan kering.

Daun tanaman lainnya.

Pada musim sukar mendapatkan rumput atau leguminosa, daun-daun lain dapat pula diberikan sebagai tambahan campuran pakan hijauan. Daun tanaman lain tersebut adalah:
a. Daun jagung (zea mais)
b. Daun ubi jalar (ketala rambat = ipomoea batatas)
c. Daun tebu (saccharum officinarum)
d. Daun dadap (erythrina lithosperma)
e. Daun waru (hisbiseus tiliacus)
f. Daun jeunjing (sengon = albizzia falcata)

Jerami

Kandungan nutrisi jerami relatif lebih rendah daripada rumput atau daun-daunan. Jerami hanya diberikan pada sapi pada saat-saat sukar mendapatkan rumput atau daun-daunan. Jerami sungguh penting artinya karena dapat disimpan dengan mudah dan dapat digunakan pada waktu-waktu sulit pakan. Macam jerami tersebut antara lain:

Jerami leguminosa

Jerami leguminosa adalah berasal dari tanaman leguminosa (kacang-kacangan) yang telah dipetik buahnya, antara lain:
a. Jerami kedelai
b. Jerami kacang tanah
c. Jerami kacang panjang dan lain-lain
2. Jerami jagung dan padi
Nilai gizinya terlalu rendah. Kalau tidak terpaksa sebaiknya sapi perah jangan diberi jerami jagung atau jerami padi.

Hasil-hasil pertanian

Telah dibicarakan di muka bahwa pakan sapi perah selain dari makanan kasar (rumput, daun-daunan dan jerami), juga masih memerlukan makanan penguat dan makanan tambahan berupa garam-garam mineral dan vitamin. Makanan penguat (konsentrat) umumnya terdiri dari campuran: hasil-hasil pertanian berupa biji-bijian (jagung, kedelai, kacang hijau), hasil sampingan/sisa (bungkil kedelai, bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit, bungkil kacang tanah, bungkil wijen, ampas tahu, ampas kecap, bekatul, dedak padi, dedak jagung dan sebagainya). Pada umumnya harga bahan-bahan pakan harganya juga lebih mahal daripada rumput. Penggunakan bahan pakan yang berasal dari hasil-hasil pertanian berupa biji-bijian yang harganya relatif mahal dan penggunaannya masih bersaing dengan kebutuhan untuk makanan manusia sedapat mungkin kita hindari. Beberapa jenis bahan yang biasa dipergunakan untuk makanan penguat pada sapi perah adalah:

Jagung

Jagung sangat baik untuk pakan ternak, harganya tidak begitu mahal, mudah didapatkan, begitu pula daya cernanya sangat tinggi. Protein jagung disebut zein, yang banyak mengandung asam amino histina. Lebih-lebih jagung kuning atau merah, disamping itu juga mengandung banyak karotin (provitamin A)

Kedelai.

Dari semua bahan pakan yang berbutir, kedelai adalah pakan yang tinggi nilai gizinya. Tidak saja karena protein (± 37%) dan lemaknya (± 17-19%), juga komposisi proteinnya mendekati protein hewani. Campuran kedelai dan jagung merupakan susunan pakan yang sangat baik karena supplementary effect dari zat-zat protein. Karena tingginya kadar lemak dan mahal harganya, kedelai lebih baik diberikan tidak lebih dari 25% dari seluruh jumlah ransum pakan.

Hasil samping/sisa industri  pertanian


Bungkil

Untuk mendapatkan zat protein yang lebih murah dan tidak bersaing penggunaannya dengan pangan manusia, biasanya untuk ternak diberikan bermacam-macam bungkil dari pabrik. Bunkil umumnya banyak mengandung protein serta harganya jauh lebih murah. Diantaranya yang banyak dan umum dipergunakan untuk ternak di Indonesia adalah:
a. Bungkil kelapa
b. Bungkil kelapa sawit
c. Bungkil kedelai
d. Bungkil wijen

Ampas

Ampas dari industri pertanian yang banyak dipergunakan untuk pakan ternak di Indonesia
a. Ampas tahu basah atau kering
b. Ampas kecap
c. Tetes dari pabrik gula (proteinnya tidak begitu banyak tetapi kaya karbohidrat yang  mudah dicerna, rasanya sedap dan manis, baik diberikan sedikit-sedikit untuk menyedapkan campuran pakan sapi)

Dedak

Dedak sangat populer dan banyak dipergunakan. Fluktuasi harga sangat nyata, pada musim panen besar harganya rendah, tetapi pada suatu saat (paceklik) harganya melambung. Dedak banyak macamnya antara lain:
a. Dedak huller dari pabrik penggilingan padi (dedak terbaik) proteinnya 14-16%.
b. Dedak kualitas II dari pabrik proteinnya 6-9%.
c. Dedak kampung berasal dari penumbukan padi di kampung-kampung, kualitasnya hampir sama dengan dedak pabrik kualitas II, terlalu banyak serat kasar.

Bekatul

Bekatul (lebih halus daripada dedak), proteinnya  lebih kecil daripada dedak halus. Harganya lebih tinggi dan lebih sukar diperoleh karena juga banyak dimakan orang. Bekatul jangan terlalu banyak diberikan pada sapi perah karena dapat menurunkan jumlah maupun kualitas susu.

Dedak Jagung

Dedak jagung lebih baik daripada dedak padi karena lebih mudah dicerna dan preteinnya tinggi (± 10%). Kualitas pakan, lebih-lebih pakan hijauan (rumput dan daun-daunan) dipengaruhi oleh kesuburan tanah, iklim, umur pakan, serta cara memberikannya.

Selasa, 01 Desember 2015

10 Gambar Sapi Terbaik

Sapi merupakan salah satu hewan ternak populer didunia, tak salah jika gambar sapi juga banyak diminati oleh banyak kalangan terutama bagi orang yang jago menggambar. karena itu pada kesempatan kali ini ternak.net menghimpun beberapa gambar yang menurut kami adalah gambar yang cukup bagus dan unik.

gambar yang disebutkan kali ini adalah hasil dari olahan tangan kreatif menggunakan media tradisional berupa pensil maupun olahan digital dengan menggunakan software khusus untuk menggambar digital.

berikut 10 gambar sapi terbaik versi ternak.net























sekian gambar sapi yang telah kami cari melalui mesin pencari paling populer yaitu google, semoga dapat menginspirasi anda untuk menggambar baik secara tradisional maupun gambar digital.

5 Jenis Bahan Pakan Ternak

Banyak macam bahan makanan yang dapat digunakan sebagai makanan ternak. Secara umum pemanfaatan bahan pakan diklasifikasikan menjadi: 1) makanan kasar (roughages), 2) makanan penguat atau konsentrat (concentrates), 3) mineral, 4) vitamin, 5) makanan tambahan dan lain-lain.

Makanan kasar

Makanan kasar bervolume besar, tetapi berat tiap unit volume rendah. Makanan kasar dapat berasal dari hijauan berupa:
  • rumput (rumput lapangan, rumput tanaman)
  • daun-daunan (daun leguminosa atau kacang-kacangan dan daun tanaman lain)
  • sisa-sisa panenan berupa jerami (jerami kedelai, jerami kacang tanah, jerami jagung dan padi).

Makanan hijauan umumnya mengadung serat kasar 18% atau lebih dan kandungan energinya rendah. Dari sudut nutrisi, hijauan yang berkualitas bagus dan dapat menjadi sumber nutrisi yang baik adalah hijauan yang mengadung protein kasar 20% total bahan kering atau lebih seperti leguminosa (kacang-kacangan). Tetapi hijauan lain dari jerami jagung atau jerami padi hanya mengandung protein kasar 3-4% bahan kering.


Dari hijauan yang berasal dari rumput dan daun-daunan yang berkualitas bagus, sapi hanya dapat berproduksi 70% dari kemampuan yang seharusnya. Walaupun demikian rumput dan daun-daunan merupakan pakan dasar bagi sapi perah karena harganya relatif murah. Makanan kasar berupa hijauan sangat diperlukan ternak ruminansia karena mengadung serat kasar tinggi yang berperan merangsang kerja rumen dan menentukan kadar lemak susu.

Makanan penguat (Konsentrat)

Makanan penguat atau konsentrat merupakan makanan dengan kadungan serat kasar rendah ( di bawah 18%). Konsentrat dibedakan menjadi dua yaitu sebagai sumber energi dan sumber protein. Konsentrat sumber energi apabila kadar protein kurang dari 20%. Sedangkan apabila berkadar protein lebih dari 20% disebut konsentrat sumber protein. Nutrisi utama dari konsentrat berupa protein dan energi.
Ternak perah yang berproduksi susu tinggi sebagian besar total pakan yang harus dimakan berupa konsentrat. Sapi perah yang hanya diberi pakan hijauan menghasilkan susu 30% lebih rendah dari pada sapi yang diberi hijauan dan konsentrat karena perut sapi tidak mamp menampung pakan kasar sesuai energi yang diperlukan. Untuk mencukupi kebutuhan energi diperlukan tambahan konsentrat. Makanan konsentrat dapat berupa: 
  • hasil pertanian (jagung, kedelai, kacang hijau dan lain-lain), 
  • hasil sampingan/sisa industri pertanian (bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit, bungkik kedelai, bungkil wijen, dedak, tetes, ampas tahu dan lain-lain)

Mineral

Ternak perah yang berproduksi tinggi membutuhkan makanan tambahan berupa mineral atau zat-zat garam. Tubuh ternak membutuhkan bermacam-macam zat anorganik seperti: kalsium (Ca), fosfat (P), kalium (Ka), natrium (Na), magnesium (Mg), besi (Fe) dan lain-lain. Tidak semua bahan makanan membutuhkan tambahan mineral karena sebagian besar mineral yang diperlukan dapat diperoleh dari bahan-bahan makanan yang diberikan.

Vitamin

Selain zat-zat yang telah dibicarakan tersebut di atas, juga zat-zat vitamin amat penting artinya. Walaupun hanya sedikit yang dibutuhkan tetapi hal ini tidak boleh diabaikan. Apabila tidak ada atau terlalu sedikit vitamin di dalam ransum pakan, maka akan menjadikan tubuhnya lemah atau sakit-sakitan, bahkan juga kematian. Tidak semua bahan pakan mengandung vitamin serba cukup, yang satu lebih banyak dari pada yang lain. Vitamin yang diperlukan dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E dan K) dan vitamin yang larut dalam air (vitamin B12, B6, B kompleks, C, biotin, kholin, inondol, niacin dan lain-lain.

Makanan tambahan

Makanan tambahan yang dimaksud di sini adalah produk yang tidak bernutrisi, gunanya untuk meningkatkan kondisi, mencegah penyakit antara lain antibiotik, hormon, obat cacing, anti toksin dan lain-lain.