Ternak

Sabtu, 07 November 2015

Mengenal Kambing Perah French Alpine dari Perancis

Kambing French Alpine berasal dari pegunungan Alpine. kambing ini dibawa ke Amerika berasal dari Perancis (France), dimana kambing-kambing tersebut telah diseleksi untuk ke-uniform-an, ukuran dan produksi ternak nya.

Warna kambing French Alpine bermacam-macam, putih, coklat, hitam dan kombinasi dari macam-macam warna. Baik kambing jantan maupun betina memiliki bulu-bulu yang pendek, tetapi yang jantan mempunyai bulu-bulu yang panjang dan kasar pada bagian punggung. Telinganya berukuran sedang, halus dan berdiri. French Alpine berukuran lebih besar dan lebih banyak variasi dalam ukuran dibanding breed dari Swiss yang lain. 


Kambing betina dewasa mempunyai ukuran tinggi gumba 29 – 36 inchi dengan berat badan 125 lbs, sedangkan yang jantan dewasa mempunyai tingi gumba 34 – 40 inchi dengan berat badan 170 lbs.

Kambing French Alpine betina merupakan excellent milker, mempunyai ambing yang besar dan bentuknya bagus dengan puting yang ideal.

Jumat, 06 November 2015

Mengenal Kambing Nubian, Kambing Perah dari Afrika

Kambing Nubian merupakan kambing Afrika yang khusus digunakan sebagai kambing perah, walaupun strain yang terbaikpun tidak menunjukkan produksi susu yang istimewa. Namun demikian ambingnya dapat berkembang dengan sangat baik / ideal sebagai ternak perah, dan kambing ini merupakan progenitor / yang memberikan darahnya pada kambing Anglo Nubian.

Di beberapa lokasi di Afrika, untuk mencegah kerusakan ambing karena terkena tanah akibat ambingnya yang terlalu besar, ambing tersebut biasanya disangga dengan semacam tas dari kulit. Kambing Nubian besar, kakinya panjang, mempunyai daun telinga panjang dan menggantung, profil mukanya "Roman nose", terutama pada yang jantan. Tinggi gumba dan berat badan kambing jantan yang dewasa 35 inchi dan 175 lbs., sedangkan kambing betina dewasa mempunyai tinggi gumba 30 inchi dan berat badan 135 lbs. 


Pada beberapa strain baik yang jantan maupun betina kambing ini bertanduk, tetapi ada juga strain yang tidak bertanduk. Warna bulu pada umumnya hitam, coklat dan bulunya panjang. Produksi susu berkisar antara 1 – 2 kg per hari atau 120 – 140 kg per tahun dalam dua kali laktasi.

Kamis, 05 November 2015

Mengenal Kambing Saanen, kambing Asli Asal Swiss barat

Kambing Saanen asli berasal dari Swiss bagian barat. kambing ini di Amerika disukai bukan karena produksi susunya tinggi, tetapi karena persistensi produksinya yang baik. Warna kambing Saanen pada umumnya putih atau sedikit cream, tetapi yang paling disukai adalah warna putih. tidak boleh ada warna / bercak hitam pada bulunya tetapi boleh ada pada kulitnya saja. Konformasi tubuhnya seperti kambing Toggenburg. Garis profil mukanya lurus atau sedikit cekung, daun telinga berdiri dan mengarah ke depan. Ukuran tinggi gumba dan berat tubuh kambing jantan 35 inchi dan 185 lbs., sedangkan kambing betina tinggi gumba 30 inchi dengan berat badan 135 lbs.

Menurut Peggy (1957) yang disitasi oleh Devendra kambing Saanen telah dimasukkan (introduced) ke Puerto Rico India Barat, Fiji, Ghana, Kenya, Malaysia dan Australia. Di daerah tropis tampaknya kambing Saanen ada tendensi sensitif terhadap radiasi sinar matahari yang kuat, sehingga sebaiknya di daerah tropis kambing ini dipelihara dalam kandang.


Menurut observasi yang dilakukan di Cyprus, dimana kambing ini pertama kali di impor tahun 1949, ternyata kambing ini dapat hidup dengan baik di daerah pegunungan yang dingin.
Kambing Saanen sangat populer di India Barat dan produksi susunya selama periode laktasi 250 hari dapat mencapai 800 kg. Di Ghana dan Malaysia kambing ini tidak mampu beraklimatisasi dengan baik.

Telah dilaporkan di Israel (Epstein dan Herzt, 1864) bahwa ternak delapan ekor kambing Saanen dapat hidup dengan baik dengan rata-rata menghasilkan 1,9 cempe tiap kelahiran, yang mana tampak lebih tinggi bila dibandingkan dengan yang dipelihara di negeri Swiss yang hanya mampu menghasilkan 1,83 ekor per kelahiran. Hal ini tampaknya merupakan refleksi dari keberhasilannya beraklimatisasi di daerah subtropis di Israel. Dari hasil ini dan observasi yang lain disarankan bahwa kambing Saanen lebih cocok di daerah subtropis dan di tempat-tempat lain yang udaranya sejuk dan dibutuhkan kandang untuk menghindarkan kambing dari sengatan matahari.

Rabu, 04 November 2015

Mengenal Kambing Anglo Nubian, Kambing Perah dari Afrika

Kambing Anglo Nubian ditinjau dari penampilan dan performans tampaknya merupakan persilangan antara kambing Jamnapari dari India dan kambing Nubian yang berasal dari Afrika. Kambing tersebut merupakan ternak kambing yang besar, mempunyai kaki yang tinggi dengan kulit yang baik dan bulu yang mengkilap. Kambing ini mempunyai telinga yang panjang dan menggantung, profil mukanya konveks (cembung) yang biasa disebut “Roman nose”. 

Bentuk kepala kambing ini secara keseluruhan seperti bentuk kepala unta, dan biasanya tidak bertanduk. Warna bulunya sangat bervariasi. Kambing ini merupakan kambing dual purpose (daging dan susu), produksi susunya tidak sebaik kambing-kambing dari Swiss, tetapi telah terbukti bahwa kambing tersebut paling cocok dikembangkan di daerah tropis. 


Oleh karena itu telah dikembangkan secara meluas untuk grading-up kambing-kambing lokal untuk tujuan produksi daging dan susu di beberapa negara seperti India Barat, Mauritius, Malaysia dan Philipina. Di Trinidad  pada puncak laktasi produksi susunya dapat mencapai 2 – 4 kg per hari dengan rata-rata 1 – 2 kg per hari. 

Di Mauritius Anglo Nubian menghasilkan susu 221 kg dalam periode laktasi 247 hari,  susunya mempunyai kadar lemak yang tinggi, rata-rata 5,6%, sehingga kambing tersebut dijuluki / disebut “Jersey cows in the goat world”.

Selasa, 03 November 2015

Mengenal Kambing Toggenburg, Kambing asal Swiss Timur Penghasil Susu

Kambing Toggenburg berasal dari Swiss Timur Laut, yaitu dari lembah Toggenburg sehingga diberi nama kambing Toggenburg. Warna bulu di bagian tubuhnya bervariasi dari coklat muda sampai warna coklat tua / gelap. 

Ada beberapa warna putih yang spesifik pada Toggenburg yaitu : telinga berwarna putih dengan spot hitam pada bagian tengahnya, dua garis putih dari sebelah atas mata sampai pada bagian mulut (muzzle). Kaki berwarna putih pada bagian dalam, kemudian mulai dari lutut kaki depan dan kaki belakang sampai pada bagian bawah kaki (feet) seluruhnya berwarna putih.


Pada bagian belakang disebelah kiri-kanan pangkal ekor terdapat warna putih berbentuk segitiga. Juga warna putih di kedua cuping telinganya atau di areal cuping telinga apabila cuping telinganya tidak ada. Tidak dikehendaki adanya warna hitam atau bercak putih selain yang spesifik tersebut.
Kepala kambing Toggenburg mempunyai ukuran sedang (medium size) dan garis profilnya sedikit konkav (cekung). Telinganya berdiri dan mengarah ke depan. 

Kambing ini tampaknya paling tidak berhasil untuk diternakkan di daerah tropis. Dibandingkan dengan kambing Saanen, British Alpine dan Anglo Nubian, kambing ini merupakan yang pertama kali dikeluarkan / tidak dipakai lagi di Malaysia. Kambing dewasa jantan dan kambing betina masing-masing mempunyai tinggi gumba 33 inchi dan 27 inchi serta berat badan 160 lbs dan 125 lbs.

Senin, 02 November 2015

10 Bangsa Kambing Perah Paling Populer Didunia

Di beberapa negara termasuk negara-negara tropis, walaupun banyak jenis kambing untuk ternak, tetapi masih sedikit sekali perhatian terhadap seleksi atau breeding dalam usaha memperoleh satu performans kambing yang baik.  Dalam tulisan ini akan disajikan beberapa bangsa kambing perah yang sudah banyak dikenal di dunia.


Kambing Anglo Nubian menurut Devendra ditinjau dari penampilan dan performans tampaknya merupakan persilangan antara kambing Jamnapari dari India dan kambing Nubian yang berasal dari Afrika.

Kambing Toggenburg berasal dari Swiss Timur Laut, yaitu dari lembah Toggenburg sehingga diberi nama kambing Toggenburg. Warna bulu di bagian tubuhnya bervariasi dari coklat muda sampai warna coklat tua / gelap.

Kambing  Saanen asli berasal dari Swiss bagian barat. kambing ini di Amerika disukai bukan karena produksi susunya tinggi, tetapi karena persistensi produksinya yang baik. 

Kambing Nubian merupakan satu-satunya kambing Afrika yang khusus digunakan sebagai kambing perah, walaupun strain yang terbaikpun tidak menunjukkan produksi susu yang istimewa.

Kambing French Alpine berasal dari pegunungan Alpine. kambing ini dibawa ke Amerika berasal dari Perancis (France), dimana kambing-kambing tersebut telah diseleksi untuk ke-uniform-an, ukuran dan produksinya.

British Alpine merupakan kambing yang di-developed menjadi produsen susu yang baik. Aslinya berasal dari Swiss Austria. 

Jamnapari atau Ettawa mungkin merupakan kambing yang paling populer dan tersebar luas sebagai kambing perah (susu) di India, Asia Tenggara, dan di daerah-daerah lain.

Diantara beberapa bangsa kambing perah di Timur Tengah yang paling penting adalah kambing Damaskus dan sudah merupakan kambing yang banyak dipelihara di Libanon, Syria, dan Cyprus. 
Beetal adalah kambing yang juga penting di India dan Pakistan. Kambing ini ditemui di beberapa district di Punyab India, Rawalpindi, dan Lahore di Pakistan Barat. 

Kambing Barbari fisiknya lebih kecil dibandingkan dengan Ettawa dan Beetal. Diketemukan di India bagian Utara dan Pakistan Barat. 

Minggu, 01 November 2015

7 Metode dan Uji Kualitas susu fermentasi

Parameter pengamatan uji kualitas susu fermentasi meliputi kadar air, uji kadar lemak, uji kadar protein, uji laktosa, uji kadar  keasaman, uji pH, dan total bakteri asam laktat.
a. Uji kadar air (Sudarmadji et al., 1997) pengukuran kadar air pada sampel dilakukan dengan proses pengeringan.
b. Uji kadar lemak (Sudarmadji et al., 1997) pengukuran kadar lemak pada sampel dilakukan dengan menggunakan metode Soxhlet.
c. Uji kadar protein (Sudarmadji et al., 1997) pengukuran kadar protein pada sampel dilakukan dengan menggunakan metode Kjeldahl.
d. Uji laktosa (Nurgayanti, 2012) uji laktosa dilakukan dengan metode Somogyi-Nelson dan Follin Wu.
e. Uji  kadar keasaman (Hadiwiyoto, 1994) Uji keasaman dilakukan dengan menggunakan metode Mann’s acid test.
f. Uji pH (Hadiwiyoto, 1994) Uji pH dilakukan dengan metode potensiometer menggunakan pH meter.
g. Total bakteri asam laktat (Hadiwiyoto, 1994) Perhitungan total bakteriasam laktat menggunakan Total Plate Count (TPC) dengan media MRS.

pengumpulan susu dari peternak yang akan didistribusikan

uji kualistas susu