Ternak

Kamis, 05 Februari 2015

PERBEDAAN BURUNG PUYUH JANTAN DAN BETINA

Burung puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang jauh, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek, dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga gemak (jawa) atau quail (asing), merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakkan di Amerika Serikat tahun 1870 dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia burung puyuh mulai dikenal dan diternakkan sejak akhir 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia (Lampung Post, 2003).
Klasifikasi burung puyuh menurut Redaksi Agromedia (2002) adalah
sebagai berikut:
Kelas               : Aves (Bangsa burung)
Ordo                : Galiformes
Sub Ordo        : Phasianoidae
Famili              : Phasianidae
Sub Famili       : Phasianidae
Genus              : Coturnix
Spesies            : Coturnix-coturnix japonica
Kelebihan ternak burung puyuh dibandingkan dengan ternak unggas lainnya menurut Sutoyo (1989) yaitu : Ternak burung puyuh sangat mudah pemeliharaannya, tidak banyak memerlukan tenaga dan biaya yang banyak/besar. Tidak banyak menyita tempat, dapat menampung anak burung puyuh 100 ekor/m2 berumur 1-10 hari dan 60 ekor/m2 untuk burung puyuh berumur di atas 10 hari. Cepat bertelur, sehingga kebutuhan telur keluarga cepat terpenuhi.
Ciri-ciri burung puyuh (Coturnix-coturnix japonica) adalah bentuk badannya relatif lebih besar dari jenis burung- burung puyuh lainya. Panjang badannya 19 cm, badannya bulat, ekor pendek, dan kuat, jari kaki empat buah, warna bulu coklat kehitaman, alis betina agak putih sedang panggul dan dada bergaris (Nugroho dan Mayun, 1986).
Burung puyuh jenis Coturnix-coturnix japonica lazim diternakkan oleh peternak yang menghendaki produksi telur yang tinggi. Burung puyuh ini mampu menghasilkan sebanyak 250-300 butir telur/tahun dengan periode bertelur selama 9-12 bulan. Burung puyuh betinanya mulai bertelur pada umur 35 hari. Dengan ciri khas perbedaan jantan dan betina terdapat pada warna, suara dan berat tubunya. Burung puyuh betina pada bulu leher dan dada bagian atas warnanya lebih terang serta terdapat totol-totol cokelat tua bagian leher sampai dada, sedangkan burung puyuh jantan bulu dadanya polos berwarna cinnamon (cokelat muda). Suara burung puyuh jantan lebih besar dibandingkan burung puyuh betina sebaliknya bobot burung puyuh betina lebih berat daripada burung puyuh jantan (Nugroho dan Mayun, 1982).

Sumber gambar : kicaumania.or.id
HAL YANG DIAMATI

JANTAN

BETINA

Kepala/Muka
Berwarna coklat gelap
dan rahang bawah gelap
Berwarna coklat terang
dan rahang bawah putih
Bulu Dada
Kuning
Terdapat bercak hitam
atau coklat
Dubur atau anus

Terdapat benjolan
berwarna merah diatas
dubur jika ditekan akan
mengeluarkan
busa berwarna putih
Tidak terdapat benjolan

Suara
Cekeker
Cekikik
Sumber : Sugiharto (2005).

PENYAKIT GUMBORO (INFECTIOUS BURSAL DISEASE) PADA AYAM

Penyakit Gumboro atau Penyakit Infectious Bursal Disease (IBD) merupakan penyakit pada ayam yang pertama kali dilaporkan oleh Cosgrove pada tahun 1962 berdasarkan kasus yang terjadi pada tahun 1957 di desa Gumboro-Delaware, negara bagian Amerika Serikat. Sesuai dengan nama asal daerah ditemukannya, penyakit ini dikenal juga sebagai Gumboro. Penyebab penyakit gumboro (IBD) adalah virus yang berbentuk icosahedral yang terdiri dari 2 segmen untaian ganda RNA, yang termasuk dalam famili Birnaviridae (Lukert dan Saif, 2003) Virus very virulent IBD (vvIBDv) bersifat sangat menular dan akut, menyebabkan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Penyakit ini berdampak ekonomis karena menyerang organ pertahanan ayam yaitu bursa Fabricius sehingga merugikan peternak. Ayam yang terserang gumboro (IBD) menjadi rentan terhadap infeksi sekunder, serta mengakibatkan kegagalan vaksinasi (Lukert dan Saif, 2003).

NAMA LAIN
            Nama lain: Infectious Bursal Disease (IBD), Avian nephrosis atau Avian Infectious Bursitis. Merupakan penyakit menular akut pada ayam berumur muda yang ditandai dengan peradangan berat bursa fabrisius dan bersifat immunosupresif yaitu lumpuhnya system pertahanan tubuh ayam yang mengakibatkan turunnya respon ayam terhadap vaksinasi dan ayam-ayam menjadi lebih peka terhadap pathogen lainnya.

ETIOLOGI
            Virus penyebab Gumboro (IBD) yang dikenal saat ini terdiri dari 2 serotipe yaitu serotipe 1 dan serotipe 2 yang dapat menginfeksi ayam dan kalkun. Serotipe 1 yang pertama kali ditemukan disebut dengan strain klasik yang bersifat patogen dan strain yang ditemukan kemudian di daerah Amerika merupakan strain varian yang sangat ganas yaitu very virulent IBD (vvIBD). Virus IBD tersebut merupakan hasil mutasi dari virus klasik, sementara serotipe 2 tidak bersifat ganas. Kedua serotipe dapat dibedakan dengan uji virus netralisasi (VN) tetapi tidak dapat dibedakan dengan Flourescent Antibody Technique (FAT) dan Enzyme Linked Immunosorbent Assay (Elisa) (Lukert dan Saif, 2003). Virus IBD berdiameter 55 nm, merupakan virus yang tidak memiliki amplop dan dikelilingi oleh protein capsid yang berbentuk ikosahedral (Hirai dan Shimakura, 1974). Virus ini tergolong dalam famili Birnaviridae. Sesuai dengan namanya, virus terdiri dari 2 segmen utas ganda RNA, yaitu segmen A mempunyai ukuran 3300 pasang basa, yang terdiri dari 2 bagian Open Reading Frame, yaitu A1 dan A2.

PATOGENESIS
Patogenesis adalah jalannya virus sehingga menimbulkan lesi, yang dapat menyebabkan kematian, penyakit atau efek imunosupresif pada ayam. Penyakit Gumboro (IBD) menyerang ayam umur 3 – 6 minggu pada saat perkembangan bursa Fabricius mencapai optimum. Pada saat yang sama antibodi asal induk mulai menurun, sehingga ayam rentan terhadap infeksi virus IBD. Sebaliknya, penyakit Gumboro (IBD) tidak membahayakan bagi ayam yang telah mengalami regresi bursa Fabricius, karena target sel virus IBD adalah sel limfoid bursa Fabricius yang sudah matang. Infeksi IBD menyebabkan kerusakan pada bursa Fabricius yang berupa nekrosis dan apoptosis pada sel limosit B Infeksi pada umumnya melalui oral bersama pakan yang tercerna virus masuk ke dalam usus. Virus kemudian ditangkap oleh sel makrofag atau limfosit sebagai Antigen Precenting Cell (APC). Keberadaan IBD dapat dideteksi 13 jam paska infeksi pada sebagian besar folikel (Van Den Berg, 2000).
Penyebab kematian belum diketahui secara pasti. Namun demikian pada fase akut teramati sindroma septic shock, dimana terjadi respon imun yang berlebihan, yang ditandai dengan peningkatan konsentrasi TNF-α yang berlebihan di dalam serum darah ayam, yang kemudian diikuti terjadinya kematian (Sharma et al. dalam Asraf, 2005).
Infeksi virus IBD yang ganas menyebabkan kerusakan yang parah hingga terjadi deplesi sel limfoid pada folikel bursa Fabricius, sehingga ukuran bursa terlihat mengecil, hingga mencapai 1/4 – 1/5 dari ukuran bursa Fabricius pada ayam kontrol. Bila tidak terjadi penyembuhan pada bursa Fabricius ayam, akan menyebabkan hambatan produksi antibodi yang dibentuk oleh sel B. Selain itu pada infeksi IBD banyak sel makrofag dan sel heterofil yang mengalami nekrosis dan apoptosis menyebabkan fungsi fagositosis yang menurun (Lam, 1998). Kedua kondisi tersebut menyebabkan ayam yang terinfeksi IBD menjadi imunosupresif.

GEJALA KLINIS
Gejala klinis yang terlihat sangat tergantung dari strain virus yang menginfeksi ayam, jumlah virus, umur, galur ayam, rute inokulasi dan keberadaan antibodi penetralisasi (Muller et al., 2003). Virus yang masuk ke dalam tubuh ayam ditangkap makrofag, yang kemudian melepaskan sitokin yang menimbulkan respon inflamasi.
Gejala klinis ditimbulkan oleh infeksi IBD adalah ayam lesu, nafsu makan menghilang dan sayap menggantung (Park et al., 2009; Acribasi et al., 2010). Selain itu juga sering ditemukan gejala diare, serta kotoran yang menempel pada kloaka (Parede et al., 2003). Pada ayam muda tanpa antibodi maternal, gejala klinis mulai terlihat pada 48 jam pi dan gejala klinis semakin parah pada 56 – 72 jam paska infeksi (William dan Davison, 2005). Sementara itu, pada ayam yang divaksinasi, gejala klinis terlihat 3 hari pasca tantang, dan ayam-ayam tersebut mati setelah 2 – 3 hari memperlihatkan gejala klinis (Park et al., 2009). Ayam yang bertahan hidup, pertumbuhan menjadi terhambat dan sering kali ditemukan infeksi sekunder seperti Newcastle Disease, Coli Bacillosis dan Coccidiosis (Muller et al., 2003).
Wabah IBD akut yang disebabkan virus IBD klasik yang menyerang ayam pedaging umur > 3 minggu ditandai dengan angka morbiditas yang tinggi namun secara klinis terlihat ada penyembuhan setelah 5 – 7 hari ayam sakit. Infeksi pada ayam yang mempunyai antibodi maternal menunjukkan gejala subklinis, namun lesi dapat diamati secara histopatologik (Lukert dan Saif, 2003)
PENYAKIT GUMBORO (INFECTIOUS BURSAL DISEASE) PADA AYAM
DIAGNOSIS
Diagnosis penyakit gumboro (IBD) dapat ditegakkan berdasarkan pada gejala klinis, perubahan patologi anatomi dan histopatologi. Perubahan patologi yang patognomonik adalah perubahan yang ditemukan pada bursa Fabricius. Namun demikian, diagnosis gumboro (IBD) sebagai penyebab primer perlu ditunjang dengan teknik diagnosis yang lain karena gejala infeksi virus gumboro (IBD) mirip dengan ND atau penyakit lain penyebab imunosupresif. Hal ini bisa diatasi dengan pewarnaan imunohistokimia, untuk mendeteksi keberadaan antigen virus IBD pada organ bursa Fabricius. Antigen virus IBD dapat dideteksi 3 jam paska infeksi pada bagian korteks folikel limfoid bursa Fabricius. Antigen dapat dideteksi pada makrofag di dalam folikel bursa Fabricius dan pada sel epitel 96 jam paska infeksi (Oladele etal., 2009). Keberadaan antigen IBD pada bursa Fabricius berkorelasi positif dengan terjadinya lesi pada bursa Fabricius (Rautenschlein et al., 2005).
Antigen virus IBD juga terdeteksi pada organ timus, limpa, secal tonsil, sel epitel tubulus dan glomerulus ginjal, lapisan mukosa dan glandula pada proventrikulus serta pada sel Kupffer pada hati (Oladele et al., 2009). Antigen virus IBD juga dapat dideteksi pada itik dan kalkun yang diinfeksi dengan virus IBD, namun demikian jumlah antigen yang dideteksi relatif lebih sedikit (Oladele et al., 2009)
Diagnosis penyakit gumboro (IBD) dapat juga dilakukan dengan cara mengisolasi virus yang diduga sebagai penyebab, yang ditumbuhkan pada telur ayam berembrio berumur 11 hari atau biakan jaringan, namun diperlukan waktu relatif lama dan tidak semua strain virus IBD dapat tumbuh di telur atau biakan jaringan. Teknik uji netralisasi virus dapat digunakan untuk mendeteksi IBD, dan dari hasil deteksi dapat dibedakan antara IBD klasik dan IBD varian (Oie, 2008). Sedangkan Antigen-capture ELISA dapat digunakan untuk membedakan antara IBD sangat virulen dengan IBD yang kurang patogen. Sementara itu, teknik RT-PCR dapat membedakan serotipe IBD, sedangkan subtipe IBD dapat dibedakan dengan real-time RT-PCR (Currie, 2002). Virus IBD dapat dideteksi pada jaringan yang telah dibuat sebagai blok parafin dengan real time RT-PCR dan hasilnya menunjukkan bahwa ada korelasi positif antara lesi dan hasil deteksi antigen (Hamoud dan Villegas, 2006).

PENYEBARAN
Penyebaran penyakit sudah sampai ke Indonesia pada tahun 1983, ketika ditemukan kasus di Sawangan, Bogor (Partadiredja et al., 1983). Pada periode tahun 1990-an, penyakit IBD telah menyebar ke berbagai wilayah di Indonesia dan hasil isolasi dan identifikasi menunjukkan bahwa hampir semua isolat yang diperoleh berkerabat dekat dengan virus very virulent IBD (vvIBDv) (Parede et al., 2003).
Penularan penyakit gumboro dari satu ayam ke ayam lain sangat cepat dalam waktu singkat ( 18 - 36 jam) seluruh ayam dalam kandang dapat ketularan. Kematian terjadi pada hari ke-3 sampai ke-5. Penybaran benih-benih penyakit melalui makanan,air minum, alat-alat dan tempat-tempat yang tercemar oleh feces dan makanan yang dimuntahkan. Virus penyakit gumboro stabil dan resisten, dapat dipindahkan satu tempat ketempat yang lain oleh orang, alat-alat peternakan yang tercemar. Sebuah peternakan yang pernah terjangkit Virus gumboro, maka Virus ini akan tetap infektip dan berdiam dalam peternakan tersebut untuk waktu yang lama. Menurut penelitian virus gumboro dapat hidup sampai 122 hari. Tidak ada carrier (hewan yang sembuh dan mwngandung virus yang dapa6t ditularkan). Penyakit ini tidak dapat dipindahkan melalui telur yang ditetaskan dan diduga juga tidak dapat disebakan melalui udara.

PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN
Usaha pencegahan dan pengendalian supaya gumboro tidak mewabah adalah:
a.   Melakukan sanitasi lingkungan secara berkala, dengan disinfektan.
b.   Memberikan kondisi nyaman pada ayam terutama pada masa brooder, suhu brooder sesuai dengan kebutuhan anak ayam. Disesuaikan juga kondisi lingkungan, apabila suhu lingkungan sangat panas suhu brooder bisa disesuaikan. Pemberian pakan berkualitas dan minum dengan vitamin elektrolit dan anti strees. Perlakuan anak kandang yang baik, karena apabila perlakuan tidak baik dapat mengakibatkan stress pada ayam, dengan stress dapat menurunkan system kekebalan tubuh.
Pengendalian terhadap penyakit IBD yang efektif adalah dengan melakukan program vaksinasi yang teratur disertai dengan program biosekuritas, diikuti dengan deteksi titer antibodi untuk mengetahui keberhasilan vaksinasi dengan uji serum netralisasi atau ELISA (Oie, 2008)
1.   Vaksinasi
Vaksinasi pada ayam pembibit merupakan langkah terpenting untuk mengendalikan gumboro (IBD), karena antibodi yang diproduksi induk akan diturunkan melalui telur kepada anak. Antibodi maternal dengan titer yang baik akan memproteksi ayam melawan penyakit gumboro (IBD). Sebagai contoh, program vaksinasi pada ayam petelur dapat dilakukan pada umur 12 sampai 15 hari dengan vaksin IBD aktif. Pada umur 30 – 33 hari dengan vaksin IBD aktif dan pada umur 85 hari dengan vaksin inaktif, serta pada umur 120 hari dengan vaksin inaktif (Butcher dan Milles, 2003). Vaksinasi ulang pada umur 38 – 40 minggu dengan vaksin inaktif perlu dilakukan jika ayam pembibit mempunyai titer antibodi yang rendah atau tidak seragam. Monitoring titer antibodi perlu dilakukan secara rutin untuk mengetahui apakah ayam telah memberikan respon yang baik atau untuk mengetahui aplikasi vaksin sudah dilakukan dengan benar atau belum.
Pencegahan dan pengendalian penyakit IBD pada ayam pedaging komersial diperlukan untuk mencegah penyakit IBD yang bersifat klinis. Ada tiga kategori vaksin yang digolongkan berdasarkan patogenisitasnya yaitu; mild, intermediate dan virulent. Tipe vaksin IBD intermediate paling umum digunakan. Vaksin ini dapat menstimulasi ayam pedaging dalam memproduksi antibodi lebih awal dari pada tipe vaksin mild, tanpa menyebabkan kerusakan bursa Fabricius seperti pada tipe vaksin virulen (Oie, 2008). Waktu vaksinasi tergantung pada titer antibodi maternal pada anak ayam. Titer antibodi maternal yang tinggi akan menetralisasi virus yang berasal dari vaksin. Jadi hanya sedikit respon kekebalan aktif yang akan dihasilkan, sehingga ayam akan mudah terinfeksi penyakit karena antibodi menurun, dan vaksinasi kemungkinan menjadi tidak efektif jika ayam terkontaminasi dengan virus IBD lapang yang lebih virulen. Vaksinasi IBD pada embrio merupakan alternatif vaksinasi yang memberikan kelebihan dibandingkan dengan vaksinasi setelah menetas yang umum digunakan. Hal ini disebabkan karena pada vaksinasi in ovo, titer antibodi maternal tidak perlu dimonitor untuk menentukan kapan vaksinasi harus dilakukan. Selain itu, hasil penelitian menunjukkan bahwa vaksinasi in ovo dengan virus yang telah diatenuasikan tidak merusak bursa Fabricius dan dapat memberikan proteksi hingga 100% pada ayam yang ditantang pada umur 3 minggu (Moura et al., 2007). Meskipun vaksinasi menyebabkan perubahan HP pada organ bursa namun penyembuhan lebih cepat terjadi pada ayam yang divaksin in ovo daripada yang divaksin pascamenetas (Rautenschlein dan Haase, 2005). Namun, kelemahan vaksin ini adalah memerlukan alat vaksin masal dan ukuran telur yang seragam sehingga aplikasi vaksin tepat pada posisi yang diinginkan.
2.   Biosekuritas
Selain vaksinasi pelaksanaan terhadap program biosekuritas yang juga merupakan faktor penting dalam meminimalkan kerugian akibat infeksi IBD. Cserep menyatakan bahwa pada peternakan yang bebas dari Gumboro subklinis akan mendapatkan keuntungan 25% lebih besar, dibandingkan pada peternakan yang ditemukan kasus gumboro subklinis (Cooper, 2011). Upaya untuk melaksanakan biosekuritas dengan melakukan desinfeksi terhadap orang, peralatan atau kendaraan yang melintas antar kandang pada ayam pedaging komersial perlu dikontrol sehingga berjalan efektif untuk menurunkan paparan dari agen infeksi. Fenol dan formaldehid telah terbukti efektif digunakan untuk desinfeksi kandang dan lingkungan yang terkontaminasi. Antibiotik dengan jumlah seminimal mungkin diberikan pada kasus gumboro (IBD) yang disertai infeksi sekunder oleh bakteri. Namun hal ini tidak disarankan pada kasus yang disertai dengan kerusakan ginjal yang sangat parah. Pemberian larutan elektrolit atau multivitamin sangat bermanfaat pada kasus penyakit yang berlangsung lama yang disertai penurunan nafsu makan. Ventilasi yang baik, suhu ruangan yang hangat dan air minum yang bersih akan mengurangi kematian. Setelah ayam dipanen, kandang harus dikosongkan dari semua unggas. Semua litter, sisa pakan harus dibuang, kandang harus dibersihkan dan didesinfeksi. Fumigasi perlu dilakukan menggunakan formaldehyde dan Kalium permanganat. Kandang harus dikosongkan minimal 3 minggu setelah dilakukan fumigasi, untuk dapat digunakan lagi.

KESIMPULAN
Penyakit gumboro (IBD) merupakan penyakit viral yang bersifat infeksius dan menular, menyebabkan efek imunosupresif. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan sangat besar karena menyebabkan kegagalan program vaksinasi. Diagnosis dapat dilakukan berdasarkan perubahan patologik yang diperkuat dengan deteksi antigen virus dengan teknik IHK. Pencegahan dengan memberikan vaksinasi telah rutin dilakukan, namun kasus masih sering terjadi. Penggunaan vaksin yang potensial dan diberikan pada saat antibodi maternal sudah menurun atau dengan menggunakan vaksin in ovo yang saat ini sudah dapat ditemukan di pasaran, diharapkan dapat mengurangi kasus yang terjadi di lapangan. Sudah saatnya dibuat vaksin isolat lokal yang diharapkan lebih protektif dibandingkan dengan vaksin isolat luar, karena sesuai dengan virus yang ada di lapang.

Postingan ini saya resume dari makalah milik :
Wahyuwardani, S., Agungpriyono, Parede, L., Manulu, w., 2011. Penyakit Gumboro: Etiologi, Epidemiologi, Patologi, Diagnosis Dan Pengendaliannya. Wartazoa Vol. 21 No. 3.

DAFTAR PUSTAKA
Acribasi, M., A. Jung, E.D. Heller And S. Rautenschlein. 2010. Differences In Genetic Background Influence The Induction Of Innate And Acquired Immune Responses In Chickens Depending On The Virulence Of The Infecting Infectious Bursal Disease Virus (Ibdv) Strain. Vet. Immunol. Immunopathol. 135: 79 – 92.
Asraf, S. 2005. Studies On Infectious Bursal Disease Virus. Disertasi.The Ohio University. Ohio.
Butcher, G.D. And R.D. Milles. 2003. Infectious Bursal Disease (Gumboro) In Commercial Broilers. Http://Edis.Ifas.Ufl.Edu. (27 Oktober 2008).
Currie, R.J.W. 2002. The Use Of A Rt-Pcr/ Rflp Test To Diagnose Ibd Variant Viruses: Implications For Vaccination Programmes Congresso De Ciências VeterináriasProc. Of The Veterinary Sciences Congress, 2002, Spcv, Oeiras, 10 – 12 Oct. P. 249
Cooper, O. 2011. Biosecurity Key To Beating Gumboro. Poult World 165: 5 Proquest Agriculture J. P. 32.
Hamoud, M.M. And P. Villegas. 2006. Identification Of Infectious Bursal Disease Viruses From Rna Extracted From Paraffin-Embedded Tissue. Avian Dis. 50: 476 – 482
Hirai, K, And S. Shimakura. 1974. Structure Of Infectious Bursal Disease Virus. J. Virol. 14: 957 – 964.
Lam, K.M. 1998. Alteration Of Chicken Heterophil And Macrophage Functions By The Infectious Bursal Disease Virus. Microb. Pathogen 25: 147 – 155.
Lukert, P.D. And Y.M. Saif. 2003. Infectious Bursal Disease. In: Diseases Of Poultry 11Th Ed. Saif, Y.M., H.J. Barnes And J.R. Glisson (Eds.). Iowa State University Press. Pp. 161 – 17.
Moura, L., V.V. Vakharia, M. Li And H. Song. 2007. In Ovo Vaccine Against Infectious Bursal Disease. Int. J. Poult. Sci. 6: 770 – 775
Muller, H., M.R. Islam And R. Raue. 2003. Research On Infectious Bursal Disease-The Past, The Present And The Future. Vet. Microbiol. 97: 153 – 156.
Oie (Office International Des Epizooties). 2008. Infectious Bursal Disease (Gumboro Disease). In: Terrestrial  Manual. Chapter 2.3.12
Oladele, O.A., D.F. Adene, T.U. Obi And H.O. Nottidge.  2009. Comparative Susceptibility Of Chickens, TurkeysAnd Ducks To Infectious Bursal Disease Virus UsingImunohistochemistry. Vet. Res. Commun. 33: 112 – 121.
Parede, L.H., S. Sapats, G. Gould, M. Rudd, S. Lowther, And J. Ignjatovic 2003. Characterization Of Infectious Bursal Disease Virus Isolates From Indonesia Indicates The Existence Of Very Virulent Strains With Unique Genetic Changes. Avian Pathol. 32: 511 – 518.
Park, J.H., H.W. Sung, B.Ii. Yoon And H.M. Kwon. 2009. Protection Of Chicken Against Very Virulent Ibdv Provided By In Ovo Priming With Dna Vaccine And Boosting With Killed Vaccine And Adjuvant Effects Of Plasmid-Encoded Chicken Interleukin-2 And Interferon-Γ. J. Vet. Sci. 10(2): 131 – 139
Partadiredja, M., W. Rumawas Dan I. Suharyanto. 1983. Penyakit Gumboro Di Indonesia Dan Akibatnya Bagi Peternak Ayam. Hemerazoa 71(1): 29 – 33.
Rautenschlein, S., C.H. Kraemer, J. Vanmarcke And E.  Montiel. 2005. Protective Efficacy Of Intermediate And Intermedieate Plus Infectious Bursal Disease Virus(Ibdv) Vaccines Against Very Virulent Ibdv In Commercial Broilers. Avian Dis. 49: 231 – 237.
Van Den Berg, T.P. 2000. Acute Infectious Bursal Disease In Poultry: A Review. Avain Pathol. 29: 175 – 194.
William, A.E. And T.F. Davison. 2005. Enhanced Immunopathology Induced By Very Virulent Infectious Bursal Disease Virus. Avian Pathol. 34: 4 – 14.

Rabu, 04 Februari 2015

JENIS JENIS ITIK LOKAL INDONESIA

Itik merupakan salah satu spesies unggas air yang telah banyak dibudidayakan. Di Indonesia, ternak itik telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari masyarakat di pedesaan. Ternak itik sangat potensial untuk memproduksi telur sehingga populasinya tersebar hampir merata di seluruh wilayah tanah air. Selain itu, itik merupakan salah satu jenis unggas potensial setelah ayam (Suharno dan Amri, 2000). Itik adalah salah satu jenis unggas air (waterfowls) yang termasuk dalam kelas Aves, ordo Anseriformes, famili Anatidae, sub famili Anatinae, tribus Anatini dan genus Anas. Menurut tujuan utama pemeliharaannya, ternak itik sebagaimana ternak ayam, dibagi menjadi 3 golongan, yaitu : tipe pedaging, petelur dan ornamen. Penggolongan tersebut didasarkan atas produk atau jasa utama yang dihasilkan oleh itik tersebut untuk kepentingan manusia. Itik yang termasuk dalam golongan tipe pedaging biasanya sifat-sifat pertumbuhan yang cepat serta struktur perdagingan yang baik. Bangsa-bangsa itik yang termasuk dalam golongan ini adalah : Aylesbury, Cayuga, Orpington, Muskovi, Peking dan Rouen. Bangsa-bangsa itik yang termasuk dalam golongan petelur biasanya badannya lebih kecil dibandingkan dengan tipe pedaging. Bangsa yang termasuk dalam golongan ini adalah : Campbell dan Indian Runner. Selain itu ada juga segolongan itik yang biasanya mempunyai warna bulu yang menarik atau bentuk badan yang bagus, termasuk dalam golongan itik tipe ornamen atau sebagai ternak hiasan, terutama di dalam kolam hias. Bangsa-bangsa yang termasuk dalam golongan ini adalah : Calls, East India, Mallard, Mandarin dan Wood duck. Ada bangsa-bangsa itik yang mempunyai tujuan ganda, misalnya di samping tujuan utama hasil berupa daging, juga menghasilkan telur, misalnya bangsa Orpington (Srigandono, 1986).

1.   Itik Tegal
Itik tegal, ciri - ciri umum itik jenis ini adalah bentuk badan yang mirip botol, langsing, postur tubuhnya tegak, tinggi badannya dapat mencapai 50 cm. Lehernya cenderung membulat namun panjang, proporsi kepala jauh lebih kecil daripada badan dan letak mata mengarah sedikit ke atas bagian kepala. Warna bulu kecoklatan/tutul2 coklat. Dengan variasi sebagai berikut :
a.   Lemahan (coklat muda hingga abu-abu/ tutul coklat samar, jumlahnya paling banyak)
b.   Branjangan (bulu coklat atau tutul coklat agak jelas)
c.   Blorong (berbulu coklat kehitaman, warna kaki dan paruh hitam)
d.   Putihan (bulu putih dengan paruh dan kaki berwarna kuning sampai jingga).
e.   Jambul
f.    Jalon (bulu putih mulus dengan paruh dan kaki berwarna hitam kehijauan).
Biasanya umur produktif yang baik untuk jenis bebek tegal ini adalah 1-2 tahun, yang mana usia produktif dapat berulang sebanyak 3x dalam setahun. Satu lagi, itik tegal tidak mengerami telur.
2.   Itik Mojosari
Jenis yang kedua adalah Itik Mojosari. Itik jenis ini merupakan itik lokal unggul yang mulai diternak di daerah Modupuro, Mojosari, Daerah Mojokerto Jawa Timur, oleh karena itu terkenal pula disebut itik mojokerto. Kenapa itik Mojosari ini cepat sekali populer dan menjadi komoditas utama para peternak bebek? Karena itik ini memiliki rasa yang enak. Lebih empuk karena struktur tubuh yang lebih kecil dari bebek kebanyakan. Namun itik mojokerto ini mempunyai andalan lainnya, yaitu telur yang lebih besar dari itik lainnya dan warnanya lebih hijau. Bentuk umum badan itik mojosari hampir sama dengan itik tegal, namun badan lebih kecil dengan warna bulu yang cenderung kemerahan dengan campuran warna coklat, hitam, dan putih.
Itik mojosari merupakan itik hibrida yang unggul. Itik ini dapat memproduksi setidaknya 200 butir telur tiap tahunnya jika kita ternak di areal sawah yang subur dan sekedar tercukupi kebutuhan pakannya. Namun jika kira optimalkan dengan media kandang tanpa air dan diperhatikan lebih intensif, maka itik ini dapat menghasilkan 265 butir telor per ekor tiap tahunnya. Peningkatan yang tajam.
Itik mojosari dapat mulai bertelur jika sudah memasuki usia 6 hingga 7 bulan. Namun masa produktif masih belum stabil. Jika sudah melebihi usia 7 bulan(masuk masa produktif stabil), maka wajib kita perhatikan pemeliharaan dan kesehatan itik, karena pada usia ini produksi telur dapat mencapai 80% keseluruhan.
3.   Itik Bali (Anas SP)
Jenis ketiga adalah Itik Bali. Itik bali adalah varian itik lokal yang banyak dibudidaya di Pulau Bali dan Pulau Lombok. Daya tahan tubuh yang sangat bagus membuat itik ini dapat diternak di berbagai daerah dengan berbagai suhu yang berbeda-beda. Inilah yang menjadikan itik bali banyak diminati juga oleh para peternak bebek.
Bentuk umum itik bali juga hampir sama dengan itik jawa/ itik tegal, namun badannya terlihat lebih lebar/berisi dibandingkan itik jawa, lehernya juga lebih pendek. Hal lain dari itik bali yang membedakan dari itik jawa adalah warna bulu yang lebih terang. Warna bulu juga mempengaruhi jumlah produksi telur itik bali, sama seperti itik tegal.
JENIS JENIS ITIK LOKAL INDONESIA
Itik Bali dengan warna bulu sumi adalah yang paling banyak produksi telurnya, yaitu mencapai 153 butir telur per tahun. Itik Bali dengan bulu sumbian dapat memproduksi sekitar 145 butir telur tiap tahunnya. Yang terakhir adalah Itik bali berbulu sikep hanya mampu menghasilkan 100 butir telur per tahun. Jenis Itik bali yang lain adalah berbulu putih bersih dengan jambul di kepala, namun jenis berjambul ini lebih banyak dijadikan sebagai sesaji atau itik hias daripada dijadikan itik petelur karena keindahan bentuk dan warnanya.
Itik bali memiliki ukuran telur yang lebih kecil daripada itik lainnya. Dengan berat kurang dari 60gr per butir. Itik ini juga banyak dipanggil sebagai itik penguin karena tubuhnya yang hampir tegak seperti burung penguin. Mulai memasuki usia produktif sekitar 23 hingga 24 minggu. Tidak memiliki sifat mengerami telur.
4.   Itik Alabio (Anas platurynchos)
Itik alabio adalah salah satu itik yang paling terkenal di Indonesia dan banyak pula dijual di pasaran. Itik ini merupakan jenis itik asli dari Kalimantan. Lahir dari persilangan itik/bebek peking dengan itik lokal kalimantan. Orang yang pertama kali menamai itik alabio adalah Drh. Saleh Puspo. Pada tahun 1950 Alabio adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Hulu daerah Kalimantan Selatan. Itik alabio mempunyai ciri umum yaitu badan membentuk segitiga dan membentuk sudut 60 derajat dari tanah. Bentuk kepala lebih mengecil dengan paruh berwarna kuning. Warna umum bulu itik alabio betina adalah kuning bercampur dengan warna abu-abu. Ujung dada, sayap, kepala ekor ada sembur warna hitam.
Namun warna itik alabio jantan adalah abu-abu hitam dan ekornya ada bulu yang melengkung keluar.
Itik alabio selain menjadi itik pedaging juga merupakan itik yang sangat produktif sebagai itik petelur. Itik ini dapat menghasilkan kurang lebih 130 butir telur jika hanya di gembala biasa di sawah atau ladang yang banyak terdapat sumber makanan. Namun jika dikandangkan maka produksi telur itik alabio dapat meningkat tajam sebanyak 200 sampai 250 butir telur tiap tahun. Namun untuk besarnya telur itik alabio cenderung lebih kecil dari itik lainnya. Hampir sama dengan itik bali.
5.   Itik Rambon (Itik Ras Cirebon)
Itik Rambon merupakan itik hasil persilangan antara itik lokal Cirebon (Itik Tegal ) dengan itik Alabio. Tujuan persilangan adalah diperoleh itik pedaging berproduksi telur tinggi dan disukai oleh konsumen. Karkteristik itik Rambon, berwarna bulu kecoklatan halus mengkilat, paruh dan kaki berwarna hitam, ukuran badan ramping tinggi, leher panjang dan berdiri tegak nampak seperti botol, mata bening cerah. Bobot badan umur 20 minggu berkisar 1,5 – 1,6 kg. Pejantan Rambon memilki birahi tinggi, sehingga akan sering kawin. Produksi telur mencapai 75 – 80% dengan kulit telur berwarna hijau kebiru-biruan.
6.   Itik Turi
Itik Turi mempunyai bentuk badan dan warna bulu yang berbeda dibanding itik lokal lainnya (Itik Mojosari, Itik Alabio, itik Tegal dan itik Bali), ukuran badan itik Turi lebih kecil dibanding itik Tegal maupun Mojosari dan termasuk itik tipe ringan. Beberapa warna Warna bulu itik Turi antara lain :Bosokan, Branjangan, Hitam, Putih dan Kalung.
Kabupaten Bantul Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki jenis itik lokal yang dikenal dengan nama itik Turi, karena berasal dari desa Turi Kabupaten Bantul. Itik turi juga dikenal dengan nama itik Metaram karena dianggap sebagai jenis itik peninggalan kerajaan Metaram tempo dulu. Itik metaram merupakan keturunan persilangan dari beberapa itik lokal maupun impor.
Itik Metaram memiliki ciri fisik : bentuk badan yang langsing dan warna bulunya yang khas. Warna bulu dapat digunakan untuk membedakan kategorinya, yakni hitam, bosokan atau coklat kehitaman, dan bambangan atau coklat kemerahan. Itik yang berwarna bambangan mempunyai populasi terbanyak dibandingkan warna bulu lainnya.
Itik metaram yang berwarna bambangan memiliki beberapa kelebihan, yakni : produksi telurnya mencapai 200 butir pertahun, mampu berproduksi dengan baik hingga 2.5 tahun serta berat badannya yang lebih berat. Itik Metaram dengan perawakan yang khas, tidak banyak menghabiskan pakan, mudah digembalakan dilahan perawahan bertelur setiap hari dan dagingnya enak untuk dikonsumsi.
7.   Itik magelang (kalung)
a.   Asal Magelang, Jawa tengah.
b.   Jantan (paruh berwarna hitam panjang dan melebar pada bagian ujungnya).
c.   Betina (bentuk kaki pendek, warna hitam)
d.   Umumnya warna bulu kecoklatan, dengan variasi coklat muda hingga coklat tua kehitaman.
e.   Ciri khas (warna putih melingkar di leher/kalung).
Penamaan itik magelang berdasarkan variasi warna bulu:
a.   Kalung (warna coklat muda hingga tua, lehernya berkalung putih sempurna)
b.   Jawa (warna coklat muda sampai tua, tapi lehernya tdk berkalung).
c.   Bosokan (warna hitam kecoklatan mulus dan terkadang dgn tutul2 putih).
d.   Jarakan (warna coklat dengan tutul hitam, pada sayap terdapat bulu putih).
e.   Pelikan (warna putih mulus, paruh dan kaki kuning sampai jingga).
f.    Gambiran (hitam kecoklatan seragam, ujung sayap putih)
g.   Wiroko (hitam kelam, dada agak putih)
h.   Irengan (hitam mulus).

Selasa, 03 Februari 2015

KERJA FITASE TERHADAP ASAM FITAT

Penambahan enzim fitasemerupakan salah satu cara untuk mengatasi tingginya asam fitat dalam ransum, karena enzim fitase mempunyai kemampuan menghidrolisa asam fitat yang terkandung pada bahan pakan menjadi senyawa inositol dan glukosa serta senyawa fosfor organic. Senyawa-senyawa ini sangat berperan dalam proses respirasi untuk pembentukan ATP. Hal ini didukung oleh pendapat Ravindra et al. (2000) melaporkan bahwa penambahan enzim fitase sebesar 750 FTU/kg menghasilkan kecernaan fosfor yang  tinggi dibandingkan penambahan dibawah 500 FTU/kg ransum. Tingginya asam fitat dalam jagung dan dedak akan memyebabkan terganggu proses metabolisme zat makanan dalam organ-organ pencernaan sehingga organ pencernaan harus bekerja keras untuk melaksanakan fungsinya dalam proses pencernaan dan metabolisme makanan (West et al. 1996). Zat anti nutrisi termasuk asam fitat, akan menyebabkan organ-organ ini akan bekerja lebih lama dan akan menyebabkan gangguan fisioligi termasuk berat dari organ pencernaan ini (Handayani, 2004).

KERJA FITASE TERHADAP ASAM FITAT

Penjelasan:
Fitase akan menghidrolisis asam fitat menjadi ostofosfat anorganik dan ester 2 fosfat dari mio 1 histol yang lebih rendah. Kerja fitase terhadap asam fitat adalah pada dasar  peran fitase adalah untuk menghidrolisis asam fitat. Asam fitat berfungsi atau bertugas  mengikat nutrient (mineral, protein+asam amino, phospat, dan gula), tidak dapat dicerna oleh hewan monogastrik. Semua nutrient ini kemudian diabsorbsi dalam saluran pencernaan, lalu semua nutrient-nutrient ini yang telah di absorbsi dalam saluran pencernaan ini masuk dalam proses metabolisme dan biosintesis, yang kemudian dari hasil metabolism dan biosintesis ini akan di hasilkan energy yang dapat digunakan untuk meningkatkan performan, dan kecernaan meningkat. Penggunaan enzime phytase  dalam pakan akan mengurangi keharusan penambahan sumber-sumber fosfor anorganik   mengingat fosfor asal bahan baku tumbuhan terikat dalam asam phitat yang mengurangi ketersediaannya dalam pakan. Terdapat dua keuntungan menggunakan phytase dalam pakan ternak yaitu :
1.   Pengurangan biaya pakan dari pengurangan suplemen P pada makanan.
2.   Pengurangan polusi dari berkurangnya limbah melalui feses.

Minggu, 01 Februari 2015

PENYAKIT BERAK DARAH (KOKSIDIOSIS/ COCCIDIOSIS) PADA AYAM

Avian Coccidiosis (koksidiosis) merupakan penyakit usus yang disebabkan oleh protozoa parasit Genus Eimeria (Allen dan Fetterer, 2002). Eimeria berkembang biak di saluran pencernaan dan menyebabkan kerusakan jaringan (Calnek dkk., 2001). Koksidiosis pada ayam berlokasi pada dua tempat yaitu di sekum (caecal coccidiosis) yang disebabkan oleh E. tenella dan di usus (intestinal coccidiosis) yang disebabkan oleh delapan jenis lainnya (Jordan dkk., 2001). Koksidiosis merupakan salah satu penyakit yang banyak mendatangkan masalah dan kerugian pada peternakan ayam. Kerugian yang ditimbulkan meliputi kematian (mortalitas), penurunan berat badan, pertumbuhan terhambat, nafsu makan menurun, produksi daging turun, meningkatnya biaya pengobatan, upah tenaga kerja dan lain-lain. Kerugian yang ditimbulkan dapat menghambat perkembangan peternakan ayam dan menurunkan produksi protein hewani, oleh karena itu pengendalian koksidiosis pada ayam perlu mendapat perhatian (Tabbu, 2006).

1.   GEJALA KLINIS
Spesies yang berbeda akan memberikan gejala klinis yang berbeda pula, gejala klinis yang ditimbulkan bervariasi pada infeksi bermacam spesies dan juga pada banyak sedikitnya jumlah koksidia yang menginfeksi dan resistensi hospes. Spesies yang kurang pathogen tidak atau sedikit menunjukan gejala klinis. Gejala klinis dari penyakit ini yang disebabkan parasit Eimeria tenella adalah :
a.   Ekskreta berdarah dan mencret.
b.   Nafsu makan kurang.
c.   Sayap terkulasi.
d.   Bulu kusam.
e.   Menggigil kedinginan. 
PENYAKIT BERAK DARAH (KOKSIDIOSIS/ COCCIDIOSIS) PADA AYAM
2.   PENYEBAB
Koksidiosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh protozoa yang bernama Eimeria sp famili Eimeriidae atau yang lebih sering dikenal dengan penyakit berak darah, dimana Eimeria ini mengivestasi bibit mikroorganisme kedalam sel tubuh sehingga melahirkan gangguan kesehatan infestasi klinis yang merusakkan jaringan pencernaan terutama usus. Akibatnya terjadi pada proses pencernaan berupa gangguan metabolisme dan penyerapan zat makanan, bahkan kehilangan darah dari rusaknya jaringan usus, dan hampir pasti rentan terhadap penyakit lain.
3.   DIAGNOSA
Diagnosa sangkaan terhadap koksidiosis dapat di dasarkan atas gejala klinik, perubahan patologik yang berhubungan dengan lokasi sejumlah besar ookista atau stadium aseksual Eimeria (sporozoit, merozoit, skison) dan riwayat kasus Tabbu, (2006). Diagnosa laboratorium dapat dilakukan dengan melakukan uji natif, uji apung dan uji sentrifus terhadap feses yang diduga terinfeksi Eimeria, Sp.
4.   UMUR YANG DISERANG
Koksidiosis pada sekum oleh Eimeria tenella paling sering terjadi pada ayam muda berumur 4 minggu, karena umur tersebut adalah umur yang paling peka. Ayam yang berumur 1-2 minggu lebih resisten, walaupun demikian Eimeria tenella  dapat juga menginfeksi ayam yang sudah tua. Ayam yang sudah tua umumnya memiliki kekebalan imunitas akibat sudah terinfeksi sebelumnya. Pada umumnya koksidiosis sekum terjadi akibat infeksi berat dalam waktu yang relative pendek tidak lebih dari 72 jam. Pada ayam umur 1-2 minggu diperlukan 200.000 ookista untuk menyebabkan kematian, dan diperlukan 50.000-100.000 ookista untuk menyebabkan kematian pada ayam yang berumur lebih tua. Pada kelompok ayam, mula-mula gejala terlihat 72 jam setelah infeksi. Ayam terkulai, anoreksia, berkelompok agar badannya hangat dan hari keempat sesudah infeksi terdapat darah di dalam tinja. Darah paling banyak ditemukan pada hari kelima dan keenam sesudah infeksi dan menjelang hari kedelapan atau kesembilan ayam sudah mati atau dalam tahap persembuhan. Kematian paling tinggi terjadi antara hari keempat dan keenam karena kehilangan banyak darah. Kematian kadang-kadang terjadi tanpa diduga. Jika ayam sembuh dari penyakit akut maka penyakit akan bersifat kronis.
5.   PENULARAN
Penyakit ini dapat ditularkan secara mekanik malalui pekerja kandang, peralatan yang tercemar atau dalam beberapa kasus yang pernah terjadi dapat disebarkan melalui debu kandang dan litter dalam jangkauan pendek. Berat tidaknya penyakit ini tergantung dari jumlah protozoa yang termakan.
6.   PENGOBATAN
Untuk pengobatannya dapat dilakukan dengan cara pemberian larutan amprolium atau sulfonamide dalam air minum dan pemberian air yang dapat mensuspensi suplemen vitamin A dan K dapat mempercepat proses penyembuhan.
7.   PENCEGAHAN
Untuk pencegahan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
a.   Sanitasi dan ventilasi kandang harus baik.
b.   Pengangkatan litter setiap kali panen pada broiler.
c.  Lantai kandang dicuci pakai air untuk membersihkan kotoran, pencucian tahap kedua dengan deterjen.
d.   Menaburkan bubuk kapur di dalam kandang.
e.   Peralatan feeder dan drinker dicuci sebersih mungkin.
f.    Kandang difumigasi dengan formalin 10%.
g.   Melakukan istirahat kandang 7-21 hari.
8.   PENGENDALIAN
Pengendalian koksidiosis pada ayam di Indonesia umumnya dilakukan dengan pemeliharaan kebersihan, pemberian koksidiostat yang dicampurkan dalam makanan atau air minumnya, dan penggunaan vaksin koksidia. Pengendalian koksidiosis dengan pemberian koksidiostat harus diikuti cara dan takaran yang telah ditentukan agar tidak menimbulkan efek samping, bahwa pemakaian satu macam koksidiostat yang terus menerus dalam pakan ayam dapat menimbulkan galur coccidia yang tahan terhadap kokidiostat tersebut (Tabbu, 2006). Antikoksidia  dapat menimbulkan resistensi terhadap koksidiosis. Industri farmasi ada usaha untuk mengatasi masalah resistensi koksidiosis pada unggas (Allen dan Fetterer, 2002).
9.   KERUGIAN
Kemungkinan kerugian yang ditimbulkan dari penyakit ini jelas terjadi berupa kemerosotan produksi yang cukup signifikan, serta menjadi pemicu gagalnya program vaksinasi, dengan titer antibody yang diperoleh akan rendah dan tidak optimal dapat memicu timbulnya penyakit lain seperti ND, Gumboro, Mareks bahkan Coryza atau biasa yang disebut infeksi sekunder.

Sumber:
http://jimmyenggar.blogspot.com/2011/03/eimeria-penyebab-penyakit-koksidiosis_28.html
https://nambahilmusatu.wordpress.com/2010/03/10/penyakit-berak-darah-koksidiosis/
AllenPC, Fetterer RH. 2002. Clinical Microbiology Reviews :RecentAdvances in Biology dan Immunobiology of Eimeria Species dan in Diagnosis dan Conffol of Infection with These Coccidian Parasites of Poultry. l. Soc. Microbiol Vol. l5.No. 1:58-65.
Calnek BW, Barnes HJ, Beard CW, McDougald LR, SaifYM. 2001. Disease of Poultry. 10' Edition. Iowa State University Press, USA: 865-867.
Jordan F, Pattison MA, Faragher T. 2001. Poultry Diseases.5" Edition. WB Saunders. London: 408-409.
Tabbu C. R. 2006. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya. Volume 2. Yogyakarta: Kanisius:7; L9-2L.