Ternak

Rabu, 11 Februari 2015

CARA MEMBUAT TEPUNG IKAN DENGAN MUDAH

Tepung ikan adalah produk samping pengolahan ikan berkadar air rendah yang diperoleh dari penggilingan ikan. Produk yang kaya dengan protein dan mineral ini digunakan sebagai bahan baku pakan ternak. Tepung ikan merupakan salah satu bahan pakan yang berpotensi sebagai sumber protein maupun lemak terutama asam lemak tak jenuh rantai panjang (poly-unsaturated fatty acids–PUFA) yang diketahui banyak berperan dalam memperbaiki penampilan reproduksi ternak (Ashes et al., 1992). Mandell et al. (1997) melaporkan bahwa tepung ikan banyak mengandung asam lemak esensial eicosapentaenoic acid (EPA, C20:5n-3) yaitu sebanyak 5,87 g dan docosahexanoic acid (DHA, C20:6n-3) sebanyak 9,84 g/kg. Asam lemak esensial tersebut dilaporkan oleh banyak peneliti mempunyai fungsi unik dalam meningkatkan produktivitas, kualitas produk, dan penampilan reproduksi ternak (Pike et al., 1994). Tepung ikan yang bermutu baik harus bebas dari kontaminasi serangga. Jamur, mikroorganisme pathogen. Dalam susunan makanan ternak, tepung ikan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan terutama ternak ayam dan babi selain itu juga sebagai komponen makanan ikan. Tepung ikan dapat dibuat dengan cara basah, kering dan dengan cara penyulingan. Tetapi cara kering paling cocok dilakukan untuk industri kecil karena lebih sederhana dan lebih murah.
BAHAN
Berbagai jenis ikan laut dapat diolah menjadi tepung ikan. Akan tetapi yang paling ekonomis adalah ikan-ikan kecil (rucah) yang kurang disukai untuk dikonsumsi dan harganya relatif murah.
CARA MEMBUAT TEPUNG IKAN DENGAN MUDAH
ALAT
1.   Penggiling ikan.
Alat ini digunakan untuk menggiling ikan basah dan bubur kering ikan.
2.   Alat pengering.
Alat ini digunakan untuk mengeringkan ikan sehingga kadar air mencapai 8%.
3.   Alat press.
Alat ini digunakan untuk mempres ikan kering sehinga sebagian lemaknya keluar.
PROSES PEMBUATAN
CARA MEMBUAT TEPUNG IKAN DENGAN MUDAH
Keterangan :
1.   Pengilingan Ikan Basah.
a.   Pengilingan ikan basah dilakukan terhadap ikan yang berukuran sedang dan besar. Ikan-ikan yang berukuran kecil (ter) tidak harus digiling, dan proses ini tidak harus dilakukan.
b.   Ikan berukuran sedang dan besar, perlu dibuang jeroannya, dan dicuci. Sedangkan untuk ikan yang berukuran kecil, pembuangan jeroan dan pencucian tidak perlu dilakukan.
c.   Ikan digiling dengan penggiling ulir sehingga diperoleh bubur mentah ikan.
2.   Pengukusan.
Bubur ikan atau ikan kecil dikukus dengan uap panas selama 1 jam sehingga bubur atau ikan kecil menjadi matang secara sempurna. Hasil pengukusan disebut dengan bubur matang ikan. Pengukusan dilakukan untuk menghilangkan lemak - lemak yang akan membuat tengik tepung ika dan menghilangkan bakteri – bakteri yang patogen.
3.   Pengeringan.
Dilakukan guna mengeringkan bahan baku. Bubur matang ikan dikeringkan dengan alat pengering sampai kadar air sekitar 8%. Hasil pengeringan disebut cake kering ikan. Cake kering ikan mempunyai kadar lemak tinggi (di atas 30%).
4.   Pemerasan Minyak (Pengepresan).
Cake kering ikan diperas dengan alat pres sehingga sebagian dari minyak keluar.
5.   Penggilingan Cake.
Cake yang telah dipres digiling dengan mesin penggiling sehingga diperoleh tepung ikan yang cukup halus (lolos ayakan 40-60 mesh) atau dengan ukuran yang diinginkan.
6.   Pengemasan.
Tepung ikan dikemas di dalam karung plastik atau di dalam wadah yang kedap uap air. Sebelum pengemasan, kadar air tepung harus di bawah 8%.
Tepung ikan yang sudah dikemas siap untuk dipasarkan. Dengan demikian bahan-bahan yang sebelummnya tidak terpakai seperti ikan-ikan kecil dan ikan yang kurang layak dikonsumsi dapat dijadikan sebuah peluang usaha yang menjanjikan.
Tepung ikan yang bermutu baik harus mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
1.   Butiran – butirannya harus seragam.
2.   Bebas dari sisa – sisa tulang, mata ikan dan benda asing, warna halus bersih, seragam, serta bau khas ikan amis (Afrianto dan Liviawaty, 2005).
TAMBAHAN
1.   Ketika ikan dipanaskan, sebagian besar air dan minyak akan hilang. Air dan minyak ini juga dapat hilang pada saat dilakukan pengepresan.
2.   Alat pemanas yang saat ini banyak digunakan berbentuk silinder uap air yang tertutup dimana ikan dipindahkan menggunakan alat berbentuk sekrup. Jika pemanasan kurang, maka hasil pressing nantinya tidak memuaskan dan pemanasan yang terlalu berlebihan dapat menyebabkan ikan terlalu halus untuk dipress.
3.   Pada tahap pressing terjadi pemindahan sebagian minyak dan air. Ikan berada dalam tabung yang berlubang, hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan tekanan dengan bantuan sekrup. Selama proses pressing, kadar air menurun dari 70% menjadi 50% dan minyak menurun sekitar 4 %.
4.   Ada dua jenis alat pengering, yaitu alat pengering langsung dan alat pengering tidak langsung.

Sumber :
Ashes, J.R., B.D. Sieber, S.K. Gulati, A.Z. Cuthbertson, and T.W. Scott. 1992. Incorporation of n- fatty acids of fish oil into tissue and serum lipids of ruminants. Lipids. 27 (8) : 629-631.
http://ag1992.blogspot.com/2012/07/proses-pembuatan-tepung-ikan.html
Mandell, I.B., J.G. Buchanan-Smith, B.J. Halub, and C.P. Campbell. 1997. Effects of fish meal in beef cattle diets on growth performance, carcass characteristics, and fatty acid composition of longissimus muscle. J. Anim. Sci. 75 : 910- 919.
Pike, I.H., E.L. Miller, and K. Short. 1994. The role of fish meal in dairy cow feeding. IFOMA Technical Bulletin 27 (August 1994). IFOMA, St Albans, Hertfordshire, UK.
Teknologi Tepat Guna Agroindustri Kecil Sumatera Barat, Hasbullah, Dewan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Industri Sumatera Barat.

Selasa, 10 Februari 2015

PENGERTIAN FUNGSI SERTA PENGAPLIKASIAN PREBIOTIK PADA TERNAK

Prebiotik adalah bahan saluran pencernaan, terutama Bifidobacteria dan Lactobacillus acidophilus. Prebiotik sebagai kandungan makanan yang tak dapat dicerna yang memiliki keuntungan merangsang pertumbuhan dan/ atau aktivitas satu atau sejumlah bakteri baik di usus besar. Prebiotik secara singkat merupakan makanan bagi probiotik(bakteri baik yang hidup dalam saluran pencernaan manusia). Prebiotik merupakan serat pangan (dietary fibre) yang dapat menjadi substrat bagi mikroba menghasilkan SCFA (short Chain Fatty Acid).
Reaksi Fermentasi prebiotik menjadi SCFA
34,5 C6H12O6 —> 48 CH3COOH (Asetat)
CH3CH2COOH (propionat)
5 CH3CH2CH2COOH (butirat)
27,75 CH4
34,5 CO2
10,5 H2O
Prebiotik adalah elemen yang terdapat pada makanan yang memiliki fungsi dalam stimulasi perkembangan dan aktifitas Bifidobacteria dan Lactobacilli di saluran pencernaan kita, yang akhirnya akan memberikan efek yang menguntungkan pada kesehatan manusia.
Prebiotik merupakan karbohidrat dari jenis 'fructo-oligosakarida'. Pada dasarnya Prebiotik adalah molekul gula rantai pendek, yang mengandung fruktosa. Prebiotik adalah serat yang tidak bisa dicerna oleh tubuh dan menjadi makanan untuk probiotik. Sebagai molekul-molekul gula yang tidak dapat dipecah, mereka langsung ke perut, di mana probiotik dapat memakannya. Asparagus, bawang putih, bawang, buah, pisang, tomat, bayam, kangkung, lobak, sawi, kacang, biji-bijian, gandum adalah beberapa sumber dari prebiotik.

            Prebiotik menciptakan lingkungan yang tidak bersahabat bagi bakteri berbahaya dalam usus, sehingga meningkatkan pertumbuhan yang menguntungkan. Prebiotik memperkuat sistem kekebalan tubuh, sehingga mengurangi kejadian infeksi. Mereka juga membantu dalam penyerapan kalsium dan magnesium yang lebih baik dalam tubuh. Selain itu, mereka juga mengurangi risiko terkena kanker usus dan kanker dubur. Sebagai serat pangan yang larut air dan substrat mikrobia untuk melakukan fermentasi dalam usus.
PENGERTIAN FUNGSI SERTA PENGAPLIKASIAN PREBIOTIK PADA TERNAK
CONTOH PREBIOTIK
Inulin (serat yang tidak dicerna) adalah prebiotik yang membantu pertumbuhan dari bakteri yang baik ini di dalam usus. Gunanya adalah sebagai makanan bagi organisme ini. Lactobacillus dan Bifidobacteria dapat mencerna inulin untuk kita, dan lalu meningkatkannya sebanyak 5 sampai 10 kali dalam volume. Hubungan yang sinergistik ini dikembangkan dimana jumlah keseluruhan lebih besar dari jumlah per bagian.
Inulin bisa didapat dari sumber-sumber seperti gandum (69%), bawang bombay (23%), pisang (3%), bawang putih (3%) dan 2% dari sumber lain seperti asparagus, kismis dan artichoke. Karena inulin adalah serat yang bisa dilarutkan, inulin membantu mempertahankan fungsi usus yang normal, mengurangi susah buang air besar, mengurangi kolesterol dan trigliserida, dan juga membantu menormalkan tingkat gula darah. Semua orang dapat merasakan manfaat inulin, mulai dari si Kecil sampai ke seluruh keluarga. Inulin bisa menjadi pengganti lemak seperti juga pengganti gula, tetapi inulin bukanlah bahan kimia. Penelitian membuktikan bahwa nilai nutrisi dari inulin melebihi dari serat yang biasa.
Inulin juga bisa menjadi peningkat kalsium. Secara rata-rata, tubuh hanya menyerap sekitar 30% dari kalsium yang didapat dari makanan maupun susu. Banyak orang tidak menyadari hal ini. Dalam masa pertumbuhan, ada kemampuan menyerap kalsium yang lebih tinggi. Dan bila dibantu dengan inulin, daya tubuh si kecil dalam menyerap kalsium akan lebih baik lagi, yang pada akhirnya akan membantu pertumbuhan tulang dan gigi yang kuat. Inulin juga mempunyai potensi untuk memiliki efek yang menguntungkan dalam pencegahan kanker. Bifidobacteria mencerna inulin menjadi asam lemak rantai pendek seperti propionic acid dan butyric acid. Butyric acid telah terbukti mempunyai kemampuan untuk mencegah kanker pada usus besar. Penelitian lain juga menunjukkan bahwa inulin mencegah perubahan pra-kanker di usus.
FOS (Frukto-Oligosakarida) merupakan subgrup dari inulin dengan derajat polimerisasi kurang atau sama dengan 10. Perannya sama dengan inulin sebagai serat pangan yang larut air dan substrat mikrobia untuk melakukan fermentasi dalam usus. FOS memiliki 30% rasa manis gula sehingga sering digunakan sebagai pemanis yang sehat. Inulin dan FOS sama-sama diserap dalam usus halus.

APLIKASI PADA TERNAK.
APLIKASI PREBIOTIK FRUCTOOLIGOSAKARIDA (FOS) UNTUK MENGELIMINIR PERTUMBUHAN BAKTERI PATOGEN PADA TERNAK AYAM (DOC DAN BROILER)
Pada penelitian ini efektivitas dari FOS sebagai prebiotik pada ternak ayam dilakukan dengan memberikan FOS ke dalam air minum ayam selama 30 hari. Efektivitas prebiotik FOS dilakukan dengan variasi konsentrasi FOS 1, 2, 3, dan 4% (b/v). Efektivitas prebiotik FOS dalam mengeliminir pertumbuhan koloni bakteri patogen (Salmonella sp, Escherichia Coli, dan Clostridia sp) dilakukan dengan menganalisis feses ayam dengan metoda total plate count (TPC) dan uji biokimia. Efektivitas prebiotik FOS meningkatkan pertumbuhan ayam ternak diketahui dengan penimbangan berat badan secara berkala. Hasil yang diperoleh kemudian dibandingkan dengan ayam kontrol (tanpa pemberian FOS)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa prebiotik FOS dapat menekan pertumbuhan koloni bakteri patogen, dan konsentrasi yang paling baik digunakan adalah 4%(b/v) dimana pada hari ke-20 sudah tidak terjadi lagi pertumbuhan koloni bakteri patogen. Asupan prebiotik FOS dapat juga memberikan peningkatan berat badan ayam ternak bila dibandingkan dengan ayam kontrol. Berat rata-rata ternak ayam yang diberi FOS adalah di atas 1300 g, sedangkan ayam kontrol berat rata-ratanya adalah 1120 g.

Senin, 09 Februari 2015

CIRI – CIRI DAN MACAM AYAM KELAS MEDITERANIA

Ayam merupakan salah satu hewan yang telah mengalami domestikasi oleh manusia sehingga dapat dikendalikan kehidupannya agar dapat memproduksi barang yang berguna bagi manusia. Produk utama yang dihasilkan oleh ayam adalah telur dan daging. Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak. Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar. Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak, karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik. Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler, sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur.
            Ilmu ternak unggas merupakan salah satu cabang keilmuan yang mempelajari berbagai hal tentang  kehidupan unggas (khususnya ayam), yang pada akhirnya dari sana kita dapat mengetahui bagaimana ayam dapat kita tingkatkan produksinya. Untuk lebih memudahkan dalam mempelajari mata kuliah ini, maka hendaknya harus diketahui terlabih dahulu istilah – istilah yang biasa digunakan didalamnya. Salin itu, kita juga perlu mengetahui ciri – ciri ayam dari beberapa daerah sebagai awalan dalam mempelajari mata kuliah ini. 
            Dibawah ini dijelaskan sedikit tentang definisi beberapa istilah yang berkaitan dengan Ilmu Ternak Unggas dan ciri – ciri dari ayam kelas Mediterania.

            Definisi tentang beberapa istilah yang biasa digunakan dalam mempelajari ilmu ternak unggas :
1.   Kelas (Class) adalah tingkatan dalam taksonomi sesudah divisi dan sebelum bangsa
2.  Bangsa (breed) adalah Klasifikasi atau suatu jenis yang ada pada tingkatan hewan,tumbuhan maupun manusia berdasarkan bentuk norfologi dan besar tubuh yang sama dari setiap kelas. Biasanya ini terjadi pada hewan dan tumbuhan. Jika di terjemahkan kedalam sosiologi manusia akan berbeda makna 
3.  Varietas adalah standar klasifikasi aman berdasarkan daerah asal usul geografis yang memberikan variasi perbedaan bentuk dan sifat karakteristik pada hewan. Sebagai contoh misalnya jenis Ayam Asia, Amerika maupun Inggris
4.   Strain adalah Varietas yang secara umum turun menurun dan telah beradaptasi dengan lingkungan biasanya juga di sebut garis keturunan
5.  Tipe adalah menunjukan suatu identifikasi yang menunjukan kelemahan, kelebihan, manfaat dan kegunaan
6.   DOC (Day Old Chick) adalah anak ayam usia 1 hari

AYAM KELAS MEDITERANIA
Ayam mediteran terkenal karena bentuk badan lebih kecil dibandingkan ayam asia, inggris, atau amerika, cuping telinga putih, cepat mencapai dewasa kelamin (4 – 6 bulan), produksi telur tinggi (284 – 300 butir/tahun), tidak mengeram, kerabang telur berwarna putih, kaki tidak berbulu, penampilan nervus, serta jengger tunggal dan lebar kecuali ayam yang mempunyai jengger butter cup. Varietas – varietas yang terkenal dalam ayam kelas mediteran adalah Single Comb White Leghorn (SCWL), SCW Minorica, Single Comb Ancona(SCA).
1.   Ayam Leghorn
Ayam leghorn berasal dari italia. Tanda spesifik ayam leghorn adalah bentuk tubuh ramping, paruh, kulit, dan kaki berwarna kuning, bentuk jengger tunggal dengan 5 buah gerigi pada bagian depan tegak dan belakang rebah ke samping (meskipun ada Comb Rose). Ekor mencuat membentuk sudut 400 dengan ekor, bobot ayam dewasa 2,7 – 2,9 kg (jantan) dan 2,0 – 2,25 kg (betina). Produksi telur 284 – 300 butir/ekor/tahun. Kulit telur berwarna putih. Konsumsi pakan 110 g/ekor/hari meskipun ayam diberi pakan secara ad libitum.
 CIRI – CIRI DAN MACAM AYAM KELAS MEDITERANIA
Varietas ayam leghorn yang terkenal adalah single comb white leghorn (SCWL). Ayam ini tahan terhadap temperature panas sehingga cocok untuk dikembangkan sebagai ayam petelur di daerah tropis. Ayam leghorn sensitive terhadap stress, tetapi tidak memiliki sifat mengeram.
2.   Ayam Minorca
Ayam Minorca berasal dari pulau Minorca di laut mediteran dan merupakan bangsa ayam yang terbesar dari kelas mediteran. Tanda specific ayam Minorca adalah tubuh panjang, dada bulat, punggung panjang dengan lekukan halus terhadap leher dan ekor, kulit berwarna putih, jengger tungga dengan 6 gerigi, dan pial besar. Berat jantan 3,20 – 3,6 kg dan berat betina 2,7 – 3,00 kg.
CIRI – CIRI DAN MACAM AYAM KELAS MEDITERANIA
 Varietas ayam Minorca yang terkenal adalah Single Comb White Minorca (SCWM), Single Comb Black Minorca (SCBM)  dan Single Comb Buff Minorca (SCBM).
3.   Ayam Andalusian
            Ayam blue andalusian berwarna biru seperti Blue Playmouth rock, perbandingan antara warna bulu hitam : Biru : putih adalah 1 : 2 : 1. Warna kulit putih, paruh berwarna merah, dan kuku biru gelap. Bobot bervariasi antara 1,75 – 2,5 kg untuk ayam betina dan 2,5 – 3,5 kg untuk ayam jantan.
CIRI – CIRI DAN MACAM AYAM KELAS MEDITERANIA
 4.   Ayam Ancona
            Ayam ancona berasal dari italia seperti leghorn. Tanda – tanda spesifik ayam ancona adalah bentuk jengger sama dengan aym leghorn, earna bulu hitam kehijau – hijauan dengan bintik – bintik putih, paruh berwarna kuning dengan tepi hitam, berat badan 2,70 – 2,95 kg pada ayam jantan dan 2,25 – 2,50 kg pada ayam betina. 
CIRI – CIRI DAN MACAM AYAM KELAS MEDITERANIA
 5.   Ayam Butter Cup
            Tanda spesifik ayam butter cupadalah bulu berwarna kuning keemasan dengan comb berbentuk piala (cup). Kaki dan jari berwarna hitam, dan paruh berwarna tanduk terang. Pada ayam butter cup jantan, bulu pada kepala, leher, dan dada berwarna oranye merah bercahaya, sedangkan bagian yang lain berwarna hitam kehijau – hijauan dengan sadikit strip merah. Pada ayam betina, bulu kepala berwarna kuning keemasan. Demikian pula bulu sayap, punggung, dan dada berwarna keemasan dengan garis – garis hitam.
CIRI – CIRI DAN MACAM AYAM KELAS MEDITERANIA
KESIMPULAN
1.  Mengetahui istilah – istilah yang biasa digunakan dalam suatu cabang keilmuan dapat mempermudah dalam mempelajari cabang keilmuan  tersebut.
2.   Berbagai jenis ayam dari daerah mediterania mempunyai ciri khas masing-masing.

Minggu, 08 Februari 2015

PEMANFAATAN FITASE PADA TERNAK BERPERAN DALAM PERBAIKKAN SISTEM AIR TANAH

Pengelolaan sumberdaya air tanah harus dilakukan secara bijaksana oleh semua pihak dengan bertumpu pada aspek teknis dan aspek hukum dan kelembagaan yang benar. Secara teknis, penerapan konsep dasar pengelolaan airtanah secara total harus diterapkan secara nyata, yaitu dengan memadukan konsep pengelolaan air permukaan yang berbasis daerah aliran sungai dan konsep pengelolaan airtanah berbasis cekungan airtanah, yang mendasarkan pada analisis sistem aliran airtanah regional, menengah dan lokal, guna memecahkan permasalahan kuantitas dan kualitas airtanah secara lebih nyata. Pelaksanaan perbaikan tanah dilakukan guna meningkat kan daya dukung tanah agar tanah memiliki karakteristik tanah sebagai daya dukung konstruksi diatasnya. Dengan memiliki sifat teknis sesuai dengan disain konstruksi yang direncanakan. Manajemen air permukaan dan air dalam dilakukan guna mencegat aliran air bebas dan menurunkan duga air.
PEMANFAATAN FITASE PADA TERNAK BERPERAN DALAM PERBAIKKAN SISTEM AIR TANAH
Pemanfaatan fitase pada ternak berperan dalam perbaikkan sistem air tanah dikarenakan P anorganik sekreta rendah, sehingga dapat mencegah pendangkalan sungai. Fitase akan menyebabkan pendangkalan sungai, karena fitase tidak dapat dicerna mikrobia tanah. Jadi pemanfaatan fitase untuk ternak sangat bagus untuk menjaga kesuburan tanah, karena fitase dapat diambil dari tanah. Selain itu fosfor yang terikat dalam asam phitat yang tidak bisa dicerna sempurna oleh sistem pencernaan hewan monogastrik akan ikut dalam feses dan menjadi sumber polutan yang berpotensi mencemari tanah. Fosfor adalah tidak terurai dalam tanah sehingga dalam jangka panjang, pembuangan feses dengan kandungan fosfor tinggi akan menimbulkan masalah bagi tanah. 

SALURAN PEMASARAN DAN TATA NIAGA KAMBING DAN DOMBA DI INDONESIA

Diversifikasi usahatani dengan ternak domba merupakan salah satu upaya alternatif untuk meningkatkan pendapatan petani. Soedjana, et al. (1993), melaporkan bahwa lebih dari 90% populasi ternak domba di Indonesia dibudidayakan masyarakat dalam bentuk usaha peternakan rakyat yang merupakan cabang sistem usahatani. Pengusahaan domba masih merupakan usaha sambilan dengan jumlah pemilikan 2–5 ekor dengan tingkat pendapatan kurang dari 30% dari total pendapatan usahatani. Dilihat dari aspek ekonomi, pemeliharaan ternak domba mempunyai prospek yang cerah untuk memenuhi permintaan dalam maupun luar negeri. Pertumbuhan konsumsi daging domba di Indonesia dalam kurun waktu 1969 - 1993, meningkat dari rata-rata 5,6% per tahun menjadi 7,5% per tahun (Soehadji, 1992).
Sementara itu, dari sisi pasokan, secara nasional populasi ternak domba hanya bertumbuh 1,88% per tahun (1989 1994). Beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa produksi peternakan khususnya ternak ruminansia hanya dapat mencukupi 45% pangsa pasar nasional, selebihnya diimpor dari luar negeri.  Bila dilihat fluktuasi harga produk peternakan dari tahun ke tahun tidak begitu tinggi, bahkan dapat dikatakan mengalami kenaikan terus menerus. Namun kenyataannya dilapangan kenaikan harga produk peternakan tersebut tidak mencerminkan kenaikan tingkat pendapatan peternaknya. Hal ini disebabkan karena ciri pasar pada produk pertanian yang bersifat monopsonistis dimana biasanya peternak hanya sebagai “price taker” bukan “price maker” baik didalam memasok input maupun dalam menyalurkan output (produksinya). Kuasa pasar yang demikian akan menekan harga yang diterima oleh petani  dan pada saat yang bersamaan meningkatkan bagian yang diterima lembaga pemasaran sementara konsumen harus membayar harga yang lebih tinggi.
Anwar (1995) mengatakan suatu aktivitas ekonomi dikatakan secara teknis efisien, apabila sejumlah input tertentu menghasilkan maksimum output, atau tingkat output tertentu dapat dihasilkan dengan biaya sekecil-kecilnya. Sumber inefisiensi dalam pertanian biasanya disebabkan karena: 1. Jeleknya sarana transportasi dankomunikasi Langka dan mahalnya upaya untuk memperoleh informasi 2. Terbatasnya jumlah barang input dan output hasil produksi petani menurut ruang, bentuk maupun waktu.
Akibatnya keadaan pasar menjadi tersekat- sekat (segmented markets) ke dalam unit-unit kecil yang terbatas pada komunitas lokal . Oleh karena itu kelembagaan tradisional yang sering dikatakan merugikan petani pada kenyataannya merupakan salah satu bentuk kelembagaan yang dipilih peternak. Kegiatan transaksi ini dinilai lebih efisien oleh petani karena beberapa hal, antara lain discontinuity of production di pedesaan, skala ekonomi (economics of scale) usaha di perdesaan belum efisien untuk melakukan transaksi dalam institusi pasar dan resiko yang ditanggung oleh petani relatif lebih kecil .

II. TINJAUAN PUSTAKA
Tataniaga merupakan salah satu cabang aspek pemasaran yang menekankan bagaimana suatu produksi dapat sampai ke tangan konsumen (distribusi). Tataniaga dapat dikatakan efisien apabila mampu menyampaikan hasil produksi kepada konsumen dengan biaya semurah-murahnya dan mampu mengadakan pembagian keuntungan yang adil dari keseluruhsn harga yang dibayar konsumen kepada semua pihak yang ikut serta dalam kegiatan produksi dan tataniaga. (Rahardi, 2000).
Saluran pemasaran adalah rangkaian sekelompok lembaga pemasaran yang  terlibat secara langsung dalam proses pemindahan barang dari titik produksi sampai ke titik konsumsi. Saluran pemasaran produk peternakan untuk beberapa komoditas tertentu seperti susu dan daging kambing dan domba relatif lebih panjang, karena melibatkan banyak pelaku pemasaran. Saluran pemasaran susu kambing dan domba produk dalam negri sampai menjadi susu siap konsumsi melibatkan banyak banyak pelaku pemasaran, yaitu: peternak secara individu, kelompok peternak, tempat pelayanan koperasi, koperasi, pusat koperasi, gabungan koperasi susu indonesia, industri pengolah susu, grosir, pedagang pengecer dan konsumen akhir. Saluran pemasaran daging kambing dan domba yang berasal dari kambing dan domba impor  sampai menjadi makanan siap saji melibatkan mata rantai sebagai berikut: peternak kambing dan domba Negara importir, asosiasi peternak kambing dan domba, pelelang, exportir, importir, peternak penggemukan, jagal, pedagang daging, industri pengolah daging, grosir, pedagang pengecer dan konsumen akhir.
Pelaku pemasaran yang terlibat secara langsung dalam proses kegiatan pemasaran dapat bersifat memiliki dan menguasai, menguasai tetapi tidak memiliki dan tidak memiliki juga tidak menguasai. Pelaku pemasaran yang memiliki dan menguasai barang adalah pelaku yang membeli barang tersebut. Pelaku yang memiliki barang berarti ia dapat memperlakukan barang tersebut sesukahatinya, apakah barang tersebut mau ia simpan, jual, gadai atau diberi perlakuan yang lainnya. Pelaku pemasaran yang hanya menguasai barang berarti ia hanya punya hak untuk memperjualbelikan barang tesebut. Pelaku pemasaran yang tidak memiliki dan tidak menguasai barang berarti ia hanya berfungsi sebagai fasilitator saja, agar pemasaran dapat berjalan dengan baik.
Menurut  Kotler  (2002),  saluran  tataniaga  adalah  serangkaian  lembaga yang melakukan  semua  fungsi  yang  digunakan  untuk menyalurkan  produk  dan status  kepemilikannya  dari  produsen  ke  konsumen. Produsen memiliki  peranan utama  dalam  menghasilkan  barang-barang  dan  sering  melakukan  sebagian kegiatan  pemasaran,  sementara  itu  pedagang  menyalurkan  komoditas  dalam waktu, tempat, bentuk yang diinginkan konsumen. Hal  ini berarti bahwa saluran tataniaga yang berbeda akan memberikan keuntungan yang berbeda pula kepada masing-masing lembaga yang terlibat dalam kegiatan tataniaga tersebut. Saluran  tataniaga dari suatu komoditas perlu diketahui untuk menentukan jalur  mana  yang  lebih  efisien  dari  semua  kemungkinan  jalur-jalur  yang  dapat ditempuh.    Selain  itu  saluran  pemasaran  dapat  mempermudah  dalam  mencari besarnya margin yang diterima tiap lembaga yang terlibat. Menurut  Kotler  dan  Amstrong  (2001),  Saluran  tataniaga  terdiri  dari serangkaian lembaga  tataniaga atau  perantara yang akan memperlancar kegiatan tataniaga  dari  tingkat  produsen  sampai  tingkat  konsumen. Tiap  perantara  yang melakukan  tugas membawa  produk  dan  kepemilikannya  lebih  dekat  ke  pembeli akhir yang merupakan satu tingkat saluran. Saluran nol-tingkat (saluran tataniaga nol-langsung) terdiri dari produsen yang menjual langsung ke  konsumen  akhir. Saluran  satu-tingkat  terdiri  dari  satu  perantara  penjual,  yaitu  pengecer.  Saluran dua-tingkat dari dua perantara, seperti pedagang besar dan pengecer. Saluran tiga-tingkat  dalam  saluran  tataniaga  barang  konsumsi memiliki  tiga  perantara,  yaitu pedagang besar, pemborong dan pengecer.

III.       PEMBAHASAN
A.    Saluran Tataniaga
Saluran tataniaga adalah pergerakan barang-barang dari pihak produsen ke pihak konsumen melalui lembaga tataniaga. Panjang pendeknya saluran tataniaga yang dilalui oleh suatu hasil peternakan tergantung dari beberapa faktor yaitu jarak antara produsen ke konsumen, cepat tidaknya produk rusak, skala produksi dan posisi keuangan pengusaha (Siregar, 2007).
Menurut Hanafiah (2006), panjang pendeknya saluran tataniaga yang dilalui oleh suatu hasil peternakan tergantung dari beberapa faktor, antara lain:
a.  Jarak antara produsen ke konsumen. Semakin jauh jarak antara produsen ke konsumen biasanya makin panjang saluran yang ditempuh oleh produk.
b.  Cepat tidaknya produk rusak. Produk yang cepat atau mudah rusak harus segera diterima oleh konsumen, dan dengan demikian menghendaki saluran yang pendek dan cepat.
c.  Skala produksi. Bila produksi berlangsung dalam ukuran-ukuran kecil maka jumlah produk yang dihasilkan berukuran kecil pula. Dalam keadaan demikian kehadiran pedagang perantara diharapkan, dan demikian saluran yang dilalui produk cenderung panjang.
d. Posisi keuangan pengusaha. Produsen yang posisi keuangannya kuat cenderung untuk memperpendek saluran tataniaga. Pedagang yang posisi keuangannya kuat akan dapat melakukan fungsi tataniaga lebih banyak dibandingkan dengan pedagang yang posisi keuangannya (modal) lemah. Dengan demikian pedagang yang memiliki modal kuat cenderung memperpendek saluran tataniaga.
B.  Lembaga Tataniaga
Lembaga tataniaga adalah badan-badan yang menyelenggarakan kegiatan atau fungsi tataniaga dengan nama barang-barang bergerak dari pihak produsen sampai pihak konsumen. Dalam istilah tataniaga ini termasuk golongan produsen, pedagang perantara dan lembaga pemberi jasa perorangan, perserikatan atau perseroan yang berusaha dalam bidang tataniaga dikenal sebagai pedagang perantara. Lembaga ini membeli dan mengumpulkan barang-barang yang berasal dari produsen dan menyalurkan kepada konsumen (Hanafiah, 2006).
Menurut Rahardja (2003), lembaga-lembaga dalam proses distribusi barang dari produsen ke konsumen dapat dikelompokkan menjadi empat golongan antara lain:
a.   Pedagang yaitu pedagang besar dan pedagang kecil
b.   Perantara khusus yaitu agen, makelar, dan komisioner
c.   Eksportir dan importer
d.   Lembaga-lembaga pembantu dalam proses distribusi yaitu bank, asuransi, pengepakan (packing), perusahaan pengangkutan, perusahaan periklanan dan konsultan.
C.  Efisiensi Tataniaga
Tataniaga yang efisien adalah sampainya produk ke konsumen akhir menurut tempat, waktu, dan bentuk yang diinginkan konsumen dengan biaya yang serendah-rendahnya serta adanya pembagian yang adil dari harga yang dibayar konsumen akhir kepada semua pihak yang terkait dalam kegiatan produksi dan tataniaga tersebut (Mubyarto, 1992). Efisiensi tataniaga merupakan salah satu komponenen penting dalam menciptakan sistem tataniaga yang dapat memberikan keuntungan kepada berbagai pihak yang terkait dalam tataniaga ayam, seperti: peternak, pedagang dan konsumen. Melalui pelaksanaan tataniaga yang efisien pada akhirnya akan berpengaruh pada pembentukan tingkat harga.
Faktor-faktor yang mendukung terciptanya tataniaga yang efisien mencakup: struktur pasar, lembaga tataniaga yang terlibat, dan transmisi harga. Pengukuran efisiensi tataniaga pertanian secara umum dapat dibedakan secara kualitatif dan secara kuantatif. Ukuran secara kualitatif sebagai upaya mengungkapkan keterkaitan tataniaga terhadap kesejahteraan masyarakat yang menggunakan pendekatan teknik S-C-P, yaitu; market struktur, market conduct dan market performance (Sukartawi, 1993). Adapun pengukuran secara kuantatif digunakan beberapa konsep antara lain: Elastisistas Transmisi Harga dan Marjin Tataniaga.
Efisiensi tataniaga akan tercipta apabila berada dalam mekanisme pasar yang bersaing sempurna dengan besarnya marjin tataniaga konstan. Indikator lain yang digunakan untuk mengukur efisiensi tataniaga adalah bagian yang diterima oleh peternak (farmer share). Berkaitan marjin tataniaga dan efisiensi, terdapat dua ukuran efisiensi tataniaga, yaitu: efisiensi operasional dan efisiensi harga. Ukuran efisiensi operasional dicerminkan oleh biaya tataniaga dan marjin tataniaga. Efisiensi harga dicerminkan oleh korelasi harga sebagai akibat pergerakan produk dari pasar satu ke pasar yang lain. Marjin tataniaga lebih sering digunakan untuk analisis efisiensi tataniaga, karena dapat menggambarkan penyebaran marjin tataniaga, dan efisiensi operasional (Sukartawi, 1993).
D.   Strategi Penjualan ternak diantaranya:
1.    Untuk kambing/domba penbibitan :
a.   Usahakan menjual ternak tidak terlalu muda (cempe) atau sesuai dengan rencana, yaitu umur lepas sapih (g - 10 bulan).
b.   Pastikan bahwa ternak yang akan dijual dalam kondisi sehat (tidak mengidap penyakit).
c.   Apabila mempunyai cacat fisik sebaiknya dryual langsung kepadajagal atau pembeli dan diberikan informasi.
d.   Sebelum menjual sebaiknya mempelajari situasi pasar untuk melihat tingkat penawaran dan permintaan. Dalam jumlah banyak (berkelompok) lebih baik menghubungi pedagang, sehingga dapat meningkatkan posisi tawar dan memperpendek rantai pasar.
2.    Untuk kambing/domba penggemukan
a.   Pastikan bahwa ternak telah mencapai bobot badan tertentu (sesuai selera konsumen) dengan cara menimbang ternak sebagai sampel.
b.   Usahakan menjalin hubungan dengan pedagang atau jagal untuk mendapatkan informasi harga dan situasi pasar (penawaran dan permintaan)
c.   Penjualan ternak dalam jumlah banyak (berkelompok) lebih baik mengundang pedagang, kalau secara individu langsung
3.    Hasil produsi ternak kambing/domba yang berupa anak dan penambahan bobot badan dapat dijual melalui berbagai cara, yaitu:
a.   Secara langsung kepada pengguna/konsumen atau melalui pelaku pasar (blantik).
b.   Menjual langsung kepada konsumen, merupakan cara terbaik karena seluruh nilai jual bisa diterima oleh petani ternak.
c.   Menjual ternak melalui blantik desa, cara ini lebih efektif karena dapat dilakukan sewaktu - waktu, tanpa membuang waktu danbiaya,tetapi nilai jual yang diperoleh lebih rendah sedikit.
d.   Menjual ternak ke pasar hewan, peternak bebas memilih p emb eli tetap i memerlukan waktu datbiay a transportasi.
e.   Menjual ternak kepada jagal, cara ini dapat dilakukan dengan berlangganan sehingga dapat berlanjut/ berkesinambungan.
f.    Sebaiknya menjual ternak secara berkelompok, serta produksi ternak diatur dan sesuaikan jumlahnya dengan kebutuhan pasar.
SALURAN PEMASARAN DAN TATA NIAGA KAMBING DAN DOMBA DI INDONESIA
E.   Saluran Pemasaran Kambing dan Domba
Terdapat 5 saluran dalam sistem pemasaran kambing dan domba yaitu:
1.  Saluran I : Peternak – P. Pengumpul – P.Eceran – Konsumen
2.  Saluran II: Peternak – P. Pengumpul –Konsumen
3.  Saluran III: Peternak – P. Pengumpul – P.Besar – P. Eceran – Konsumen
4.  Saluran IV: Peternak – P. Besar – P. Eceran– Konsumen
5.  Saluran V : Peternak – P. Eceran – Konsumen

IV.       PENUTUP
A.   Kesimpulan
1.   Tataniaga yang efisien adalah sampainya produk ke konsumen akhir menurut tempat, waktu, dan bentuk yang diinginkan konsumen dengan biaya yang serendah-rendahnya serta adanya pembagian yang adil dari harga yang dibayar konsumen akhir kepada semua pihak yang terkait dalam kegiatan produksi dan tataniaga
2.   Faktor-faktor yang mendukung terciptanya tataniaga yang efisien mencakup: struktur pasar, lembaga tataniaga yang terlibat, dan transmisi harga.
3.   Ada lima kemungkinan jalur penjualan kambing dan domba yang dapat dilakukan oleh petenak, yaitu pemasok, pengecer, supermarket, eksportir, atau langsung ke konsumen. Dari kelima kemungkinan tersebut yang paling banyak dilakukan oleh peternak adalah melalui pemasok, pengecer, atau langsung dijual ke konsumen.