Ternak

Minggu, 08 November 2015

AMPAS TAHU UNTUK PAKAN TERNAK

Ampas tahu merupakan limbah padat yang diperoleh dari proses pembuatan tahu dari kedelai. Sedangkan yang dibuat tahu  adalah cairan atau susu kedelai yang lolos dari kain saring. Ampas Tahu dapat disebut juga sisa barang yang telah diambil sarinya atau patinya atau limbah industri pangan yang telah diambil sarinya melalui proses pengolahan. Masyarakat umumnya memanfaatkan ampas tahu untuk pakan ternak dan sebagian dipakai sebagai bahan dasar pembuataan tempe gembus. Ampas tahu mempunyai kadar protein yang baik dari segi kualitasnya untuk campuran dalam konsentrat yang diberikan kepada ternak. Kandungan nutrisi yang terdapat dalam ampas tahu bervariasi, hal ini antara lain disebabkan oleh perbedaan varietas dari kedelai yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan tahu, peralatan yang digunakan dalam proses pembuatan tahu maupun proses pengolahan. Ampas tahu dapat dijadikan sebagai bahan pakan sumber protein karena mengandung protein kasar cukup tinggi berkisar antara 18-25%, lemak 4,5%, serat kasar 18,21% .

Penyimpanan Ampas Tahu
Ampas tahu yang diperoleh biasanya dalam bentuk basah/ memiliki kandungan air yang tinggi, terlebih lagi kandungan protein pada ampas tahu sehingga bila disimpan akan menyebabkan mudah membusuk dan berjamur. Ampas tahu akan menjadi busuk dan tidak disukai ternak dalam waktu 2-3 hari. Hal ini akan menyebabkan peternak hanya dapat menyimpan ampas tahu sebagai pakan ternak untuk keperluan dua hari saja. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan dilihat dari segi tenaga kerja dan biaya pengangkutan. oleh karena itu dapat dilakukan pengeringan atau pembuatan silase agar ampas tahu dapat disimpan dalam waktu lama.
Untuk memperoleh ampas tahu kering, dilakukan dengan menjemur atau memasukkannya ke dalam oven sampai kering, kemudian digiling sampai menjadi tepung. Tepung ampas tahu sendiri adalah tepung yang diperoleh dari hasil pengeringan dari ampas tahu yang masih basah, dengan alat pengeringan atau sinar matahari, selanjutnya digiling dan diayak hingga menjadi halus. Proses pembuatan tepung ampas tahu terdiri dari tiga tahap yaitu pencucian, pengeringan dan pengecilan ukuran (Rusdi et al., 2011).
Bila mengawetkan ampas tahu secara basah dapat dilakukan dengan pembuatan silase tanpa menggunakan stater. Terlebih dahulu ampas tahu dikurangi kadar airnya dengan cara dipres sampai kadar air mencapai kira-kira 75%. Lalu disimpan dalam ruang kedap udara atau plastik tertutup rapat supaya udara tidak dapat masuk. Setelah tertutup disimpan minimal 21 hari dan digunakan sesuai dengan kebutuhan. Penyimpanan dengan cara pembuatan silase dapat mengawetkan ampas tahu sampai 5-6 bulan (Dinas Peternakan Propinsi Jawa Barat, 1999).
AMPAS TAHU UNTUK PAKAN TERNAK

Penggunaan Ampas Tahu Untuk Pakan Ternak
Surtleff dan Aoyagi (1979) melaporkan bahwa penggunaan ampas tahu sangat baik digunakan sebagai ransum ternak sapi perah. Di Jawa Barat ampas tahu telah banyak dan sudah biasa digunakan oleh peternak sebagai makanan ternak sapi potong untuk proses penggemukan. Di Taiwan ampas tahu digunakan sebagai pakan sapi perah mencapai 2-5 kg per ekor per hari (Heng-Chu, 2004), sedangkan di Jepang penggunaan ampas tahu untuk pakan ternak terutama sapi dan babi dapat mencapai 70% (Amaha, et al., 1996)
Menurut Yusrizal (2002), pemberian ampas tahu dalam ransum yang digunakan sebagai pakan itik mojosari fase stater tidak menimbulkan dampak negatif terhadap performansnya. Ampas tahu yang digunakan dalam ransum itik Mojosari sampai level 15 %. Hal ini berarti ampas tahu bisa diberikan sebagai bahan pakan untuk itik Mojosari dalam fase stater dan finisher karena ampas tahu tidak mempengaruhi performans dari itik Mojosari itu sendiri. Pemberian ampas tahu untuk mengetahui kualitas karkas broiler dilakukan oleh Yuni Sofrianti (2001) diperoleh hasil bahwa pemberian ampas tahu kedalam ransum broiler sampai level 36 % tidak menurunkan kualitas karkas broiler. Menurut Dessita (2003) pemberian ampas tahu sampai level 20% yang diberikan pada puyuh (Cortunix-cortunix japonica) umur 1-6 minggu tidak memberikan efek negatif terhadap performans puyuh umur 1-6 minggu dibandingkan ransum normal. Sedangkan pemberian ampas tahu sampai level 10% yang diberikan pada puyuh (Cortunix-cortunix japonica) setelah 6 bulan produksi secara kumulatif tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap konsumsi ransum, produksi telur, berat telur dan konversi ransum (Ferdinan sembiring, 2002).

*Sumber utama didapat dari
http://disnak.jatimprov.go.id/web/layananpublik/readteknologi/811/pemanfaatan--as-tahu-sebagai-pakan-unggas#.VkAQ8JgY4sI dan
Tarmidi, A. R., 2002. Penggunaan Ampas Tahu Dan Pengaruhnya Pada Pakan Ruminansia. Unpad.ac.id
*Serta ditambah dari :
Amaha, K., Y. Sasahi, and T. Segawa. 1996. Utilization of Tofu (Soybean Curd) By-Product as Feed for Cattle. http// www.agnet.org
Dessita. 2003. Pengaruh Pemberian Tepung Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Performans Puyuh (Coturnix-cortunix japonica) umur 1-6 minggu. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu.
Ferdinan sembiring. 2002. Pengaruh Pemberian Tepung Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Performans Puyuh (Coturnix-cortunix japonica) setelah 6 bulan produksi. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu.
Heng-Chu, A. 2004. Utilization of Agricultural By-Products in Taiwan. http//www.agnet.org.
Shurtleff, W. and A. Aoyagi. 1975. The Book of Tofu, Food for Mankind. Ten Speed Press, California, USA.
Yusrizal. 2002. Pengaruh Pemberian Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Performans itik Mojosari fase stater. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu
Yuni sofrianti. 2001. Pengaruh Pemberian Ampas Tahu dalam Ransum terhadap Kualitas Karkas Broiler. Skripsi. Universitas Bengkulu: Bengkulu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar