Ternak

Kamis, 28 Mei 2015

PENYAKIT DIARE NEONATAL PADA TERNAK RUMINANSIA

Diare neonatal adalah suatu penyakit yang akut atau subakut pada pedet yang baru lahir. Tanda-tandanya adalah diare hebat, dehidrasi yang disebabkan oleh satu atau beberapa jenis jasad renik. Dilaporkan bahwa penyakit diare neonatal yang disebabkan oleh infeksi enterotoksigenik Escherichia coli (ETEC) yang dapat terjadi beberapa saat setelah anak sapi dilahirkan hingga umur 1-2 minggu, dengan masa inkubasi penyakit hanya 6-18 jam. ETEC sering diisolasi sebagai penyebab tunggal pada anak sapi penderita diare umur 3 hari, Sedangkan patogen lain rotavirus, corona virus, bovine virus diare menyerang sapi pada umur 10-15 hari. Sedangkan Salmonella spp, Cryptosporidium dan coccidia menyerang anak sapi pada usia yang lebih tua yaitu setelah umur 20 hari. Oleh karena itu pada kejadian infeksi campuran ETEC dan patogen lain dapat memperpanjang waktu terjadinya diare (Radstids, 1985).

Penularan penyakit ini bermula dari kebersihan lingkungan pemeliharaan dan pengelolaan yang kurang baik. faktor lain sebagai predisposisi adalah tidak cukupnya antibody yang diperoleh dari kolostrum anak sapi yang belum terdedah oleh pathogen, cekaman cuaca dan pemberian susu yang basi. Gejala klinis yang menonjol adalah diare, dehidrasi, kelemahan dan kematian dalam waktu satu atau beberapa hari. Serangan penyakit terjadi sangat mendadak, feses banyak dan encer. Pedet yang terserang ambruk dalam waktu 12-24 jam.
PENYAKIT DIARE NEONATAL PADA TERNAK RUMINANSIA
Kemungkinan terjadinya infeksi dapat dikurangi dengan cara mengurangi kemungkinan infeksi pada pedet yang baru lahir, memberikan kolostrum secara cukup, menaikan ketahanan pedet dengan melakukan vaksinansi induk atau pada pedet yang baru lahir. Pengobatan sangat tergantung pada jasad penyebab dan kondisi hewan. Injeksi larutan garam dapat menolong untuk mengatasi dehidrasi. Obat yang dapat digunakan yaitu collibac bollusdengan cara dihancurkan lalu diminumkan, antihistamin dan dibantu dengan pemberian susu.

Anak sapi perah yang terinfeksi ETEC menderita diare terus menerus (profus), tinja encer seperti air berwarna putih kekuning-kuningan. Anak sapi penderita diare akan mengalami kekurangan cairan yang mengandung garam mineral atau elektrolit sehingga terjadi dehidrasi dan asidosis yang dapat menyebabkan kematian. Kerugian ekonomi yang dirasakan oleh peternak akibat biaya obat dan tenaga pengobatan, kematian dan gangguan pertumbuhan pada anak sapi yang masih bertahan hidup. Diare neonatal pada anak babi akibat infeksi ETEC merupakan penyakit yang banyak menimbulkan kematian dan sulit dikendalikan dengan menggunakan antibiotika walaupun obat-obatan banyak dipakai.

Rabu, 27 Mei 2015

CARA MUDAH MEMBUAT PUPUK BOKASHI

Salah satu jenis pupuk organik yang sekarang banyak digunakan adalah pupuk bokashi. Bokashi adalah suatu kata dalam bahasa Jepang yang berarti “bahan organik yang telah difermentasikan”. Pupuk Bokashi dibuat dengan memfermentasikan bahan-bahan organik (dedak, ampas kelapa, tepung ikan, dan sebagainya) dengan EM (Efektive Microorganisme). Biasanya Bokashi ditemukan dalam bentuk serbuk atau butiran. Bokashi sudah digunakan para petani Jepang dalam perbaikan tanah secara tradisional untuk meningkatkan keragaman mikroba dalam tanah dan meningkatkan persediaan unsur hara bagi tanaman (Nasir, 2008). Teknologi Bokashi adalah suatu cara menggunakan mikroba tanah dalam pembuatan pupuk organik dengan menggunakan EM 4 (Effective Microorganisme 4) yaitu bakteri fermentasi, bahan organik, yang dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan kesuburan tanah. EM 4 adalah hasil seleksi alami mikroorganisme fermentasi dan sintetik di dalam tanah terciptalah EM 4 yang merupakan bakteri fermentasi Actinomycetes, bakteri fotosintetik dan ragi. Fungsi EM 4 adalah untuk memfermentasi dalam tanah menjadi unsur-unsur organik, meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman. EM 4 sangat cocok untuk tanaman perkebunan, hortikultura, padi dan palawija, karena sifatnya yang tidak menimbulkan pencemaran (Aswandi dan Anwaruddin, 2004).

A.  MANFAAT PUPUK BOKASHI
Pupuk organik Bokashi memiliki keunggulan dan manfaat, yaitu meningkatkan populasi, keragaman, dan aktivitas mikroorganisme yang menguntungkan, menekan perkembangan pathogen (bibit penyakit) yang ada di dalam tanah, mengandung unsur hara makro (N, P, dan K) dan unsur mikro seperti: Ca, Mg, B, S, dan lain-lain, menetralkan pH tanah, menambah kandungan humus tanah, meningkatkan granulasi atau kegemburan tanah, meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik dan meningkatkan kesuburan dan produksi tanaman (Nasir, 2008).
CARA MUDAH MEMBUAT PUPUK BOKASHI
B.  CARA MEMBUAT PUPUK BOKASHI
1.   Pupuk Bokashi Skala Pertanian (1 Ton)
Pupuk bokashi bisa dibuat dari hijauan sisa panen dan limbah peternakan. Waktu yang diperlukan untuk membuat bokashi skala besar dan skala kecil sama saja, yang membedakannya adalah volume bahan bakunya. Berikut tahapan membuat bokashi untuk penggunaan pertanian:
a.   Siapkan bahan-bahan berikut: 200 kg jerami atau sisa hijauan, 600 kg kotoran ternak yang telah kering, 50 kg serbuk gergaji/dedak, 50 kg arang sekam, 100 kg humus (top soil, berasal dari tanah hutan lebih baik), 1 liter larutan dekomposer (EM4) dan 1 kg gula pasir.
b.   Pilih tempat fermentasi yang terlindung dari air hujan dan sengatan matahari langsung. Buat lubang berbentuk persegi panjang di atas tanah tersebut dengan lebar 1 meter, panjang 2 meter dan dalam 30-50 cm, atau sesuaikan ukuran lubang dengan banyaknya bahan baku.
c.  Cacah jerami atau hijauan kecil-kecil, campuran bahan-bahan organik yang telah disiapkan, aduk hingga merata dengan cangkul atau sekop. Bila perlu (misalnya tanah Anda asam), tambahkan abu (Mg) dan kapur pertanian (Ca) untuk memperkaya kandungan hara pupuk bokashi yang dihasilkan.
d.   Encerkan larutan EM4, ambil 1 liter larutan campurkan dengan 200 liter air bersih dan 1 kg gula pasir. Kemudian siramkan pada campuran bahan baku sambil diaduk. Atur kelembaban hingga mencapai 30-40%. Untuk memperkirakan tingkat kelembaban, kepalkan campuran hingga bisa menggumpal tapi tidak sampai mengeluarkan air. Apabila kelembabannya kurang, tambahkan air secukupnya.
e.   Tutup rapat lubang fermentasi dengan plastik atau terpal, diamkan hingga 7-14 hari. Perlu diingat, kontrol suhu fermentasi hingga maksimal 45oC. Apabila melebihi suhu tersebut, aduk dengan cangkul agar suhunya turun.
f.   Setelah 14 hari, biasanya pupuk bokashi sudah terbentuk dan bisa diaplikasikan langsung.
2.   Membuat Pupuk Bokashi Skala Rumah Tangga
Pupuk bokashi bisa dibuat dalam skala rumah tangga dengan memanfaatkan limbah dapur atau sisa makanan. Bokashi dari hasil daur ulang sampah bisa digunakan untuk memupuk tanaman pekarangan. Penggunaannya sama dengan penggunaan pupuk organik yang dijual dipasaran. Berikut tahapan membuatnya:
a.   Siapkan bahan-bahan berikut: sisa sayuran, buah-buahan, sisa makanan (nasi, roti, dll), tulang ikan, tulang ayam, 5 kg dedak/serbuk gergaji, 5 kg arang sekam, 10 ml EM4 dan dua sendok gula pasir.
b.  Siapkan satu tong plastik ukuran 200 liter. Buat lubang bagian bawahnya untuk mengeluarkan cairan hasil pengomposan. Cairan ini berguna sebagai pupuk organik cair.
c.  Potong atau rajang material organik menjadi potongan kecil, campurkan dengan dedak/serbuk gergaji dan arang sekam.
d.   Encerkan 10 ml larutan EM4 dengan 1 liter air, tambahkan dua sendok gula pasir. Kemudian siramkan pada campuran bahan baku tadi.
e.  Tutup rapat tong plastik, apabila suhu melebihi 45oC. Abila warna dan teksturnya sudah seperti tanah, itu tandanya pupuk bokashi sudah terbentuk. Prosesnya kira-kira 5-7 hari.

Sumber:
Aswandi, dan O. Anwarudin. 2004. Pembuatan Bokashi. www.stpp-manokwari.ac.id.
Nasir. 2008. Pengaruh Penggunaan Pupuk Bokashi Pada Pertumbuhan Dan Produksi Padi Palawija Dan Sayuran. http://www.dispertanak.pandeglang.go.id/.

Selasa, 26 Mei 2015

PERBEDAAN TERNAK RUMINANSIA DAN NON RUMINANSIA (UNGGAS)

Ternak dapat berupa binatang yang telah mengalami domestikasi. Ternak dapat dibagi menjadi ternak rumniansia, non ruminansia (unggas) dan pseudoruminan (kuda dan kelinci).  ayam, angsa, kalkun, atau itikdapat digolongkan kedalam ternak non ruminansia (unggas) dan untuk sapi, kambing, domba, kuda, dan kerbau masuk kedalam ternak ruminansia. Kali ini saya akan membahas tentang perbadaan antara ternak ruinansia dan ternak non ruminansia(unggas). Perbedaan antara ternak ruminansia dan non ruminansia (unggas) dapat dilihat dari sistem pencernaannya, kebutuhan nutrisi, pakan serta cara memanfaatkan pakan tersebut untuk berproduksi.

1.   PENGERTIAN RUMINANSIA DAN NON RUMINANSIA
a.   Ruminansia
Ruminansia merupakan binatang berkuku genap subordo dari ordo Artiodactyla disebut juga mammalia berkuku. Nama ruminan berasal dari bahasa Latin "ruminare" yang artinya mengunyah kembali atau memamah biak, sehingga dalam bahasa Indonesia dikenal dengan hewan memamah biak. Hewan ruminansia umumnya herbivora atau pemakan tanaman, sehingga sebagian besar makanannya adalah selulose, hemiselulose dan bahkan lignin yang semuanya dikategorikan sebagai serat kasar. Hewan ini disebut juga hewan berlambung jamak atau polygastric animal, karena lambungnya terdiri atas rumen, retikulum, omasum dan abomasum. Rumen merupakan bagian terbesar dan terpenting dalam mencerna serat kasar.
Ruminansia mempunyai kemampuan yang unik yakni mampu mengkonversi pakan dengan nilai gizi rendah menjadi pangan berkualitas tinggi. Proses konversi ini disebabkan oleh adanya proses Microbial fermentation atau fermentasi microbial yang terjadi dalam rumen. Proses ini mengekstraksi zat makanan dari pakan menjadi pangan tersebut melalui berbagai proses metabolisme yang dilakukan oleh mikroorganisme. Populasi mikroba yang terdiri atas bacteria, protozoa, fungi dan kapang melakukan fermentasi yang dikenal dengan enzymatic transformation of organic substances, karena mikroba tersebut menghasilkan berbagai enzim (Steve Bartle, 2006). Peranan mikroorganisme dalam saluran pencernaan ruminansia sangat penting, karena untuk merombak selulosa diperlukan enzim selulase yang hanya dibentuk dalam tubuh mikroorganisme. Melalui proses simbiose mutualisme, mikroorganisme memanfaatkan sebagian bahan yang diambil ruminansia sebagai induk semang dan digunakan untuk perkembangbiakan mikroorganisme, selanjutnya mikroorganisme membantu memfermentasi bahan tersebut yang menghasilkan bahan lain yang mampu dimanfaatkan oleh induk semang. Mikroorganisme ini yang terdiri atas bakteri, protozoa, dan jamur, dapat merupakan sumber protein berkualitas tinggi bagi induk semang
b.   Non Ruminansia (unggas)
Ternak nonruminansia tergolong pada ternak monogastrik, yaitu ternak yang memiliki lambung tunggal. Sistem perncernaan ternak ini tidak sempurna dibandingkan dengan ternak ruminansia.

2.   PAKAN
Bahan pakan biasanya dibedakan untuk ternak ruminansia dan non ruminansia, karena adanya perbedaan dalam system pencernaan kedua jenis ternak tersebut. Berbeda halnya dengan ternak ruminansia, ternak non ruminansia mempunyai kemampuan yang sangat terbatas dalam mencerna bahan pakan berserat kasar tinggi. Pakan untuk ternak ruminansia adalah hijauan sedangkan untuk ternak non ruminansia (unggas) berupa biji-bijian.
Terdapat perbedaan yang sangat mendasar antara ternak non-ruminansia dan ruminansia dalam menggunakan zat makanan sebagai sumber energi. Sumber energi utama untuk ternak non-ruminansia (seperti unggas, babi) adalah BETN, sedangkan sumber energi utama untuk ternak ruminansia adalah serat kasar.
Perbedaandasar antara ternak ruminansia dan non ruminansia pada metabolisme sumber energi berupa karbohidrat dan protein, oleh karena adanya mikroorganisme (bakteri, protozoa dan fungi) di dalam rumen dan retikulum ruminansia. Pada ruminansia, karbohidrat mengalami fermentasi oleh mikroba membentuk VFA (volatile fatty acids = asam lemak terbang) dan produk ini merupakan energi utama untuk ruminansia.
Perbedaanantara ruminansia dan non-ruminansia dalam metabolisme energi yang berasal dari lemak adalah ternak non-ruminansia hanya dapat memanfaatkan senyawa lemak sederhana (trigliserida), sedangkan ruminansia dapat memanfaatkan senyawa yang lebih kompleks seperti fosfolipid (lesitin). Pada ternak non-ruminansia, trigliserida dimetabolis menjadi asam-asam lemak bebas dan bersama-sama garam-garam empedu membentuk misel, terus masuk ke usus dalam bentuk trigliserida dan bergabung bersama β-lipoprotein membentuk kilomikron, kemudian masuk ke saluran limpa
Pada ruminansia, lesitin dimetabolis menjadi lisolesitin, bersama asam-asam lemak bebas yang berasal dari metabolisme senyawa lemak sederhana dan garam-garam empedu bergabung membentuk misel, terus masuk ke usus dalam bentuk lesitin dan bergabung bersama trigliserida dan lipoprotein membentuk kilomikron, kemudian masuk ke saluran limpa

3.   MEKANISME PENCERNAAN
a.   Ruminansia
Pakan yang telah dikunyah di dalam mulut masuk ke dalam rumen melalui esophagus makanan disimpan sementara dirumen. Selanjutnya, makanan menuju retikulum dan dicerna di dalamnya. Makanan yang telah dicerna kemudian dikeluarkan kembali ke mulut. Didalam mulut dikunyah kembali dan ditelan lagi ke retikulum, proses ini disebut memamah biak. Selanjutnya makanan masuk ke omasum, di sini terjadi proses penyerapan air. Selanjutnya makanan diteruskan ke abomasum (perut masam), makanan yang sudah dicerna di abomasum akan akan diteruskan ke usus halus. Di usus halus terjadi proses penyerapan sari-sari makanan, sisa-sisa makanan yang tidak diserap dikirim ke usus besar. Setelah mengalami penyerapan air, sisa makanan berupa ampas dikeluarkan melalui anus
b.   Non Ruminansia (unggas)
Unggas mengambil makanannya dengan paruh dan kemudian terus ditelan. Makanan tersebut disimpan dalam tembolok untuk dilunakkan dan dicampur dengan getah pencernaan proventrikulus dan kemudian digiling dalam empedal. Tidak ada enzim pencernaan yang dikeluarkan oleh empedal unggas. Fungsi utama alat tersebut adalah untuk memperkecil ukuran partikel-partikel makanan.
Dari empedal, makanan bergerak melalui lekukan usus yang disebut duodenum, yang secara anatomis sejajar dengan pankreas. Pankreas tersebut mempunyai fungsi penting dalam pencernaan unggas seperti halnya pada spesies-spesies lainnya. Alat tersebut menghasilkan getah pankreas dalam jumlah banyak yang mengandung enzim-enzim amilolitik, lipolitik dan proteolitik. Enzim-enzim tersebut berturut-turut menghidrolisa pati, lemak, proteosa dan pepton. Empedu hati yang mengandung amilase, mamasuki pula duodenum.
Bahan makanan bergerak melalui usus halus yang dindingnya mengeluarkan getah usus. Getah usus tersebut mengandung erepsin dan beberapa enzim yang memecah gula. Erepsin menyempurnakan pencernaan protein, dan menghasilkan asam-asam amino, enzim yang memecah gula mengubah disakharida ke dalam gula-gula sederhana (monosakharida) yang kemudian dapat diasimilasi tubuh. Penyerapan dilaksanakan melalui villi usus halus.
Unggas tidak mengeluarkan urine cair. Urine pada unggas mengalir ke dalam kloaka dan dikeluarkan bersama-sama feses. Warna putih yang terdapat dalam kotoran ayam sebagian besar adalah asam urat, sedangkan nitrogen urine mammalia kebanyakan adalah urine. Saluran pencernaan yang relatif pendek pada unggas digambarkan pada proses pencernaan yang cepat (lebih kurang empat jam).

Sumber:
http://widatulpaujiah.blogspot.com
http://id.wikipedia.org/

PEMBAGIAN KELAS BANGSA AYAM MODERN

Kelas ayam adalah sekumpulan atau sekelompok bangsa ayam yang dibentuk dan dikembangkan mula-mula didaerah tertentu yang karakteristik tiap-tiap bangsa dan sifat-sifatnya dapat diturunkan pada generasi berikutnya. Bangsa ayamadalah suatu kelompok ayam yang memiliki persamaan dalam bentuk morphologis, sifat physiologis dan bentuk anatomis yang karakteristik untuk tiap-tiap bangsa dan sifat-sifat persamaan ini dapat diturunkan pada generasi berikutnya. Menurut The American Standart of Perfection unggas khususnya ayam didasarkan pada standar unggas yang dikelompokan berdasarkan ras, bangsa, varietas, dan strain. Berdasarkan buku standar terdapat sebelas kelas, namun hanya ada empat kelas yang penting, yaitu kelas Inggris, kelas Amerika, kelas Mediterania, dan kelas Asia (Suprijatna et al., 2005).

1.   KELAS INGGRIS
Ayam kelas Inggris merupakan sekelompok ayam yang dibentuk dan dikembangkan di Inggris dengan karakteristik bentuk tubuh besar, cuping berwarna merah, kulit putih, kerabang telur coklat kekuningan, dan bulu merapat ke tubuh. Contohnya antara lain Sussex, Cornish, orpington, Australorp, Dorking (Suprijatna et al., 2005). Bangsa ayam kelas Inggris sebagai ayam tipe dwiguna contohnya antara lain Orpington, Australorp, Dorking, Sussex, dan Red Cup (Yuwanta, 2004)

2.   KELAS AMERIKA
Ayam kelas Amerika merupakan kelompok ayam yang dibentuk dan dikembangkan di Amerika Serikat dengan karakteristik bentuk tubuh sedang, cuping telinga berwarna merah, bulu mengembang, dan kulit berwarna putih. Ciri khas lain kulit telur berwarna coklat kekuningan, cakar tidak berbulu, dan  terkenal  sebagai  tipe dwiguna. Bangsa-bangsa yang termasuk dalam kelas ini adalah Plymouth Rock, Wyandotte,  Rhode Island Red, Hampshire, Jersey (Suprijatna et al., 2005). Ayam kelas Amerika merupakan tipe dwiguna dengan antara lain Plymouth Rock, Rhode Island, Rhode Island Red, Rhode Island White, Wyandotte, danNew Hampshire (Yuwanta, 2004)

3.   KELAS MEDITERANIA
Ayam kelas Mediterania merupakan kelompok ayam yang dikembangkan di sekitar Negara dan pulau di Laut Tengah seperti Spanyol dan Italia. Karakteristik bulu mengembang, cuping telinga berwarna putih, bentuk tubuh ramping, warna kulit putih, dan kerabang telur telur putih, dan merupakan tipe petelur. Bangsa-bangsa ayam yang termasuk dalam kelas ini antara lain  Leghorn, Ancona, Spanish, Minorca, Andalusia (Suprijatna et al., 2005). Bangsa kelas Mediterania yang terkenal antara lain Leghorn, Minorca, Ancona, Butter Cups, serta Blue Andalusiadan Spanish (Yuwanta, 2004).

4.   KELAS ASIA
Ayam kelas Asia merupakan kelompok ayam yang dikembangkan di wilayah Asia. Karakteristik bentuk tubuh besar, bulu merapat tubuh, cuping berwarna merah, dan kerabang telur beragam, dari coklat kekuningan sampai putih. Ciri khas cakar berbulu, kulit berwarna putih sampai gelap dan merupakan tipe pedaging. Contohnya Brahma, Langshan, Cochin China (Suprijatna et al., 2005). Bangsa ayam kelas Asia yang terkenal antara lain Brahma dari India, Langshan dari Cina, dan Cochin dari Shanghai, Cina yang dikembangkan menjadi ayam Amerika dan Inggris dan merupakan tipe ayam pedaging (Yuwanta, 2004).
Sumber:
Suprijatna, E., U. Atmomarsonodan R. Kartasudjana. 2005. Penebar Swadaya, Jakarta. 
Yuwanta, T., 2004. Dasar Ternak  Unggas. Kanisius.  Yokyakarta.

SELEKSI TERNAK

Penampilan ternak saat hidup mencerminkan produksi dan kualitas karkasnya. Ketepatan penaksir dalam menaksir nilai ternak tergantung pada pengetahuan penaksir dan kemampuan menterjemahkan keadaan dari  ternak itu. Keadaan ternak yang perlu mendapat perhatian pada saat menaksir pro-duktivitas ternak adalah umur dan berat, pengaruh kelamin, perdagingan, derajat kegemukan dan persentase karkas. Penilaian ternak dilaksanakan berdasarkan atas apa yang terlihat dari segi penampilannya saja dan terkadang terdapat hal-hal yang oleh peternak dianggap sangat penting, akan tetapi ahli genetika berpendapat bahwa hal tersebut sebenarnya tidak ada pengaruhnya terhadap potensi perkembangbiakan atau produksi. Penentuan seleksi ternak sebaiknya kedua cara penilaian digunakan. Penilaian ternak tersebut dilakukan dengan cara memberikan score kepada masing-masing ternak sehingga menghasilkan urutan atau rangking tertinggi berdasarkan nilai rekor performanya, juga baik dalam memenuhi persyaratan secara fisik.

Penilaian ternak diantaranya harus mengenal bagian-bagian dari tubuh ternak. Contohnya pada ternak sapi, untuk mendapatkan sapi yang baik harus memperhatikan konformasi tubuh yang ideal, ternak yang dinilai harus sehat dan baik sesuai dengan jenis bangsanya, bagus ukuran tubuhnya, seluruh bagian tubuh harus berpadu dengan rata, harus feminin dan tidak kasar. Kita dapat menentukan perbandingan antara kondisi sapi yang ideal dengan kondisi sapi yang akan kita nilai. Bagian-bagian tubuh sapi yang mendekati kondisi ideal dapat menunjang produksi yang akan dihasilkannya.

Seleksi dari segi genetik diartikan sebagai suatu tindakan untuk membiarkan ternak-ternak tertentu berproduksi, sedangkan ternak lainnya tidak diberi kesempatan berproduksi. Ternak-ternak pada generasi tertentu bisa menjadi tetua pada generasi selanjutnya jika terdapat dua kekuatan. Kedua kekuatan itu adalah seleksi alam dan seleksi buatan (Noor, 2004).

Nilai pemuliaan masing-masing ternak yang diketahui dengan pasti, maka penentuan peringkat keunggulan ternak dalam populasi dapat diketahui dengan mudah. Nilai pemuliaan ternak tetua sangat menentukan nilai pemuliaan dan performa anaknya. Nilai pemuliaan dapat menjadi dasar dalam melakukan seleksi dengan memilih ternak yang nilai pemuliaannya paling tinggi untuk dijadikan tetua (Bourdon, 1997).

Seleksi dalam pemuliaan ternak adalah memilih ternak yang baik untuk digunakan sebagai bibit yang menghasilkan generasi yang akan datang. Untuk bidang peternakan, yang diseleksi adalah sifat-sifat terukur seperti kecepatan pertumbuhan, bobot lahir, produksi susu dan bobot sapih. Sifat-sifat ini memberikan manfaat secara ekonomi disamping harus mempunyai kemampuan mewarisi yang tinggi yang dapat ditentukan dari nilai heritabilitasnya (Falconer, 1972).

Dasar pemilihan dan penyingkiran yang digunakan dalam seleksi adalah mutu genetik seekor ternak. Mutu genetik ternak tidak tampak dari luar, yang tampak dan dapat diukur dari luar adalah performanya. Performa ini sangat ditentukan oleh dua faktor, yaitu faktor genetik dan lingkungan. Oleh karena itu, harus dilakukan suatu pendugaan atau penaksiran terlebih dahulu terhadap mutu genetiknya atas dasar performansnya. Metode seleksi dibagi menjadi tiga metode yang sederhana, yaitu:
1.   Seleksi individu (individual selection) adalah seleksi per ternak sesuai dengan nilai fenotipe yang dimilikinya. Metode ini adalah yang paling sederhana daripada umumnya dan menghasilkan respon seleksi yang cepat.
2.   Seleksi keluarga (family selection) adalah seleksi keluarga per keluarga sebagai kesatuan unit sesuai dengan fenotip yang dimiliki oleh keluarga yang bersangkutan. Individu tidak berperan dalam metode seleksi ini.
3.   Seleksi dalam keluarga (within-family selection) adalah seleksi tiap individu di dalam keluarga berdasarkan nilai rata-rata fenotip dari keluarga asal individu bersangkutan (Hardjosubroto, 1994).
Sumber: Dirangkum dari berbagai sumber.

Kamis, 21 Mei 2015

TINGKAH LAKU MAKAN PADA KELINCI

Perilaku makan dalam kelinci sangatlah mudah dilihat saat dilepas di area rumput. Mereka mula-mula akan berkeliling dengan perilaku khasnya untuk menyeleksi lingkungan. Pada lingkungan yang baru, kelinci akan berputar-putar melihat keadaan. Sebagai hewan yang memiliki rasa cemas terhadap lingkungan baru ia akan meyakinkan dirinya bahwa keadaan disekitarnya aman. Mula-mula, kepalanya mendongak kemudian ia akan berjalan. Setelah ia mendapatkan tempat yang aman segeralah ia akan mengencingi salah satu lokasi. Barulah mereka kemudian menikmati makan bersama kelinci lainnya. Dalam hal makanpun mereka menyesuaikan dengan perilaku sosial; dengan cara meniru kelinci lain yang lebih dewasa dan lebih berani memulainya. Kelinci akan mencoba-coba terlebih dahulu terhadap rumput yang baru. Jika dirasa cocok sesuai kebutuhan dirinya, ia akan memakannya. Kelinci memiliki kebiasaan berganti-ganti rumput saat makan, hal ini dikarenakan kebutuhan dasar tubuhnya yang sangat bergantung pada tanaman. Saat di dalam kandang, sewaktu kita memberi pakan yang baru hendaknya kita mencampurinya jenis pakan yang lama agar kelinci sedikit demi sedikit mulai terbiasa dengan pakan yang baru tersebut.

Kelinci sangat selektif dalam memilih pakannya. Kelinci akan lebih memilih bagian yang disukainya seperti daun yang lebih hijau dibandingkan yang kering, memilih daun dibandingkan batang, tanaman yang muda dibandingkan yang tua, sehingga pakan yang tinggi protein dan energi dicerna dan rendah serat yang diperoleh dari bahan tanaman. Tingkah laku makan pada kelinci juga dapat dipengaruhi oleh faktor sosial. Kelinci akan makan lebih banyak jika dikandangkan secara kelompok karena adanya peningkatan stimulasi dan adanya kompetisi.
TINGKAH LAKU MAKAN PADA KELINCI
Selain itu tingkah laku makan kelinci yaitu menggaruk atau scrabblingyaitu  mengais makanan keluar dari tempat pakan sehingga menyebabkan pakan terbuang. Scrabbling sering dijadikan acuan jika pelet yang diberikan kurang baik maka pellet tersebut diganti dengan kualitas yang lebih baik. Mengunyah bulu juga merupakan tingkah laku makan pada kelinci. Hal ini biasanya diartikan bahwa pakan yang diberikan rendah serat kasar atau protein. Pemberian haydapat menghentikan tingkah laku ini. Blok kayu dalam kandang biasanya akan digigiti karena memberikan serat dan menjaga gigi bawah kelinci dari cacing (Cheeke et al., 2000).

Anne McBride, seorang ahli pengamat tingkah laku binatang, menyatakan bahwa ada 3 macam pola makan kelinci. Pertama, pola kasual yakni kelinci biasanya akan makan lahap di daerah yang aman dan dalam keadaan rileks. Kedua, jika kelinci terlihat makan secepat mungkin, artinya ia merasa ada bahaya atau ada cuaca buruk yang akan datang padanya. Ketiga, pola normal. Maksudnya, kelinci bisa makan tanpa gangguan apapun, di dalam dan di luar kandang.
Sumber: Cheeke, P. R., McNitt, J. I., & N. M. Patton. 2000. Rabbit Production. 8th Edition. Interstate Publisher Inc, Denville, Illionois.

KARAKTERISTIK SAPI MADURA ASLI INDONESIA


Sapi Madura merupakan hasil persilangan antara sapi Bali (Bos sundaicus) dengan sapi Zebu (Bos indicus), Oleh karena itu sebenamya sapi Madura merupakan sapi persilangan. Sapi Madura termasuk sapi potong yang memiliki kemampuan daya adaptasi yang baik terhadap stress pada lingkungan tropis, keadaan pakan yang kurang baik mampu hidup dan berkembang dengan baik, serta tahan terhadap caplak. Sapi Madura menunjukkan respon yang cukup baik dengan perbaikan lingkungan. Sapi Madura sebagai sapi potong tipe kecil memiliki variasi berat badan sekitar 300 kg dan pemeliharaan yang baik dengan pemenuhan kebutuhan pakan dengan pakan yang baik mampu mencapai berat badan ≥ 500 kg, ditemukan pada sapi Madura yang menang kontes (Soehadji, 2001) Performans berat badan sapi Madura mempunyai keragaman yang cukup luas, didapatkan berat badan yang tinggi (± 500 kg) dan didominasi oleh berat badan yang cukup rendah (± 300 kg).

Menurut Moore (1984) bahwa angka pertambahan berat badan harian yang dicapai sapi-sapi lokal di Indonesia berkisar antara 0,5–0,8 kg/ekor/hari dan sebagian besar peternakan rakyat lebih rendah. Sapi madura memiliki persentase karkas yang cukup baik, mampu mencapai 60% yang didapatkan pada ternak yang dilakukan dengan pengelolaan dan kecukupan pakan yang mempengaruhi kondisi ternak. Biasanya karkas sapi madura rata-rata 50-60%.
KARAKTERISTIK SAPI MADURA ASLI INDONESIA
Komformasi sapi Madura pada bagian kepala bertanduk yang mengarah dorsolateral, tanduk besar dan pada sapi jantan memiliki gumba (punuk) sedangkan yang betina tidak tampak adanya punuk (kecil). Warna bulu merah bata–merah coklat, warna sapi jantan dan betina sama sejak lahir sampai dewasa; garis punggung (linea spinosum) kehitaman-coklat tua masih ditemukan, warna keputih-putihan pada daerah bawah kaki. Badan mirip Sapi Bali tetapi memiliki punuk walaupun berukuran kecil.

Menurut Karnaen dan Arifin (2007), sapi Madura secara fisiologis dan biologi memiliki ciri-ciri :
1.   Usia pubertas sapi Madura berkisar antara 510-640 hari.
2.   Rata-rata panjang  siklus  birahi  pada  musim kemarau  lebih  panjang  dibandingkan  dengan siklus  birahi  pada  musim  hujan,  sebaliknya rata-rata  lama  periode  birahi  pada  musim hujan  lebih  pendek  dibandingkan dibandingkan dengan lama periode birahi pada musim kemarau.
3.   Beberapa sifat reproduksi dan produksi sapi Madura pada musim hujan dan musim kemarau tidak sama.

Kontribusi sapi Madura sebagai sapi potong yang berkembang dengan baik di Jawa Timur khususnya di pulau Madura mempunyai kontribusi yang cukup besar sampai 24 % dari kebutuhan suply sapi potong yang berasal dari Jawa Timur. Kasus penyakit yang pernah terjangkit pada sapi Madura adalah penyakit Surra, ngorok, ingusan, distomatosis, scabies dan gangguan reproduksi dan defisiensi nutrisi.

Sumber :
Didi Budi Wijono Dan Bambang Setiadi. 2004. Potensi Dan Keragaman Sumberdaya Genetik Sapi Madura. Lokakarya Nasional Sapi Potong.
Karnaen dan Arifin, J. 2007. Kajian Produktivitas Sapi Madura. J ilmu ternak 7(2):135-139
Moore, C.P. 1984. Production rate in tropical beef cattle. W.A.R
Soehadji. 2001. Kebijakan pengembangan ternak potong di Indonesia tinjauan khusus sapi Madura. Pros. Pertemuan Ilmiah Hasil Penelitian dan  Pengembangan Sapi Madura. Sumenep. Hal.1-12.

Rabu, 20 Mei 2015

CARA PEMBERIAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA

Cara pemberian pakan untuk ternak ruminansia sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi ternak. Pemberian hijauan sebaiknya dipotong sekitar 3-5 cm karena pemotongan hijauan yang lebih pendek dapat meningkatkan luas permukaan sehingga menigkatkan penetrasi enzim terhadap substrat dan pada akhirnya dapat meningkatkan kecernaan bagi ternak. Dalam pemberiannya harus diperhatikan hijauan tersebut disukai ternak dan tidak mengandung racun atau toxin sehingga dapat membahayakan  perkembangan ternak yang mengkonsumsi. Namun permasalahan yang ada bahwa hijauan di daerah  tropis seperti di wilayah Indonesia mempunyai kualitas yang kurang baik sehingga untuk memenuhi kebutuhan gizi ternak tersebut, perlu ditambah dengan pemberian pakan konsentrat (Siregar, 1994). Pemberian pakan untuk konsentrat dan hijauan sebaiknya diberikan selang waktu ± sekitar 2 jam agar pakan dapat termanfaatkan dengan optimal (meminimalisir pakan yang terbuang). Frekuensi pemberian pakan sebaiknya juga ditingkatkan karena frekuensi pemberian pakan yang lebih banyak dapat meningkatkan konsumsi pakan ternak dibandingkan dengan frekuensi pemberian pakan yang rendah dengan pemberian pakan yang langsung banyak sekaligus dalam satu waktu, namun peningkatan frekuensi pemberian pakan ini juga harus disesuaikan dengan jumlah tenaga yang tersedia.

Kebutuhan kuantitatif dihitung berdasar bahan kering (BK). Kebutuhan BK untuk ternak ruminansia berkisar antara 3-8 % dari bobot badan. Kebutuhan BK ternak ruminansia dipengaruhi oleh umur dan kondisi ternak. Ternak dewasa membutuhkan BK lebih sedikit daripada ternak yang lebih muda pada umur yang sama, karena kebutuhan pokok hidup sapi dewasa relatif lebih kecil.
CARA PEMBERIAN PAKAN TERNAK RUMINANSIA

Dalam manajemen pemberian pakan, penggantian pakan harus dilakukan secara bertahap. Apabila ternak sudah terbiasa makan rumput, kemudian akan diganti dengan pakan berupa jerami padi, maka pemberian jerami padi harus sedikit demi sedikit. Pertama-tama, jerami padi harus dicampur dengan rumput dan secara bertahap jumlah jerami padi ditingkatkan hingga pakan ternak berganti menjadi jerami padi. Perubahan jenis pakan, yang secara mendadak dapat berakibat ternak stress, sehingga tidak mau makan. Oleh karena itu cara pemberiannya dilakukan sedikit demi sedikit agar ternak beradaptasi dahulu, selanjutnya pemberian ditambah sampai   jumlah pakan yang   sesuai  kebutuhannya, sedangkan air minum diberikan secara ad libitum.

Untuk pemberian konsentrat dapat dilakukan dengan cara kering atau basah (komboran). Siregar (1994),menyatakan bahwa pemberian konsentrat yang dicampur air akan menghasilkan campuran yang benar-benar homogen. Dijelaskan lebih lanjut oleh Sindoeredjo (1960), bahwa pemberian konsentrat dengan cara basah akan menambah palatabilitas dan daya telan pakan, sehingga akan meningkatkan konsumsi pakan. Yang perlu diperhatikan bila pemberian bentuk basah adalah konsentrat tersebut harus habis dalam sekali pemberian sehingga tidak  terbuang. Konsentrat sebaiknya diberikan sebelum hijauan dengan tujuan untuk merangsang aktivitas mikroorganisme dalam rumen, terutama bakteri selulolitik yang mencerna serat kasar. Pemberian konsentrat yang dilakukan dua jam sebelum pemberian hijauan akan meningkatkan kecernaan bahan kering dan bahan organik ransum.

Sumber:
Sindoeredjo, S. 1960. Pedoman Perusahaan Pemerahan Susu. Direktorat Pengembangan Produksi. Direktorat Jendral Peternakan. Jakarta.
Siregar, S. B., 1994. Ransum Ternak Ruminansia. Penebar Swadaya. Jakarta.