Ternak

Minggu, 17 Mei 2015

THERMOREGULASI PADA KELINCI

Thermoregulasiadalah suatu system pengaturan panas pada makhluk hidup agar terdapat keseimbangan antara produksi panas (thermogenesis) dan pembuangan panas (thermolisis). Untuk mempertahankan suhu tubuhnya terhadap suhu lingkungan yang sangat bervariasi, ternak domestic harus mempertahankan keseimbangan panas antara panas yang diproduksi oleh tubuh atau panas yang di dapat dari lingkungannya dengan panas yang hilang ke lingkungannya. Produksi panas metabolis tergantung dari produksi pada basal untuk mempertahankan proses-proses tubuh, produksi panas dari pencernaan yang variasinya tergantung pada system pencernaan ternak, jumlah dan kualitas makanan yang dimakan, Produksi panas otot tergantung pada aktivitas ternak seperti jalan, merumput dan sebagainya dan naiknya metabolisme untuk proses produksi seperti produksi susu, pertumbuhan dan reproduksi. Selain itu tergantung pada suhu luar melalui pengaruh konveksi, radiasi dan konduksi. Suhu tubuh yang konstan akan tercapai apabila mekanisme termoregulasi telah bekerja secara sempurna dan hewan telah dewasa. Dari tugas ini kami dapat mengetahui suhu normal suatu makhluk hidup. Suhu normal adalah panas yang terdapat pada zona thermoneutral. Tujuan praktikum acara thermoregulasi adalah mengetahui suhu tubuh, perbandingan suhu tubuh, dan proses pelepasan panas pada beberapa kelinci percobaan.

A.  TINJAUAN PUSTAKA
Temperatur tubuh diukur secara rectal dengan menggunakan thermometer. Pengambilan data temperatur adalah 2 kali sehari. Pada ketepatan skala 0,00 derajat celcius, pengukuran dilakukan apabila jarum petunjuk konstan pada satu angka selama satu menit. (Soeharso, 1977). Hewan berdarah panas mempunyai suhu tubuh yang tetap. Sedangkan suhu kulit dan jaringan-jaringan dibawahnya berubah-ubah. Bila suhu lingkungan lebih tinggi dari pada suhu badan, maka reproduksi panas pada hewan berkurang, pelepasan panas ditingkatkan, kegiatan kelenjar keringat meningkat dan pernafasn lebih cepat. Jadi mekanisme hemostastis tersangkut untuk mengatur keseimbangan suhu badan pada hewan berdarah panas ( Soenarjo, 1990 ).

B.  ALAT, BAHAN, dan CARA KERJA
1.   Alat
a.   kapas
b.   Stopwatch
c.   sangkar jebakan tikus/kandang battery
2.   Bahan
a.   Kelinci Plamerose       1 ekor              umur 3 bulan
b.   Kelinci New Zealand  1 ekor              umur 6 bulan
c.   Kelinci Rex                 1 ekor              umur 9 bulan
d.   Kelinci Lion                1 ekor              umur 9 bulan
e.   Kelinci Spoot              1 ekor              umur 10 bulan
f.    Alkhohol 70 %
3.   Cara Kerja
a.   Pengukuran temperatur rectal (thermogenesis)
1)   Membersihkan ujung thermometer dengan kapas steril yang telah dibasahi alkhohol 70 %.
2)   Mengenolkan skala termometer dengan cara dikibas – kibaskan dengan hati – hati (awas jangan sampai pecah).
3)   Memasukkan termometer ke dalam rectum kelinci percobaan sekitar sepertiga bagian selama 5 menit.
4)   Pengukuran dilakukan lima kali dengan kelinci yang berbeda dan hasilnya dirata – rata.
b.   Mengukur proses pelepasan panas (thermolisis)
1)   Memasukan hewan percobaan pada sangkar jebakan tikus/kandang battery.
2)   Menjemurnya dibawah terik sinar matahari selama 5 menit
3)   Mengeluarkan hewan percobaan dari sangkar jebakan tikus
4)   Mengukur suhu seperti suhu rectal.
5)   Mengulangi sebanyak lima kali dengan tipe kelinci yang berbeda dan hasilnya dirata-rata.

C.  HASIL DAN PEMBAHASAN
1.   Hasil Pengamatan
THERMOREGULASI PADA KELINCITHERMOREGULASI PADA KELINCI
2.   Analisis Pengamatan
            Dari percobaan pada tugas Thermoregulasi rata - rata pada pengukuran temperatur rectal  pada kelinci 38,72oC. Dari data tersebut  terlihat bahwa kelinci merupakan mamalia, sehingga temperature rectalnya berkisar antara 38o-39oC. Kehilangan atau kenaikan panas untuk tubuh yang disebabkan makanan atau air minum yang dimakan dapat mempengaruhi jumlah produksi panas atau jumlah kehilangan panas.
     Pada pengukuran proses pelepasan panas didapat hasil bahwa rata-rata temperature rectal pada kelinci 39,44oC. Temperature rectal pada pelepasan panas tetap pada batas normal yaitu antara 38o-39oC pada mamalia. Peningkatan temperature dapat terjadi karena proses metabolisme di dalam tubuh tidak selalu tetap dan faktor suhu disekitar tubuh. Besar kecilnya hewan dapat mempengaruhi pengeluaran panas karena luas permukaan penguapan tergantung pada luas permukaan ternak dan besarnya paru-paru dimana banyak penguapan terjadi dengan jalan terengah-engah.
            Perbedaan antara thermogenesis dan thermolisis adalah pada thermogenesis yaitu proses memproduksi panas pada tubuh, sedangkan thermolisis adalah proses pembuangan panas pada tubuh.
     Faktor- faktor yang mempengaruhi produksi panas metabolisme tergantung dari :
a.     Produksi panas basal untuk mempertahankan proses - proses tubuh
b.   Produksi panas dan pencernaan yang variasinya tergantung pada system pencernaan ternak, jumlah dan kualitas makanan yang di makan
c.   Produksi panas dari otot tergantung pada aktivitas ternak seperti jalan, merumput dan sebagainya
d.    Naiknya metabolisme untuk proses produksi seperti produksi susu, pertumbuhan, reproduksi.

D.  KESIMPULAN
1.   Rata-rata temperatur rectal sebelum kelinci dijemur adalah 38,72oC.
2.   Rata- rata temperature rectal sesudah kelinci dijemur adalah 39,44oC.
3.   Terjadi peningkatan temperature rectal walaupun kecil setelah kelinci dijemur.
4.   Temperatur rectal sebelum dan sesudah dijemur pada mamalia berada pada batas normal yaitu 38oC -39oC.
5.   Suhu luar dari lingkungan berpengaruh terhadap panas tubuh makhluk hidup.
6.   Faktor yang mempengaruhi produksi panas metabolisme tergantung dari produksi panas basal, produksi panas pada pencernaan, produksi panas dari otot, serta naiknya metabolisme untuk proses produksi.

DAFTAR PUSTAKA
Soeharso. 1977. Zoologi. Erlangga. Jakarta.
Soenarjo. 1990. Pengantar Ilmu peternakan Di daerah Tropis. Universitas Gajah Mada Press. Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar